Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.
Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.
Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.
Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.
Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.
Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Mimpi
Kuku itu tidak hilang meski Endric sudah melemparnya sejauh mungkin, bahkan sempat menginjaknya dengan sepatu. Namun saat ia membuka telapak tangannya lagi, benda itu sudah kembali, menempel di kulitnya seolah tumbuh dari sana.
“Ini gak lucu, cok,” bisiknya.
Gandhul langsung mendekat. “Lihat tangan lo.”
Endric mengangkat tangannya pelan. Kuku itu kini berada di pangkal jari telunjuknya. Tidak menusuk, tidak berdarah, tetapi jelas bukan bagian dari tubuhnya, seperti ditempel paksa.
“Ini apaan...” suara Endric serak.
Gandhul menatapnya beberapa detik. “Penanda.”
Endric langsung menatapnya. “Penanda apaan?!”
“Kalau lo sudah disentuh yang di sana, biasanya ada bekas.”
Endric langsung mengingat Ningsih dan tangannya. “Gue gak merasa dia pegang gue,” katanya cepat.
Gandhul mengangkat bahu. “Makanya bahaya.”
Endric mengusap tangannya kasar. “Bisa lepas gak ini?”
“Bisa.”
Endric langsung lega. “Gimana caranya?”
Gandhul diam sebentar, lalu menjawab santai, “Kalau orang yang nempelin itu udah mati lagi.”
Endric langsung membeku. “Gue harap lo bercanda.”
“Gue jarang bercanda soal ini.”
Endric menatap tangannya lagi. Kuku itu diam, tetapi entah kenapa terasa seperti berdenyut pelan.
“Ini bikin gue makin gampang dipilih?” tanya Endric.
Gandhul mengangguk. “Biasanya begitu.”
Endric tertawa pendek, kering. “Bagus. Progres gue cepat banget.”
Gandhul tersenyum. “Lo memang fast learner.”
Endric menatapnya datar. “Gue mau berhenti belajar aja.”
Mereka berjalan kembali ke rumah. Langkah Endric lebih cepat dari sebelumnya. Ia beberapa kali melirik tangannya, memastikan benda itu masih di sana. Dan selalu di sana. Tidak berubah.
“Gue harus ngapain sekarang?” tanyanya.
“Jangan panik.”
“Sudah telat.”
“Ya minimal jangan tambah panik.”
Endric menghela napas panjang. Mereka sampai di depan rumah. Sama seperti sebelumnya, tenang dan normal, seolah tidak ada apa-apa.
Endric membuka pintu, masuk, lalu langsung duduk di kursi. Tangannya ia letakkan di atas meja, menatap kuku itu.
“Gue benar-benar bakal mati, ya?” katanya pelan.
Gandhul tidak langsung menjawab. Ia melompat ke meja dan duduk di seberang Endric.
“Semua orang di sini... jawabannya sama.”
Endric mengangkat kepala. “Yaitu?”
“Tergantung.”
Endric mendecak. “Jawaban lo makin nyebelin.”
Gandhul tertawa kecil. “Karena lo nanya yang gak pasti.”
Endric diam beberapa detik, lalu berkata pelan, “Gue gak mau jadi kayak lo.”
Gandhul terdiam. Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung menjawab. “Gue juga dulu begitu,” katanya akhirnya.
Endric menatapnya. “Terus?”
Gandhul mengangkat bahu. “Ya sekarang gue kayak gini.”
Endric menghela napas. “Motivasi lo jelek banget.”
“Ini namanya realistis.”
Endric memijat pelipisnya. “Oke. Fokus. Malam ini gue datang. Gue gak boleh kelihatan takut. gak boleh kelihatan siap.”
“Betul.”
“Dan sekarang gue ada tanda aneh di tangan.”
“Betul.”
Endric menatapnya. “Gue minus semuanya.”
Gandhul mengangguk. “Lumayan.”
Endric tertawa pendek. “Gue suka cara lo support gue ”
Tiba-tiba ....
Tok... tok...
Ketukan di pintu.
Endric langsung menegang. Ia menoleh pelan.
“Siang-siang begini?” bisiknya.
“Buka saja,” kata Gandhul.
Endric berdiri dan melangkah pelan ke pintu. Tangannya menyentuh gagang. Ia menarik napas, lalu membuka.
Seorang anak kecil berdiri di luar, sekitar sepuluh tahun. Matanya besar, terlalu besar.
“Mas Endric?” tanyanya.
“Iya,” jawab Endric.
Anak itu tersenyum. “Ada Titipan.” Ia mengulurkan sesuatu, sebuah mangkuk kecil.
Endric ragu. Ia melirik ke Gandhul. Gandhul mengangguk pelan. “Aman. Siang.”
Endric menerima mangkuk itu. “Ini apa?”
“Dari ibu saya,” jawab anak itu.
“Buat apa?”
“Biar kuat.”
Endric mengernyit. “Mak—”
Belum sempat ia selesai, anak itu sudah pergi, cepat tanpa suara.
Endric menutup pintu dan menatap mangkuk itu. Isinya cairan hitam, kental, tanpa bau.
“Ini apaan lagi...” gumamnya.
“Minum saja,” kata Gandhul.
Endric langsung menoleh. “Lo serius?”
“Serius. Itu bakal membantu.”
“Bantu apa?”
“Biar lo gak cepat dipilih.”
Endric menatap mangkuk itu, ragu. “Efek sampingnya?”
Gandhul berpikir sebentar. “Ada.”
Endric menghela napas. “Ya jelas pasti ada.”
“Biasanya cuma mimpi.”
“Mimpi apa?”
Gandhul tersenyum tipis. “Yang seperti nyata.”
Endric menatapnya lama. “Gue benci semua ini.”
“Udah Minum saja.”
Endric menarik napas panjang, lalu mengangkat mangkuk itu. “Kalau gue mati, gue bakal ganggu lo tiap hari.”
“Silakan. Biar gue ada teman.”
Endric mendecak, lalu ia meminumnya.
Cairan itu masuk ke tenggorokannya. Dingin, sangat dingin, seperti menelan es yang terlalu lama disimpan.
Endric langsung meringis. “Pahit, cok...”
“Ya namanya juga obat.”
Endric meletakkan mangkuk itu. Beberapa detik berlalu. Tidak terjadi apa-apa.
“Ini aja?” tanyanya.
“Biasanya harus nunggu beberapa saat.”
“Berapa lama?”
“Gak lama.”
Endric mengangguk pelan. Ia bersandar di kursi dan menatap langit-langit. “Gue capek.”
“Tidur saja.”
“Kalau gue tidur terus gak bangun lagi?”
“Berarti lo bakal menghemat waktu.”
Endric mendecak. “Gue gak tahu kenapa gue masih ngomong sama lo.”
“Karena gue satu-satunya yang bakal menjawab semua keraguan lo.”
Endric tidak membantah. Matanya mulai berat, sangat cepat. “Eh, kok ngantuk...” gumamnya.
Gandhul mengangguk. “Udah diMulai.”
Endric mencoba melawan, tetapi tubuhnya terasa berat. Pandangannya mulai kabur.
“Ndhul...”
“Hm?”
“Kalau gue lihat yang aneh-aneh...”
“Anggap saja latihan.”
Endric tertawa pelan. Lalu semuanya gelap.
...***...
Endric bermimpi berdiri di tengah desa, tetapi desa itu berbeda. Lebih gelap. Langitnya merah. Rumah-rumah terlihat lapuk, seperti sudah lama ditinggalkan.
“Gue mimpi,” katanya pelan. “Harusnya.”
Suara Gandhul tidak ada. Endric berjalan pelan. Langkahnya bergema, tidak wajar. Ia melihat sesuatu di depan.
Balai desa.
Pintunya terbuka lebar, Dari dalam terdengar banyak suara berbisik. Endric mendekat perlahan, lalu mengintip ke dalam. Dan langsung membeku.
Di dalam, puluhan orang berdiri terdiam, mengelilingi sesuatu di tengah. Endric mencoba melihat. Matanya melebar.
Di tengah lingkaran itu ada tubuh, terikat, dengan kepala tertunduk. Dan saat tubuh itu mengangkat kepala, Endric melihat wajahnya sendiri.
“ANJIR.”