"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Topeng Sang Putra dan Duel Jiwa
Suara napas Arini terdengar berat di dalam kamar rahasia yang menyesakkan itu. Di depannya, arwah Sari tidak lagi tampak seperti gadis malang yang butuh belas kasihan. Wajahnya mulai terdistorsi oleh amarah dan kegilaan yang sudah mengendap bertahun-tahun.
"Baskara..." Sari berbisik, suaranya terdengar seperti gesekan logam. "Ayahmu adalah monster. Setiap malam, saat dia merantai leherku dan menyiksaku, dia selalu memakai topeng wajahmu. Dia tahu aku mencintaimu, dan dia menggunakannya untuk menghancurkan jiwaku."
Arini menutup mulutnya, tak sanggup membayangkan kengerian itu. Baskara mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih, kemarahan yang luar biasa membakar dadanya.
"Tapi sekarang..." Sari melangkah maju, menembus meja kerja seolah udara. "Kalian sudah menikah. Tubuh Dokter Arini adalah wadah yang sempurna. Biarkan aku masuk, Baskara. Biarkan aku merasakan sentuhanmu yang asli melalui tubuh istrimu. Sekali saja... biarkan aku merasa dicintai olehmu, bukan disiksa oleh 'topeng' itu."
Arini langsung mundur, wajahnya pucat pasi. "Tidak, Sari! Ini gila! Aku tidak akan membiarkanmu menggunakan tubuhku untuk hal seperti itu!"
Baskara menarik Arini ke belakang punggungnya, sorot matanya yang tajam kini memancarkan kebencian mendalam pada permintaan Sari. "Cukup, Sari! Aku bersimpati atas penderitaanmu, tapi permintaanmu adalah penghinaan bagi pernikahanku dan harga diri Arini. Aku mencintai istriku, bukan bayanganmu!"
"TAPI AKU BERHAK MENDAPATKAN KEBAHAGIAAN!" teriak Sari histeris. Seluruh ruangan bergetar. Foto-foto tak senonoh di dinding beterbangan. "Kalian sudah menemukan rahasia itu, kalian sudah menang! Berikan aku satu malam ini saja!"
Sari melesat, kuku-kukunya yang hitam memanjang, mengarah langsung ke jantung Arini untuk memaksa masuk ke dalam sukmanya.
"LANGKAHI DULU MAYAT GAIBKU, SARI!"
DUARR!
Sebuah ledakan energi perak menghantam Sari hingga terlempar ke sudut kamar. Mika muncul, berdiri tegak di depan Arini dengan aura yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Cheongsam putihnya berkibar ditiup angin gaib yang kencang.
"Mika..." bisik Arini.
"Rin, bawa Baskara keluar dari ruangan terkutuk ini!" perintah Mika tanpa menoleh. "Sari sudah bukan lagi arwah penasaran, dia sudah menjadi arwah terkutuk karena dendam dan obsesinya. Dia sudah gila!"
Sari bangkit dari lantai, rambutnya yang panjang menutupi wajahnya, menciptakan pemandangan yang mengerikan. "Mika... si hantu sombong. Kamu selalu menghalangiku!"
"Karena aku tahu rasanya mencintai tanpa harus merusak!" balas Mika lantang. "Ayo, Sari! Kita selesaikan ini. Duel satu lawan satu. Jika aku menang, kamu pergi ke alam baka dan terima hukumanmu. Tapi jika aku kalah... itu tidak akan pernah terjadi!"
Mika melesat maju, kedua hantu itu berbenturan di udara, menciptakan gelombang kejut yang membuat lampu-lampu di kamar rahasia itu pecah berkeping-keping. Suasana menjadi gelap gulita, hanya diterangi oleh percikan cahaya perak dari kekuatan Mika dan kabut hitam dari Sari.
Baskara, yang hanya bisa mendengar suara dentuman dan merasakan angin kencang, langsung menggendong Arini keluar dari ruangan itu. Ia menendang rak buku hingga tertutup kembali, mengunci kebisingan gaib itu di dalam sana.
"Bas, Mika..." Arini terisak di pelukan Baskara.
Baskara membawa Arini turun ke lantai bawah, mendudukkannya di sofa ruang tengah, dan langsung memeluknya sangat erat. Ia mencium kening Arini berkali-kali dengan napas terengah. "Mika akan baik-baik saja. Dia kuat. Fokus padaku, Arini. Fokus pada suamimu."
Arini membenamkan wajahnya di dada Baskara, masih bisa mendengar gema teriakan Sari dari lantai atas. Di tengah kegelapan rumah besar itu, Arini menyadari bahwa pernikahan mereka baru saja dimulai dengan darah, rahasia kotor, dan pertarungan nyawa antara dua sahabat hantu.
"Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun masuk ke tubuhmu, Arini," bisik Baskara posesif, suaranya bergetar karena emosi. "Tubuh ini, jiwa ini... hanya milikku."
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣