NovelToon NovelToon
Dosenku Canduku

Dosenku Canduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Remaja01

Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.

.

.

Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.

"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.

.

.

"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.

.

.

"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan sepihak

Malam itu, aku ikut makan bersama di meja makan. Kesibukan papa dan mama sebelum perceraian mereka dulu menyebabkan kami jarang makan bersama. Kini, setelah mereka rujuk, mereka coba untuk selalu ada di rumah, tapi malah aku yang sering keluyuran keluar.

"Sayang, setelah makan ini, ada yang papa dan mama perlu bicarakan dengan Winda," ujar papa tanpa memandang padaku.

Suapanku terhenti lalu memandang mama, tapi mama diam saja dan kembali melanjutkan suapan.

Selesai makan malam, papa mengajakku ke ruang baca. Mama dan papa duduk bersebelahan di sofa, sedang aku duduk menghadap mereka. Jantungku berdebar menanti apa yang di bicarakan papa dan mama. Sampai sekarang pun aku belum menceritakan kejadian malam itu, kecuali saat aku memberikan keterangan pada polisi yang menemuiku di rumah sakit Minggu lalu.

Mungkinkah mereka ingin mendengar cerita itu lebih terperinci setelah beberapa hari membiarkan aku menenangkan pikiran?

"Winda, bagaimana sekarang? Kepala masih sakit?" Papa mulai membuka pertanyaan. Andai aku bilang aku masih sakit, apakah pembicaraan ini akan di undur? Tapi rasanya tidak perlu di undur lagi. Baiklah akan kuselesaikan sekarang juga.

"Udah mendingan, Pa. Cuma kadang agak pusing juga, tapi gak sering kok," jawabku tenang.

Papa memandang mama seolah memberi sinyal dan mama mengangguk.

"Yang pertama, Papa ingin memberitahukan, mulai saat ini, papa larang Winda bergaul dengan lelaki bernama Adri." Suara papa tegas.

Aku mengerutkan dahi tanda protes. Memang Adri mengasariku, tapi aku belum bisa memutuskan bagaimana hubungan kami selanjutnya. Mendengar papa membuat keputusan sepihak tanpa bertanya padaku terlebih dulu membuatku naik darah.

"Papa gak bisa memutuskan begitu saja. Winda lebih tau siapa Adri. Ini hidup Winda, biar Winda yang menentukan sendiri hubungan kami tanpa campur tangan orang lain termasuk papa!" Suaraku naik seoktaf.

Papa menggeleng dan membuang nafas berat, "Setelah apa yang dia lakukan pada Winda, Winda masih bela dia?"

"Winda gak judge atas apa yang terjadi malam itu. Selama ini, dia selalu ada untuk Winda. Dan Winda perlu mempertimbangkan dulu sebelum memutuskan." Wajah papa semakin ketat mendengar pembelaanku itu.

"Bagus, kalau memang Adri selalu ada untuk Winda. Tapi kenapa Winda selingkuh di belakang dia?"

Sumpah aku kaget. Saliva kutelan kasar. Dari mana papa tahu cerita ini? Tidak mungkin gosib yang beredar di kampus sampai ketelinga papa?

"Mmm....dari mana papa dapat cerita ini? Semua gosib itu gak benar, Pa. Winda gak pernah selingkuh." Aku jelaskan sebisaku. Setahuku kejadian malam itu hanya aku dan Adam yang tahu. Sedangkan Adri, Rehan dan John hanya tahu berdasarkan cerita yang aku karang sendiri, itu pun bukan selingkuh karna Adri mengizinkan.

"Ohhh...gosip? Winda tidak pernah selingkuh?" tanya Papa, tapi nadanya seperti mengintimidasi.

"Gak pernah." Aku tegaskan lagi sambil menggeleng.

"Jadi kenapa malam itu Winda bertengkar dengan Adri?" Papa bertanya lagi.

Aku menghela nafas panjang sesat. "Ya, itu ceritanya sama dengan yang Winda beritahu ke polisi. Malam itu kami bertengkar karna salah paham dan mungkin dia gak sengaja kasar sama Winda." Jawabanku membuat papa diam beberapa saat. Kemudian papa menolah pada mama.

"Siapa Adam?"

Mendengar nama itu setelah beberapa hari tanpanya membuat bibirku kering karna cemas.

"Mm... Siapa? Adam?" Spontan aku mengulang lagi pertanyaan papa, mungkin karna begitu panik. "Oh, itu....dia teman dari teman Winda. Tapi bukan teman Winda." Aku gagal bersikap tenang, malah terkesan gugup.

"Bukannya Adam selingkuhan Winda?"

Jantungku hampir lepas mendengar kalimat papa yang tenang.

"Hmm....Papa...Papa gak tau, sebenarnya apa yang terjadi antara Winda dan Adam sudah mendapat izin dari Adri. Jadi itu bukan selingkuh namanya. Kami hanya ingin memberi dia pelajaran. Siapa yang memberi tau Papa hal ini? John atau Rehan?" Aku malas berdalih lagi, pasti salah satu dari mereka yang telah membocorkan cerita gila itu pada papa.

Papa diam lagi. Dia memandang mama. Aku pun berdiri dan kembali bertanya. "Siapa yang memberitahu Papa? Jawablah! Winda mau tau siapa diantara mereka hang berani membuat Winda seperti ini!" Suaraku makin naik. Entah apa tujuan mereka menceritakan hal ini pada papa. Tapi yang jelas mereka pasti ingin memojokkanku.

"Adam. Dia sendiri yang memberi tahu Papa."

Jawaban papa membuat aku kembali terduduk di sofa.

Tidak pernah terbesit di kepalaku nama itu yang akan membocorkan rahasia kami. Rahasia aku dan Adam. Rahasia yang kugunakan untuk menunjukkan siapa aku di mata lelaki sok Alim itu. Rahasia yang akan aku gunakan untuk menjatuhkan dia. Tapi kenapa dia malah menceritakan pada papa? Tidak tidak pasti ini Adam yang lain.

"Adam mana yang Papa maksud?"

"Memang ada teman Winda yang bernama Adam?"

Aku diam, karna memang tidak punya teman bernama Adam.

"Adam yang Papa maksud. Ya Adam yang Winda goda malam itu."

Jawaban papa seolah menampar kuat pipiku. Sakit. Wajahku terasa panas. Nafasku seperti akan berhenti karna tak percaya dengan apa yang papa ucapkan.

"Tunggu tunggu. Papa bohong kan?" Aku bertanya lagi untuk memastikan. Mungkin papa salah menyebut atau pun salah dengar nama itu.

"Winda. Adam sendiri yang datang bertemu papa waktu Winda di rumah sakit. Waktu itu dia bilang ada hal yang mau dibicarakan dengan papa.  Jadi, kami tetapkan waktu untuk bertemu."

Jantungku makin berdebar tak karuan mendengar penjelasan papa.

"Kami bertemu hari Minggu. Orangnya santai, santun. Dan  Papa juga suka pembawaannya. Sampailah dia menceritakan kejadian malam itu bersama Winda. Wow! Papa nyaris pingsan karna kaget." Papa mengangkat tangan, terlalu dramatik. Sedang mama menunduk dengan wajah kecewa.

"Kaget, karena Papa tidak menyangka anak Papa rupanya semakin liar selama ini!" Papa kembali melanjutkan. Mama mengelap pipi. Apakah mama sedang menangis?

"Tapi papa lebih kaget, karena tidak menyangka lelaki yang melakukan itu sanggup menemui papa dan meminta maaf, malah dia mau bertanggung jawab. Wah itu luar biasa. Anak itu ternyata punya nyali. Herannya Papa malah menyukainya, padahal seharusnya Papa membunuh dia karena berani menyentuh putri Papa dengan cara seperti itu." Papa melanjutkan lagi. Kepala di gelengkan, kalau menghela nafas dalam-dalam.

"Be-bertanggungjawab?"  Satu kata itu keluar dari mulutku.

"Ya. Dia minta izin ingin menikahi Winda, dan papa setuju." Papa menjawab dengan tenang tanpa menatakan dulu pendapatku. Tentu saja amarahku membuncah. Aku berdiri dengan tangan terkepal kuat menahan emosi.

"What the hell! You cannot make such decision for me! I Will not marry him!"

"Papa yakin, dia yang terbaik untuk Winda. Papa tidak akan pertaruhkan kebahagiaan putri Papa. Dan Winda tidak memiliki pilihan lain, karna papa sudah menentukan tanggal pernikahan kalian seminggu dari sekarang." Papa masih membalas dengan tenang. Mama mengambil tangan papa dan menggenggamnya.

"Ma, please! Jangan biarkan Papa melakukan ini pada Winda." Aku berlari berlutut di kaki mama. Sama hal dengan mama, air mataku deras mengalir. Tapi mama hanya diam, memalingkan wajahnya dariku.

"Oke. Sekarang setelah kehidupan pernikahan kalian hancur, kalian memutuskan untuk membuat hidupku menderita juga?" kataku, lalu berdiri dan perlahan menapak kebelakang sambil menyeka pipi.

Mama memandangku dengan wajah kecewa, kemudian bangkit dan meninggalkan ruangan.

"Ya! Begitulah cara kalian memperlakukanku! Selama ini kalian selalu lari dari tanggung jawab untuk menjagaku. Dulu kalian buang aku ke London. Dan sekarang yang paling kejam dari semuanya. Kalian serahkan aku pada laki lain yang entah siapa! And surprise, surprise! You used my mistake against me! Well planned!" Aku belum berhenti meluahkan semuanya.

"Winda! Cukup! Terserah kamu mau bicara apa, tapi yang pasti Papa tidak akan merubah keputusan Papa ini. Papa dan Mama akan urus pernikahan kamu. Mau tidak mau, kamis depan kamu aka  menikah dengan Adam. Ini keputusan Papa dan tidak akan Papa rubah." Papa bangun dari sofa, lalu menghentakkan kaki keluar mengikuti mama.

Aku terduduk kembali, menangis sejadi-jadinya.

1
Nopi Agustin
ini???
Rike
cerita ny semakin bgung
Sasa Sasa: Kalau kakak bacanya gak loncat-loncat gak akan bingung.. Karna bab sebelumnya panjang. Mungkin kakak gak ngikutin yang sebelumnya, makanya bingung.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!