Menikah tanpa dasar cinta, akankah bertahan lama ?
Kalaupun berjuang hanya seorang diri, mungkinkah akan bahagia ?
Fira menerima perjodohannya dengan Bara. Namun setelah menikah, Bara memberikan Fira beberapa lembar kertas perjanjian pernikahan mereka. Bara berkuasa atas segala peraturan yang dibuatnya.
"Kenapa kau melakukan semua ini hah?" tanya Fira, gemetar penuh emosi dan tak menyangka.
"Karena aku, tidak pernah menginginkan kehadiranmu!" seru Bara, menyentak Fira.
Bagaimanakah kelanjutan kisah antara Bara dan Fira ?
Apakah pernikahan mereka akan berlangsung lama atau Fira menyerah begitu saja ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkejut
Sesampainya di lantai atas, pintu lift terbuka dan Dion segera keluar dari lift itu. Fira yang berada 3 langkah di belakang Dion hendak keluar dari lift itu. Tapi kaki nya kesandung sisi pintu lift, hingga ia tersungkur ke punggung Dion. Dan segelas Kopi yang di pegang Dion pun jatuh terpental hingga kopi nya tumpah, mengotori lantai yang di pijak nya.
“Astagfirullah Tuan, maafkan saya, saya benar-benar tidak sengaja.” Fira terkejut dan segera mundur selangkah di belakang Dion.
“Tidak apa-apa Nona,” Dion berbalik melihat ke arah Fira yang sedang mematung, melihat tumpahan kopi milik Dion.
“Maaf Tuan, kopi tuan jadi tumpah, saya akan menggantinya.” Fira segera membuka tas kecil milik nya, ia mengacak isi tas nya mencari beberapa lembar uang tuk menggantikan kopi milik pria yang ada di hadapannya.
Tapi Dion mencegahnya, hingga Fira menghentikan aktivitasnya. Ia melihat ke arah Dion yang sedang menatapnya.
“Tidak usah diganti, tadi saya sudah cukup meminumnya, itu hanya sebagian saja yang tumpah.”
“Tapi tuan.”
“Sudah tidak apa-apa” Ucap Dion, seraya memasukan tangan kirinya kedalam saku celananya.
“Oh ya kau mau apa kemari?” Tanya Dion, yang melihat Fira membawa sebuah bingkisan.
“Oh... ini Tuan, saya mau mengantarkan pesanan kue, ke ruang ini.” Fira menyodorkan kertas yang berisikan sebuah alamat kehadapan Dion.“Apa Tuan tau ruangannya dimana?”
Dion yang melihat nama pemesan di kertas itu baru menyadarinya. “Ini kan pesanan saya.“ Ia berkata sambil melihat ke kertas itu.
“Berarti pesanan ini milik Tuan?” Fira menarik lagi tangannya yang menyodor di depan Dion.
"Apa kamu seorang kurir ?” Dion menatap ke arah Fira.
“Oh bukan Tuan, saya tadi hanya kebetulan saja mengantar ini.” Fira menyodorkan bingkisan itu kepada Dion, dan Dion mengambil alih bingkisan yang Fira pegang.
“Berapa semuanya?” Dion mengambil dompet yang ada di saku belakangnya.
“120 ribu tuan,” Ucap Fira menatap Dion yang sedang mengeluarkan uang 50ribuan 3 lembar.
“Ini, ambillah.”Dion memberikan uang itu kepada Fira. Kemudian Fira hendak memberikan kembaliannya tapi Dion lagi-lagi mencegahnya. Fira yang tak enak hati akhirnya menerima uang lebih itu. Dan ia segera berpamitan dan pergi memasuki lift.
***
“Tuan Bara...” panggil Dion, dengan nada yag sedikit nge bas dan di panjangkan.
Bara yang sedang beristirahat di atas ranjang, segera beranjak menghamiri panggilan itu.
Ia melihat Dion sedang mengeluarkan beberapa kue dari bingkisannya di atas meja balkon.
“Sudah datang pesanannya?” Bara menghampiri Dion menuju Balkon yang ada di luar ruangannya itu.
“Silahkan di nikmati Tuan.” Dion melipat sebelah tangan di perutnya seraya menundukan pundaknya, memperagakan diri seolah ia adalah pelayan yang sedang melayani rajanya. Dengan bibir yang terlihat tersenyum lebar, beda dari biasanya.
“Ada apa dengan mu, bahagia banget kayak yang baru dapet hadiah lotre?” Bara terkekeh dan mendudukan tubuhnya di atas kursi di samping meja.
“Aura nya beda banget, beda dengan tadi, kau kenapa?” Bara menatap heran melihat ekspresi Dion.
“Ah entahlah, rasanya kejadian tadi ingin aku ulangi terus.” Dion berdiri bersender di besi balkon seraya membayangkan wajah wanita yang ia temui tadi, siapa lagi kalau bukan Fira.
“Aneh,” Bara mengereyitkan dahi dan ia tak mau peduli dengan apa yang sudah terjadi pada sahabatnya itu, kemudian ia segera melahap kue-kue yang ada di hadapannya itu.
***
Matahari perlahan tenggelam, senja yang terlihat kini mulai tertutup awan gelap. Selepas solat magrib berjamaah, Mereka segera bersiap-siap untuk pergi menemui calon menantu dan calon besannya itu.
“Huh, bagaimana aku harus mengatakan pada dia nanti, kalau aku di jodohkan papa”. Bara masih merasa frustasi dengan rencana Papa nya ini, ia seakan-akan dilema memikirkan hal selanjutnya yang akan ia hadapi.
Teriakan seorang wanita membuyarkan lamunan Bara. Dan ia mendengar suara ketukan pintu berulang kali. Bara pun membuka pintu kamarnya.
“Kak Bara cepat turunlah Mama sama Papa udah nunggu dari tadi.” gerutu Lisa dengan kesal.
“Iya, iya ini udah beres ko.” Bara membalikan badan dan meraih sebuah arloji kemudian melingkarkan di tangan kirinya.
Bara dan Lisa pun turun, segera menghampiri Papa dan Mama nya. Kemudian mereka segera keluar dan masuk ke dalam mobil.
Dan kali ini yang menyetir ialah Bara. Sedangkan Mama dan Papa nya duduk di kursi belakang dan Lisa duduk di sampingnya. Bara segera melajukan mobil meninggalkan pekarangan rumah nya itu, dan mungkin untuk menuju rumah Tn.Alex akan memakan waktu 1 jam lebih.
Sementara itu di rumah Tn. Alex selepas solat Isya, Fira segera bersiap-siap. Ia memakai gaun navy yang diberikan Lisa kemarin. Dan Tante Moly membantu merias wajah Fira dengan Makeup flawless, yang membuat penampilan Fira terlihat semakin cantik dan fresh.
“Tante apa aku cocok memakai gaun ini?” Fira berdiri melihat dirinya di dalam cermin.
“Cantik, cocok sekali, dan ini, pakailah kerudung ini!” Moly menyodorkan sebuah kerudung phasmina berwana baby pink, Fira pun mengenakannya dengan model sabyan.
“Ah... maa syaa allah, ponakan tante cantik sekali.” Moly tersenyum dan memegang kedua pipi Fira. Dilihatnya keponakannya yang kini sudah tumbuh dewasa.
“Tante, Fira takut” ucap nya lirih, seraya memegang kedua tangan Tante Moly yang menempel di pipinya.
Moly pun melepaskan tangannya dari pipi Fira, ia kemudian memeluk ponakannya itu.
“Sayang, kamu tidak perlu takut, semuanya akan berjalan lancar, tenanglah.“ Moly melepaskan pelukannya dan menatap Fira dengan senyuman.
Fira pun menganggukan kepalanya, seraya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, seakan menandakan ia sudah siap bertemu dengan lelaki yang akan jadi calon suaminya itu.
Tante Moly pergi meninggalkan Fira sendirian di kamar. Ia turun ke bawah menemui Alex.
“Kak, apa mereka sudah jalan kemari?” Moly menghampiri Alex yang sedang duduk di ruang tamu.
“Sebentar lagi sepertinya akan sampai.”
Moly pun berlalu menuju dapur, ia menyiapkan minuman dan cemilan tuk di bawa ke ruang depan nanti.
Sementara Fira ia sedang memainkan ponsel nya, dan ia mengirim pesan via chat grup yang mana di chat grup nya itu hanya ada Fira, Sely dan Merry.
Guys hari ini aku akan bertemu calon suamiku 😩 please bantu aku, aku ga mau dijodohin hiks hiks hiks — Fira
Wowww selamat ya Fir semoga cowok nya ganteng haha — Merry
Sikat — Sely
Gak mauuuuu 😭😭 — Fira
Fira kemudian melempar ponsel nya ke atas kasur, dan ia berjalan menuju jendela.
Fira menatap langit gelap yang dihiasi gemerlap ribuan bintang, dengan tatapan kosong. Dan perhatiannya beralih ke arah lampu mobil yang berbelok menuju pekarangan rumahnya, ia terus menatap ke arah mobil hitam yang behenti parkir di halaman rumahnya itu. Kemudian ia melihat seorang wanita paruh baya dan lelaki seumuran ayahnya turun dari mobil, lalu ia juga melihat seorang gadis yang keluar dari mobil itu, dan berjalan menuju teras rumah.
“Sepertinya aku pernah melihat gadis itu, tapi dimana ya” gumam Fira, Ia pun membalikan badan membelakangi jendela dan bersender di sisi jendela itu. Ia seakan tak asing melihat mobil dan penampilan gadis tadi. Tapi Fira tak bisa melihatnya dengan jelas. “Hmmm sudahlah.”
Bara kemudin turun dari mobilnya. Ia melihat kesetiap penjuru halam rumah Tn. Alex dan ia mengadah ke atas, diluhatnya seorang wanita yang sedang bersender membelakangi jendela.
“Apa dia gadis yang akan dijodohkan denganku?” Bara menatap sekilas ke arah wanita itu. Dan ia segera berjalan menuju teras mengikuti keluarganya.
“Assalamu’alaykum.” Hito mengetuk pintu.
Dan Alex dengan segera membukakan pintu rumahnya. Kemudian ia menyambut Hito dan keluarganya, ia saling berpelukan sejenak dengan Hito, kemudian mempersilahkan mereka tuk masuk.
Dan Tante Moly yang berada di dapur ia mendengar suara berisik di ruang depan, ia pun segera berjalan menuju ruang depan, dan dilihatnya keluarga Tn. Alex sudah duduk berkumpul di atas sofa. Ia pun menyapa mereka dan beradu pipi dengan Ny. Wina.
Kemudian Moly pamit ke dapur, sedangkan Alex dan Hito ia berbincang sedikit. Tak lama kemudian Moly datang membawa minuman dan beberapa toples cemilan di atas nampan. Ia kemudian merapihkannya di atas meja. Dan mempersilahkan mereka untuk mencicipinya.
Sementara Lisa ia sudah tak tahan menahan rasa ingin pipis nya. “Tante, apa saya boleh numpang ke toilet?” ucap Lisa kepada Moly yang ada di depannya.
Moly pun mengiyakan dan menunjukan arah toiletnya. Lisa pun bergegas pergi ke toilet yang ada di dekat dapur. Ia segera masuk dan melepas rasa yang ia tahan dari tadi.
Sementara itu Moly naik ke atas dan menghampiri Fira, menyuruhnya untuk turun ke bawah menemui keluarga Tn. Hito. Fira pun mengiyakan dan keluar dari kamarnya berjalan menuruni tangga bersama Tantenya.
“drrt drrt drrt,”ponsel Bara bergetar di saku celananya, ia pun merain ponsel nya dan dilihatnya panggilan dari Dion, tapi ia memencet tombol merah di ponsel nya itu.
Tapi ponsel nya bergetar kembali dan dilihatnya masih sama, Dion yang memanggilnya. “Ada apa dia menelponku malam-malam begini” herutu Bara dalam hati, yang melihat ke arah handphonenya.
“Paman, Papa saya izin mengangkat telpon dulu.” pinta Bara. Dan Alex yang melihat Bara tersenyum mengiyakan.
Bara bergegas keluar dan mengangkat panggilan dari sahabatnya itu.
Fira berjalan menuju ruang depan bersama Tante Moly, ia merasa sangat gugup dan tegang. Di bukanya tirai penghalang ruang, dan betapa terkejutnya saat ia melihat wanita yang sedang duduk di sofa.
“Ibu,” Fira mengereyitkan dahinya, menatap wanita itu.
“Nak, kamu -- ”. Wina pun sama terkejutnya dengan Fira, ia tak menyangka kalau calon menantunya itu adalah gadis yang menolongnya hari lalu.
“Fira sayang, sini nak ayo salam dulu!” Ucap Alex, pada Fira. Kemudian Fira pun menyalami Tn. Hito dan Ny. Wina.
Dengan waktu beriringan Lisa yang dari toilet kembali menghampiri mereka dan ikut duduk di dekat mamanya. Dan ia pun terkejut saat melihat Fira yang baru saja duduk di saping Ayahnya.
“Kak Fira...” Teriak Lisa tak menyangka
“Lisa, kamu? kamu sedang apa disini?” Fira tak kalah kaget nya melihat Lisa yang ada di hadapannya.
“Ah... aku tidak menyangka ternyata kakak yang akan jadi calon iparku.” Lisa terlihat bersemangat dan gembira.
“Apa kamu mengenalnya?” Tanya Hito menatap ke arah Lisa.
“Iya pa.. ini kak Fira, sahabatku yang sering aku ceritain itu.” Ucap Lisa bersemangat.
“Pa... gadis ini juga yang menolong mama waktu kemarin itu.” Sambung Wina.
“Benarkah? bagus lah kalau begitu. Oh ya nak Fira, terimakasih sudah menolong istri saya waktu itu.” Hito tersenyum menatap calon menantunya itu. Dan Fira ia hanya tersenyum mengangguk.
Semantara Bara, ia segera mengakhiri obrolannya lewat telpon dengan Dion. Ia mematikan ponsel nya dan kembali masuk ke ruang tamu.
Dan untuk ke tiga kalinya Fira terkejut, seakan jantungnya berhenti berdetak, melihat pria yang berdiri di hadapannya kini, ia dan Bara saling menatap tak menyangka.
“Kamu!“ teriak Bara dan Fira berbarengan.
.
.
.
.
.
.
***
Gimana nih sudah mulai suka sama ceritanya?
Yuk berteman lebih dekat.
Follow ig author @dela_delia25