"Aku Eve, akan ku pastikan kamu ada di genggamanku, Kak"
.
.
.
Bagaimana kisah Revalina Diharjo mengejar cinta Sahabat Kakaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia kita saja.....
"Mau ngomong apa?".
Dimas dan Bagas sudah pulang beberapa menit yang lalu. Kini hanya tinggal Arya dan Arkana. Arkana bertahan di kafe karena tadi Arya memintanya jangan pergi dulu, melalui pesan singkat di hape.
"Tau aje lu, kalo gue mau ngomong sesuatu hahaha .."
Calon Ayah itu tertawa dengan keras.
"Ehmm.. Jadi gini.. Gimana kalo kamu gantiin posisiku?". Arya memulai, setelah berdehem, mengeluarkan kegugupannya. Tentu saja gugup, takut jikalau Arkana tidak setuju dengan permintaannya.
"Maksud lo jadi suami si dewi??". Arkana tersenyum miring.
"Ehh anjirrr !!! Bukan ituuu !!". Arya menyalak. Enak aja mau gantiin Dia jadi suami dewi. Mau duel?!
"pertanyaan lo ambigu, dan gue memaknainya kayak gitu".
"Lo inget pas jaman dulu? Pas kita sering main ke rumah Dimas?".
"Iya inget, yang lo ngajakin nonton filem biru? Hahaha".
"Eh ini orang yaaa minta di geplak emang.. !!".
Belum juga mengutarakan maksudnya, Arya sudah dibuat emosi oleh Sahabatnya itu.
"Inget waktu itu, siapa yang minta gendong sama elu?".
Arkana menerawang, ingatannya sedang menuju masa putih abu- abu SMA.
Saat itu, Dimas mengajak tiga sahabatnya bermain ke rumah, termasuk dirinya. Itu kali pertama Arkana berkunjung ke rumah Dimas. Setelah sebelum- sebelumnya selalu absen, karena sok sibuk.
"Belajar yang bener ya.. Ini Mama bikinin es sirup sama ada sedikit kue.. Buat teman belajar".
Seorang Wanita cantik, yang akhirnya dikenalnya sebagai Mama Dimas, meletakkan satu teko minuman, dan dua toples kue kering di meja. Semua tersenyum senang.
"Eh ini adek mu yang paling kecil kan, Ar.. Reva yaaa...".
Bagas yang saat itu berada di dekat Mama Dimas dan si anak kecil, menjawil pipi anak itu.
"Hati- hati, dia nggak mau dipanggil Reva loh". Dimas memperingatkan.
Terbukti, beberapa detik kemudian, Si Revalina, gadis cilik itu menyalak.
"Namaku EVE ! Panggil Aku Eve, Paman !!". Katanya dengan galak.
"Uhukk uhukkkk !!!"
Arkana yang sedang meminum es, tersedak, diikuti suara tawa mereka semua yang ada di ruang tamu.
"Hahaha.. Paman Bagass.. Pamaannn". Dimas tertawa paling keras.
"Nak?!.. Ketawa mu itu loh"
Mama memperingati.
"Hehe iya ma.. Eve lucu deehh.. Sini sama kakak.. Benerr banget, panggil teman kakak, Paman yaa".
Dimas meraih adik bungsunya yang masih berusia 2 tahun. Eve kecil menurut saja.
"Yaudah, Mama ke belakang.. Eve kalo bosan, susul mama ke belakang ya?".
Gadis kecil itu mengangguk.
"Terimakasih tantee..".
"Panggil Mama yaa, biar terasa dekat.. ". Pinta Mama.
"Iya mamaa....". Kompak, tiga bujang tanggung teman Dimas, memanggil Mama pada Mama Dimas.
Di tengah proses belajar ala- ala bujang tanggung, Eve kecil yang berada dipangkuan Kakaknya mulai bertingkah.
"Kaak.. ". Eve berbisik.
"Hmmm..". Dimas hanya menjawab hmm, karena mata dan pikirannya masih fokus mengerjakan soal.
"Kaaakkkk !!". Intonasi suara si gadis kecil meningkat tajam, membuat Dimas mau tak mau mengalihkan atensinya ke sang adik. Begitupun ketiga bujang itu, sesaat melirik ke arah Eve. Gadis kecil, tapi suaranya menggelegar bak petir.
"Iya apa, Eve sayang? Hm?".
Eve kecil mendekatkan mulutnya ke telinga sang kakak. Dia mulai berbisik, disertai tangannya menunjuk salah satu teman Dimas. Dimaspun melihat ke arah yang ditunjuk adiknya. Dimas mengangguk sambil menatap adiknya, setelah gadis kecil itu selesai mengutarakan keinginannya.
"Eh Ar.. Adek gue minta gendong nih !!".
"yaa??!". Arya dan Arkana, yang sama- sama dipanggil Ar, mendongak dan kompak menjawab.
"Sini sini.. Gendong sama Kakak Arya.. Panggilnya Kakak yaaa.. Bukan Pamann ". Arya meringis lebar, sambil mengulurkan kedua tangannya ke arah Eve kecil.
Sementara gadis kecil yang punya permintaan malah menggeleng. Kemudian menunjuk Arkana.
"Maksudnya Kakak?". Tanya Arkana sambil menunjuk dirinya sendiri. Eve mengangguk.
"Ceileehhh tau aja yang paling ganteng diantara yang ganteng- ganteng ini". Bagas menyahut.
Akhirnya, Eve berhasil minta gendong Arkana. Sesi belajar harus terpending, karena empat bujang itu harus momong adik Dimas.
"Sudah inget???". Arya menginterupsi. Dia yakin Arkana pasti mengingat momen itu.
"Hanya kamu yang belum nikah diantara kita berempat, Ar.. Kalo adek Dimas ngejar- ngejar, nggak bakal ada yang sakit hati.. Gua takut Dewi nggak mau ku jemput, kalo sampe masalah ini belum selesai...". Keluh Arya.
"Maksudnya gue harus deketin adek dimas?? Ya ampuun.. Dia masih anak - anak.. Maless... Apa kata Dimas nanti?". Arkana kurang setuju dengan Arya.
"Dimas nggak perlu tau, Makannya itu gue cuman ngajak bicara berdua aja.. Ini rahasia kita aja..". Bujuk Arya.
.
.
.
Ikuti terus kisah Eve yaah