Dinda Amelia seorang wanita mandiri yang sukses dalam karir nya tapi ia harus rela melepaskan karirnya itu karena harus menuruti perintah suaminya Arya baskara yang baru ia nikahi selama satu tahun atas perjodohan orang tuanya, pada awalnya pernikahan mereka berjalan lancar Dinda merasa bahagia menjadi istri Arya yang sabar dan penyayang, tetapi ternyata semua sikap dan kasih sayang nya hanya sebuah kepalsuan belaka, selama ini Arya telah berbohong karena di belakang Dinda ia telah menyembunyikan wanita lain yang ternyata adalah istri simpanannya, apa sebenarnya motif Arya untuk menikahi Dinda dan bagaimana Dinda melepas kan diri dari jebakan pria pembohongan itu??
simak kisah selengkapnya hanya di noveltoon...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niya_23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Mah…"ucap Dinda dengan suara serak dan matanya yang bengkak akibat terlalu banyak menangis.
"Kamu sudah bangun din?" tanya ibunya sambil mengelus rambut putrinya itu.
Dinda mengangguk pelan, kamu sarapan dulu yah biar badan kamu gak sakit jangan terlalu banyak memikirkan masalahmu, kamu tunggu saja nanti juga selesai.
"Terimakasih Mah,"
"Sekali lagi Mamah minta maaf yah Din, gara-gara mamah yang ngotot untuk menjodohkan kamu dengan Arya akhirnya jadi seperti ini," sesal ibunya.
"Tidak Mah, Mamah jangan bicara seperti itu lagi mungkin ini sudah bagian dari takdir Dinda Mah tidak ada yang harus di sesal kan, " ujar Dinda yang membuat air mata ibunya jatuh seketika.
Ibu Dinda sangat terpukul melihat putri kesayangannya disakiti oleh pria yang ia pilih sendiri ia sangat menyesal akan keputusan nya yang terus mendesak Dinda agar cepat menikah. Dan sekarang apa yang terjadi putrinya bukannya bahagia seperti apa yang ia harapan kan malah sebaliknya.
"Assalamualaikum," teriak seorang pria dari luar rumah sambil mengetuk pintu dengan keras.
Keduanya terhenyak seketika ketika mendengar suara itu, Dinda dan ibunya saling pandang seolah tahu yang bertamu adalah orang yang saat ini paling mereka benci.
"Itu seperti suara Mas Arya mah, " ucap Dinda panik sekaligus takut akan kehadiran Arya di ruang nya.
"Iya dari suaranya sepertinya itu dia Din, Mau apa lagi dia kemari? Berani-beraninya dia menampakan wajahnya di sini dasar tidak tahu malu, " gerutu ibunya.
Ibunya Dinda kemudian membuka pintu dan benar saja sosok pria yang bertamu di pagi hari itu adalah Arya.
"Mau apa lagi kamu kemari belum puas kamu menyakiti hati anak saya hah!
"Bu, Arya minta maaf tapi Arya mohon bu Arya mau bertemu dengan Dinda boleh kami ingin menyelesaikan masalah kami," pinta Arya dengan wajah memelas.
"Kamu dasar laki-laki tidak tahu malu saya sangat menyesal telah menikahkan kamu dengan Dinda," bentak ibunya.
"Mah, biar Dinda bicara dengan mas Arya dulu yah, " pinta Dinda memotong omongan ibunya.
"Tapi Din, bukannya kamu sudah setuju untuk menceraikan Arya jadi untuk apa lagi kalian bicara serahkan saja semua kepada pengacara, " Pekik ibunya yang bersikeras melarang anaknya untuk berbicara dengan Arya.
"Biarkan saja Mah, Dinda ingin mendengar apa yang sebenarnya yang ingin Mas Arya bicarakan dengan Dinda, " pinta Dinda kepada ibunya yang terlihat begitu emosi kepada Arya.
Ibu Dinda mencoba untuk bersikap tenang ia tidak ingin amarahnya justru membuat semuanya semakin runyam.
"Baiklah Din, tapi mamah minta kamu jangan mau terbujuk omongan manis suamimu itu. Pokoknya Kalian harus bercerai!! Ancam ibunya sambil berlalu meninggalkan keduanya di ruang tamu.
"Silahkan duduk mas," ucap Dinda singkat.
"Din, sekali lagi mas minta maaf yah Mas menyesal karena telah menyakiti hati kamu," sahut pria yang masih menjadi suaminya itu ia menatap wajah Dinda yang terlihat bengkak dan matanya yang merah membuat Arya jadi semakin merasa bersalah.
Dinda terdiam tidak bergeming dan enggan untuk menatap ke arah suaminya itu, menatap wajah Arya saat ini membuat lidahnya jadi kelu seketika hatinya menjadi sakit dan bergejolak kembali. Laki-laki yang yang percayai selama ini hanya memberinya luka tak terperi.
"Din… Mas mohon kamu jangan ceraikan Mas yah, " pinta Arya dengan tatapan penuh permohonan.
"Mas!! sudah kamu gak perlu pura-pura lagi untuk sayang sama aku sekarang, aku sudah tahu semuanya pernikahan kita, sayang kamu, cinta kamu semuanya palsu Mas. Sudah yah Mas, sekarang kamu fokus saja pada Hessa wanita yang sangat kamu cintai dan lepaskan aku, aku juga berhak bahagia Mas!! tutur Dinda untuk memperjelas keinginan Dinda untuk bercerai.
"Tetapi Din, bagaimana nasib perusahaan keluarga ku kalau kita bercerai? Bukan hal yang tidak mungkin kalau ayahmu bakal menarik investasinya terhadap perusahaan keluarga ku karena perceraian kita, " jawab Arya dengan nada emosi.
"Oh jadi ini Mas alasan sebenarnya kamu ingin mempertahankan pernikahan kita karena perusahaan keluarga mu iya? Atau jangan-jangan kamu menikahi ku juga karena hal ini Mas?"
"Tidak Din maksudku bukan begitu, " sangkal Arya yang kemudian merendahkan nada bicaranya.
"Sudah Mas kamu tidak usah berkelit lagi lagi pula keputusanku sudah bulat aku akan menggugat mu ke pengadilan agama, tujuanku menikah bukan untuk disakiti Mas apalagi menjadi istri kedua. Sekarang aku mohon kamu pergilah dari sini tidak ada lagi yang ingin aku katakan, " usir Dinda sambil menunjuk pintu dan menyuruh Arya keluar dari rumah nya.
Tetapi Arya masih duduk diam di ruang tamu dan menghiraukan ucapan Dinda yang telah mengusirnya, akhirnya Dinda yang pergi dari ruang tamu itu dan meninggal kan Arya sendirian di sana. Pikiran Arya sepertinya sedang kalut ia tidak tahu harus berbuat apa untuk membujuk Dinda agar tidak menceraikannya.
Ibu Dinda datang menghampiri Arya yang tengah terduduk diam di kursi ruang tamunya itu, dengan perasaan yang mulai tenang.
"Arya, Boleh ibu tahu alasan kamu melakukan hal itu kepada Dinda? tanya ibunya Dinda dengan tatapan tajam kepada menantunya itu.
Seketika Arya menjadi tegang dan gugup ketika di tanya oleh mertuanya itu. Lidahnya menjadi kaku dan tenggorokan nya terasa kering ia mencoba mengendalikan dirinya dengan meminum segelas air putih yang ada di hadapannya sebelum menjawab pertanyaan dari mertuanya itu.
"M-maaf kan Arya Bu, Arya tidak kuasa untuk menolak perjodohan dengan Dinda saat itu, tapi Arya sekarang benar-benar sayang kepada Dinda bu Arya tidak ingin bercerai dengan dengan, " ucap Arya dengan wajah penuh penyesalan.
Ibu dinda mencoba tenang ia tidak ingin bertindak emosi walaupun dalam benaknya ia ingin menampar pipi menantunya itu yang bicara asal bunyi tanpa berpikir panjang.
"Apakah waktu itu kau tidak memikirkan perasaan Dinda dan kami sebagai keluarga nya Arya, sungguh keputusan mu sangat gegabah dan membuat saya sebagai ibunya Dinda juga kecewa. Sekarang Keputusan kami sudah bulat kami akan melayangkan gugatan cerai kepadamu. Sekarang kamu boleh pergi dari sini!! "
"Tapi Bu beri Arya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan Arya," pinta Arya memelas.
"Saya tanya sekali lagi padamu Arya apa kamu mau mencarikan wanita itu demi Dinda? "
Arya terdiam sungguh ia tak bisa untuk menceraikan Hessa yang saat ini karena tengah mengandung anaknya.
"Kenapa kau diam! Kamu saja tidak sanggup bukan untuk meninggalkan wanita itu? jadi untuk apa kamu memohon lagi ingin bersama Dinda? Untuk menyakiti nya lagi? Kau gila Arya jadi kau ingin menjadikan putriku istri kedua begitu? Mana ada di dunia ini wanita yang mau di poligami? putriku cantik masih banyak laki-laki yang bisa membahagiakannya kamu jangan mimpi untuk bersama Dinda lagi. sekarang kamu boleh pergi!! "
Arya berjalan keluar dari rumah Dinda dengan perasaan emosi usahanya untuk membujuk Dinda agar tidak menceraikannya telah gagal.
Ah, sial!! Kedua wanita sangat keras kepala lihat saja aku akan mempersulit perceraian ini! Gerutunya dari dalam mobil.
Ibu Dinda menghampiri putrinya yang sedang menangis terisak di kamarnya dadanya tak kuat lagi menahan air matanya hingga jatuh tak tertahankan.
"Kenapa Mas Arya egois sekali mah, kalau saja dari awal ia menolak perjodohan ini mungkin hati Dinda tidak akan sesakit ini, " ucap nya sambil menghambur ke pelukan ibunya.
"Sudah sayang, kamu jangan menangisi laki-laki pecundang itu lagi, kamu harus janji pada ibu ini air mata terakhir mu yang kamu keluarkan untuk pria itu sudah yah," ujar ibunya seraya menghapus air mata putrinya itu.
"Kamu lebih baik memikirkan rencana kedepannya untuk melanjutkan hidupmu, ibu sarankan kamu kembali lah bekerja agar luka mu dapat sembuh dan tidak mengingat-ingat Arya lagi, " saran ibunya.
Dinda menjawab dengan anggukan dan masih memeluk erat ibunya.
"Bagaimana kalau kamu bekerja di perusahaan papah mu? Jika mau nanti mamah bicara kepada nya untuk mencarikan posisi yang cocok untuk mu, " ibunya memberi saran kepada Dinda.
"Tidak Mah, Dinda akan bekerja di perusahaan lain Dinda berencana untuk kembali bekerja di perusahaan tempat dimana Dinda bekerja sebelumnya karena di sana banyak teman Dinda jadi Dinda tidak perlu beradaptasi lagi, " Papar Dinda.
"Baiklah terserah kamu sayang yang penting kamu bahagia mamah janji mulai sekarang tidak akan mencampuri urusan hidupmu lagi, mau menikah atau tidak terserah padamu," Ujar ibunya yang kini sudah ikhlas akan takdir putri nya itu.
"Terimakasih Mah," ucap Dinda lega ketika mendengar perkataan ibunya itu.
Dinda kemudian mencoba menghubungi Karin teman lamanya di perusahaan nya dulu untuk menanyakan lowongan kerja di sana.
Setelah mengirim pesan kepada sahabatnya itu Dinda langsung tertidur di ranjangnya, melepaskan semua kesedihan yang ada di hatinya dan akan memulai kehidupannya yang baru dan melupakan pria yang sudah menghancurkannya hidupnya itu dan mulai membangun karirnya kembali yang setahun belakangan ini telah ia tinggalkan untuk laki-laki yang pecundang itu.
Jangan lama- lama upnya