"Pulanglah, Nak!" Caroline menghubungi Sarah dan memintanya pulang. Sudah bertahun-tahun Sarah meninggalakan rumah seorang rumah seorang pembunuh berantai, kini ia kembali. Kembali menghadapi cinta yang dia miliki untuk ayahnya dan tubuh yang di kubur di sana.
Ada rahasia yang belum terungkap di dasar Mile Stone yang terkenal kejam. Sarah harus menghadapi, dan mencari tahu apa yang sebenaranya tersembunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Malioboro merupakan jantung kota serta simbol dari kota Yogyakarta yang menyuguhkan banyak keelokan yang tidak ada habisnya. Deretan toko dan pedagang kaki lima berjajar di sepanjang Malioboro.
Saat masih remaja, Sarah dan Brandon sering menghabiskan waktu di Malioboro. Mulai dari sekedar nongkrong, hingga menikmati hangatnya wedang ronde. Hari ini Sarah kembali lagi ke Malioboro, tapi tidak bersama Brandon dan tidak untuk menikmati wedang ronde, ia datang ke Malioboro untuk mengunjungi toko perkakas.
Sarah parkir tepat di depan Lucky One Co. Satu-satunya toko perkakas sejauh lima puluh mil. Ia membuka pintu mobil, dan segera masuk ke toko. Dinginnya AC di dalam membuat kulitnya lembab, ia merasa dirinya tenggelam dalam keakraban toko. Tata letak toko tidak berubah sama sekali, baunya masih seperti serbuk gergaji, dan cat baru. Sarah sudah bertahun-tahun tidak ke Lucky One Co, sejak hari di mana ia menghabiskan waktu untuk nongkrong di jalanan Malioboro sementara ayahnya memilih tali panjang dan terpal plastik yang kokoh serta paku atap untuk proyeknya, tapi rasanya toko ini seperti di rumah sendiri karena toko ini pernah menjadi tempat yang ia dan ayahnya kunjungi bersama.
Sarah membiarkan dirinya merasakan betapa senangnya bisa kembali ke tempat ini, ia melewati konter cat tanpa melihat siapa yang ada di belakangnya, kemudian ia melewati deretan bak-bak plastik berisi sekrup, paku, dan baut yang disusun berdasarkan ukuran, kenop pintu, bola lampu, dan peralatan berkebun. Dia berjalan cukup cepat untuk menjaga agar matanya tidak menyimpang ke lorong di sebelahnya dan membeli barang yang tak ia butuhkan.
Semakin siang, Sarah melihat banyak orang mulai masuk ke toko. Dua orang di lorong perkakas tanaman, tiga di dekat konter cat, dua di dekat register, dan beberapa orang tersebar di seluruh perkakas listrik. Sarah tidak memandang wajah mereka, tapi ia bisa merasakan mata mereka menatapnya, ia menjentikkan jari tangan kanannya empat kali dengan cepat. Tidak berhasil. Di belakangnya terdengar desisan yang begitu halus, kemudian terdengar seseorang menjatuhkan sesuatu dengan bunyi keramik yang berat.
'Sarah, itu tidak ada hubungannya denganmu,' gumamnya dalam hati. 'Kau di sini hanya untuk membeli tempat penyimpanan.' Sarah meraih semua barang yang ia butuhkan kemudian berjalan menuju kasir.
Saat langkahnya menuju kasir, bisikan-bisikan itu sekarang lebih keras, dan beban dari tatapan orang-orang sekelilingnya semakin membebani punggungnya. Beberapa orang berdiri di lorong di belakangnya. Meski Sarah tak menatap langsung ke wajah mereka, ia bisa merasakan bahwa mereka sedang mengawasinya.
Sarah semakin mempercepat langkahnya hingga ia berdiri di hadapan wanita paruh baya dan melakukan kontak mata dengan wanita itu di ujung bagian perkakas taman. Sarah membeku karena panasnya kebencian di matanya, wajah wanita itu kurus dan berkerut tidak seperti yang ia lihat saat terakhir ke Lucky One Co. Rambutnya yang dulu hitam, kini dipotong menjadi bob abu-abu tumpul. Sarah menelan ludah dan berusaha mengangkat dagunya di atas bak abu-abu yang ditumpuk di lengannya. "Hai Bu Indri, bagaimana kabar Anda?"
Lubang hidung Indri memucat saat dia menarik napas untuk berbicara. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya.
"Mommy sedang sekit,” ucap Sarah singkat. “Aku pulang ke ... untuk menyelesaikan masalah, dan untuk mengurus rumah.”
Bu Indri tertawa riang. "Bakar rumah itu," ucapnya. Itu terdengar bukan sebuah saran atau lelucon melainkan sebuah instruksi, seperti: 'Singkirkan sepatumu!' atau 'Ayo tidur sudah jam sepuluh malam!'
"Bakar!" ucapnya lagi.
Seketika orang-orang berkumpul di sekitar mereka berdua, orang-orang itu tidak berdiri terlalu dekat, retapi cukup dekat untuk mendengar percakapan mereka berdua. Butiran keringat mengalir di punggung Sarah di bawah bajunya, tidak ada yang bisa Sarah ucapkan kepada wanita ini, dia adalah ibu dari teman masa kecilnya. "Aku harus pergi," ucapnya sambil melihat ke arah kasir.
"Kuharap mommymu mati malam ini, jadi kalian berdua bisa pergi dari kota ini besok," desisnya. "Kalian berdua tidak pantas tinggal di kota ini."
"Cukup!" Seseorang menyentuh bahu Sarah, dia melompat dan memalingkan muka dari Bu Indri “Kamu harus keluar dari sini!”
Awalnya, Sarah tidak mengenali pria yang tangannya bersandar di bahunya, tetapi kerutan di antara alisnya mengatakan bahwa ia mengenali pria itu. Dia tinggi, pirang, berbahu tipis, dan dia menatap Sarah dengan senyum miring.
“Kau juga keluar dari sini,” ucap Bu Indri. “Kau tidak diterima di sini, tidak di terima di toko ini dan tidak di terima di kota ini. Bawa wanita itu pergi!" tambahnya sembari menunjuk ke pintu.
Pria berambut pirang itu mengangkat bahu dengan ramah. "dengan senang hati," ucapnya, matanya masih terpaku pada Sarah, kemudian ia memberikan kedipan dan mengangguk ke arah pintu. “Ayo kita pergi dari sini, Saa."
Wajah Sarah terbakar, ia mengikuti pria itu ke pintu keluar dengan kaki mati rasa. Begitu mereka berada di luar, dia mendapati dirinya bersyukur atas rasa udara yang melegakan pernapasannya karena tadi sangat menyesakannya.
Pria pirang itu mulai berbicara begitu mereka keluar dari toko, kata-katanya mengalir dengan mantap dan tidak terputus. “Ini mobilmu? Maksudku, mobil itu ada di luar rumah tadi malam. Aku melihatnya ketika aku datang untuk makan malam, dan ibumu memberitahuku itu milikmu. Sebetulnya tadi aku baru saja mewawancarai Bu Indri, seharusnya sih aku mewancari putranya yang bernama Brandon, tapi dia tidak mengizinkanku. Sepertinya kalian berdua saling kenal?"
Sarah menyipitkan mata ke arahnya, Oh jadi dia pria yang tinggal di belakang rumahnya. "Brandon teman kecilku."
Pria itu mengangguk. "Lalu sekarang kau mau kemana?"
"Aku mau pulang," jawabnya tanpa menoleh ke arahnya. "Kau?"
"Aku juga mau pulang jika kau menginginkanku untuk mengemudi mobilmu. Aku tidak terbiasa mengemudikan mobil sport, tapi aku yakin aku bisa mempelajarinya dengan cepat.”
Sarah melepar kunci ke arah pria itu, tidak ada gunanya membuat musuh dengan orang lain, apa lagi dia tinggal di halaman belakang rumah orang tuanya. Sarah masuk ke kursi penumpang, sementara pria itu masuk ke kursi pengemudi dan mundur dari tempat parkir tanpa sepatah kata pun.
"Jadi," ucapnya. "Apa yang membuat wanita itu begitu marah padamu? Bukankah tadi kau bilang dia adalah ibu dari teman masa kecilmu?"
Sarah terlihat ragu untuk menjawabnya. “Dia masih… dia marah padaku."
Pria itu sekilas melirik ke arah Sarah, ia tahu bahwa gadis di sampingnya tak ingin banyak cerita. "Semarahan apa pun sebaiknya, tidak di ucapkan di depan umum," ia meraih sekotak rokok dalam sakunya, dengan cepat Sarah memberi isyarat jika di dalam mobilnya tidak boleh ada rokok sebab dirinya tak merokok. Pria itu sama sekali tak keberatan, ia menghormati aturan Sarah.
"Berapa banyak uang yang kau habiskan untuk tidur di pondok halaman belakang rumahku?"
“Aku tidak membayar sepeser pun," jawabnya tetap menatap jalanan di depannya. "Namaku James," imbuhnya. "Awalnya aku meliput pameran seni yang di gelar oleh ibumu, kemudian setelah kami ngobrol banyak dan ibumu tahu aku tinggal di pelosok Tegal. Ibumu memawariku untuk tinggal di belakang rumahnya. Tentu saja aku mau, sebab di sana aku menemukan banyak inspirasi."
"Aku senang kau mendapat inspirasi, James," jawab Sarah datar. "Aku yakin ayahmu sangat bangga dengan artikel yang kau tulis."
"Dia tidak tahu aku di sini," ucap Jemes dengan santai. "Tapi dia sempat marah besar ketika aku mengungkapkan gagasanku untuk menulis tentangmu." James menghembuskan napas pelan. "Aku sudah lama ingin mengenalmu."
"Oh, tapi sepertinya kita tidak berteman," ujar Sarah. "Apa lagi berkencan, karena aku tidak tidak ingin dekat dengan siapa pun. Jadi, berapa lama kau akan di rumahku?" Sungguh Sarah tak begitu nyaman mengetahui di belakang rumahnya ada orang lain.
"Mungkin beberapa minggu," gumamnya. "Ibumu membolehkan aku tinggal selama yang aku butuhkan, dia benar-benar memahami proyek yang aku kerjakan."
Sisa perjalanan di lanjutkan dengan keheningan, Sarah tidak lagi bertanya apa pun kepada James dan ia memilih untuk tidak peduli dengan project yang pria itu kerjakan.
semua dibikin teka teki smpai mnuju bab2 akhir...
Ga ada clue alasan atau apa yg melatarbelakangi Samuel melakukan pesugihan/kejahatan...membuat reader mencoba menebak nebak apa yg terjadi 🤭🤭
Overrall ceritanya seru dan menarik..
pesan dari cerita ini.., hiduplah dengan rasa syukur yg telah Tuhan berikan..jangan pernah brrsekutu pada jin utk menghalalkan segala keinginan kita.
akhir yg bahagia utk mereka
tp paling tidak Sarah bs melihat wajah ibunya yg sperti dulu
Apakah ini alasan ibunya Sarah..agar sarah pergi dan jangan pulang ke rumah? agar tidak diambil darahnya...
apa dia mahluk yg menyebabkan ayahnya Sarah melakukan pesugihan..
berarti selama ini Sarah juga tauu klu ayahnya melakukan pesugihan...