Rissa diceraikan oleh Arvin, suaminya demi menikahi selingkuhannya yang merupakan anak atasannya. Bukannya mendapatkan simpati karena telah diselingkuhi, Rissa semakin terpuruk karena orang-orang justru lebih mendukung Arvin dengan istri barunya. Mereka bahkan tega membully Rissa di tengah keterpurukannya.
Bagaimana Rissa membalas orang-orang yang telah menyakiti hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Kunjungan Lapangan
Hati Rissa meradang. Dia hampir terbawa emosi mendengar Karin menyebutnya miskin dan jelek. Tetapi Rissa berhasil menahan dirinya.
"Dunia memang tidak adil. Ada perempuan yang beruntung karena terlahir kaya dan cantik. Ada pula yang harus bekerja keras agar menjadi kaya dan juga menjadi cantik," balas Rissa menyembunyikan amarahnya.
"Mungkin aku termasuk salah satu wanita yang beruntung itu," kata Karin sambil tersenyum seolah mengejek Rissa. Entah kenapa sejak awal Karin merasa curiga jika Rissa ini adalah Rissa mantan istri Arvin, dan dia ingin membuktikannya.
"Berhati-hatilah, karena keberuntungan tidak berlaku seumur hidup!" balas Rissa dingin. Ingin sekali Rissa menyumpal mulut Karin agar berhenti mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Rissa sangat muak dengan sikap Karin yang dianggapnya munafik karena dia bersikap bak malaikat jika di depan orang banyak tetapi sebenarnya hatinya lebih jahat daripada iblis.
"Aku rasa aku tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Harta orang tuaku tidak akan habis sampai tujuh atau delapan generasi. Bahkan mungkin akan terus bertambah," balas Karin.
Meskipun kedua perempuan itu sama-sama terlihat tenang tetapi atmosfer ketegangan terasa sekali diantara mereka.
"Hai ... Rupanya kalian berdua ada di sini. Syukurlah kalau kalian sudah mulai akrab. Ayo, pestanya akan segera di mulai." Bella tiba-tiba muncul dan mengajak mereka kembali ke pesta.
Pagi harinya...
Rissa pergi ke perusahaan seperti biasa. Hari ini dia akan kembali melakukan meeting dengan perusahaan Wiratama jadi Rissa benar-benar mempersiapkan dirinya.
"Apakah mereka sudah datang?" tanya Rissa kepada asistennya.
"Sudah Nona, Tuan Arvin dan timnya sudah menunggu di ruang meeting."
"Baiklah, mari kita temui mereka." Rissa berjalan penuh percaya diri memasuki ruang meeting, diikuti Wina di belakangnya.
Mata Arvin tidak bisa lepas dari Rissa begitu dia masuk ke ruang meeting bahkan hingga meeting selesai. Beberapa kali Arvin terlihat membuka handphonenya seperti sibuk dengan sesuatu padahal sebenarnya dia sedang mengambil foto Rissa secara diam-diam.
Setelah dua jam meeting pun selesai. Hasil meeting mengharuskan Arvin dan Rissa melakukan kunjungan ke lapangan.
"Besok kita akan berangkat bersama atau bertemu di lokasi saja Nona Rissa?" tanya Arvin formal.
"Kita berangkat sendiri saja. Asistenku sudah membooking hotel nanti kita bertemu di hotel saja. Ngomong-ngomong, kamu cukup memanggilku Rissa kalau di luar jam kerja."
"Baiklah, sampai jumpa besok," balas Arvin sambil mengangguk kemudian pergi.
Rasanya Rissa tidak akan berlama-lama lagi. Dia harus bertindak secepatnya untuk menarik perhatian Arvin dan membuatnya berpaling dari Karin dan mungkin ini kesempatannya.
Lihat saja! Aku benar-benar akan membuat kalian menderita! geram Rissa.
*
Arvin sedang duduk bersantai bersama Karin sambil menemani anak mereka bermain. Baik Arvin maupun Karin keduanya sama-sama diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
Karin melamun memikirkan sosok Rissa yang dia yakini adalah orang yang sama dengan mantan istri Arvin. Tetapi dia dia tidak ingin memberitahu suaminya itu. Dia khawatir hal itu akan membuat Arvin penasaran dan justru jatuh cinta kepada Rissa untuk yang kedua kalinya.
Sementara itu pikiran Arvin juga sedang memikirkan Rissa. Dia masih penasaran dengan Rissa yang dikenalnya sekarang. Besok kunjungan lapangannya akan menghabiskan waktu selama dua hari, itu adalah kesempatannya untuk membuktikan jika Carissa Gunawan adalah Rissa nya dulu.
"Apakah barang-barangku sudah disiapkan Sayang?" tanya Arvin.
"Sudah," jawab Karin yang seperti tersentak dari lamunannya. "Aku tadi sudah menyuruh pembantu menyiapkan semua kebutuhanmu. Hanya dua hari kan?" Karin memastikan.
"Kamu kenapa sayang? Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?" Arvin balik bertanya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya teringat dengan seseorang, teman lama. Tetapi aku ragu dia temanku atau bukan karena dia banyak berubah."
"Bukan laki-laki kan? Aku akan marah kalau kamu mengingat-ingat teman lelakimu."
Karin tersenyum mendengar kata-kata Arvin. "Kamu cemburu?"
"Tentu saja. Aku cemburu kalau istriku yang cantik ini memikirkan laki-laki lain selain aku." Betapa berbunga-bunga hati Karin. Dia pikir Arvin sangat mencintainya padahal itu hanya rayuan murahan saja. Arvin bukan hanya tampan tetapi dia juga pintar memanipulasi perasaan orang. Tidak heran dia bisa mengambil hati Karin dan juga kedua orang tuanya dalam waktu yang lumayan singkat.
"Kamu besok tidak sendirian kan? Ada asistenmu juga?" tanya Karin.
"Tentukan saja. Kenapa memangnya?"
"Tidak apa-apa. Hanya bertanya." Karin tidak menaruh curiga sedikitpun. Dia tidak tahu jika besok kunjungan Arvin ke luar kota akan bersama Rissa, seseorang yang sejak kemarin mengganggu pikirannya. Arvin sendiri tidak ingin memberitahu Karin soal sosok Rissa yang ini.
*
Rissa tiba di lokasi proyek lebih dulu. Dia langsung mengecek kondisi di lapangan tanpa menunggu Arvin. Rissa memeriksa semuanya dengan teliti dan detail jangan sampai ada yang terlewat hingga tanpa dia sadari Arvin sudah datang.
Bukannya langsung bergabung dengan Rissa, Arvin justru mengeluarkan handphonenya dan kembali mengambil foto Rissa secara diam-diam. Setelah puas barulah dia menghampiri Rissa.
"Bagaimana Tuan Arvin? Anda puas dengan proyek ini?" tanya Rissa setelah pekerjaan mereka selesai. Kini mereka sudah kembali ke hotel dan sedang menikmati kopi berdua tanpa asisten masing-masing.
"Aku sangat puas. Ini kerja sama yang sangat menguntungkan," jawab Arvin.
Lalu mereka lanjut dengan obrolan santai dan sama sekali tidak membicarakan pekerjaan.
"Kamu tahu Rissa, aku dulu pernah menikah sebelum menikah dengan istriku yang sekarang." Arvin mulai membuka pembicaraan pribadi. Mereka sudah tidak bicara formal karena ini sudah di luar jam kerja.
"Benarkah?" Rissa pura-pura antusias meskipun sebenarnya dia tidak menyangka Arvin akan membicarakan hal ini.
"Dulu aku jatuh cinta pada seorang perempuan. Aku jatuh cinta padanya bukan karena penampilannya, tetapi karena sifatnya. Dia gadis yang manis, penurut dan sangat menghargai aku sebagai seorang laki-laki. Aku sangat bahagia ketika menikah dengannya," cerita Arvin dengan tenang sambil berusaha menemukan perubahan raut wajah Rissa.
"Kalau kamu bahagia lalu kenapa kamu menceraikannya?" tanya Rissa. Dia berusaha bersikap biasa padahal sebenarnya kata-kata Arvin telah memancing rasa marah di dalam hatinya.
"Karena lama-lama aku iri melihat teman-temanku. Istri mereka cantik-cantik dan mereka dengan bangga membawa istrinya ke setiap kesempatan. Sedangkan aku tidak bisa karena istriku tidak secantik istri mereka. Aku mulai merasa malu. Ditambah lagi, istriku hanya pengangguran di rumah, bukan wanita karir yang mandiri dan mampu mencukupi kebutuhannya sendiri. Aku jadi semakin malu."
Rissa terdiam mendengar cerita Arvin. Wajahnya sudah merah padam menahan amarah karena akhirnya dia mengetahui alasan kenapa Arvin selingkuh darinya.
semangat 👍
first blood
tripple kill
langssun maniac dan savace
🙀🙀🙀
dulu ngmg nya sangat sakit hsti
dan karin anjing betina