NovelToon NovelToon
Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:67.5k
Nilai: 5
Nama Author: Asma Khan

⚠️ No Plagiat _ No Boom Like❗

Hubungan itu ibarat detakan denyut jantung.

Ketika semua orang berlomba untuk menjadi pasangan terbaik, menyempurnakan diri untuk memikat hati pasangan mereka, hal itu tidak berlaku untuk si gadis desa dengan sgala kekurangannya.

Cantikkah? Pintarkah? Kayakah? Jawabannya TIDAK. Asma hanya gadis desa yang bekerja sebagai buruh pabrik, tetapi takdir mempersatukan garis nasib bersama Reyhan Aditya—pria dengan title bule kulkas.

Kehidupan damai dalam kesendiriannya menjadi penuh drama. Semua karena pernikahan yang dia lakukan. Istri sederhana dengan segudang keinginan selama fase kehamilan yang selalu menjadi pemicu peningkat kesabaran.

Bagaimana pernikahan di antara Asma dan Reyhan akan berlangsung? Apakah kisah tanpa nama menjadi akhir dari segalanya? Saksikan kisahnya hanya dalam Istri Rasa Depkolektor.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Usaha Bagas, Rumah Asma

"Ndu, nulis di luar sini! Minum teh bareng, Ibu."

Disingkirkannya bantal yang selalu menjadi penjaga kenyamanan, lalu beranjak dari tempat duduknya dengan malas. Walau begitu, ia tetap meninggalkan kamar. Berjalan sesaat hingga melihat wajah sang ibu yang selalu menjadi alasannya tersenyum.

"Minum dulu, Ndu. Lagian masih pagi, udah nulis aja. Gak laper apa?" Ceramah Ibu dengan suara khasnya sambil menyodorkan selepek air yang sudah dituang.

Lepek adalah tatakan mirip piring dengan ukuran mini sebesar telapak tangan. Pasti kalian pada tahu. Yah, kebiasaan menikmati seduhan teh hangat di pagi hari adalah dengan berbagi minuman segar. Sederhana bukan?

"Sudah cukup." Asma mengembalikan tatakan ke ibunya, lalu kembali fokus bermain ponselnya.

Pagi yang mendung, tetapi tidak dengan suasana hati. Rasanya masih terbawa emosi semalam. Sepintas kenangan masa lalu berkeliaran, namun sebisa mungkin ia mengabaikan hal itu. Sementara di hotel Patra terjadi kehebohan di kamar nomor 20.

"Stop!" Seru Reyhan menahan bantal yang berulang-ulang memukulnya. Bagas seperti niat untuk mengusik mimpi indahnya. Benar-benar menyebalkan. Sahabat rasa musuh lebih cocok jadi predikat pria satu itu.

"Bangun, Rey. Noh matahari udah sampai puncak. Kamunya malah masih jalan di mimpi. Rezeki dipatok ayam, loh." Celetuk Bagas dengan tangan jahilnya yang menarik selimut tebal nan lembut.

Tubuh kekar terpampang jelas tanpa sehelai benang pun, selain celana jeans yang menutupi bagian bawahnya. Hembusan udara dari AC, membuat Reyhan menggeliat. Mau, tak mau harus bangun. Daripada kena gempa susulan.

"Hmm. Jadi, pagi-pagi mau kemana?" Rey bertanya dengan malas, tetapi tatapan serius Bagas mengharuskannya semangat. Meski terkesan dipaksakan.

Bagas beranjak meninggalkan kamar Rey, membuat sahabatnya kebingungan. Satu hal yang pasti, pria itu akan menunggu dirinya bersiap. Selama belum rapi, maka tidak akan mendapatkan jawaban. Terkadang ia heran. Siapa bos, dan siapa bawahan? Nyatanya hanya tentang persahabatan.

Satu jam kemudian. Rey dan Bagas sudah duduk di dalam mobil, tapi yang menjadi supir adalah Bagas sendiri. Sedangkan Rey hanya bisa duduk tenang dan diminta menjaga sebuah pulpen yang semakin menambah rasa penasarannya. Siapa sih, pemilik pulpen itu?

Lagi dan lagi, musik diputar. Bagas fokus menyetir, Rey melihat jalanan yang mereka lalui. Ternyata banyak penjual jajanan yang tidak asing. Batagor, siomay, cimol, sate pun ada, dan beberapa makanan lain dengan gerobak warna warni.

Sepuluh menit telah berlalu. Mobil mulai melewati daerah kota, tiba-tiba Bagas memintanya untuk membuka google map. Yah kali, mau kesasar menuju rumah harapan. Setelah berputar kesana kemari. Akhirnya, menemukan patokan tugu dengan tulisan nama sebuah desa.

"Nando, kamu ini bikin kepala pusing saja. Kita muter rumah sakit dua kali. Ujungnya justru masuk desa. Alamat yang kamu catat bener gak, sih?" Keluh Rey tak habis pikir, tetapi Bagas bodo amat dan tetap fokus menyetir.

Desa dengan padatnya rumah warga. Cukup menyulitkan untuk menemukan rumah Asma, tapi setelah berjuang. Akhirnya ada titik terang. Mobil mulai memasuki daerah yang menjadi tempat tinggal si gadis incaran. Beberapa kali harus bertanya, tetapi tidak ada yang mengenal tujuannya.

"Gimana? Ketemu gak." Ujar Rey, setelah Bagas kembali masuk ke mobil.

Bagas sengaja bertanya pada orang sendiri dan membiarkan Rey menunggu di mobil. Ia tak ingin, sahabatnya tahu. Jika saat ini, tujuannya adalah rumah Asma. Di sisa kesadaran, tiba-tiba ia ingat no HP yang tercantum di surat lamaran yang pasti sudah tersimpan di ponselnya.

"Rey, apa kamu percaya takdir?" tanya Bagas menatap sang sahabat sungguh-sungguh, sedangkan yang ditatap hanya mengangguk. "Good. Kita akan menjemput takdir. Semangat."

Takdir siapa? Aku merasa ada yang tidak beres, tapi sudahlah. Nando tidak akan menyakiti sahabatnya sendiri.~batin Rey tak ingin ambil pusing dengan tindakan sang sahabat yang terlalu over semangat.

Ketika usaha begitu keras. Allah tidak akan mengkhianati hasilnya. Satu usaha gagal, tapi masih berusaha lagi. InsyaAllah, kerja kerja selalu menjadi akhir yang baik. Walau pesan tidak dibalas. Bagas menggunakan keahliannya untuk meretas lokasi dengan begitu. Ia berhasil mencapai tempat seharusnya.

Mobil sengaja berhenti di titik dekat rumah Asma. Ia ingin melihat, seperti apa kehidupan gadis itu. Hanya saja, Rey tidak sabar dan terus menerus mengajukan pertanyaan yang sama. Kemana mereka pergi, dan untuk apa?

"Rey, lihat rumah itu," Bagas menunjuk rumah yang terhalang pagar tumbuhan. "Kembalikan pulpen ke rumah itu, please. Aku gugup sekali."

"Pulpen ini? Kenapa gak turun bareng aja, kita bisa hadapi bersama." Jawab Rey mencoba meloloskan diri dari perasaannya yang seperti memberikan warning untuk waspada.

Bagas tidak mau kalah dengan jurus andalan Rey. Sekali saja, ia harus memelas. Menangkupkan kedua tangan memperlihatkan mata memelasnya. Jangan dibayangkan karena bukan lucu. Justru rasanya seperti aneh. Tingkah absurd yang tidak banget untuk seorang Bagas Fernando.

Namun, karena itu. Reyhan menyerah, lalu keluar meninggalkan mobil. Bagas hanya melihat melalui kaca depan mobil. Langkah kaki sahabatnya terus menuju ke rumah sederhana dengan pagar dedaunan. Tak sampai disitu saja. Diraihnya ponsel, kemudian menghubungi sang pemilik rumah.

"Assalamu'alaikum, Asma. Apa kamu lupa denganku, Bagas?" tanya Bagas berpura-pura mellow dengan suara lirih, panggilan yang tersambung bak keberuntungan yang berpihak padanya. "Asma! Apa kamu mendengarku?"

Perbincangan sepihak, membuat Bagas curiga. Kenapa panggilan tersambung, tetapi tidak ada suara? Apa mungkin panggilan itu tidak sengaja dijawab. Entah kenapa, justru rasa khawatir datang melanda. Niat awal hanya membiarkan Rey seorang diri untuk bertemu Asma. Namun kini, ia memutuskan ikut turun.

Langkah kaki panjangnya dengan cepat menyebrang setapak, melewati pagar tanaman. Ia tak menyangka. Diamnya panggilan dari seberang bukan karena hal buruk. Melainkan Rey dan Asma justru tengah saling pandang tanpa berkedip. Apakah keduanya shock?

Jadi, apa usahanya berhasil? Rasa penasaran dikuburnya dalam, ia kembali mengubah ekspresi wajahnya. Lalu, mengucapkan salam hingga mengalihkan perhatian Rey dan Asma yang menoleh ke arahnya. Senyuman kecil tersungging menghiasi wajahnya.

"Wa'alaikumsalam, Bang. Abang tahu rumahku dari mana?" tanya Asma santai tetapi suaranya begitu jelas seakan tengah menginterogasi pencuri.

Sontak saja, Bagas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Soal itu, aku tanya ke Mas mu, kok. Udah lupain, masa gak disuruh masuk. Cape loh, nyetir dari Temanggung sampai Kebumen."

Boleh tidak menenggelamkan sahabat seperti Bagas? Bagaimana bisa, berbicara bohong seperti itu? Ingin mengumpat, tapi hanya menumpuk dosa. Ingin mengeluh, percuma. Sahabat seperti Bagas, tidak akan mudah menyerah dalam situasi sepelik apapun.

Asma membuka pintunya lebar, merentangkan tangan. "Silahkan masuk. Aku buatkan minum dulu. Maaf, gak ada kursi. Jadi duduk di bawah, ya."

Sinar cahaya dari luar menerangi seluruh ruangan dengan luas empat kali tiga setengah meter. Dinding dengan dua warna, beberapa lukisan tangan dan sebuah kalender. Di bawah lantai kuning keramik zaman dulu, sedangkan di tengah-tengah sebuah karpet dengan ukuran dua kali satu setengah meter warna merah.

Jangankan barang berharga. Elektronik yang ada saja, hanya sebuah TV jadul dan entah itu masih menyala atau mati. Siapa yang menyangka. Asma tinggal di rumah sangat sederhana, bahkan sangat apa adanya. Rey mencoba untuk tetap diam, mengamati apa yang akan terjadi.

"Rey, jangan ditekuk wajahmu. Senyum dikit ....,"

"Bang, kopinya, sekalian buat teman Abang." ucap Asma datang membawa nampan dua gelas kopi hitam.

1
Mom La - La
hadir kk...
☕☕ untuk mu...
Bpearlpul
congrats ya kak novelnya udah tamat dan sukses terus
Bpearlpul: ♥♥♥♥♥
total 6 replies
𝐈𝐅𝐈𝐅𝐀𝐘 📴
kalau gk baca akhirannya dah protes aku, bisa²nya Fay sama Bagas gantung 😭
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ: 🚶‍♀️🚶‍♀️Cari abangnya dlu
total 3 replies
Ela Jutek
huh kenapa terjadi seperti itu
Ela Jutek: iya mesti
total 26 replies
Ela Jutek
ohhh seperti itu toh, untung obat nya istri nya sendiri😊

dan siapa kah dia belom punya istri udah pen bulan madu aja😆
Ela Jutek: hooh iya🙄
total 16 replies
Ela Jutek
haahh masa sih pak bos, gak percaya deh🙄
Ela Jutek: dikit doang
total 26 replies
𝐈𝐅𝐈𝐅𝐀𝐘 📴
wassalam ini mah, untung dah buka puasa bacanya, langsung scroll kabur🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ: 🤣berhenti ada palang
total 1 replies
Ela Jutek
uhh manis nya
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ: 😇iya ay
total 7 replies
𝐈𝐅𝐈𝐅𝐀𝐘 📴
liburan berkedok bulan madu ya😳
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ: seru sih, nunggu giliran aja 😌
total 1 replies
𝐈𝐅𝐈𝐅𝐀𝐘 📴
good job Fay, napa gk dikasih makan sekalian kan marah butuh tenaga kalau cuma minum mah gk kenyang, kembung yg ada😳
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ: jadi makan kuy lah 🚶‍♀️
total 3 replies
𝐈𝐅𝐈𝐅𝐀𝐘 📴
hm, cinta yg membutakan
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ: heem 🚶‍♀️🚶‍♀️🚶‍♀️
total 1 replies
Ela Jutek
pulang bawa dede bayi ya😄
Ela Jutek: kebanyakan emang gitu sih kak
total 30 replies
Ela Jutek
ohhh wow kaburr ahhh🏃🙈🙈
Ela Jutek: biarin lah
total 22 replies
Ela Jutek
indah
Ela Jutek: iya adanya😂
total 40 replies
Ela Jutek
emm pengagum rahasia🙄
Ela Jutek: iyaa kak otw
total 26 replies
Ela Jutek
nangis aja dulu biar lega, noh ada yang nguping tuh sapa coba
Ela Jutek: nah kan
total 16 replies
Ela Jutek
wahh ternyata diam diam cinta dengen berkedok kakak🙄
Ela Jutek: iya dong😆
total 24 replies
𝐈𝐅𝐈𝐅𝐀𝐘 📴
cinta atau obsesi? dari rasa kagum hanya akan menjadi suka, tapi rasa ingin memiliki itu disebut obsesi, so what?
𝐈𝐅𝐈𝐅𝐀𝐘 📴: cinta bisa membutakan
total 6 replies
𝐈𝐅𝐈𝐅𝐀𝐘 📴
Fay benar, di sini bukan tentang hubungan Fay dan Bagas melainkan ada hati lain yg patah 😌
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ: 🙄diem aja lah 🏃‍♀️🏃‍♀️
total 7 replies
Ela Jutek
nah lo jelaskan tuh Rey
Ela Jutek: moh ah, kaburrr🏃🏃
total 10 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!