Bhadrika Anneta Fabian memilih bersembunyi dari keluarganya karena belum siap menerima pernikahannya dengan seorang pria yang tak ia cintai.
Sementara Pangeran Aditama meski sudah tiga tahun berlalu masih terus mencari Istri sirinya yang kabur, hingga pada akhirnya ia menemukan titik terang tentang keberadaannya
" Jika kamu tak ingin aku menjadi Tuan Pemaksa, maka patuhi dan cintai aku sebagai suamimu."
" Tapi aku tetap tidak bisa mencintaimu karena di hati ini hanya ada dia. Jadi lepaskan saja aku!"
" Anne dia sudah pergi, jadi lupakanalah! Lagipula aku tidak akan pernah melepaskanmu karena kamu akan tetap menjadi istriku sampai nanti. "
Di kala Pangeran masih berjuang untuk mendapatkan cinta istri, tiba-tiba muncul seseorang yang sangat mirip dengan almarhum pria yang sangat Anne cintai.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan mereka selanjutnya?
Follow ig Author : Novi_Rahajeng08
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi rahajeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Bertemu?
Selama mengobrol, Oma Amarante terus memperhatikan ekspresi serta gerak gerik Pangeran, dan ia meyakini bahwa pria yang sedang duduk bersantai dengannya bukanlah hanya sekadar teman Aurora.
" Kamu, bukan teman Rora 'kan?" ujar Oma Amarante yang akhirnya mengeluarkan pemikirannya.
" Maksud Oma?" tanya Pangeran yang terlihat bingung.
Oma Amarante tersenyum. " Siapa kamu? Kenapa mencari Rora?" Bukannya menjawab, Oma Amarante justru bertanya kembali.
Pangeran terlihat tertunduk sejenak, sebelum akhirnya menjawab. " Jika saya mengatakan bahwa saya adalah suaminya, apakah Oma akan percaya?" Pangeran bertanya balik.
Oma Amarante kembali tersenyum karena tebakannya ternyata benar. " Jadi, kamu suaminya?"
" Oma percaya?"Pangeran memastikan kembali.
" Meski kurang yakin, tapi saya bisa melihat bahwa kamu sedang berbicara jujur, "terang Oma Amarante sambil kembali menyeruput tehnya.
Oma Amarante, dulunya adalah seorang psikiater yang cukup terkenal di kota Bern. Tapi, setelah usia lanjut ia memutuskan untuk pergi dari keramaian kota dan berakhir tinggal di kota ini sejak lima tahun terakhir. Makanya, dia bisa membaca mimik wajah seseorang.
"Dari perkataan Oma, sepertinya bukanlah orang sembarangan," tebak Pangeran.
" Sepertinya kamu ada kemiripan dengan Rora, bisa menebak seseorang."
" Oh, ya?"
Oma Amarante mengangguk. Setelahnya, ia menceritakan tentang Aurora yang dapat menebak dirinya sebagai seorang psikiater hanya dari obrolan mereka.
" Dia bisa mudah mengenali karena mempunyai Kakak yang pintar dalam bidang itu, "terang Pangeran yang jadi teringat pada Lean.
" Oh ... Pantas saja. "
" Lalu, jika kamu adalah suaminya kenapa tidak tahu rumah Rora? "
Dikarenakan Oma Amarante adalah seseorang yang cukup tahu tentang Anne, maka Pangeran memberanikan diri untuk bercerita. Lagipula, dia juga ingin tahu banyak tentang kehidupan Anne selama di sini.
" Jika seperti itu, pantas saja jika dia memilih tinggal di tempat ini," ucap Oma Amarante setelah mendengar cerita Pangeran tentang Anne yang pergi dari rumah karena tak bisa menerima keadaan.
Akhirnya rasa penasaran Oma Amarante selama ini terjawab sudah. Dimana Ia terlihat bingung serta heran saat melihat seorang gadis muda yang justru pindah tinggal di sebuah desa kecil. Pasalnya, para pemuda penduduk asli saja banyak yang merantau ke kota untuk mendapatkan pekerjaan dan hidup lebih baik. Tapi, jika alasan untuk menenangkan atau mengasingkan diri dari keramaian tempat ini memang cocok.
Meski Aurora yang ia kenal adalah seorang gadis yang ramah dan periang, tapi Oma Amarante dapat melihat bahwa ada luka yang sedang ia tutupi.
...***...
Di tempat lain, terlihat seorang gadis yang tengah asyik melukis potret Daddynya.
" Daddy, tersenyum," kata Anne yang memberikan aba-aba agar Daddynya tersenyum.
" Apakah sudah cukup? Jika terlalu lama tersenyum, gigi Daddy bisa kering Ra ...," ujar sang Daddy saat ia sudah cukup lama tersenyum.
" Oke, sudah cukup!"
Anne terlihat sangat fokus dalam melukis potret diri Daddynya. Sejak kecelakaan yang menimpa Daddy Samuel tiga tahun lalu, Anne dan Jeremy sepakat untuk membawanya pergi dari kota New York.
Meski mereka tak ada hubungan darah, tapi Anne dan Jeremy merasa seakan punya tanggung jawab untuk menjaganya dengan baik.
Soal perusahaan dan beberapa aset semua Jeremy jual, kecuali Mansion karena di belakang Mansion tersebut ada makam Brian.
" Ra...," panggil Daddy Samuel.
" Ya, Da. Ada apa?"
" Sampai saat ini, kenapa kamu tidak pernah membawa seorang pria untuk di perkenalkan pada Daddy?"
Anne meletakkan pena lukisnya, lalu mengenggam kedua tangan Daddy Samuel.
" Karena Rora masih nyaman hidup seperti ini."
" Tapi, Daddy juga ingin melihat putri Daddy yang cantik ini memiliki kekasih layaknya anak-anak para orang tua lainnya agar ada yang menjaganya. "
" Dad ... meski tidak memiliki kekasih, Rora bisa menjaga diri ini sendiri. Jadi, punya atau tidak punya tetap sama saja. "
" Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusanmu. Tapi ingat___ senyaman-nyamannya hidup sendiri, lebih nyaman jika ada seseorang yang bisa menjadi rumah untuk kita. "
Rumah dalam artian, bisa menjadi tempat yang paling ternyaman. Dimana, didalam rumah itu ada sebuah kehangatan dan kasih sayang dari penghuninya yang bisa di sebut sebagai keluarga.
Sebagus-bagusnya bangunan rumah jika tak ada kehangatan cinta dan kasih sayang dari keluarga, akan tetap terasa sunyi.
Dan itulah yang Anne rasakan saat ini, meski memiliki rumah dengan pemandangan yang saat indah. Ia masih saja merasakan kesunyian karena tak memiliki seseorang yang mampu membuat hidupnya kembali penuh warna dan kebahagiaan.
...***...
Kabut awan masih terlihat, suara kicauan burung pun terus terdengar diiringi suara air terjun yang terus mengalir bagaikan alunan musik yang begitu menenangkan.
Mengingat pagi sudah datang, Pangeran pun segera bergegas pergi setelah menikmati sarapan paginya. Pasalnya, Oma Amarante mengatakan bahwa Anne akan pulang di waktu petang, tetapi dia tak pernah mau menerima tamu di malam hari. Jadi, Pangeran memutuskan untuk datang di pagi harinya.
" Tempat yang indah sekali," puji Pangeran saat melihat pemandangan di depan rumah Anne yang begitu sejuk dan menenangkan. Tak mau terlalu larut dalam keindahan alam yang bagaikan lukisan, Pangeran kembali melanjutkan langkahnya memasuki pekarangan rumah yang tak ada gerbangnya itu.
Pangeran terlihat menarik nafas dalam-dalam sambil menggesekkan kedua tangannya agar lebih hangat. Mengingat lokasinya di keliling oleh gunung dan air terjun, suhu udaranya memang sudah sangat dingin meski belum memasuki winter. Apalagi tubuh Pangeran sudah terbiasa hidup di iklim tropis, membuatnya lebih mudah merasa kedinginan.
Perlahan, Pangeran mulai mengetuk pintu rumah yang terbuat dari kayu itu. Namun, tak terdengar ada sahutan dari dalam rumah itu.
" Apa Anne belum kembali?" gumam Pangeran. Setelahnya, Ia berjalan keliling untuk melihat keadaan di sekitar rumah Anne, dan ia tak dapat melihat bahwa ada seseorang di dalam sana.
" Sebenarnya, Anne pergi kemana sampai belum kembali. Apa jangan-jangan___" akibat sudah pernah di tinggal pergi tanpa pesan, membuat Pangeran mudah memikirkan hal-hal buruk yang bisa saja terjadi.
Dengan langkah cepat, Ia berjalan pergi meninggalkan rumah itu. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti saat netranya menatap ke arah seseorang yang tengah berdiri tak jauh dari tempatnya saat ini.
...****************...
penasaran sama lnjtn nya