JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN CERITANYA! Karya ini mengadakan Event. ikuti ceritanya dan menangkan hadiahnya.
Menikah muda adalah pilihan Putri Anis (18) dengan Angga Prabowo (20). Alih-alih karena beralasan tidak ingin berpacar-pacaran dan menghindari zina di jaman modern seperti ini. Akhirnya mereka memutuskan menikah tepat ketika Putri lulus sekolah.
Gosip simpang siur tentang pernikahan Putri dan Angga yang terkesan buru-buru membuat para lambe tureh memiliki cerita hangat untuk mereka gosipkan.
Kata menikah, terkadang dalam benak para muda-mudi adalah sesuatu yang mudah untuk di jalani.
Sang istri masak, mengurus rumah dan mengurus anak, dan suami bekerja di luar. Benar-benar terdengar sangat mudah.
Tetapi ... Apakah akan semudah itu?
Apakah beberapa kalian setuju dengan ku jika tidak akan semudah itu?
Mari kita simak bersama-sama cerita kelanjutannya seperti apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamaperi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah aku pembantu.
Putri pun mengendong anaknya sambil menyapu rumah dan beres-beres kamarnya. Jika mengangkat barang berat, maka dia akan menggendong anaknya di belakang. Dengan sekuat mungkin dia mengencangkan jarik supaya anaknya tidak terjatuh.
Lelah, lapar, sakit hati, membuat tubuh Putri bergetar hebat. Dia tidak tahan untuk tidak meneteskan air mata. Dia bertekad dalam hati, jika dia akan berusaha dan mencari uang sendiri agar dia bisa keluar dari rumah mertuanya.
Usai kamar telah di bersihkan, dan kasur telah di pasang. Semua perabotan telah di susun rapi. Putri pun memutuskan untuk tidur dengan perut yang lapar.
Pagi tadi Putri hanya memakan dua roti, bahkan dia belum sedikit pun memasukan nasi ke dalam perutnya.
Untuk mengganjal lapar, sebelum tidur dia hanya meminum air putih sebanyak mungkin.
Beruntung, anak Putri sangatlah pintar. Dia tidak rewel dan mudah untuk tidur. Dia hanya akan menangis jika haus atau lapar.
Jam 3 sore akhirnya Putri memejamkan mata setelah anaknya tertidur.
Tidak terasa jam menunjukan 5 sore. Angga dan keluarganya kembali pulang setelah merumpi banyak hal di tetangga mereka yang jual pecel itu.
"Dek, bentar lagi Fika pulang, ya. Kenapa dia pulang ya, padahal lumayan kerja di sana. baru dua tahun lebih kan dia pergi," ujar Anggun.
"Iya mbak. Gak tau kenapa dia tiba-tiba mau pulang. Padahal di sini udah gak ada orang tuanya."
"Mau nikah paling ya dia?"
"Gak tau Mbak."
"Dek, kamu tau gak. Fika itu kayaknya suka Lo dek sama kamu."
"ish, apaan sih mbak Anggun."
Angga pun cemberut di depan mbaknya. Dulu, Fika adalah perempuan yang terlihat kumuh dan tidak terurus. Walaupun sebenarnya cantik, tapi terlihat tidak menarik.
"Hehehe, bercanda, dek."
Setelah mereka masuk rumah, mereka pun tidak melihat keberadaan Putri.
"Angga, di mana istri mu?" tanya Ibu karmi.
"Paling lagi mandi, Buk. Apa nggak di kamar," jawab Angga.
Anggun pun berjalan menuju dapur dan melihat jika di dapur tidak ada nasi ataupun lauknya. Matanya langsung melebar.
"Loh! Istri kamu gak masak?" tanya Anggun kepada Angga.
"Gak tau, mbak. Coba aku lihat dulu dia lagi apa." Angga pun masuk ke dalam gudang yang sudah menjadi kamar yang bersih.
Kini, tempat benar-benar sangat layak untuk di tempati.
Angga, ketika masuk ke dalam kamar, ia mendapati istrinya yang sedang tidur sedangkan anaknya bermain sendiri di samping sang ibunya yang sangat nyenyak.
Angga pun menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang malah nyantai-nyantai tidur sampai sore.
Padahal, Angga tidak tahu jika istrinya baru saja merebahkan tubuhnya dan meluruskan pinggangnya yang terasa hampir patah.
"Putri, put!?" Angga pun membangunkan Istrinya.
Putri pun terbangun dengan perlahan. Sungguh tidurnya sangat nyenyak sekali.
"Mas?" Putri terlihat kesulitan untuk sadar dari tidurnya. Karena dia benar-benar sangat lelah.
"Kamu ini gimana sih kok malah enak-enak tidur. Aurel belum kamu mandikan, kamu juga gak masak. Ini sudah jam berapa," ucap Angga pelan tetapi di telinga Putri itu adalah lahar yang langsung membakar hatinya.
Setelah semua yang lakukan, suaminya dengan ringan jika dirinya hanya lehai-lehai. Rasanya Putri ingin balok untuk memukul isi kepala suaminya.
Sesaat, Putri pun menarik nafas dalam-dalam.
Putri pun mencoba untuk tenang dan langsung menggendong anaknya.
"Baik Tuan, saya akan memandikan anak anda dan memasak untuk semua orang di rumah. Sebelum itu, tolong tinggalkan uang diatas kasur, setelah mandi saya akan belanja, karena di dapur tidak ada apa-apa untuk saya masak!" Putri terlihat tenang dan membawa anaknya ke untuk mandi. Angga pun terlihat bengong dengan respon putri yang aneh.
"Kenapa anak itu, aneh?" gumam Angga.
Putri benar-benar tidak percaya jika suaminya bisa berkata jika dirinya hanya enak-enak tidur. Padahal dia sudah melakukan semuanya sendiri, bahkan sampai perutnya kelaparan pun suaminya tidak dapat mengerti dirinya.
Ketika keluar dari kamar, dia melihat Anggun yang sedang mengambil baju di jemuran.
"Putri!" Panggil Anggun.
Putri pun terpaksa menoleh.
"Hem, iya mbak?" sahut Putri dengan malas. Sungguh dia sangat malas untuk bertatapan, apalagi harus berbicara dengan Anggun.
"Nanti malam tolong gosokin baju ya. Aku capek mau istirahat lebih awal. Oya, kamu jangan lupa masak buat makan nanti malam, jangan nyantai-nyantai numpang di rumah orang!" sindirnya sinis.
Putri pun memaksakan senyum dan berkata, "Baik, Nyonya!" jawabnya santai lalu membawa anaknya masuk ke dalam kamar mandi.
"Ih dasar anak aneh, Cih!" Anggun pun berdecak sinis.
Di dalam kamar mandi, dia memandikan anaknya dengan mimik wajah yang sangat kesal. Dia bertekad akan merubah nasibnya sendiri dan berdiri di atas kakinya sendiri.
"Sayang, kamu dukung ibu ya, nak? Doakan ibu supaya ibu bisa sukses dan kita bisa tinggal di rumah kita sendiri," ucap Putri kepada anaknya. Aurel pun hanya tersenyum sumringah melihat ibunya yang berbicara kepadanya.
Cerita kembali pada masa-masa sekolah dulu. Putri membayangkan segala janji manis yang terlontar dari mulut suaminya.
"Dek, nilai kamu bagus-bagus semua. Kamu mau kuliah?" tanya Angga.
"Insyaallah, Mas. Kata bapak juga di suruh lanjut."
"Dek, bukannya bapak udah setuju kita nikah muda?"
"Iya, Mas, tapi kata bapak di suruh kuliah dulu."
"Dek, gimana kalo gini aja. Kita nikah, nanti biar mamas yang membayar biaya kuliah dek Putri. Biar mamas yang menanggung semuanya."
"Ta-tapi mas, biaya kuliah gak murah. Terus, nanti kalo Putri hamil gimana?"
"Kamu tenang aja. Kita atur mulai saat ini. Jadi, kita akan menunda kehamilan, kamu kuliah dan aku kerja. Nah, ketika kamu sudah lulus dan bekerja jadi PNS, barulah kita akan program kehamilan."
Semua memang terdengar sangat mudah.
"Tapi Mas, apa cukup? Mamas kan cuma kerja jadi tukang bangunan?" tanya Putri dengan hati-hati.
"eits, jangan salah dek, tukang bangunan besar juga lo bayarannya . Kalo sehari 150ribu, buat makan 50rb, terus yang 100rb di tabung. Belum juga, sebelum mamas kerja, mamas juga akan nderes karet dulu ketika masih sibuh. Pasti bisalah kalo cuma biaya kuliah mah."
Semua yang Putri dengarkan benar-benar sangat mudah dan tidak ada jurang.
Sampai akhirnya, ketika mereka menikah usai kelulusan Putri. Malam pertama pun menjadi bencana. Bencana untuk semua yang sudah mereka rencanakan.
"Mas, gak pakai pengaman?" tanya Putri.
"Udah, gak usah. Nanti biar di keluarin di luar aja. Lagian cuma sekali aja, gak akan jadi!"
Tapi ternyata dan nyatanya. Yang hanya sekali itu, membuat Putri positif dalam waktu 2 Minggu usai menikah.
Dan pada akhirnya adalah titik ini. Semua janji-janji manis hanyalah sebuah janji. Yang tersisa hanyalah goresan luka dengan segala janji-janji manis.
.
.
.
.
.
.
.
.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN.
KARYA INI MENGADAKAN EVENT.
11 PEMENANG AKAN DI UMUMKAN KETIKA KARYA INI TAMAT.
10 PEMENANG AKAN MENDAPATKAN PULSA SEBESAR 10.000.
DAN JUARA SATU AKAN MENDAPATKAN HADIAH SPESIAL SEBESAR 25.000.
CARANYA..
BERI DUKUNGAN DAN HADIAH KEPADA AUTHOR SEBANYAK-BANYAKNYA 🥰🥰🥰
slm sukses
semoga sukses selalu untuk semua karya-karya nya 🥰
Happy Ending
My Bestie mampir