WARNING!!!
Area 21+🔥🔥
HARAP BIJAK DALAM MEMILIH BACAAN YA.
Martin Williams, seorang pemuda berusia 26 tahun dititipkan seorang anak gadis berusia 05 tahun oleh sahabatnya yang meninggal karena menderita penyakit kanker getah bening stadium akhir.
Martin awalnya akan menyerahkan anak gadis tersebut kepada ayahnya yang keberadaannya belum diketahui. Namun, saat ia mengingat kembali ucapan Larissa, ibu dari gadis tersebut, Martin memutuskan untuk mengurungkan niatnya.
"Martin, kumohon jaga putriku, aku percaya kamu akan merawatnya dengan baik. Dan aku mohon, jangan sekalipun kamu menyerahkan Ayu pada ayahnya, dia bukan ayah yang baik, aku tidak bisa mempercayakan Ayu pada ayahnya untuk dirawat olehnya. Ku mohon."
Martin pun mau tidak mau mengiyakan dan memutuskan untuk merawat Ayu juga menganggapnya sebagai putrinya sendiri. Namun, saat usia Ayu menginjak 18 tahun, Martin malah jatuh cinta pada putri angkatnya tersebut dan bertekad akan menjadikan Ayu sebagai wanitanya. Bagaimanapun caranya. Tidak peduli dengan usianya yang hampir menginjak kepala empat.
Bagaimanakah Ceritanya? Yuk kita ikuti perjalanan cinta Om Martin yang penuh dengan kekonyolan.
IG: @el_gazendra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El_Gazendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter-06
Martin beranjak dari kursinya lalu berjalan ke arah dua orang yang berbeda generasi itu.
"Sayang, udah dulu ya mainnya, sekarang waktunya makan siang." Martin merentangkan tangannya yang langsung disambut antusias oleh Ayu.
Seperti sudah menjadi kebiasaan, Martin selalu mencium kening juga kedua pipi Ayu dengan penuh sayang.
"David, temani saya makan siang dan tolong bawakan tas kerja saya, mungkin setelah makan saya akan langsung pulang." Ujar Martin lalu segera melangkahkan kakinya ke arah lift tanpa menunggu jawaban David.
David mengekor dibelakangnya sembari menggoda Ayu dengan mengekspresikan wajah jeleknya. Kebetulan Ayu sedang melihat ke arah belakang.
Ayu tertawa cekikikan melihat wajah David yang terlihat sangat lucu menurutnya.
Alhasil, Ayu malah keasyikan bermain dengan David, membiarkan Martin yang terlihat cemburu karena Ayu lebih fokus pada David ketimbang dirinya.
Lift pun sampai dilantai utama, keduanya langsung berjalan menuju mobil milik Martin yang terletak di Bassmant khusus.
Mobil melaju meninggalkan gedung tersebut, membelah jalanan kota untuk menuju restoran tujuan.
Tidak butuh waktu lama, mobil pun sampai juga disebuah restoran mewah yang terlihat ramai pengunjung.
Martin dan David masuk ke dalam restoran tersebut dan memilih makan di ruang terbuka saja supaya Ayu tidak merasa kebosanan.
Martin dan David duduk. Saat akan mendudukkan Ayu di kursi sampingnya, Ayu malah memeluk leher Martin erat.
"Kenapa sayang? Duduk dulu ya, Om pegal." Kata Martin, namun Ayu masih tetap bergeming dan malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Biar sama saya aja Bos." Tawar David. "Sini sayang, sama Om David dulu." Rayu David sembari beranjak dari duduknya.
Beruntung Ayu mau berpindah pada David, mungkin karena sudah merasa kenal dengan David, jadi Ayu tidak merasa takut ataupun malu lagi padanya.
"Martin? Kamu Martin kan?" Tiba-tiba suara seorang wanita menyita perhatian keduanya.
Wanita cantik berpenampilan glamor itu terlihat tengah memastikan wajah Martin, dirasa benar dugaannya, wanita berwajah Asia tersebut langsung merangkul tubuh Martin dengan erat.
"Kamu apa kabar? Aku kangen banget loh.. Kamu makin ganteng aja." Ujarnya setelah melepaskan pelukannya.
"Clarissa?" Tanya Martin memastikan.
"Syukurlah kalo kamu masih mengenal aku haha." Jawabnya tertawa kecil.
Martin terkekeh kecil, tak menyangka akan bertemu dengan teman lamanya tersebut.
Clarissa Mayangsari, wanita muda berusia 24 tahun tersebut adalah teman Martin sejak keduanya duduk di bangku SMA, namun keduanya berpisah karena kembali melanjutkan pendidikannya masing-masing di Universitas berbeda.
Wanita muda yang kerap disapa Mayang juga merupakan anak dari sahabat ayahnya Martin.
Dulu Martin dan Rissa sempat dijodohkan oleh kedua orang tua mereka, entah saat itu serius atau hanya candaan saja.
"Aku baik, kamu sendiri apa kabar?" Tanya Martin biasa saja, tidak se antusias Rissa.
"Puji Tuhan baik juga, aku boleh gabung disini?" Tanya Mayang seraya melihat ke arah Ayu yang sedang menatapnya tak suka. Entah apa yang ada dalam pikiran bocah tersebut.
"Silahkan-silahkan, Kebetulan kita juga baru datang." Kata Martin melirik pada David juga Ayu.
Mayang pun langsung duduk setelah mendapat izin Martin, ia duduk tepat disamping Martin, bersebrangan dengan David yang memangku Ayu.
"Huwaaaa..." Tiba-tiba Ayu menangis histeris saat melihat Martin di dekati oleh Mayang.
"Mau cama Om huwaaaa..." Ayu nangis kejer seraya mengulurkan tangannya minta di pangku oleh Martin.
Martin yang terkejut pun langsung beranjak mengambil alih Ayu dari pangkuan David.
"Cup cup cup, ada apa sayang? Kenapa nangis hm?" Martin mengelus kepala Ayu sembari menggerak-gerakkan tubuhnya
Ayu tidak menjawab, ia hanya terisak sembari menelusup kan wajahnya di ceruk leher Martin.
Kejadian tersebut tentu tak luput dari pandangan Mayang yang menatapnya bertanya-tanya.
"Itu anak kamu Mar?" Tanya Mayang dengan ekspresi penasarannya.
Martin nampak terdiam, haruskah ia memberitahukan ceritanya.
"Bukan, dia ponakan aku." Jawab Martin berbohong. Untungnya saja Mayang tidak terlalu mengetahui silsilah keluarganya.
Mayang mengangguk dengan perasaan lega. Ia kira Martin sudah menikah dan bocah tersebut adalah anaknya.
"Oh, aku kira anak kamu, mirip soalnya." Ucap Mayang tersenyum kecil.
Tentu saja ucapan Mayang membuat sebuah pertanyaan di kepala Martin.
Sungguh kah Ayu mirip dengannya? Pikirnya.
"Hehe, mungkin karena aku Om-nya, jadi terlihat mirip." Kata Martin tertawa kecil.
Mayang pun menyetujui ucapan Martin dengan anggukan nya.
Martin mendudukkan kembali dirinya setelah Ayu berhenti menangis. Entah ada apa dengan bocah tersebut, ia seperti tidak menyukai melihat Martin berdekatan dengan Mayang.
Apalagi sekarang Ayu nampak memeluk erat tubuh Martin seraya memunggungi Mayang. Jelas, Ayu seperti memberi jarak antara Martin dengan wanita tersebut.
David pun diam-diam menahan tawanya, ia sadar betul dengan apa yang dilakukan Ayu. Secara tidak sadar Ayu tidak ingin Om-nya berdekatan dengan Mayang dan entah apa penyebabnya.
Namun, yang jelas David mendukung aksinya Ayu. Jujur, David pun merasa kurang suka dengan sosok Mayang. Apalagi saat melihat pakaiannya yang terlihat kekurangan bahan.
Martin dan Mayang juga sadar dengan prilaku Ayu. Entah kenapa Martin merasa senang saat menyadari Ayu tidak menginginkan dirinya berdekatan dengan Mayang dan menghalangi tubuhnya agar tidak berdekatan dengan Mayang.
Sedangkan Mayang, ia merasa kesal saat ia tidak bisa berdekatan lagi dengan Martin. Padahal awalnya ia ingin duduk memepet pada tubuh Martin. Entah kenapa pesona Martin sekarang terlihat lebih memancar ketimbang saat mereka masih sekolah dulu.
Mayang pun pada akhirnya merasa tidak suka pada Ayu. Bocah tersebut sepertinya akan menjadi penghalang untuk ia mendekati Martin.
Namun Mayang berusaha untuk tidak memperlihatkan ketidaksukaannya, ia memperlihatkan senyuman manisnya pada Ayu, berharap Ayu mau berkenalan dengannya.
"Hai cantik, kita belum kenalan loh, nama kamu siapa?" Tanya Mayang pada Ayu dengan suara khas anak kecil.
Ayu tidak bergeming, melirik pada Mayang pun tidak. Ia tetap memeluk leher Martin erat.
Geram karena tidak mendapat respon dari Ayu. Mayang pun berusaha untuk tidak memperlihatkan ketidaksukaannya, mengingat Martin tengah melihat padanya dengan ekspresi tidak enak.
"Maafin Ayu ya, dia memang tidak mudah akan sama orang baru." Ujar Martin.
Mayang tersenyum seraya mengangguk. "Gak pa-pa kok santai aja, aku bisa maklumin."
Martin mengangguk, "Ya sudah, sekarang kita pesan makan aja ya, soalnya Ayu harus segera pulang, sudah waktunya tidur siang." Kata Martin yang langsung diangguki oleh Mayang juga David.
David pun memanggil waiters, setelahnya mereka pun memesan menu keinginan mereka masing-masing.
Setelah mencatat semuanya, waiters pun pamit. Beberapa menit kemudian, makanan pun datang dan siap untuk disantap.
"Selamat menikmati." Kalimat tersebut menjadi penutup sebelum waiters berlalu pergi.
Ketiganya pun mulai menyantap makanannya masing-masing. Ayu makan dari suapan Martin, tentunya satu piring juga.
Saat tanpa sengaja melihat kaldu minyak yang menempel dibibir Martin, Mayang lantas berinisiatif untuk menyeka nya. Namun saat ibu jarinya sampai di bibir Martin, tiba-tiba Ayu menggigit pergelangan tangan Mayang dengan keras.
"Aaaaa!!!" Mayang menjerit karena merasa kesakitan, gigi kecil Ayu benar-benar meninggalkan bekas dikulit mulusnya.
Sontak hal tersebut membuat orang-orang yang ada disana ikut terkejut, terutama Martin dan David.
"Kamu gak pa-pa kan?" Tanya Martin dengan ekspresi khawatir seraya meraih tangan Mayang yang menjadi korban gigitan Ayu.
Wajah Mayang sudah memerah, namun ia masih memaksakan senyumannya.
"I-iya gak pa-pa kok." Kata Mayang dengan ekspresi sedikit meringis.
Martin melirik ke Arah Ayu yang juga tengah menatapnya dengan tatapan polos tanpa dosa.
"Sayang, gak boleh gitu ya. Kasihan tantenya jadi kesakitan." Tegur Martin lembut.
Ayu tetap diam, namun ekspresinya sedikit cemberut.
"Maafin Ayu ya May, dia gak biasanya seperti ini." Kata Martin dengan ekspresi merasa bersalah.
"Iya gak pa-pa, gigitnya juga gak kencang kok." Bohong Mayang, namun dalam hatinya menggerutu menyumpah serapahi Ayu.
David yang sedari tadi menyaksikan kejadian tersebut hanya tertunduk dengan bibir terlipat. Ia menahan diri agar tidak tertawa, sungguh David sangat suka melihat aksi Ayu.
Anak kecil pasti tahu mana orang yang punya niat baik dan mana yang enggak. Batin David, entah kenapa ia benar-benar tidak suka pada buaya betina berwajah kalem tersebut.
skip..malas gw baca😪