Kayla Daviena, seorang gadis konglomerat yang hidupnya suka foya-foya. Karena sikapnya itu, sang ayah mengambil seluruh kartu kreditnya dan bahkan menyuruh Kayla untuk tinggal seorang diri di kos-kosan sederhana di tengah kota! Hidup pas-pasan, tunggakan yang numpuk, piring belum di cuci, semuanya datang bertubi-tubi tanpa henti dalam hidup gadis itu. Siapa sangka ia tiba-tiba bertemu cowok aneh super menyebalkan yang tinggal di sebelah kosnya, dan mendadak di cowok itu memacari dirinya tanpa aba-aba! Apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngaku jadi pacar
Kayla sampai di kosan dengan kondisi yang benar-benar menyedihkan. Rambutnya lepek, bajunya basah kuyup, dan flat shoes-nya sudah tidak berbentuk lagi. Sepanjang jalan menuju kamar, ia tidak berhenti mengomel, menyalahkan cuaca, menyalahkan Raka, dan terutama menyalahkan bocah SMA bernama Juna yang sukses membuatnya malu setengah mati di gazebo tadi.
"Sial banget! Sial, sial, sial!" gerutu Kayla sambil membanting pintu kamar mungilnya.
Ia segera membersihkan diri dan membereskan baju-bajunya yang tadi pagi sempat berantakan. Setelah mandi dan merasa sedikit lebih segar, perutnya tiba-tiba berbunyi nyaring. Kayla memegang perutnya yang keroncongan, lalu membuka lemari plastik miliknya. Kosong. Hanya ada tumpukan baju dan beberapa lembar uang lima puluh ribuan yang tersisa dari kembalian isi pulsa tadi.
"Aduh, gue lupa belum beli stok makanan," gumamnya lemas.
Karena tidak tahan lagi menahan lapar, Kayla akhirnya memutuskan untuk keluar menuju dapur umum. Ia membawa sebungkus mie instan rasa soto yang ia temukan di pojok tasnya. Ia berdiri di depan kompor gas tua itu dengan wajah bingung. Tangannya ragu-ragu memegang knop kompor yang sudah agak berkarat.
"Ini... cara nyalainnya gimana sih? Diputar atau ditekan?" Kayla mencoba memutar knopnya, tapi tidak terjadi apa-apa kecuali suara desisan gas yang membuatnya kaget. "Eh, kok bunyi? Meledak ngga nih?! Duh, tolong!"
"Minggir deh. Daripada kita berdua jadi ayam panggang gara-gara lo nggak bisa nyalain kompor, mending gue yang turun tangan."
Kayla tersentak dan menoleh. Sosok Juna sudah berdiri di sampingnya dengan kaos oblong dan celana pendek, tampak sangat santai. Tanpa permisi, Juna menggeser tangan Kayla, menekan knop kompor itu sedikit lalu memutarnya dengan mantap.
Ctak! Bwuusshh! Api biru langsung menyala.
"Nih, nyala kan? Gitu saja pakai acara mau panggil tim SAR," sindir Juna sambil menyandarkan punggungnya di pinggiran meja dapur, memperhatikan Kayla yang sedang menunggu air mendidih.
Kayla mendengus kesal sambil menaruh panci di atas api. "Gue cuma tidak terbiasa sama barang museum begini, ya! Makasih!"
Juna tidak langsung pergi. Ia justru mengambil sebuah bangku plastik kecil dan duduk di sana sambil memperhatikan Kayla yang sedang sibuk menusuk-nusuk mie yang masih keras dengan garpu.
"Lo tahu ngga? Masak mie itu ada seninya. Jangan ditusuk-tusuk begitu, nanti mienya trauma," ceplos Juna asal.
"Apaan sih! Mana ada mie trauma! Lo mending pergi deh, ganggu konsentrasi gue aja," balas Kayla ketus.
"Gue juga lapar kali. Nih, gue bawa telur dua biji. Kita bagi dua ya? Sebagai biaya jasa gue nyalain kompor tadi," ucap Juna sambil memecahkan telur ke dalam panci Kayla tanpa persetujuan.
"Heh! Itu mie gue! Main cemplung-cemplung aja lo!" Kayla protes keras, matanya melotot menatap dua butir telur yang sekarang sudah berenang di dalam pancinya.
Juna cuma nyengir santai sambil mengaduk-aduk isi panci pakai garpu milik Kayla. "Ya elah, perhitungan amat. Telur dari gue, kompor gue yang nyalain, jasa keamanan pas petir tadi juga dari gue. Harusnya lo bersyukur mienya jadi ada gizinya dikit."
"Gue nggak minta ya!" Kayla mencoba merebut garpunya kembali, tapi Juna dengan sigap menjauhkan tangannya.
Kayla mendengus, tapi kakinya tetap melangkah mengambil mangkok plastik tambahan. Entah kenapa, dia jadi menurut saja pada bocah SMA ini.
Akhirnya, mereka berdua berakhir duduk di teras dapur yang menghadap ke area jemuran, masing-masing membawa mangkok. Suasana yang tadinya panas karena adu mulut mendadak jadi agak tenang karena mereka sibuk meniup-niup mie yang masih mengepul.
"Ternyata enak juga ya makan mie pas hujan begini," gumam Kayla pelan.
"Iya lah, apalagi makannya bareng gue," celetuk Juna.
Kayla menoleh cepat dengan tatapan tajam, "DIH! Kepedean banget sih lo, kok ada ya manusia yang sepercaya diri ini di bumi?"
"Gue mah emang percaya diri, ganteng lagi!"
Kayla langsung memasang ekpresi wajahnya ingin muntah. Rasanya ia mual mendengar ucapan asbun dari laki-laki di sampingnya itu.
"Jadi, gimana?" tanya Juna.
Kayla mengerutkan dahinya. "Apanya yang gimana?"
"Kan lo belum jawab pertanyaan gue, lo mau ngga jadi pacar gue-"
"Ngga!" Kayla memotong cepat dengan ketus.
Juna tersenyum jahil. Lucu sekali melihat wajahnya gadis itu yang tampak kesal. Ia melihat kepulan asap yang menyeruak di mangkuk mie miliknya, lalu kembali membuka suara.
"Kalau lo jadi pacar gue, kebutuhan lo bakal gue tanggung deh!" ucap Juna.
Kayla tertawa kecil, membuat cowok itu memasang wajah kebingungan. "Heh, anak kecil! Lo aja masih minta sama orang tua, gimana lo mau biayain kebutuhan gue? Emang gue istri lo gitu? Aneh!"
"Heh oma-oma, gue nih orang kaya. Gini-gini gue udah punya penghasilan, jadi gue ngga melulu minta ortu!" timpal Juna tak mau kalah.
"Anak kecil kayak lo? Punya penghasilan? Mencurigakan! Jangan-jangan lo kerja di bar ya? Atau jangan-jangan lo pengedar?!" ucap Kayla dengan mata menyelidik.
"Astaghfirullah, gue kerjanya halal ya! Dasar negatif thinking!" kata Juna.
"Gue punya toko online, ya! Jual-beli sparepart motor sama rakit PC. Gini-gini tabungan gue cukup lah buat beli mie instan satu truk," bela Juna sambil menyeruput kuah mienya dengan berisik.
Kayla cuma mencibir, sama sekali tidak percaya kalau bocah yang masih pakai seragam SMA ini benar-benar punya uang sendiri. "Terserah lo deh. Mau lo bandar kek, pengusaha kek, jawaban gue tetap ngga!"
Kayla menyantap suapan terakhirnya dengan cepat, lalu berdiri dan membereskan mangkoknya. Ia merasa kalau terus-terusan di sini, kepalanya bisa pecah meladeni omongan Juna yang makin ngawur.
"Eh, mau ke mana? Buru-buru amat, takut naksir ya?" goda Juna sambil menengadah menatap Kayla.
"Gue mau tidur! Capek lihat muka lo!" Kayla melenggang pergi begitu saja masuk ke kamarnya, meninggalkan Juna yang masih duduk santai di teras dapur sambil tertawa kecil.
.....
Keesokan paginya, Kayla bangun dengan perasaan yang sedikit lebih baik karena cuaca cukup cerah. Ia harus bersiap lebih awal karena kelas Pak Ardi dipindah ke siang ini. Sialnya, begitu ia mengecek aplikasi di ponselnya, tarif ojek online sedang naik drastis karena jam sibuk, ditambah lagi driver-nya tidak ada yang mau mengambil pesanannya.
"Duh, kenapa susah banget sih dapet ojek jam segini!" gerutu Kayla sambil mengunci pintu kamarnya dengan kesal.
Baru saja ia berbalik hendak menuju gerbang, suara klakson motor yang sangat nyaring mengejutkannya. Tin! Tin!
Juna sudah nangkring di atas motor besarnya, lengkap dengan seragam SMA yang rapi dan jaket biru andalannya. Ia membuka kaca helmnya dan menatap Kayla dengan seringai jahil yang sudah jadi ciri khasnya.
"Ayo, oma-oma! Bareng gue saja, daripada lo lumutan nunggu ojek di depan gang," ajak Juna.
"Ngga! Ogah banget!" Kayla berjalan melewati Juna dengan dagu terangkat tinggi.
"Yakin? Jam segini ojek susah loh, gang ini kan sempit. Kalau telat masuk kelas, nanti makin suram loh hidup lo," ucap Juna santai sambil menjalankan motornya pelan di samping Kayla.
Kayla berhenti melangkah. Kata-kata Juna ada benarnya. Ia tidak mau memberikan celah sedikit pun bagi orang-orang di kampus untuk menertawakannya lagi kalau sampai terlambat. Dengan berat hati dan napas yang dihela panjang, Kayla berbalik.
Juna menyodorkan helm cadangan dengan semangat.
Kayla akhirnya naik ke jok belakang motor Juna. Sepanjang jalan, ia berusaha menjaga jarak agar tidak terlalu menempel pada punggung cowok itu. Tapi dasar Juna, dia sengaja menarik gas dan mengerem mendadak beberapa kali sampai Kayla terpaksa memegang pundaknya.
Begitu mereka sampai di depan gerbang kampus, suasana mendadak canggung. Sebuah mobil Pajero hitam yang sangat Kayla kenal berhenti tepat di samping mereka. Kaca mobil itu turun perlahan, memperlihatkan wajah Raka yang langsung melongo.
"Kayla? Lo... bareng anak SMA ini?" tanya Raka dengan nada meremehkan, matanya menatap sinis ke arah seragam Juna.
Juna yang merasa dipandang rendah bukannya minder, malah makin jadi. Ia sengaja tidak langsung membiarkan Kayla turun. Juna justru mematikan mesin motornya, lalu dengan berani ia merangkul pundak Kayla dan mendekatkan wajahnya sedikit ke arah gadis itu, memamerkan kedekatan mereka di depan mata Raka.
"Iya, Bang. Kenapa? Iri ya lihat Kayla lebih milih dijemput brondong keren daripada naik mobil mahal yang cicilannya mungkin belum lunas?" ucap Juna dengan nada santai tapi menusuk.
Kayla melotot dan berusaha melepaskan rangkulan Juna, tapi cowok itu malah mempereratnya sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Raka yang wajahnya sudah memerah padam karena emosi.
"Lo—" Raka maju selangkah, wajahnya memerah.
"Lo nggak tahu siapa gue? Gue bisa saja laporin lo ke sekolah lo karena gangguin ketenangan di sini!"
Juna terkekeh, suara tawa yang terdengar sangat meremehkan. "Laporin aja. Bilang kalau ada anak SMA ganteng yang lagi jagain pacarnya dari gangguan om-om maksa. Kira-kira guru gue bakal bangga atau malah minta tips ya?"
"Pacar?! Ngaco lo!" Kayla mendesis, mencoba melepaskan diri, tapi Juna justru berbisik pelan di dekat telinganya.
"Pilih mana, oma? Ngakuin gue pacar dan si Pajero ini pergi, atau gue kasih tahu dia alamat kosan lo sekarang juga?" bisik Juna dengan nada mengancam yang jenaka.
Kayla membeku. Alamat kosannya adalah rahasia yang paling ia jaga. Akhirnya, dengan wajah yang panas membara, ia menoleh ke arah Raka dan berkata dengan lantang.
"Iya! Dia pacar gue! Masalah buat lo?!"
Hening seketika. Raka melongo sampai mulutnya sedikit terbuka. Juna sendiri sebenarnya kaget, tapi dengan cepat ia langsung memasang wajah kemenangan yang luar biasa savage.
"Tuh, denger kan? Pacar. P-A-C-A-R," ejek Juna sambil menekan setiap hurufnya. "Sekarang, mending Abang balik ke mobil, terus cari objek lain buat dipamerin. Soalnya pacar gue ini lagi mau masuk kelas, dan gue nggak mau mood dia rusak gara-gara lihat muka Abang."
Juna sengaja memutar kunci motornya, membuat deru mesinnya terdengar gagah. "Ayo, sayang. Belajar yang rajin ya, jangan mikirin om-om nggak jelas ini."
Kayla rasanya ingin melempar tasnya ke wajah Juna saat itu juga, tapi ia harus tetap pada perannya. Ia hanya bisa mengangguk kaku pada Raka dan segera melangkah masuk ke gerbang kampus tanpa menoleh lagi.
"Gila... selera lo bener-benar terjun bebas, Kay!" teriak Raka frustrasi dari belakang.
Juna hanya melambaikan tangan santai ke arah Raka tanpa menoleh, lalu menarik gas motornya dengan kencang, meninggalkan asap tipis yang menyapu wajah Raka yang masih berdiri mematung di samping mobil mewahnya.
Nah akhirnya ketemu Juna. Lumayan ngirit ongkos balik ke kos-kosan