Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.
Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.
Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Baiklah Aku Mau Menikah
"Sejak kapan, Non?" Dengan gemetar, Bi Ijah memegang pundak Safa dengan erat.
Air mata Safa lagi-lagi tumpah. Bibirnya seolah membisu.
"Bilang sama Bibik. Sejak kapan Tuan Hendra bersikap begitu pada Non Safa?" desaknya lagi.
Dengan berat, Safa mencoba menatap wajah panik sang pelayan. "Sejak pertama dia masuk ke rumah ini aku sudah tidak nyaman, Bik. Tapi ... dia mulai berani terang-terangan beberapa tahun terakhir ini."
"Astaghfirullah!" Bi Ijah meraup wajahnya dengan kesal.
Tak pernah terbersit dalam pikirannya sang tuan akan sebejat itu. Namun, Bi Ijah memang tidak menyukainya sejak awal. Umur Hendra yang terpaut jauh lebih muda dari nyonyanya, Ambar, membuatnya gundah. Dan kekhawatiran itu terbukti.
Hati Bi Ijah terasa teriris. Safa yang sudah dianggapnya anak sendiri harus menderita sedalam itu. Diusapnya wajah ayu yang basah tersebut. "Non Safa sudah coba bilang sama Nyonya? Kalau dibiarkan nanti ndak tuman (jadi kebiasaan), Non."
"Sudah, Bik. Tapi Mama malah balik memaki-makiku. Katanya aku cuma mau mengadu domba mereka," ungkap Safa sambil mengusap air matanya.
"Gendeng! (Gila!)" maki Bi Ijah penuh amarah. Ia mengusap pelan pundak Safa. "Sudah, Non. Mulai sekarang Bibik yang akan menjaga Non Safa. Jangan khawatir, ya?"
"Apa lebih baik aku terima saja pernikahan itu, Bik? Biarlah dia kakek-kakek, asal aku bisa pergi dari rumah neraka ini," ujar Safa penuh tekad.
Tatapan mata Bi Ijah seolah tak mendukung, namun ia hanya bisa menghela napas pasrah. "Apa Non Safa yakin? Tapi dia sudah aki-aki, Non."
"Setidaknya dia suamiku, Bik. Aku tidak mau tetap tinggal seatap dengan Om Hendra," ucapnya penuh keyakinan.
Bi Ijah hanya mengangguk walau berat hati. "Baiklah jika itu pilihan Non Safa. Sekarang lebih baik Non salat Asar dulu, ya. Nanti keburu Mama mencari."
Setelah menunaikan ibadah dan mencurahkan segala keluh kesahnya dalam doa, Safa merasa sedikit lebih tenang. Ia kemudian melangkah ke dapur untuk membantu Bi Ijah menyiapkan makan malam.
"Non, biar Bibik kerjakan sendiri saja. Non tata piring saja supaya tidak kelelahan," seru sang bibik.
Safa tersenyum tipis sambil mengaduk masakan. "Tidak apa-apa, Bik. Anggap saja ini masakan terakhirku sebelum pergi."
Mata Bi Ijah berkaca-kaca. "Apa Non benar-benar yakin akan pergi?"
Kompor dimatikan. Safa meletakkan sudip dan berbalik. "Lalu apa lagi pilihanku, Bik? Kalau aku ingin tinggal, apa itu mungkin? Tentu tidak, kan?"
Safa melangkah maju, memeluk pelayan yang sudah dianggapnya keluarga itu. "Aku pasti sangat merindukan Bibik. Bibik sehat-sehat ya di sini."
Bi Ijah mengusap lelehan air matanya. "Iya, Non. Non Safa juga, ya. Semoga Non mendapatkan kebahagiaan yang melimpah."
Namun, momen haru itu seketika pecah saat Riana muncul. "Apa-apaan ini! Bukannya masak malah peluk-pelukan!"
Safa tersentak kaget. Mereka segera melepaskan pelukan. "Maaf, Mbak. Mbak mau makan? Sebentar lagi siap," ucap Safa tenang.
Saat jam makan malam tiba, semua sudah berkumpul untuk menikmati makanan yang Safa sajikan.
Safa hanya berdiri di samping meja seperti biasa. Dengan ragu ia mendekat ke arah sang mama. "Ma," ucapnya lirih.
Ambar menoleh dengan wajah ketus. "Apa lagi, sih! Jangan buat selera makan Mama hilang, deh!"
Safa menarik napas dalam. "Aku mau menikah."
Seketika, Ambar, Hendra, dan Riana menoleh tak percaya.
"Benarkah?" Wajah Riana bersinar senang.
Ambar bangkit dan mendekap pundak putrinya. "Ini baru anak Mama. Mama senang mendengarnya."
Ini kali pertama Safa melihat senyum di wajah sang ibu untuknya—senyum yang diberikan justru saat Safa merasa hidupnya sedang hancur. Safa terpaksa membalas senyum itu. "Iya, Ma. Aku mau."
Hanya Hendra yang tidak tampak bersemangat. Ia meletakkan garpunya dengan denting yang keras. "Apa kamu yakin, Safa? Menikah dengan kakek-kakek itu tidak mudah, lho," ujarnya sambil mendekat.
Tangannya mulai membelai pundak Safa, membuat gadis itu merinding jijik. Safa segera menghindar dengan mendekat ke arah mamanya. "Aku bersedia jika memang itu bisa membantu beban keluarga."
Sorot mata Hendra menajam. Ia tidak rela mangsa cantiknya pergi begitu saja.
Namun, ia hanya bisa menghela nafas panjang. Tak mungkin juga baginya untuk menghalangi.
"Baguslah. Besok aku akan mengantar mu ke sana. Sekarang pergilah jangan ganggu selera makan malamku," usir sang mama.
Dengan langkah pelan Safa berjalan menuju kamar. Meninggalkan ruang makan dengan perasaan remuk.
🍃🍃🍃🍃
Di dalam kamar, Safa menyelesaikan bab terakhir novelnya malam itu. Dengan satu sentuhan enter, novelnya terunggah. Tak lama, notifikasi pesan muncul dari pembaca setianya.
[Kelana: Malam, Thor. Malam ini ceritanya semakin seru dan selalu menguras emosi.]
Senyum Safa merekah. Kelana selalu hadir saat ia merasa kesepian.
[Safa: Terima kasih selalu mendukungku. Aku jadi semangat menulis.]
[Kelana: Semoga masa kelam itu segera berakhir, digantikan dengan kehangatan dalam hidupmu. Percayalah, semua akan berakhir.]
Safa terisak. Namun, teringat akan pernikahannya, ia kembali gundah.
[Safa: Tapi maaf. Mungkin saya tidak bisa melanjutkan tulisan ini lagi.]
[Kelana: Kenapa?]
[Safa: Ada sesuatu yang terjadi. Saya tidak yakin bisa melanjutkannya.]
Safa menutup laptopnya dan menangis sesegukan. Ia tidak ingin mengkhianati komitmen pernikahan, meskipun suaminya nanti adalah orang asing.
"Aku lelah ... Ayah, Mas Afdal ... apa kalian masih menyalahkanku?" gumamnya sambil menatap rembulan. Bayangan sang ayah dan kakaknya yang telah tiada membuat hatinya semakin teriris.
"Apa benar aku yang membunuh kalian? Maafkan aku ..."