NovelToon NovelToon
ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

ONE TOP GOD: Perjalanan Menuju Puncak Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Action / Showbiz
Popularitas:353
Nilai: 5
Nama Author: Ab Je

Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.

Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.

Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.

Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Takhta yang Dingin

Lampu neon di koridor *Gaming House* (GH) Black Viper memantul di permukaan lantai marmer yang mengkilap. Reno berjalan mengekor di belakang Ardi, menjinjing tas ransel bututnya yang terasa semakin ringan. Di dalam tas itu hanya ada beberapa potong pakaian dan sebuah mouse tua yang sudah memudar logonya—satu-satunya senjata yang menemaninya bangkit dari debu warnet.

"Ini kamarmu, Reno," ujar Ardi sambil membuka sebuah pintu di lantai dua. "Mulai hari ini, kamu tidak perlu memikirkan billing atau bau asap rokok. Fokusmu hanya satu: berlatih dan memimpin."

Reno terpana melihat isi kamar tersebut. Ada tempat tidur empuk, pendingin ruangan yang sunyi, dan sebuah meja kerja dengan perangkat komputer yang lebih canggih daripada yang ia gunakan saat tes kemarin. Ini adalah kemewahan yang selama ini hanya muncul dalam mimpinya saat tertidur di atas meja warnet yang keras.

"Terima kasih, Pak Ardi," ucap Reno pelan.

"Panggil aku Coach atau Ardi saja saat di luar jam latihan," Ardi menepuk bahu Reno. "Istirahatlah. Sore nanti, aku akan mengenalkanmu secara resmi kepada anggota tim utama lainnya. Ingat, mereka adalah pemain bintang dengan ego yang besar. Menangkan hati mereka seperti kamu memenangkan pertandingan kemarin."

Setelah Ardi pergi, Reno menghempaskan tubuhnya ke kasur. Namun, ia tidak bisa tidur. Pikirannya melayang pada sorot mata tajam para pemain cadangan yang ia kalahkan tadi. Ia tahu, di dunia "Showbiz" e-sport, kemampuan teknis hanyalah setengah dari pertempuran. Setengah sisanya adalah bagaimana bertahan di tengah politik tim dan tekanan publik.

Pukul empat sore, Reno turun ke ruang latihan utama. Di sana, empat orang pemuda dengan jersey resmi Black Viper sudah duduk melingkar. Suasana seketika menjadi dingin saat Reno melangkah masuk.

"Jadi, ini 'bocah ajaib' yang dibicarakan semua orang?" ucap seorang pria berambut jabrik yang sedang memutar-mutar pisau lipat mainan di tangannya. Dia adalah Marco, sang Sniper, utama tim yang dikenal dengan julukan 'Eagle Eye' sebelum Ardi mengambil alih nama akun tersebut untuk urusan analisis.

"Namanya Reno," potong Ardi yang baru saja masuk. "Dan mulai hari ini, dia adalah kapten baru kalian."

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Marco tertawa hambar, melemparkan pisau mainannya ke meja. "Kapten? Ardi, kamu pasti bercanda. Dia memang jago menembak, aku akui itu. Tapi memimpin tim di turnamen internasional? Dia bahkan mungkin belum pernah melihat panggung sebesar itu kecuali dari layar ponselnya."

Dua pemain lainnya, Gideon dan Leo, hanya diam namun tatapan mereka tidak menunjukkan keramahan. Hanya Bimo, sang Support, yang tampak memberikan senyum tipis yang canggung.

Reno melangkah maju, berdiri tepat di depan Marco. Ia tidak merasa gentar. Dibandingkan dengan preman-preman yang sering membuat onar di warnet tempatnya bekerja dulu, gertakan Marco terasa seperti angin lalu.

"Aku tidak butuh kalian menyukaiku," kata Reno dengan suara datar namun tegas. "Aku di sini karena tim ini butuh kemenangan, bukan teman untuk mengobrol. Jika bidikanmu meleset di pertandingan nanti, itu adalah tanggung jawabku. Dan aku tidak berencana untuk kalah."

Marco berdiri, tingginya sedikit melampaui Reno. "Sombong sekali kamu, bocah. Di Black Viper, posisi ditentukan oleh hasil. Bagaimana kalau kita buktikan? Satu lawan satu, mode *Sniper*. Jika kamu menang, aku akan mengikuti perintahmu tanpa bantahan. Tapi jika kamu kalah, lepaskan ban kapten itu dan kembalilah ke warnetmu."

Ardi ingin menyela, namun Reno sudah lebih dulu duduk di kursi kapten. Ia menyalakan monitor, jemarinya menari di atas keyboard dengan gerakan "Anak Genius" yang presisi.

"Peta apa saja. Senjata apa saja. Silakan pilih," tantang Reno tanpa menoleh.

Adegan "Action" mental mulai terasa. Marco duduk di seberangnya dengan wajah merah padam. Para staf dan pemain akademi mulai berkumpul di depan layar besar untuk menyaksikan duel panas ini. Ini bukan sekadar permainan; ini adalah perebutan takhta di dalam tim.

Pertandingan dimulai di peta *Snowy Outpost*. Marco, yang merupakan salah satu sniper terbaik di liga nasional, langsung mengambil posisi di puncak menara. Ia membidik dengan tenang, menunggu kepala Reno muncul di celah sempit.

*Duar!*

Peluru Marco menghantam dinding beton tepat di samping telinga karakter Reno. Marco terkejut. Reno bergerak dengan pola yang tidak terduga, melakukan gerakan zig-zag yang sangat cepat namun tetap stabil.

Reno tidak menggunakan sniper. Ia justru menggunakan senapan serbu jarak jauh yang disetel dalam mode tembakan tunggal. Baginya, satu peluru sudah cukup jika ditempatkan dengan benar.

Reno melakukan lompatan kecil dari balik bebatuan, mengintip posisi Marco selama kurang dari setengah detik.

*Klik.*

Hanya satu ketukan. Peluru itu meluncur menembus celah sempit di menara dan mendarat tepat di antara kedua mata karakter Marco.

"Satu kosong," ucap Reno dingin.

Marco mengumpat, mencoba kembali fokus. Namun, setiap kali ia mencoba membidik, Reno seolah-olah sudah tahu di mana moncong senjatanya berada. Reno bergerak seperti bayangan—tak terlihat, tak teraba, namun mematikan. Skor berakhir 10-2 untuk kemenangan Reno.

Marco terdiam, menatap layar monitornya yang menampilkan tulisan 'DEFEAT' dengan tidak percaya. Ia menoleh ke arah Reno, yang sekarang sedang membersihkan mouse-nya seolah-olah baru saja melakukan pekerjaan rutin yang membosankan.

"Ada lagi yang ingin mencoba?" tanya Reno sambil menatap Gideon dan Leo. Keduanya membuang muka, tidak berani menantang tatapan sang "One Tap God".

Ardi tersenyum puas. "Sepertinya masalah kepemimpinan sudah selesai. Besok, kita akan melakukan *scrim* (latihan tanding) melawan tim juara bertahan musim lalu. Persiapkan diri kalian."

Reno berdiri dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti di samping Marco. "Simpan pisaumu, Marco. Besok aku butuh bidikanmu, bukan akrobatmu."

Malam itu, Reno berdiri di balkon GH, menatap lampu-lampu kota Jakarta yang gemerlap. Ia tahu, memenangkan duel internal hanyalah langkah kecil. Ujian sesungguhnya adalah membawa tim yang penuh ego ini menjadi satu kesatuan yang mematikan. Namun bagi Reno, selama ia masih memiliki "Satu Ketukan" di tangannya, tidak ada takhta yang terlalu tinggi untuk didaki.

1
Alia Chans
wow cerita nya menarik, semangat✍️ nya
Ab Je: makasih yahh sudah menyemangati. (🌹)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!