NovelToon NovelToon
Sunyi Yang Berisik Season 2

Sunyi Yang Berisik Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Misteri / Horor
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: kucing samge

Jay menikmati hari-harinya yang tenang dan santai—kerja sama rumahnya dengan yayasan berjalan lancar, bersama Malakos dan makhluk dimensi lain. Namun kedatangan Rara mengubah segalanya: batas antar dimensi retak parah, dunia paralel hilang tanpa bekas, dan rumah serta Desa Wening akan ikut lenyap jika tidak dihentikan.

Terpaksa keluar zona nyaman, Jay menjelajahi Titik Diam di seluruh Indonesia dan bertemu orang-orang dengan cara pandang berbeda. Di perjalanan ini, dia menemukan rahasia buku tua yang selalu mengikutinya, serta hubungan kakeknya dengan sang pencipta.

Dengan sikap santainya yang khas, Jay harus membuktikan bahwa berguna tidak selalu perlu kerja keras. Ketika menghadapi sumber Titik Diam yang menyebabkan kekacauan, dia harus memilih: akhiri semua cerita agar tidak ada kehancuran, atau temukan cara agar semua dunia hidup berdampingan—sambil tetap punya waktu buat main game dan makan snack!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kucing samge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 2: "PUSAT PERBELANJAAN YANG SUNYI" part 1

Suara mesin mobil yang berdecit pelan adalah satu-satunya yang mengganggu kesunyian perjalanan. Matahari tinggi menyinari langit yang jarang awan, tapi sinarnya tidak mampu menghangatkan kursi belakang mobil di mana Jay sedang terlelap. Tubuhnya menempel di sandaran kulit yang sudah aus, mulut sedikit terbuka sambil mengeluarkan napas panjang yang teratur. Rara duduk di kursi depan, kedua tangannya erat menggenggam kemudi sambil mata tetap fokus pada jalan raya yang mengarah menjauh dari Desa Cemara.

Jalan yang dulunya berliku di antara sawah dan pepohonan kini mulai bergeser menjadi aspal yang lebih lebar, dengan tiang listrik yang berdiri rapat di sepanjang pinggir jalan. Udara di dalam mobil terasa panas meskipun kipas pendingin sudah dinyalakan dengan maksimal—seolah ada panas yang tidak terlihat yang menyusup dari luar. Rara sesekali melihat ke spion belakang, melihat wajah Jay yang masih terlelap dengan tenang, tidak menyadari bahwa dunia di luar mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap dari yang dia bayangkan.

MOBIL - PERJALANAN - SIANG

Jay lagi tidur di kursi belakang, tubuhnya bergoyang mengikuti goyangan mobil yang melintas di atas tikungan jalan. Baju nya kusut di bagian samping, rambutnya acak-acakan karena tertutup oleh topi yang sudah dilepas dan ditaruh di pangkuannya. Suara kipas pendingin yang berdesir menyatu dengan bunyi ban yang menyentuh jalan, menciptakan irama yang membuatnya semakin nyaman tertidur.

Rara melihat ke arah peta yang terpampang di layar GPS di dasbor—titik merah yang menunjukkan lokasi mereka semakin dekat dengan kota kecil yang menjadi tujuan. Jalan raya mulai ramai dengan kendaraan lain, tapi Rara merasa seperti mereka sedang berada di dalam gelembung yang terpisah dari dunia luar. Setiap kendaraan yang lewat tampak seperti bayangan yang tidak nyata, dengan pengemudi yang wajahnya tidak bisa dilihat jelas.

“Kita sudah dekat Mas Jaya…” ucap Rara dengan suara lembut, tapi tidak ada tanggapan dari kursi belakang. Jay masih terlelap dalam tidurnya yang nyenyak, wajahnya terpampang ekspresi tenang seolah tidak ada masalah di dunia ini. Rara menghela napas perlahan, lalu menyesuaikan kemudi untuk memasuki jalan raya yang lebih kecil menuju pusat kota.

RARA: “Titik Diam di sini adalah seorang penjaga mal yang sudah bekerja sana selama 20 tahun. Dia mulai menyadari bahwa mal itu selalu kosong pada malam hari tapi ada banyak suara langkah yang terdengar.”

Suaranya terdengar sedikit terdengar di dalam mobil yang penuh dengan suara mesin dan kipas pendingin. Rara menoleh sebentar ke belakang, melihat Jay yang masih tertidur lelap. Dia ingin membangunkan dia tapi memutuskan untuk menyuruhnya tidur lebih lama lagi—mereka akan membutuhkan energi penuh untuk menghadapi apa yang ada di mal itu.

Kota kecil mulai muncul di kejauhan—bangunan-bangunan bertingkat dengan tampilan tua tapi tetap kokoh berdiri rapat di sepanjang jalan utama. Iklan-iklan lama dengan warna yang sudah pudar terpampang di luar gedung-gedung, menampilkan produk yang sudah tidak lagi dijual di pasaran. Suara keramaian kota mulai terdengar dari luar mobil—suara orang yang berbicara, suara klakson kendaraan, suara musik dari toko-toko yang buka. Tapi semuanya terasa seperti suara dari dalam ember kaca, jauh dan tidak jelas.

Jay tiba-tiba terkejut bangun dari tidurnya, tubuhnya sedikit terkejut karena tiba-tiba terbangun dari tidurnya—dia terjatuh sedikit ke samping sebelum bisa menyejajarkan tubuhnya kembali. Matanya masih mengantuk, kelopak matanya sulit untuk dibuka lebar. Dia menggosok mata dengan kedua tangan, lalu melihat ke luar jendela dengan wajah bingung.

JAY: “(terengah-engah) Mal ya? Semoga ada toko snack yang buka ya…”

Suaranya masih penuh dengan rasa kantuk, dengan nada yang tidak terlalu bersemangat. Jay melihat ke arah depan, melihat gedung-gedung kota yang sudah mulai lebih jelas. Dia mencoba mengingat di mana mereka sedang pergi tapi ingatannya masih kabur akibat tidur yang tiba-tiba terganggu. Dia mengambil botol minuman dari dasbor, membukanya dan meneguk air dengan lahap.

“Ya Mas Jaya… mal tua yang sudah berdiri sejak dua dekade yang lalu.” jawab Rara dengan suara yang lebih rendah dari biasanya. “Orang-orang kota menyebutnya ‘Mal Sunyi’ karena meskipun lokasinya di tengah kota, selalu terasa kosong walau jam sibuk. Namanya adalah CITRA MALL.”

Jay mengangguk perlahan, matanya mulai mengamati sekeliling jalan yang semakin ramai. Tapi ada sesuatu yang tidak beres—meskipun banyak kendaraan yang lewat, tidak ada seorang pun yang bisa dilihat dengan jelas di dalamnya. Pengemudi dan penumpang tampak seperti bayangan hitam yang hanya mengisi ruang di dalam mobil mereka. Bahkan orang yang berjalan di trotoar tampak seperti sosok tanpa wajah, hanya bergerak dengan arah yang sudah ditentukan.

“Kenapa ya Rara… rasanya kayak kita aja yang nyata di jalan ini?” tanya Jay dengan suara yang sedikit waspada. Dia mulai merasa tidak nyaman dengan suasana yang semakin mencekam di sekitar mereka. Udara di dalam mobil menjadi semakin panas, bahkan setelah Rara menaikkan tingkat pendinginan.

Rara tidak menjawab langsung—dia hanya mengangguk perlahan sambil tetap fokus mengemudi. Mobil melaju ke arah sebuah gedung bertingkat tiga dengan atap datar dan warna putih yang sudah menguning akibat usia. Pagar besi di depan mal sudah berkarat parah, dengan gerbang besar yang terbuka lebar tapi terkesan seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa saja yang masuk. Tulisan besar di atas gerbang masih terbaca jelas meskipun sudah hangus: CITRA MALL

“Ini dia tempatnya Mas Jaya… CITRA MALL.” ucap Rara dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Jay melihat ke arah gerbang mal yang terbuka lebar, namun terasa seperti tertutup oleh sesuatu yang tak kasat mata. Udara di sekitar mal terasa lebih dingin dari luar, meskipun matahari sedang tinggi menyinari langit biru bening. Bayangan dari gerbang mal itu mulai menjalar ke arah mobil dengan perlahan, seolah ingin menutupi seluruh tubuh mereka.

“Mal ya? CITRA MALL kan? Semoga ada toko snack yang buka ya…” ucap Jay lagi, kali ini dengan suara yang lebih jelas. Dia mulai merasakan keberadaan sesuatu yang tidak bisa dilihat di sekitar mal itu. Rambut di lehernya berdiri ria, dan kulitnya merinding seolah ada angin dingin yang menyapu tubuhnya.

Rara mengerem mobil perlahan di depan gerbang CITRA MALL, mesin mobil tiba-tiba bergetar dengan keras sebelum akhirnya berhenti total. Dia mencoba menghidupkannya kembali tapi mesin hanya mengeluarkan bunyi klik tanpa bisa menyala. “Sepertinya mobil kita mau istirahat dulu Mas Jaya… tepat di depan CITRA MALL.” ucap Rara dengan suara yang penuh kekhawatiran.

Jay membuka pintu mobil dan keluar ke luar—udara di sekitar CITRA MALL benar-benar berbeda dari udara kota yang lain. Ada aroma kayu lapuk dan karpet lama yang menyelimuti udara, disertai dengan bau yang tidak bisa dijelaskan seperti bau dari ruangan yang sudah lama tidak dibuka. Dia melihat ke arah langit-langit mal yang terbuat dari kaca—di sana muncul bayangan bentuk kompleks yang lebih besar dari yang pernah dia lihat di Desa Cemara. Makhluk gaib itu memiliki tubuh yang memanjang seperti tali yang melingkar dengan banyak mata kecil yang berkedip-kedip di setiap putarannya, dan tangan yang seperti ranting kayu yang kering.

Suara langkah kaki mulai terdengar dari dalam CITRA MALL—bunyi klik… klik… klik… yang jelas dan teratur, seolah ada banyak orang yang sedang berjalan di lorong-lorong yang kosong. Jay melihat ke arah kamera dengan pandangan yang sedikit khawatir tapi tetap tegas. “Kalau kamu yang sedang baca ini juga merasa ada yang tidak beres di tempatmu… mungkin kamu harus berhati-hati ya. Kadang-kadang tempat yang terlihat aman justru menjadi tempat yang paling berbahaya—seperti CITRA MALL ini.”

Rara keluar dari mobil dan berdiri di sisi Jay, matanya juga melihat ke arah gerbang CITRA MALL yang semakin terasa menyeramkan. Suara langkah di dalam mal semakin cepat, dan bayangan makhluk gaib di langit-langit mulai turun perlahan ke arah lorong utama. Jay merasakan kantong snack yang ada di dalam tasnya, lalu mengeluarkannya dengan perlahan. “Semoga saja toko snack di dalam CITRA MALL benar-benar buka… kalau tidak, malam ini bakal jadi lebih sulit.” ujarnya sebelum melangkah ke arah gerbang mal yang sudah siap menerima kedatangan mereka.

Semua lampu di luar CITRA MALL mulai berkedip dengan cepat, membuat bayangan bergerak liar di dinding gedung. Suara langkah di dalam mal kini terdengar seperti ribuan orang yang berlari bersama-sama, menggema dengan keras di setiap sudut yang kosong. Jay melihat ke arah pembaca satu kali lagi dengan pandangan yang penuh makna. “Ingat ya… selalu bawa snack di mana pun kamu pergi. Karena kamu tidak pernah tahu kapan kamu akan membutuhkannya—terutama kalau kamu harus masuk ke tempat seperti CITRA MALL.”

Lalu dia melangkah masuk ke dalam CITRA MALL yang sunyi total tapi penuh dengan suara yang tidak terlihat, langkah kakinya menyentuh lantai granit yang dingin dan mengeluarkan bunyi klik yang terdengar kecil di tengah kesunyian yang membanjiri. Rara mengikuti di belakangnya, tangan kanannya sudah mulai mencari buku tua yanG selalu dibawa Jay—seolah merasakan bahwa mereka akan segera membutuhkannya.

Gerbang mal di belakang mereka mulai menutup perlahan dengan sendirinya, setiap celah yang menyempit mengeluarkan bunyi besi yang bergesekan yang terdengar seperti tawa jahat dari dunia lain. Saat gerbang menutup rapat, semua lampu di luar mal padam sekaligus—meninggalkan hanya cahaya samar dari dalam CITRA MALL yang menerangi gerbang besi yang kini sudah terkunci erat.

Di dalam lorong utama mal, suara langkah yang tadinya teratur kini mulai berubah menjadi irama yang lebih cepat dan mengganggu. Bayangan makhluk gaib yang ada di langit-langit mulai turun ke lantai, bentuk mereka semakin jelas dan menyeramkan dengan setiap detik yang berlalu. Jay berhenti sejenak, melihat ke arah kamera dengan pandangan yang tegas sebelum menghadap ke dalam lorong yang semakin gelap.

“Selamat datang di CITRA MALL… mari kita lihat apa yang sebenarnya ada di sini.” ujarnya dengan suara yang tenang namun penuh dengan ketegangan.

1
EvhaLynn
Lari Mbak🏃‍♀️
EvhaLynn
oh pantesan🤭
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
baik benar Jay
リズキ・サントソ
👍👍
リズキ・サントソ
santoso 🗿
T28J
gimana nyanyinya, hihihihihi....
Pengabdi Uji
tp klo g galak gpp jg
Pengabdi Uji
kumpulan paracenayang khh🫣
Pengabdi Uji
hmm pantess trnyta?emg ky spesial itu
Pengabdi Uji
hooh pantes ajaa ya trnyta g mngancam
Pengabdi Uji
ini knp dy?? apa di pngaruhi
Tati Hartati
keren banget kak
M. T🌻
keren thor👍
Jing_Jing22
Seperti reuni makhluk halus dan para tuannya.
Jing_Jing22
Cantik loh tulisannya.
Jing_Jing22
Kalau kamu kan udah terbiasa Jay berbeda dengan Dinda
Sishrye
takut nya kalau tetiba makhluk itu berubah jadi jahat
~SasMaya ✧
Thor, baca adegan ini .. jadi inget film Shinbi house ... pemberantas makhluk-makhluk
Sishrye: oh iya bener juga ya kak. btw aku juga sering liat film itu di net tipi😂
total 1 replies
~SasMaya ✧
aelah si Jay, cikinya pasti ga ketinggalan 😂
Mingyu gf😘
mereka ini orang jawa ya ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!