SMA Cakrawala Bangsa mempunyai Dua Wajah yang berbeda. Di satu sisi, ada **Adrian**, sang Ketua OSIS "Paripurna" yang cerdas, berwibawa, dan menjadi standar kesempurnaan bagi setiap gadis di sekolah. Di sisi lain, ada **Askara**, si *troublemaker* penuh pesona yang tangguh di lapangan basket dan tak terkalahkan dalam karate. Namun, ketenangan sekolah terusik saat kedua idola ini mulai berputar di orbit yang sama: **Aruna**. Aruna hanyalah siswi sains yang cantik dan kalem, yang lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri daripada menjadi pusat perhatian. Ia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan mendadak riuh karena kejaran dua kutub yang bertolak belakang. Mengapa pangeran sekolah dan sang jagoan liar tiba-tiba mendekati gadis yang selama ini memilih untuk tidak dikenal? Di antara kepastian yang ditawarkan Adrian dan tantangan yang dibawa Askara, hati siapakah yang akhirnya akan Aruna pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara yang Tak Lagi Tertahan
Pelajaran Kimia di jam pertama terasa jauh lebih ringan bagi Aruna. Meskipun rumus-rumus di papan tulis tetap serumit biasanya, ada beban di pundaknya yang terasa menguap setelah kejadian di loker tadi.
Ia duduk di bangkunya, sesekali mencatat reaksi larutan, namun fokusnya terbagi ketika ia melirik ke arah jendela yang menghadap langsung ke lapangan besar sekolah.
Di bawah sana, di tengah gerimis tipis yang mulai membasahi aspal, sosok Aska terlihat sedang berlari mengelilingi lapangan. Seragamnya sudah basah kuyup, dan dari gerak-geriknya, sepertinya cowok itu sedang menjalani hukuman lari keliling lapangan.
Aruna memperhatikan bagaimana Aska terus berlari tanpa terlihat mengeluh, sebuah pemandangan yang kontras dengan sikap sembrononya di koridor tadi.
Sasha yang duduk di samping Aruna menyenggol lengannya pelan, menyadari arah pandangan sahabatnya. "Tuh, si pembuat onar dapet jatah lari lagi. Kayaknya dia emang nggak bisa sehari aja tanpa bikin guru kesiswaan darah tinggi."
Aruna menarik napas panjang, lalu berbisik pelan pada Sasha. "Sha, tadi pas di loker... gue akhirnya gertak dia. Dan dia beneran diem, terus biarin gue lewat gitu aja. Gue cuma pengen nunjukin kalau gue nggak bisa terus-terusan dipermainkan atau dianggap nggak punya suara."
Mata Sasha membulat sempurna. "Serius, Na? Gila, gue bangga banget! Biar dia tahu kalau si Anak Pintar ini bukan lawan yang gampang digertak!"
"Sasha! Aruna! Ngapain kalian ngobrol terus dari tadi?"
Suara lantang itu seketika memotong pembicaraan mereka. Bu Jasmine, guru Kimia yang terkenal dengan ketelitiannya, sudah berdiri di depan kelas sambil menaruh tangan di pinggang. Matanya menatap tajam ke arah bangku mereka berdua.
"Eh, nggak ada apa-apa kok, Bu. Ini cuma lagi bahas... anu, variabel reaksi," jawab Sasha dengan wajah yang mendadak pucat karena tertangkap basah.
Bu Jasmine mendengus pelan, lalu menunjuk papan tulis yang penuh dengan soal-soal penyetaraan reaksi yang cukup rumit. "Kalau memang sudah paham, Sasha, kamu maju ke depan. Kerjakan soal nomor tiga!"
Sasha langsung menelan ludah, menatap deretan angka dan lambang kimia itu dengan bingung. Ia menyenggol lengan Aruna, meminta bantuan lewat kode mata.
"Ibu menyuruh Aruna saja yang bantu kalau kamu tidak bisa, Sasha," ujar Bu Jasmine sambil melunakkan suaranya saat menatap Aruna. "Ibu tahu kalau Aruna pasti sudah bisa menyelesaikan ini tanpa harus Ibu jelaskan dua kali. Tapi kamu, Sasha, dari tadi Ibu perhatikan selalu berisik. Tolong lebih fokus seperti teman sebangkumu ini."
Aruna berdiri dengan tenang, memberikan senyum kecil yang sopan kepada Bu Jasmine. Ia berjalan ke depan, mengambil kapur, dan menyelesaikan soal itu hanya dalam hitungan detik. Bu Jasmine mengangguk puas, sementara Sasha hanya bisa menghela napas lega karena selamat dari hukuman maju ke depan.
"Makasih ya, Na. Penyelamat gue emang," bisik Sasha saat Aruna kembali duduk.
---
Saat jam sekolah berakhir, suasana lorong menjadi sangat ramai. Aruna sedang membereskan buku-bukunya ketika Adrian muncul di ambang pintu kelas. Seperti biasa, penampilannya sangat rapi, kontras dengan hiruk pikuk di sekitarnya.
"Aruna," panggil Adrian lembut. Ia berjalan mendekat ke meja Aruna. "Soal materi olimpiade yang tadi sempat tertunda, apa kita mau bahas sebentar sore ini? Aku bisa antar kamu pulang sekalian kita diskusi di jalan."
Aruna terdiam sejenak. Ia teringat janjinya pada teman-temannya dan dia menatap temannya satu persatu. Sebelum Aruna menjawab, Sasha dan Jelita langsung berdiri di sampingnya, seolah sudah membaca situasi.
"Duh, maaf banget nih Kak Adrian," sela Sasha dengan nada yang dibuat-buat menyesal tapi tetap sopan. "Aruna sore ini udah ada janji sama kita-kita. Kita mau mampir ke toko buku buat nyari referensi proyek kelompok, terus lanjut makan bareng."
Jelita mengangguk mantap. "Iya, Kak. Lagian Aruna kayaknya capek banget hari ini, mending dia bareng kita dulu biar otaknya nggak panas bahas soal terus."
Adrian tampak sedikit terkejut, namun ia tetap berusaha menjaga senyumnya. "Oh, begitu ya? Aku pikir karena biasanya kita sering diskusi, mungkin kamu mau bareng. Tapi kalau emang ada janji sama mereka, nggak apa-apa."
"Maaf ya, Kak. Aku bareng temen-temen aja sore ini," ucap Aruna dengan nada sopan namun tidak meninggalkan celah untuk perdebatan.
"Ya sudah, hati-hati ya kalau gitu. Kita bahas besok saja di sekolah," balas Adrian sebelum akhirnya berpamitan dan pergi meninggalkan kelas.
Setelah Adrian menjauh, Sasha langsung menyenggol Aruna dengan wajah menggoda. "Cie... ditawarin pulang bareng pangeran sekolah malah ditolak demi kita. Terharu gue, Na."
Aruna tertawa kecil, tas ranselnya kini sudah tersampir di bahu. "Gue beneran pengen bareng kalian, Sha. Lagian gue emang lagi butuh suasana baru selain soal-soal itu."
"Ayo ah, keburu angkotnya penuh!" ajak Jelita sambil merangkul pundak Aruna.
Mereka berjalan beriringan keluar dari gedung sekolah. Saat melewati gerbang, Aruna sempat melihat motor hitam Aska melesat keluar dengan kecepatan tinggi, meninggalkan debu dan suara knalpot yang bising. Aruna tidak lagi merasa terintimidasi.
Ia hanya menatap motor itu sebentar, lalu kembali fokus pada obrolan seru Sasha dan Jelita di sampingnya. Ia tidak perlu membuktikan apa pun kepada teman-temannya; ia hanya baru saja membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak lagi bisa dipermainkan.
nyesek didada rasanya
lanjut thor
👍🏻