Demi cinta, Hanum menanggalkan kemewahan sebagai pewaris tunggal Sanjaya Group. Ia memilih hidup sederhana dan menyembunyikan identitas aslinya untuk mendampingi Johan, pria yang sangat membenci wanita kaya. Lima belas tahun lamanya Hanum berjuang dari nol, membangun bisnis otomotif hingga Johan mencapai puncak kesuksesan.
Namun, di tengah gelimang harta, Johan lupa daratan. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan sekretarisnya sendiri. Luka Hanum kian mendalam saat pengabdiannya merawat ibu mertua yang lumpuh justru dibalas pengkhianatan, sang ibu mertua malah mendukung perselingkuhan putranya.
Kini, demi masa depan si kembar Aliya dan Adiba, Hanum harus memilih,tetap bertahan dalam rumah tangga yang beracun, atau bangkit mengambil kembali tahta dan identitasnya sebagai "Sanjaya" yang sesungguhnya untuk menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diusir
Dengan langkah gontai dan tubuh yang masih gemetar, Hanum menginjakkan kedua kakinya di teras rumah yang selama lima belas tahun ini ia jaga dengan seluruh jiwa raganya. Namun, pemandangan di depan pintu utama menghancurkan sisa-sisa kekuatannya. Dua koper besar miliknya sudah tergeletak di sana, teronggok seolah-olah isinya hanyalah sampah yang harus segera dibuang.
"Bunda!"
Aliya dan Adiba berlari kencang dari dalam rumah, wajah mereka sembap dan penuh air mata. Mereka langsung menghambur, memeluk Hanum dengan sangat erat seolah takut ibu mereka akan menguap ditiup angin.
"Bunda, ini semua tidak benar, kan? Ayah pasti sudah berkata bohong?" tanya Aliya di sela isak tangisnya. Adiba tidak mampu berkata-kata, ia hanya menyembunyikan wajahnya di pinggang Hanum, mengeratkan pelukannya hingga jemarinya memutih.
Belum sempat Hanum menjawab, suara decit kursi roda terdengar dari arah ruang tamu. Johan muncul sambil mendorong Bu Anita. Wajah pria itu kini datar, kehilangan semua sandiwara tangisnya di hotel tadi, sementara Bu Anita menatap Hanum dengan kebencian yang mendarah daging.
"Dasar wanita jal4ng tidak tahu diuntung!" seru Bu Anita geram, suaranya melengking tajam. "Kau tidak pantas untuk mendampingi putraku lagi. Pergilah kau dari rumah ini!"
Hanum mengusap air matanya dengan kasar, mencoba berdiri tegak di depan kedua putrinya. "Bu, Ibu sudah aku anggap seperti ibuku sendiri. Aku yang merawat Ibu setiap hari, menyuapi Ibu, mengganti pakaian Ibu... apakah Ibu tidak bisa sedikit saja percaya padaku?"
"Cuih!" Bu Anita meludah ke samping. "Untuk apa aku percaya terhadap wanita yang sudah menyakiti putraku? Putraku bekerja siang dan malam hanya untuk bisa membahagiakanmu, tapi kau.... Kau malah membalasnya dengan pengkhianatan yang sangat menjijikkan!"
Sorot mata Bu Anita tampak nyalang. Di balik kemarahannya, ada rasa puas yang membuncah. Ia masih ingat kata-kata Johan beberapa waktu yang lalu saat putranya itu mengaku sudah bosan dengan Hanum dan ingin menikahi Monica yang lebih muda dan cantik. Tanpa pikir panjang, Bu Anita setuju. Baginya, Hanum hanyalah pelayan yang sudah habis masa pakainya.
"Bun, jangan pergi ya.... Aliya ikut sama Bunda!" tangis Aliya pecah, ia menarik ujung baju Hanum.
"Adiba juga ikut sama Bunda!" sambung adiknya dengan suara parau.
Mendengar putri kembarnya lebih memilih Hanum, wajah Johan seketika berubah merah padam. Amarahnya meledak melihat kesetiaan anak-anaknya tidak berpihak padanya.
"Masuk kalian! Jangan dekat-dekat dengan wanita kotor ini!" Johan maju dengan beringas, menarik paksa tangan Aliya dan Adiba hingga pelukan mereka terlepas dari tubuh Hanum.
"Ayah lepas! Aku mau sama Bunda!" jerit Adiba meronta, namun tenaga Johan jauh lebih kuat. Ia menyeret kedua putrinya masuk ke dalam rumah.
Setelah memastikan anak-anaknya tak lagi bisa menjangkau ibunya, Johan berbalik dan menatap Hanum dengan senyum sinis yang mendinginkan darah. Tak ada sedikit pun penyesalan di matanya, yang ada hanya ambisi untuk segera melegalkan hubungannya dengan Monica.
"Pergilah dari sini. Kau bukan lagi istriku," ucap Johan dingin. "Bawa koper-koper mu dan jangan pernah menginjakkan kaki di sini lagi tanpa seizinku. Sampai bertemu di pengadilan, Hanum. Aku pastikan kau akan keluar dari sana tanpa membawa apa-apa."
Pintu besar jati itu ditutup dengan bantingan keras tepat di depan wajah Hanum, menyisakan keheningan yang menyakitkan di teras yang kini terasa asing baginya. Hanum jatuh terduduk di samping kopernya, menatap pintu yang tertutup rapat, menyadari bahwa perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Hanum kini berdiri terpaku di depan gerbang tinggi yang selama belasan tahun ia anggap sebagai istana, namun kini berubah menjadi penjara yang membuangnya. Ia tidak sudi memohon pada pria yang telah menginjak-injak harga dirinya. Dengan tangan gemetar, ia menyeret kopernya menjauh.
Di dalam koper itu hanya ada pakaian sehari-harinya. Ia meninggalkan semua perhiasan pemberian Johan, jam tangan mewah, bahkan tas-tas bermerek di kamarnya. Ia tidak ingin membawa satu pun kenangan dari pria penjilat itu. Di dalam saku gamisnya, hanya ada sebuah dompet merah muda yang sudah usang, satu-satunya benda yang tersisa dari masa sulit mereka dulu. Di dalamnya, hanya terselip beberapa lembar uang yang totalnya tak lebih dari satu juta rupiah.
“Ke mana aku harus pergi?” bisiknya parau.
Pulang ke kediaman Sanjaya? Pikiran itu langsung ia tepis jauh-jauh. Luka lama itu kembali berdenyut. Lima belas tahun lalu, ia memutus hubungan dengan keluarga besarnya demi membela Johan, pria yang saat itu dianggapnya sebagai cinta sejatinya namun ternyata hanyalah seekor serigala berbulu domba. Harga dirinya terlalu tinggi untuk kembali sebagai pecundang.
*
*
Menjelang sore, langit Jakarta berubah kelabu, seolah turut merasakan kepedihan hati Hanum. Hujan turun dengan sangat deras, membasahi tubuhnya yang mulai menggigil. Hanum terus berjalan menyusuri trotoar, mencari plang penginapan murah atau losmen di gang-gang sempit.
Langkah kakinya mulai goyah. Sepatunya yang basah terasa berat, namun beban di pikirannya jauh lebih menyesakkan. Bayangan Aliya dan Adiba yang menangis histeris terus berputar di kepalanya.
'Ibu tidak peduli jika harus jadi gelandangan, Nak. Tapi Ibu tidak akan membiarkan kalian tumbuh di bawah asuhan pria kejam itu,' batinnya.
Pandangannya mulai mengabur. Aspal di depannya seolah bergelombang. Saat ia mencoba menyeberang jalan yang cukup padat, kepalanya mendadak berdenyut hebat. Hanum sempat berhenti di tengah jalan, memegangi keningnya, sebelum akhirnya tubuhnya luruh dan jatuh pingsan di tepian trotoar yang basah.
Di tengah derasnya hujan dan kepanikan kendaraan yang berlalu-lalang, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik dengan logo Sanjaya Group yang mengkilap di bagian depan mendadak mengerem tajam.
Seorang pria bertubuh atletis dengan setelan jas mahal yang pas di tubuhnya segera membuka pintu. Ia tidak peduli air hujan membasahi pakaian mahalnya yang seharga ratusan juta. Ia berlari mendekati sosok wanita yang tergeletak malang di samping koper merah.
Pria itu berlutut, membalikkan tubuh Hanum yang pucat pasi. Saat melihat wajah itu, matanya yang tajam seketika membelalak penuh keterkejutan dan rasa sakit.
"Hanum?" suaranya tertelan suara badai, namun tangannya dengan sigap mendekap tubuh wanita itu.
Ia segera mengangkat tubuh Hanum dalam gendongannya, membawanya masuk ke dalam mobil dengan gerakan cepat yang melindungi.
"Cepat segera pergi ke rumah sakit terdekat! Sekarang!" teriaknya pada sang sopir dengan nada yang tak terbantahkan.
Di dalam mobil yang melaju kencang, pria itu menggenggam tangan Hanum yang sedingin es. Matanya menatap wajah wanita yang bertahun-tahun ia cari dalam diam. Ada kemarahan yang tertahan melihat kondisi Hanum yang seperti ini, namun rasa khawatir jauh lebih mendominasi.
"Hanum, bertahanlah...." bisiknya rendah, penuh emosi yang mendalam. "Aku sudah menemukanmu. Aku pasti akan menyelamatkanmu, dan siapa pun yang membuatmu seperti ini, mereka akan membayar harganya."
Bersambung...
2 dalam perahu,diluar malu padahal didalam hatinya mau, saking nyaman sama Alvaro,Hanum nggak sadar nyender ke Alvaro 🤔🤔🤔