NovelToon NovelToon
Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Sang Kaisar Abadi Yang Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Taring Pertama di Hutan Timur

Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Arga melangkah melewati gerbang belakang kompleks Klan Sanjaya. Udara pagi masih dingin, membawa aroma tanah basah dan dedaunan busuk dari arah hutan. Di tangannya, ia hanya membawa sebilah pisau berkarat—satu-satunya senjata yang bisa ia temukan di gudang tua tanpa mencuri perhatian.

Hutan Belantara Timur. Dalam ingatan tubuh ini, hutan itu adalah tempat terlarang bagi anggota klan level rendah. Monster buas berkeliaran bebas—dari Serigala Bulan Sabit yang berburu dalam kawanan hingga Ular Beludak Berekor Duri yang bisanya bisa melumpuhkan kultivator Pemurnian Qi tahap ketiga.

Bagi Arga, itu adalah tempat latihan yang sempurna.

Setelah setengah jam berjalan, ia tiba di batas hutan. Pepohonan raksasa dengan batang selebar tiga rentangan tangan menjulang tinggi, menciptakan kanopi tebal yang hanya menyisakan celah-celah kecil bagi cahaya matahari. Suara-suara aneh terdengar dari dalam—kicauan burung yang tidak wajar, desisan sesuatu yang merayap di antara semak-semak, dan sesekali, lolongan panjang dari kejauhan.

Arga menarik napas dalam-dalam. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan Benang Perak di Dantian-nya yang berdenyut pelan. Sejak ia mulai rutin bermeditasi dengan liontin giok, panjangnya sudah mencapai satu setengah ruas jari. Masih sangat kecil. Masih sangat lemah.

Tapi cukup untuk memulai.

Ia melangkah masuk ke dalam hutan.

---

Dua jam pertama berlalu tanpa insiden berarti. Arga bergerak dengan hati-hati, menggunakan pengetahuan tiga ribu tahunnya untuk membaca jejak dan tanda-tanda keberadaan monster. Ia menghindari sarang-sarang besar, memilih jalur yang relatif aman untuk pemula sepertinya.

Sambil berjalan, ia terus melatih teknik Jejak Tanpa Bayangan—sebuah metode berjalan ringan yang ia kuasai di kehidupan sebelumnya. Dalam tubuh ini, teknik itu hanya berfungsi sekitar seperlima dari potensi aslinya. Tapi itu sudah cukup untuk membuat langkahnya nyaris tak bersuara di atas tumpukan daun kering.

Menjelang siang, ia menemukan sasarannya.

Di sebuah lapangan kecil di antara pepohonan, seekor Serigala Bulan Sabit sedang mengoyak bangkai rusa. Bulunya berwarna abu-abu gelap, dengan corak putih berbentuk bulan sabit di dahinya—ciri khas spesies ini. Ukurannya sebesar anak sapi, dengan taring sepanjang dua jari yang meneteskan air liur bercampur darah.

Tingkat ancaman: setara kultivator Pemurnian Qi tahap kedua puncak.

Di kehidupan sebelumnya, makhluk seperti ini bahkan tidak layak disebut debu di hadapannya. Tapi sekarang, dengan tubuh yang baru bisa menyerap Qi setara tahap pertama, ini adalah lawan yang seimbang.

Arga mengatur napas. Ia mencabut pisau berkaratnya dan melangkah masuk ke lapangan.

Serigala itu langsung mengangkat kepalanya. Mata kuningnya menatap tajam, telinganya tegak waspada. Ia menggeram pelan—peringatan bagi penyusup untuk menjauh.

Arga tidak berhenti.

Dengan satu gerakan cepat, ia melompat ke samping, memancing serigala itu untuk menyerang lebih dulu. Benar saja, monster itu menerjang dengan kecepatan mengejutkan. Rahangnya terbuka lebar, mengincar leher Arga.

Terlalu lambat.

Arga memutar tubuhnya, membiarkan serangan itu meleset beberapa senti dari bahunya. Di saat yang sama, pisaunya melesat ke atas, menggores perut serigala yang terbuka saat menerjang.

Srrraaat!

Bulu abu-abu terpotong, tapi pisau itu hanya membuat luka dangkal. Kulit Serigala Bulan Sabit lebih tebal dari perkiraannya.

Monster itu mendarat, berbalik dengan cepat, dan kembali menerjang. Kali ini lebih cepat, lebih ganas. Arga menghindar lagi, tapi kali ini cakar serigala berhasil menyambar lengan kirinya.

Sobek!

Tiga garis merah muncul di lengannya, darah mulai mengalir. Rasa perih menjalar, tapi Arga mengabaikannya. Rasa sakit adalah teman lama.

Fokus.

Ia mengamati pola serangan serigala itu. Menerjang, mendarat, berbalik, menerjang lagi. Setiap kali, ada jeda setengah detik saat ia berbalik. Setengah detik di mana pertahanannya terbuka.

Di situlah.

Serigala menerjang untuk ketiga kalinya. Arga menghindar seperti sebelumnya. Tapi kali ini, saat monster itu mendarat dan mulai berbalik, Arga sudah bergerak.

Pisaunya menusuk tepat ke bagian belakang leher—titik lemah di antara tengkorak dan tulang belakang. Serigala itu menjerit pendek, tubuhnya mengejang, lalu ambruk.

Arga berdiri di atas bangkainya, napas memburu. Luka di lengannya masih mengeluarkan darah. Tapi di dalam Dantian-nya, ia merasakan sesuatu.

Benang Perak berdenyut. Bukan sekali. Tapi dua kali. Tiga kali. Lalu ia tumbuh—sangat sedikit, mungkin seperlima belas ruas jari. Tapi ia tumbuh.

Jadi benar. Pertempuran adalah pemicunya.

Arga membersihkan pisaunya di bulu serigala, lalu menatap luka di lengannya. Darahnya... ada yang aneh. Di antara merah darah normal, ada kilatan-kilatan kecil berwarna perak. Hampir tak terlihat, tapi ada.

Darah Langit Kesepuluh. Ia mulai bangkit.

---

Senja mulai turun ketika Arga memutuskan untuk kembali. Ia telah menghadapi tiga Serigala Bulan Sabit lagi—masing-masing semakin mudah seiring Benang Perak-nya tumbuh sedikit demi sedikit. Kini panjang benang itu hampir mencapai dua ruas jari, dan retakan di sumbatan meridian pertamanya semakin lebar.

Qi yang bisa ia serap kini setara dengan kultivator Pemurnian Qi tahap pertama puncak. Masih jauh dari cukup, tapi kemajuannya jelas.

Saat ia berjalan keluar dari hutan, ia merasakan sesuatu. Sebuah aura—lebih kuat dari Serigala Bulan Sabit, tapi tidak sekuat Arman. Aura seorang kultivator Pemurnian Qi tahap ketiga.

Arga berhenti. "Kau bisa keluar sekarang."

Dari balik pohon besar, sesosok tubuh melangkah keluar. Seorang pemuda berusia sekitar delapan belas tahun, mengenakan jubah hijau tua dengan emblem daun—seragam Sekte Hutan Lestari, sekte kecil lain di wilayah ini.

"Kau cukup peka," kata pemuda itu. Rambutnya cokelat kusut, wajahnya ramah tapi matanya tajam menilai. "Aku mengawasimu sejak kau membunuh serigala pertama. Gerakanmu... tidak biasa. Kau bukan murid sekte mana pun, kan?"

Arga tidak menjawab.

Pemuda itu tersenyum. "Namaku Bima. Aku sedang berburu bahan ramuan di sini. Dan sejujurnya, aku terkesan. Kau hanya kultivator tahap pertama, tapi bisa membunuh empat Serigala Bulan Sabit sendirian. Itu tidak normal."

"Aku hanya beruntung," jawab Arga datar.

"Keberuntungan tidak membuatmu menghindari serangan dengan presisi seperti itu." Bima melipat tangan di dada. "Dengar, aku tidak tahu apa rahasiamu, dan aku tidak akan memaksa. Tapi aku punya tawaran. Di kedalaman hutan ini, ada sebuah gua. Di dalamnya, tumbuh Jamur Embun Bulan—bahan langka untuk pil pemulihan luka. Aku butuh bantuan untuk mengambilnya. Dijaga oleh seekor monster tingkat lebih tinggi. Kalau kau mau bantu, kita bagi hasilnya."

Arga mempertimbangkan. Jamur Embun Bulan. Bahan untuk Pil Pemulih Daging. Akan sangat berguna untuk latihanku. Dan monster yang lebih kuat berarti pemicu yang lebih besar untuk Benang Perak.

"Monster apa?"

Bima menyeringai. "Seekor Beruang Batu Mata Satu. Setara Pemurnian Qi tahap keempat puncak."

Tantangan yang lebih besar.

Arga mengangguk singkat. "Besok pagi. Aku akan menemuimu di sini."

Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berjalan menuju kompleks klan. Bima menatap kepergiannya dengan senyum penasaran.

"Menarik," gumamnya. "Sangat menarik."

---

Malam itu, Arga membersihkan luka di lengannya. Sari yang melihatnya langsung panik dan memaksanya duduk sambil menyiapkan ramuan herbal sederhana.

"Tuan Muda! Kau bisa mati! Hutan itu berbahaya!" omelnya sambil membalut luka dengan tangan gemetar.

"Aku baik-baik saja." Arga membiarkan gadis itu bekerja. Ada kehangatan aneh saat melihat seseorang begitu peduli padanya. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebagai Kaisar Langit.

Setelah Sari pergi, Arga kembali duduk bersila. Ia memegang liontin giok di tangannya, merasakan denyutnya yang kini lebih kuat. Benang Perak di Dantian-nya bergerak pelan, terus menyerap Qi yang masuk melalui retakan meridian.

Beruang Batu Mata Satu. Setara tahap keempat puncak. Ini akan menjadi ujian sesungguhnya.

Tapi jika aku berhasil... Benang Perak akan tumbuh signifikan. Mungkin cukup untuk mencapai tahap berikutnya.

Ia membuka gulungan kitab dalam kesadarannya, membaca kembali bagian yang bisa ia akses. Ada satu bagian yang menarik perhatiannya malam ini.

"Saat Benang Perak mencapai panjang tiga ruas jari, ia akan memasuki tahap 'Denyut Pertama'. Pemilik akan merasakan koneksi pertama dengan Langit Kesepuluh. Pada momen itu, satu teknik warisan akan terbuka."

Teknik warisan.

Arga mengepalkan tangannya. Ia harus mencapai tiga ruas jari sebelum Festival Perebutan Warisan. Dan Beruang Batu besok adalah langkah pertamanya ke sana.

Di luar, bulan purnama menggantung rendah di langit. Cahayanya yang perak menyelinap melalui celah dinding bambu, jatuh tepat di atas liontin giok yang berdenyut seirama dengan jantung Arga.

1
Mommy Dza
Lanjut💪
Mommy Dza
Tetap semangat Arga 💪
Mommy Dza
Cara memperkuat segel adalah
Mommy Dza
Bravo Arga 👍💪
BlueHeaven
Sekelas Penguasa Tertinggi kok sampe nggak tau sih, apalagi setetes demi setetes tiap harinya
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
Mommy Dza
Arga kembali 💪
Mommy Dza
Arga mau dimangsa 🥹 haddehh
hancurkan dia Arga
Mommy Dza
Memperbarui segel dan mengurung pemangsa 💪
Mommy Dza
Arga semakin kuat 💪
Mommy Dza
Nasib apa yg menunggunya 🥹
Mommy Dza
Lanjut thor
Mommy Dza
Wah ketemu pecahan kedua yah 💪
Mommy Dza
Siapa lagi yg muncul /Smug/
Mommy Dza
Bunuh dia Arga 💪
Mommy Dza
Deg degan aku Thor 😁
Lanjutt
Mommy Dza
Mungkin ini saatnya 💪
Mommy Dza
Semoga lekas sembuh 🤲
Mommy Dza
Maju Arga 💪
Mommy Dza
Kita baru saja mulai 💪🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!