Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.
Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 5
Tepat pukul sepuluh pagi, ruang tamu penthouse itu telah berubah menjadi ruang pengesahan hukum yang kaku.
Dua petugas dari kantor catatan sipil duduk dengan canggung di sofa marmer, didampingi oleh seorang pria berjas abu-abu terang yang memancarkan aura ketajaman intelektual. Pria itu adalah Marco, sepupu sekaligus kepala penasihat hukum Alexander Group.
Yvone duduk di samping Dylan. Jarak di antara mereka hanya beberapa sentimeter, namun terasa seperti jurang tak berdasar. Dylan mengenakan jas hitamnya kembali, wajahnya memancarkan otoritas mutlak yang membuat para petugas pemerintah itu tidak berani menatap matanya terlalu lama.
"Semua dokumen telah disiapkan sesuai protokol privasi tingkat tinggi, Bos," ucap Marco, mendorong dua tumpuk map tebal bersampul kulit ke atas meja kaca. Ia kemudian menoleh ke arah Yvone dan tersenyum tipis. Senyum yang sopan, namun sangat profesional. "Nona Larasati, perkenalkan, saya Marco. Saya yang menyusun draf kebebasan... maksud saya, draf perjanjian pra-nikah dan status legal Anda."
Yvone menelan ludah mendengar selip lidah pria itu. Marco tahu persis ini adalah transaksi.
"Petugas, silakan dimulai," perintah Dylan tanpa membuang waktu.
Tidak ada pendeta. Tidak ada penghulu. Tidak ada keluarga yang menangis bahagia atau lemparan bunga. Hanya gumaman monoton dari petugas sipil yang membacakan pasal-pasal undang-undang perkawinan secara kilat, seolah mereka sedang membaca syarat dan ketentuan pembukaan rekening bank.
"Dengan ditandatanganinya akta ini, maka Tuan Dylan Alexander Hartono dan Nona Yvone Larasati secara sah dinyatakan sebagai suami istri di mata hukum negara," ucap petugas itu akhirnya, menyerahkan dua pena tinta.
Dylan mengambil pena pertama. Tanpa berkedip, tanpa ragu sedetik pun, ia menggoreskan tanda tangannya yang tegas di atas kertas bermeterai itu. Ia tidak sedang menikahi seorang wanita; ia sedang mengakuisisi sebuah aset politik.
Kini giliran Yvone. Tangannya yang dingin meraih pena kedua. Matanya menatap kata Suami Istri yang tercetak miring di atas kertas. Untuk sesaat, napasnya tertahan. Ia teringat impian masa kecilnya: berjalan menyusuri lorong gereja atau pelaminan, mengenakan gaun putih rancangannya sendiri, menatap pria yang mencintainya dengan tulus.
Kini, impian itu mati di atas meja kaca yang dingin.
Yvone menarik napas panjang, menekan rasa sesak di dadanya, dan menandatangani dokumen tersebut.
Selesai. Yvone Larasati resmi menjadi Nyonya Dylan Alexander Hartono.
"Selamat, Tuan dan Nyonya Hartono," ucap para petugas itu dengan senyum kaku, segera merapikan dokumen mereka, seolah ingin cepat-cepat keluar dari atmosfer ruangan yang mencekik itu.
Begitu pintu lift tertutup membawa petugas dan Marco pergi, Dylan langsung berdiri. Ia mengancingkan jasnya dan melirik arlojinya.
"Aku harus kembali ke kantor. Ada krisis kecil terkait izin AMDAL proyek Bali yang dihembuskan oleh kubu Pak Hadi," ucap Dylan datar. Ia menatap Tara yang sejak tadi duduk diam di sudut ruangan. "Tara, kau tahu apa yang harus kau lakukan padanya."
"Serahkan padaku, Bos Besar," Tara memberi hormat ala militer dengan jenaka.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau bahkan menoleh ke arah istri barunya, Dylan melangkah menuju lift pribadinya dan menghilang.
Sisa hari itu berlalu bagai badai bagi Yvone. Tara terbukti sama tiraninya dengan Dylan, namun dalam bidang yang berbeda: mode dan kecantikan.
Sejumput tim penata gaya elit didatangkan langsung ke penthouse. Rambut Yvone dipotong sedikit untuk memberikan layer yang elegan, kulitnya dirawat dengan berbagai krim beraroma mawar, dan kuku-kukunya dirapikan. Setelah itu, tibalah sesi fitting gaun.
"Ini untuk malam amal hari Sabtu nanti," ucap Tara sambil memegang sebuah gaun sutra emerald green berpotongan leher V yang elegan. "Warna ini akan sangat kontras dengan kulit putihmu, dan hijau adalah warna netral dalam politik tidak berafiliasi dengan partai mana pun. Dylan akan menyukainya."
"Aku tidak peduli apa yang dia suka, Tara," gumam Yvone lelah saat para asisten membantu memasangkan gaun itu ke tubuhnya.
Tara menghela napas, menatap pantulan Yvone di cermin besar. "Kau terlihat luar biasa, Yvone. Aku tahu ini sulit. Tapi jika kau ingin bertahan hidup di dunia Dylan, kau harus memakai zirahmu. Dan di dunia kami, zirah itu terbuat dari sutra murni, berlian, dan senyuman palsu."
Yvone menatap pantulannya. Wanita di cermin itu tampak sempurna, anggun, dan mahal. Tapi matanya kosong. Ia tidak mengenali dirinya sendiri.
Malam harinya, penthouse kembali sepi. Tara dan timnya telah pulang.
Yvone yang sudah berganti dengan piyama sutra salah satu dari lusinan pakaian baru yang dijejalkan ke lemarinya hari ini merasa dadanya seakan mau pecah. Udara di dalam kamar raksasa itu terasa mengimpitnya.
Ia membuka pintu kaca geser kamarnya dan melangkah keluar menuju balkon pribadi yang luas.
Angin malam Jakarta di lantai 65 berhembus kencang dan dingin, menerpa wajahnya. Jauh di bawah sana, lampu-lampu kendaraan bergerak lambat bagai aliran darah kota yang tak pernah tidur. Namun di atas sini, Yvone merasa terisolasi dari sisa dunia.
Pertahanan yang ia bangun susah payah sepanjang hari akhirnya runtuh.
Air mata pertama jatuh, disusul oleh isakan kecil yang tertahan. Yvone mencengkeram pagar kaca balkon erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menangis untuk ayahnya yang tidur di sel tahanan. Ia menangis untuk adiknya yang harus menghadapi cibiran tetangga. Dan ia menangisi dirinya sendiri seorang wanita muda yang impian dan kebebasannya direnggut paksa demi sebuah kesepakatan iblis.
Tubuhnya bergetar hebat saat isakannya memecah keheningan malam. Ia membiarkan angin menyembunyikan suara tangisnya.
Namun, ia tidak sadar bahwa ia tidak sendirian.
Dari pintu balkon yang terbuka, aroma vetiver dan cedarwood menguar, mengalahkan aroma hujan yang mulai turun.
"Air mata tidak akan mengubah isi kontrak, Yvone."
Suara bariton yang dingin itu membuat Yvone tersentak. Ia berbalik dengan cepat, tangannya buru-buru menghapus jejak air mata di pipinya.
Dylan berdiri di ambang pintu kaca, jasnya sudah dilepas, dasinya dilonggarkan, dan kerah kemejanya sedikit terbuka. Ia menatap Yvone dengan ekspresi datar yang tidak terbaca, namun matanya yang kelam mengunci sosok Yvone dalam kegelapan.
"Saya tidak meminta Anda untuk peduli, Tuan Hartono," balas Yvone tajam, suaranya masih bergetar. "Ini balkon kamar saya. Saya berhak melakukan apa pun di sini, termasuk menangisi hidup saya yang Anda hancurkan."
Dylan melangkah maju secara perlahan, memasuki area balkon. Angin meniup rambut hitamnya, membuatnya tampak sedikit liar, menghilangkan kesan kaku yang selalu ia tampilkan di siang hari. Pria itu berhenti tepat di depan Yvone, jarak mereka begitu dekat hingga Yvone bisa merasakan panas tubuhnya menembus udara malam yang dingin.
"Aku tidak menghancurkan hidupmu. Aku menyelamatkannya," desis Dylan rendah. "Tanpaku, besok pagi kau sudah memakamkan ayahmu."
Kata-kata itu begitu kejam, namun terlalu nyata. Yvone membuang muka, menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan baru yang mengancam akan keluar.
Dylan menunduk, menatap wajah Yvone yang terpaling. Ia melihat ujung hidung wanita itu yang memerah dan bulu matanya yang basah oleh air mata. Entah dorongan dari mana, Dylan mengangkat tangannya. Namun, alih-alih menyentuh, ia hanya menahan tangannya di udara sejenak sebelum menjatuhkannya kembali ke sisi tubuhnya.
"Hapus air matamu," perintah Dylan, suaranya sedikit lebih pelan dari sebelumnya, namun tetap memancarkan peringatan.
Ia menatap lurus ke mata Yvone yang berkaca-kaca. "Dengarkan aku baik-baik, Yvone. Pernikahan ini adalah perisai politik. Di luar pintu ini, kita adalah pasangan yang sempurna. Tapi di dalam sini, ini murni bisnis. Jangan pernah salah mengartikan perlindunganku sebagai bentuk kasih sayang."
Mata Dylan menajam, seakan ingin memahat kata-katanya langsung ke dalam otak Yvone.
"Jangan harap aku akan jatuh cinta padamu. Dan demi kebaikanmu sendiri... jangan coba-coba jatuh cinta padaku. Karena aku tidak memiliki hati yang bisa kuberikan padamu."
Yvone balas menatap pria itu, rahangnya mengeras, keberaniannya kembali berkobar di tengah rasa sakitnya. Ia menegakkan bahunya.
"Anda terlalu memuji diri Anda sendiri, Tuan Hartono," desis Yvone, setiap kata dipenuhi racun dan kepahitan. "Cinta adalah hal terakhir yang saya inginkan dari pria tanpa perasaan seperti Anda. Di mataku, Anda hanyalah penjaga gembok sangkarku. Tidak lebih."
Mendengar perlawanan itu, rahang Dylan mengeras. Ia menatap Yvone selama beberapa detik yang terasa sangat panjang, seolah sedang membaca sebuah teka-teki rumit.
Tanpa membalas kata-kata tajam Yvone, Dylan membalikkan badannya dan melangkah masuk kembali ke dalam penthouse, meninggalkan Yvone sendirian dalam dinginnya angin malam.