Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.
Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Jual
Dadanya terasa sesak bak ditimpa beban berat, tangisannya tertahan di tenggorokan, tak mampu keluar. Ia tahu betul, sangat tahu, betapa besar kasih sayang Sila membesarkannya meski dalam keterbatasan. Namun, rasa haru itu harus terhenti saat tangannya yang masih gemetar kembali membuka lipatan kertas yang kedua.
Tulisan di sana berbeda, lebih tegas namun terdengar sangat putus asa.
"Tolong jaga bayi ini, namanya Gladis Candra Wiguna. Dia anak saya, saya terpaksa membuangnya karena saya tidak mau bayi ini dibunuh oleh kakeknya. Tolong pakai kan juga kalung yang ada di dalam tas ini, agar kelak saya bisa menemukannya dan membalas jasa anda. Terimakasih."
Mata Gadis membesar. Air matanya seketika berhenti mengalir, berganti dengan rasa penasaran yang luar biasa dan keterkejutan yang membuat seluruh tubuhnya membeku.
Wiguna...
Dengan tangan yang masih bergetar, ia bangkit dari duduknya, meraih ponselnya, dan jari-jarinya dengan cepat mengetik nama keluarga itu di kolom pencarian.
Informasi yang muncul di layar membuat napasnya tercekat.
Keluarga Wiguna.
Mereka bukan keluarga sembarangan. Mereka adalah keluarga terpandang, keturunan bangsawan yang memiliki kekayaan luar biasa dan menguasai banyak perusahaan properti raksasa yang tersebar di berbagai negara.
Di antara nama-nama yang muncul, ada satu yang menarik perhatiannya Anin Wiguna.
Anin adalah satu-satunya anak perempuan dalam keluarga Wiguna, seorang wanita tangguh yang kecerdasannya tak kalah hebat dibandingkan ketiga kakak laki-lakinya.
Namun, ada satu berita lama yang selalu tertulis di setiap artikel Anin Wiguna dikabarkan kehilangan bayinya.
Kejadian itu terjadi bertahun-tahun lalu, saat ia dan suaminya sedang dalam perjalanan menuju Negara C untuk mengurus cabang perusahaan mereka. Sejak saat itu, bayi perempuannya hilang tanpa jejak, dan hingga kini nasibnya tak pernah diketahui.
Gadis menatap layar ponsel, lalu mengalihkan pandangannya ke kalung bertuliskan WIGUNA di tangannya. Potongan-potongan teka-teki itu mulai tersusun satu per satu.
BRAKK!!
Pintu kamar itu terdobrak paksa hingga terbentur dinding, suaranya memecah keheningan dan membuat jantung Gadis seakan berhenti berdetak. Dengan refleks yang luar biasa cepat, ia menyambar tas itu dan melemparkannya sekuat tenaga ke atas lemari, bersyukur karena ia sempat memasukkan kembali semua isinya rapi sebelum kedatangan tamu tak diundang itu.
Yanto masuk dengan langkah sempoyongan, baunya sangat menyengat campuran alkohol dan asap rokok. Matanya yang merah menyala menatap Gadis dengan senyuman sinis yang menjijikkan.
"Heh... ternyata kamu sudah bangun?" ejeknya dengan suara parau.
"Kemarilah!" perintahnya sambil mengayunkan tangan, memanggil Gadis mendekat seperti memanggil hewan peliharaan.
Gadis menggeleng kuat, tubuhnya mundur perlahan hingga punggungnya menempel keras pada dinding, mencari perlindungan meski ia tahu itu sia-sia.
Melihat Gadis tak mau menurut, kesabaran Yanto habis. Ia melangkah cepat, mencengkeram pergelangan tangan Gadis dengan sangat kuat hingga gadis itu menjerit kesakitan.
"Hei kalian! Bawa dia!" teriak Yanto ke arah pintu.
Seketika, tiga orang pria berbadan besar dan kekar muncul dari balik pintu. Wajah mereka datar tanpa ekspresi. Tanpa banyak bicara, mereka langsung menyambar tubuh Gadis.
Tangan-tangan kasar itu mencengkeram kedua lengannya, menyeretnya paksa keluar. Gadis meronta sekuat tenaga, memekik meminta tolong, tapi tubuhnya terlalu kecil dan lemah dibandingkan kekuatan mereka. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah, membiarkan dirinya diseret pergi entah ke mana oleh orang-orang tak bertanggung jawab itu.
****
Ruangan itu hening dan pengap, hanya menyisakan Gadis yang berdiri gemetar berhadapan dengan seorang wanita tua yang tubuhnya gempal dan berdandan sangat menor. Bedak tebal dan lipstik menyala mencolok wajahnya. Gadis tahu persis siapa wanita ini, orang-orang biasa memanggilnya Mami.
"Wah, cantik juga ya bawaan si Yanto," gumam Mami pelan, matanya menelusuri seluruh tubuh Gadis dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun seperti menaksir harga barang.
Gadis kini sudah tidak mengenakan pakaiannya sendiri. Ia telah dipakaikan baju yang sangat minim dan ketat, serta dandanan wajah yang dibuat sempurna hingga menutupi kesederhanaannya. Meski begitu, kecantikannya yang alami justru semakin terpancar, membuatnya terlihat sangat memikat.
"Kenapa si Yanto nggak dari dulu aja bawain dia ke aku?" gerutu Mami dalam hati, tangannya mengusap dagu sambil berpikir. "Kalau tahu secantik ini, harganya bisa selangit. Apalagi kalau dia masih perawan... wah, untung besar!"
Bayangan tumpukan uang seolah berputar di kepalanya. Ia sedikit menyesal kehilangan kesempatan, tapi segera tersenyum lagi. Sudahlah, biarlah selama ini aku banyak kasih uang ke Yanto. Sekarang dia sudah kasih ganti yang jauh lebih berharga, pikirnya.
Mami melangkah mendekat, lalu dengan kasar meraih dagu Gadis, memaksanya menatap wajahnya.
"Hei... siapa namamu?" tanyanya ketus.
"Gadis, Buk..." jawab Gadis lirih, suaranya hampir tak terdengar.
PLAK!
"MAMI! Panggil Mami! Bukan Ibu!" bentak Mami sambil menepis dagu Gadis dengan kasar. "Memangnya aku ini ibumu yang melahirkan? Hah? Ingat baik-baik!"
Tiba-tiba terdengar suara cekikikan dari arah belakang pintu. Mami langsung menoleh tajam, melotot ke arah anak buahnya yang sedang menguping. Merasa diperhatikan oleh bosnya yang galak, mereka langsung menutup mulut dan diam seribu bahasa, ketakutan.
"Bawa dia ke kamar 21. Om Gunawan pasti suka banget lihat barang segar begini," perintah Mami tegas pada dua anak buahnya yang siap siaga.
Gadis meronta sekuat tenaga, tangannya berusaha melepaskan cengkeraman kuat di kedua lengannya. Namun, tubuh kecilnya tak berdaya melawan kekuatan mereka. Ia terseret paksa menuju lorong panjang yang remang-remang, menuju kamar bernomor 21.
Di tengah perjalanan yang menyakitkan itu, pandangannya tiba-tiba bertemu dengan seseorang yang sangat dikenalnya. Jantungnya berdegup kencang.
"Tuan Langit..." gumamnya dalam hati.
Harapannya sejenak muncul, namun seketika itu juga tenggelam oleh keputusasaan. Apakah dia akan menolongku? Ah, apa yang aku pikirkan? Hanya karena satu malam bersama, apa dia peduli? Lagipula, dia sudah membayarnya. Sudahlah, anggap saja ini memang nasib burukku, batinnya pasrah, membiarkan dirinya terus diseret melewati pria itu.
Namun, di belakang Langit, ada seorang pria bernama Charlie yang menatap punggung Gadis dengan tatapan tajam dan penuh tanda tanya. Ada sesuatu yang sangat familiar dari wanita yang sedang digiring paksa itu, seolah ia pernah melihatnya di suatu tempat.
Charlie segera mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu pada Langit. Mendengar itu, kening Langit berkerut dalam, tatapannya berubah dingin dan murka.
"Urus dia sekarang. Jangan biarkan apa-apa terjadi padanya. Dan bawa pemilik tempat ini kepadaku," perintah Langit rendah namun penuh wibawa pada sekretarisnya.
Charlie mengangguk patuh dan segera undur diri menjalankan tugas.
Langit mendudukkan tubuh kekarnya di sofa mewah dengan santai namun mengintimidasi. Tak lama kemudian, seorang wanita cantik datang menghampiri membawa botol minuman keras dan gelas kristal, diikuti oleh beberapa wanita lain yang membawa nampan berisi camilan.
Mereka semua tidak berani duduk di sofa, melainkan duduk bersimpuh dengan sopan di atas lantai yang dingin tepat di hadapan Langit. Salah satu dari mereka dengan tangan gemetar menuangkan minuman berwarna kecokelatan itu ke dalam gelas, lalu menyerahkannya dengan hormat.
Langit menerima gelas itu tanpa menatap wajah siapa pun. Ia menenggak isinya hingga tandas dalam sekali teguk, seolah ingin membuang amarah yang memuncak.
Tak!
Gelas kristal itu diletakkannya dengan kasar di atas meja, menimbulkan suara keras yang menggema di ruangan hening itu, membuat semua orang yang ada di sana menunduk ketakutan, tak berani bernapas keras.
Apakah Langit akan menolong Gadis? Atau hanya ingin memastikan saja?