Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.
Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.
Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Sebuah kalung
Nova tersenyum ke arah Aruna lalu meraih tangannya.
“Ayo, kita lanjutkan.”
Setelah membeli apa yang mereka butuhkan dan berjalan-jalan cukup lama di mall itu, Nova dan Aruna memutuskan untuk pulang.
Aruna mengantar Nova ke rumahnya, dan setelah itu Aruna pergi. Sementara Nova langsung masuk ke dalam rumahnya, dan begitu ia membuka pintu ia sudah di sambut Ethan dan Calista.
“Ya ampun,” gumamnya.
“Hai Nova,” sapa Calista sambil melambaikan tangannya.
Nova pun duduk di sofa sebelum bertanya kepada dua orang di hadapan mereka itu.
“Kami datang, hanya untuk mengantarkan ini,” timpal Ethan sambil menyodorkan sebuah kotak hitam dengan ukiran huruf kuno, yang belum sepenuhnya bisa di mengerti oleh Nova.
“Apa ini?” ujar Nova sambil meraih kotak itu.
Ethan menyandarkan punggungnya ke sofa sambil menjawab.
“Itu kalung, yang seperti ini...” jawab Ethan sambil menunjukan kalung yang ia pakai. “Sedikit mirip memang, tapi menurutku kalung itu sedikit berbeda, karena sudah di simpan selama ratusan tahun dan di jaga secara turun temurun, dan entah kenapa nona Zoya yakin jika kalung itu di takdirkan untukmu.”
Nova kembali menatap kalung di dalam kotak hitam itu, lalu meraihnya. Kalung itu memiliki batu ruby berwarna merah delima, dan saat Nova menyentuhnya cahaya samar berdenyut pelan di dalamnya.
Hal itu membuat Ethan dan Calista terkejut, karena saat nona Zoya menyentuhnya, kalung itu tak memberikan respon apapun. Tapi, saat Nova yang menyentuhnya mereka sangat terkejut.
“K-kenapa bisa?” ucap Ethan dengan kening yang mengkerut kebingungan.
Nova menatap ke arahnya lalu menatap kalung di tangannya itu.
“Apa maksudmu?”
Kemudian Ethan menjelaskan bahwa kalung yang kini berada di tangan Nova tidak pernah merespon apapun, saat di sentuh oleh para senior praktisi jiwa, bahkan oleh Nona Zoya dan Gonor sekalipun. Dan baru kali ini, Ethan dan Calista menyaksikan batu ruby seukuran jempol itu bereaksi saat di sentuh seseorang.
Nova mengangguk paham, kemudian ia memakai kalung itu. Dan begitu kalungnya tersemat, ia dapat merasakan darah di dalam jalur meridiannya mengalir lebih stabil, halus dan membuat Nova merasakan tubuhnya semakin kuat.
“Luar biasa!” seru Nova.
Belum sempat Ethan dan Calista bereaksi kembali, Ibu dari Nova muncul membawa tiga gelas jus dan menaruhnya di meja.
“Nak Ethan, Calista silahkan di minum dulu,” ucapnya sembari tersenyum.
Ethan dan Calista mengangguk.
“Terimakasih tante,” ucap keduanya bersamaan.
Dan setelah itu Bu Ratih kembali ke kamarnya, membiarkan Nova dan kedua temannya kembali mengobrol.
Dan setelah satu jam berlalu, Ethan dan Calista berpamitan untuk pulang. Dan keduanya akan segera melaporkan apa yang mereka lihat hari ini kepada Nona Zoya dan Gonor.
Tak lama setelah Nova kembali ke dalam rumah, Bu Ratih keluar dan menanyakan dua paket yang datang ke rumahnya.
“Nak, apa itu paket punya kamu? Itu kan barang-barang mahal, kamu punya uang darimana beli semua barang itu?” tanyanya.
Nova sudah menduga hal itu, dan tentu dia sudah menyiapkan jawaban yang cukup masuk akal, meskipun harus sedikit berbohong kepada sang ibu, ia terpaksa karena jika ia jujur darimana ia mendapatkan uang, ibunya tidak akan pernah percaya.
“Aku beli itu dari uang tabunganku selama ini bu, dan dari hasil uang apresiasi lomba sains bulan lalu,” jelasnya sambil membuka dua tas berisi ponsel merk terbaru dan satu laptop yang selalu di inginkan oleh ibunya.
“Ini, sengaja aku beli untuk ibu. Laptop yang lama kan udah sering rusak, biar ibu tambah semangat kerjanya,” ucap Nova.
Mendengarkan itu Bu Ratih langsung terharu, terlebih perhatian sang anak mengingatkannya kepada mendiang suami yang sudah di kabarkan meninggal beberapa tahun, karena kecelakaan misterius yang menimpanya.
“Terimakasih nak, kamu memang mirip sekali dengan ayahmu,” ucap bu Ratih sambil memeluk Nova dengan erat.
***
Di dalam ruang dimensi, Nova duduk bermeditasi, ia belajar untuk menstabilkan energi miliknya. Terlebih energi dari red stone kini mulai menyatu dengan tubuhnya semenjak ia mendapatkan kalung dari Nona Zoya itu.
Zira menyadari itu, ia memperhatikan kalung yang di gunakan Nova, ia merasa familiar dengan aura kalung yang di pakainya. Zira sangat terkesan dengan sosok Nova, meskipun usia Nova masih sangat muda Nova sangat pintar dan jenius seperti para pangeran di dunianya.
“Anak itu, akan jauh melampaui batas, meskipun dia masih terlihat kekanak-kanakan.”
Angin berhembus cukup kencang, menerpa tubuh Nova yang sedang fokus menyerap energi di sekitarnya. Nova mengingat semua instruksi Zira dan berusaha meningkatkan kultivasi jiwanya, setelah ia berhasil naik ke ranah mortal bumi, ia harus menyeimbangkan kultivasi jiwanya agar ia semakin kuat dan memiliki kemampuan yang luar biasa.
***
Di sisi lain, di dalam manor The Grifindor kawasan Clan barat, Nona Zoya semakin yakin saat mendengar kabar dari Ethan dan Calista.
“Ternyata benar, dugaan ku selama ini, setelah mengawasinya bertahun-tahun, akhirnya penantianku berakhir, sang pewaris agung telah kembali,” gumamnya sambil menatap pemandangan gunung yang menjulang tinggi, tepat di halaman belakang rumahnya.
Dari kejauhan, terlihat Gonor sedang berlatih bersama Darius dan para praktisi jiwa lainnya. Mereka semua berlatih dengan sungguh-sungguh, untuk menyiapkan diri dari segala kemungkinan yang akan terjadi.
“Aku harus mengalahkan anak itu,” gumam Darius tanpa menghentikan tinjunya hingga membuat samsak yang menajadi sasaran tinju hancur. Membuat senua orang menoleh kepadanya.
Gonor mendekat.
“Tenanglah, jangan berbuat sesuatu yang merugikan manusia.”
Nona Zoya yang memperhatikan itu, melihat bahwa aura yang di miliki Darius tidak stabil, terlebih emosi anak itu sulit di kontrol membuatnya harus mengerti dan mengubah anak itu pelan-pelan.
***
Jauh dari tempat Nova berada...
Langit tak lagi sekadar hamparan biru, melainkan lautan kosmik yang dipenuhi gugusan bintang berpendar seperti permata hidup.
Di tengah kehampaan yang agung itu, berdiri sebuah kerajaan yang tak pernah tersentuh oleh waktu yang fana... Kerajaan Aetherion, tempat di mana hukum realitas tunduk pada kehendak penguasanya. Pilar-pilar kristal raksasa menjulang tanpa penopang, melayang kokoh, sementara istana utamanya berkilau dengan cahaya yang tak dapat dijelaskan oleh akal manusia.
Di salah satu balkon tinggi yang menghadap langsung ke samudra bintang, berdirilah seorang pria berjanggut tebal, rambutnya panjang tergerai tertiup arus energi kosmik. Jubahnya berwarna gelap dengan ukiran cahaya yang bergerak seperti hidup, menandakan bahwa ia bukan makhluk biasa.
Tatapannya tajam menembus kehampaan, namun di balik ketenangan itu, tersimpan bara kemarahan yang belum padam.
Ia mengepalkan tangannya perlahan, hingga ruang di sekitarnya bergetar halus.
“Mereka kembali melanggar batas…” gumamnya pelan, suaranya berat namun menggema seakan seluruh alam semesta mendengarnya.