NovelToon NovelToon
A Stepbrother'S Obsession

A Stepbrother'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Sebuah Anting

"Apakah ini milikmu?"

Nalendra menunjukkan sebuah anting yang didapatkannya di hotel di mana ia menginap. Begitu terkejutnya Nina saat pria itu menunjukkan anting yang memiliki kemiripan dengan miliknya. Dirabanya salah satu telinganya yang ternyata hanya menyisakan satu anting saja, dan ia meyakini anting itu miliknya yang terlepas saat  melakukan adegan menjijikan di hotel.

"Ini milikku, bagaimana bisa ada di tanganmu?" tanya Nina dengan suaranya tergetar. Begitu canggung dan malu tak berani menatap pria tampan yang berdiri tidak begitu jauh di depannya.

"Aku menemukannya di bawah bantal di dalam hotel tempatku menginap. Kurasa anting ini memiliki kesamaan dengan anting yang kau pakai. Syukurlah kalau ini memang milikmu."

Pria itu mendekat berniat untuk menyerahkannya. Harum maskulin menyeruak menusuk hidungnya. Semakin dia mendekat semakin membuatnya menciut.

"Aku bantu memakainya."

Dengan cepat Nina menolak. "Ah..., terimakasih, enggak usah! Aku bisa sendiri." Nina gugup bukan main. Ia tak berhenti merutuki dirinya yang begitu ceroboh.

Rendra mengulas senyum smirknya. "Oke, tapi kalau butuh bantuan bilang saja, nggak usah malu-malu."

Seketika tubuh Nina membeku. Dia begitu canggung dan tak nyaman.

"Yaudah kak, kalau gitu aku masuk dulu. Permisi!"

Dengan gugup ia langsung melenggang pergi masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Wajahnya bersemu merah menahan malu yang luar biasa. Ia memukul keningnya merasa bodoh bisa bertemu kembali dengan pria yang ingin dihindarinya.

"Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam?" Dia menggumam dengan memasang antingnya kembali. "Ternyata pria itu kakak tiriku. Kok bisa-bisanya aku tidur sama dia. Ya ampun..., bodoh sekali aku ini. Gara-gara minuman lakhnat itu~~

Nasi sudah menjadi bubur. Semua telah terjadi dan tak bisa diperbaiki. Penyesalan selalu datang belakangan, dan ia hanya bisa menyesalinya.

Nina memandangi wajahnya yang bersemu merah. Dia memasang antingnya kembali.

"Ini cuma sekali dan tak akan kembali terulang lagi. Anggap saja kejadian malam itu sebuah pembelajaran untuk lebih berhati-hati. Semoga pria itu bisa  menjaga rahasia."

Nina membuang nafasnya kasar. Ia berharap kakak tirinya bisa diajak kompromi untuk menutupi aibnya. Ditatapnya handphone dengan layarnya menyala. Didapatinya notifikasi yang datang dari pacarnya.

("Nina sayang, aku ingin ketemu sama kamu. Ini penting!")

Nina mendelik dan mengomel. "Ini orang masih juga mengganggu! Sudah berkhianat masih juga nggak ada rasa malunya. Tebel banget mukanya!"

Dengan gerakan cepat Nina membalas chatnya.

("Sorry Gas, Aku lagi sibuk! Lagi pula hubungan  kita sudah berakhir.")

Tak lama dia mendapatkan balasan dan langsung membacanya.

("Berakhir apa? Jangan ngaco kamu! Ini cuma kesalahan pahaman. Aku bisa jelasin!")

("Kesalahpahaman kamu bilang? Ini soal penghianatan, bukan kesalahpahaman. Kau sudah tega menghianatiku, jadi jangan harap kata maaf dariku!")

("Mulai sekarang kita putus! Jangan pernah menggangguku lagi!")

("Kamu ini ngomong apa sih, Nin! Aku bisa jelasin. Aku akui memang bersalah, tapi bukankah kesalahan itu sering dilakukan oleh sebagian kaum pria? Aku dijebak Maura Nin, kamu harus percaya padaku!")

Nina tak membalas, dia langsung menonaktifkan handphonenya. Permasalahan semakin menumpuk saja. Hubungannya dengan kekasih hancur ditambah lagi ia dengan cuma-cuma menyerahkan kehormatannya pada pria asing yang ternyata saudara tirinya.

"Duh, bagaimana ini?" Nina mondar-mandir gelisah. "Kalau sampai dia beneran dateng aku harus beralasan apa? Mama sama Papa nggak tahu kalau aku lagi ada masalah sama itu cowok. Haruskah aku berterus terang menceritakan keburukannya?"

Nina mengacak rambutnya frustasi, bingung harus melakukan apa untuk menghindari kedatangan Bagas.

"Aku harus menghindarinya. Ya, lebih baik aku pergi ke rumahnya Sania."

Tak ingin mengulur waktu Nina langsung menyambar jaket untuk menutupinya bagian tubuhnya yang hanya mengenakan tank top. Buru-buru  ia keluar dari kamarnya untuk menghindari kedatangan Bagas.

Di ruang keluarga ia mendapati orang tuanya tengah berkumpul. Kakak tirinya juga ada di sana tengah bersantai menikmati obrolan bersama orangtuanya.

"Nina, kamu mau ke mana malam-malam begini?" tanya Widya.

Wanita paruh baya itu mendengus dengan tatapan memicing mengamati penampilan putrinya.

"Ma, aku minta izin buat ke rumahnya Sania. Ada banyak tugas kampus yang harus aku selesaikan dan diharuskan untuk bekerja kelompok."

Widya tersenyum smirk dengan menatapnya dingin. "Kamu pikir Mama percaya dengan alasanmu itu?"

Nina mencebik. "Kalau nggak percaya tanya aja sama Sania," bantahnya.

"Ngapain mama harus tanya sama Sania!"

Widya masih jengkel karena semalaman putrinya tak pulang, dan kini hendak diulanginya lagi.

"Kamu itu dikasih hati malah minta jantung! Ada aja alasanmu itu! Kalau memang ada tugas kampus kenapa nggak dikerjain dari siang! Pandai banget buat alasan."

Di situ Nina diam tak berani menjawab. Jelas saja alasannya tak dipercaya, seharian penuh ia terlihat bersantai, dan kini harus beralasan ingin mengerjakan tugas, sungguh bodoh.

"Mama nggak habis pikir sama kamu! Makin ke sini kamu makin banyak bohongnya! Semalam kamu sudah nggak pulang, bilangnya nginep di rumah Sania, sekarang sudah mau pergi lagi dengan alasan mengerjakan tugas. Mau jadi apa kamu! Kamu itu anak gadis Nin, jangan bikin malu orang tua!"

Nina tak berani mengangkat wajahnya. Dia benar-benar sangat malu mendapatkan omelan di depan kakak tirinya.

Diam-diam Rendra menggumam. 'hm, jadi semalem dia beralasan nginep di rumah temennya, nggak  tahunya tengah berbagi keringat sama aku. Dasar bocah nakal. Bagaimana kalau sampai Mama dan Papa tahu kejadian yang sebenarnya?'

"Nina, Papa sarankan jangan pergi. Ini sudah malam, kalau mau kerja kelompok bisa dilakukan siang hari, kalau malam Papa nggak izinkan. Ayo sini, duduk di sini."

Tak banyak protes akhirnya Nina memilih untuk bergabung bersama mereka. Pikirannya benar-benar tak tenang, ia khawatir Bagas bakalan datang untuk menemuinya.

"Kamu itu perempuan! Tempat seorang perempuan itu di dalam rumah, bukan keliaran di luar. Kalau ada tugas yang nggak bisa dikerjakan bilang saja sama Papa, atau tanya sama kakakmu, mungkin kami bisa bantu."

"Assalamualaikum."

Obrolan mereka terjeda kala ada orang mengucapkan salam sembari mengetuk pintu. Degub jantung Nina semakin tak karuan saja, ia yakin suara itu berasal dari pria yang ingin dihindarinya.

"Kayaknya ada tamu di luar. Biar Mama lihat dulu!"

Saat Widya hendak beranjak, Nina ikut beranjak menghalanginya.

"Ma, biar aku saja yang buka pintunya. Mungkin itu suara Sania."

Jelas-jelas bariton itu seperti suara seorang pria. Mungkinkah Sania berubah gender? Aneh sekali.

Widya menajamkan matanya. "Memangnya Sania mau jemput kamu?"

Nina mengedikkan bahunya. "Mungkin, tapi nggak tau juga sih, barangkali dia lewat sini mau mampir."

"Yaudah, cepat  buka pintunya, tapi apapun alasannya, kamu nggak boleh keluar. Mama nggak izinkan kamu pergi."

Tak menjawab Nina pun bergegas keluar. Saat dia membuka pintu, didapatinya Bagas berdiri dengan menenteng paperbag di tangannya.

"Kamu...! Desisnya menatap jengkel. "Ngapain kamu datang ke sini?"

Dengan percaya dirinya pria itu menjawab. "Ya mau main lah, memangnya apa lagi?"

Nina mendengus dengan memelototinya. " Bukannya aku sudah tegaskan, aku nggak mau lagi ketemu sama kamu! Hubungan kita sudah berakhir dan tolong jangan ganggu aku!"

Pria itu merubah ekspresinya memelas. "Nina sayang, aku bisa jelasin. Tolong kasih kesempatan,  kita bicara baik-baik  ya?"

Satu tangan Bagas meraih tangannya, dengan cepat Nina menangkisnya. "Nggak ada yang perlu dijelasin. Semua sudah jelas! Mendingan kamu pergi!"

Widya takut Nina bakalan kabur, dia pun memutuskan untuk melihatnya, apakah benar kedatangan Sania berniat untuk membujuknya keluar.

Setelah berada di depan bukan Sania yang didapatinya, tapi Bagas, pria yang diketahui tengah dekat dengan putrinya.

"Eh, ada nak Bagas? Kok nggak masuk di dalam? Tante pikir Sania yang datang. Ayo masuk nak Bagas, kita ngobrol di dalam?"

"Terimakasih Tante." Bagas nyelonong masuk mengekori Widya tak menghiraukan pelototan gadis itu.

"Shit!" Nina mengumpat dalam hati, di saat ia berusaha untuk mengusirnya, ibunya malah mengajaknya masuk.

1
Kadek Suarmi
kok tidak ada kelanjutannya?
Ermakusmini
nggak menarik
Ika Dw: nggak usah dibaca, out aja
total 1 replies
Ermakusmini
kok cuma 1 bab
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!