NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Guru Misterius

Obsesi Sang Guru Misterius

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Enam bulan berlalu sejak malam berdarah di kediaman Baron Adwan. Bagi dunia luar, Menara Adwan hanya mengalami "gangguan teknis massal," dan pengunduran diri mendadak seorang guru berprestasi bernama Pak Adwan dianggap sebagai hal biasa karena alasan kesehatan. Nama Adella pun perlahan tenggelam, terkubur di bawah tumpukan berita sensasional lainnya. Namun, bagi Adella, enam bulan itu adalah masa transisi dari seorang mangsa menjadi seorang penyintas yang waspada.

Kini, Adella berdiri di depan gerbang Universitas Nusantara, salah satu institusi

pendidikan paling bergengsi di negeri ini. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan celana kain hitam, rambutnya yang dulu sering diurai kini diikat rapi. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis SMA yang polos; yang ada hanyalah seorang mahasiswi baru jurusan Hukum yang memiliki tatapan mata sedalam sumur tua.

Adella melangkah menyusuri koridor fakultas yang dipenuhi oleh ribuan mahasiswa baru. Ia telah mengganti identitas digitalnya, menggunakan perlindungan data yang ia pelajari secara otodidak selama masa persembunyiannya. Ayahnya masih menghilang—Baron menepati janji untuk "mengamankannya"—namun ibunya kini tinggal di kota kecil yang jauh, hidup dari uang kompensasi yang dikirimkan secara anonim setiap bulan.

"Adella? Adella Putri?"

Seorang gadis dengan kacamata besar menepuk bahunya. Adella tersentak, tangannya secara refleks meraba saku tasnya, mencari pulpen tajam yang kini selalu ia bawa sebagai alat pertahanan diri.

"Iya?" jawab Adella, mencoba menetralkan suaranya.

"Aku Sita, teman kelompok OSPEK-mu. Ayo cepat, kelas Pengantar Ilmu Hukum akan dimulai. Katanya dosennya sangat disiplin," ajak Sita dengan semangat.

Adella mengikuti Sita masuk ke dalam ruang kuliah auditorium yang megah. Ia memilih duduk di barisan paling belakang, dekat dengan pintu keluar—sebuah kebiasaan baru yang sulit ia hilangkan. Matanya memindai seluruh ruangan, mencari kamera CCTV atau siapa pun yang tampak mengawasinya. Namun, semua tampak normal, sampai sang dosen masuk ke dalam ruangan.

Langkah kaki sang dosen terdengar ritmis di atas lantai kayu. Ia seorang pria muda, mungkin berusia awal tiga puluhan, mengenakan setelan jas abu-abu yang pas di tubuhnya. Ia meletakkan tas kulitnya di atas meja dengan gerakan yang sangat teratur.

"Selamat pagi. Saya Dr. Julian Mahendra," suaranya bariton, tenang, dan sangat berwibawa.

Jantung Adella berhenti berdetak sesaat. Aura pria ini, caranya meletakkan pulpen di samping buku catatan, dan caranya menatap audiens dengan senyum tipis yang sopan... semuanya memberikan getaran yang sangat mirip dengan Pak Adwan. Namun, jika Pak Adwan adalah kegelapan yang terang-terangan, Dr. Julian adalah cahaya yang terasa terlalu silau hingga menyembunyikan bayangan di baliknya.

"Hukum bukan tentang apa yang benar atau salah," ujar Dr. Julian sambil menuliskan satu kata besar di papan tulis: OTORITAS. "Hukum adalah tentang siapa yang menulis naskahnya. Dan di kelas ini, saya ingin kalian belajar bagaimana cara menjadi penulis naskah tersebut."

Adella mencengkeram pulpennya erat-hidup. Kata-kata itu. Kalimat itu hampir identik dengan filosofi "Arsitek" milik Pak Adwan. Apakah ini kebetulan? Ataukah Baron Adwan telah menanamkan bidak baru untuk menjaganya tetap dalam pengawasan?

Selama dua jam kuliah, Adella tidak bisa fokus pada materi. Ia terus mengamati gerakan tangan Dr. Julian. Pria itu sesekali melirik ke arah barisan belakang, dan setiap kali mata mereka bertemu, Dr. Julian memberikan anggukan kecil yang sangat tipis, seolah ia mengenali Adella lebih dari sekadar mahasiswa baru.

Setelah kelas berakhir, Adella segera berkemas untuk keluar. Namun, sebelum ia mencapai pintu, sebuah suara menghentikannya.

"Mahasiswi di barisan belakang, yang memakai hoodie hitam di bawah kemejanya. Bisa bicara sebentar?"

Itu suara Dr. Julian. Adella membeku. Sita menatapnya bingung. "Duluan saja, Sita," bisik Adella.

Adella berjalan mendekati meja dosen. Ruang auditorium mulai kosong, menyisakan keheningan yang menyesakkan. Dr. Julian sedang merapikan buku-bukunya tanpa menoleh.

"Ada apa, Pak?" tanya Adella, berusaha menjaga suaranya tetap datar.

"Analisis yang bagus di esai pendaftaranmu, Adella," Dr. Julian akhirnya menoleh, menatapnya dengan mata yang cerdas namun sulit dibaca. "Kamu menulis bahwa 'keadilan adalah ilusi yang diciptakan oleh pemenang'. Itu sangat... sinis untuk gadis seusiamu."

"Itu hanya pengamatan, Pak," jawab Adella singkat.

"Tentu saja. Tapi pengamatan biasanya lahir dari pengalaman," Dr. Julian mengambil sebuah kartu nama dari sakunya dan menyodorkannya pada Adella. "Jika kamu butuh bimbingan lebih dalam tentang bagaimana cara 'menghancurkan ilusi' itu, kantor saya selalu terbuka. Saya rasa kita memiliki banyak kesamaan, terutama dalam hal... orang-orang yang kita benci."

Adella mengambil kartu nama itu. Di sana tertulis nama lengkap sang dosen beserta gelar akademiknya, namun di pojok bawah terdapat sebuah logo kecil yang membuat napas Adella tertahan: Seekor burung walet yang sedang terbang.

Adella tidak mengatakan apa-apa. Ia segera berbalik dan keluar dari ruangan itu dengan langkah seribu. Ia berlari menuju taman kampus yang luas, mencoba mencari udara segar. Pikirannya kacau. Apakah Julian adalah bagian dari keluarga Adwan? Ataukah dia adalah musuh dari musuhnya?

Saat ia duduk di bangku taman yang sepi, sebuah bayangan jatuh di atasnya.

"Jangan percaya padanya, Adella."

Adella mendongak. Di depannya berdiri seorang wanita dengan trench coat cokelat dan rambut yang dipotong pendek. Meskipun wajahnya tertutup kacamata hitam, Adella mengenali struktur rahang dan cara berdirinya.

"Viona?" bisik Adella.

Viona melepas kacamata hitamnya, menampakkan mata yang tampak lebih lelah namun jauh lebih hidup daripada saat di Menara Adwan. "Julian Mahendra adalah anak angkat Baron Adwan yang tidak pernah diakui secara publik. Dia adalah 'senjata simpanan' jika Pak Adwan gagal. Dia lebih pintar, lebih licin, dan tidak memiliki obsesi estetika gila seperti kakaknya. Dia hanya peduli pada hasil."

Adella berdiri, menatap teman lamanya itu dengan waspada. "Kenapa kamu di sini, Viona? Bukankah kamu seharusnya lari?"

"Aku lari, tapi tidak ada tempat yang cukup jauh dari Baron Adwan," Viona mendekat, suaranya kini berbisik penuh urgensi. "Aku datang untuk menawarkan kesepakatan. Kamu punya kartu emas itu, dan aku punya akses ke database rahasia yang tidak bisa dihapus oleh virusmu di gedung kemarin. Baron sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar sekolah. Dia ingin menguasai sistem peradilan nasional, dan Julian adalah pion utamanya."

"Lalu kenapa aku harus percaya padamu?" tanya Adella dingin. "Terakhir kali kita bicara, kamu menjepit pergelangan tanganku ke pipa panas."

Viona menunjukkan bekas luka bakar di bahunya yang masih merah. "Karena kita berdua adalah korban yang sama, Adella. Pak Adwan menghancurkan mentalku, dan Baron menghancurkan masa depanku. Aku butuh otakmu untuk menembus pertahanan Julian. Dan kamu butuh aku untuk tahu di mana Ayahmu disembunyikan."

Adella terdiam. Informasi tentang ayahnya adalah titik lemahnya yang terakhir. Ia menatap kartu nama Dr. Julian di tangannya, lalu menatap Viona.

Dunia Adella kembali berputar ke dalam labirin. Jika di SMA ia terjebak dalam obsesi seorang guru, di universitas ini ia terjebak dalam konspirasi sebuah dinasti yang ingin menguasai hukum itu sendiri.

"Apa rencana pertamamu?" tanya Adella, menandakan ia menerima kesepakatan itu.

Viona tersenyum tipis. "Besok malam, ada pesta penyambutan mahasiswa baru di kediaman Julian. Baron akan ada di sana. Dan di sana juga, ada sebuah brankas fisik yang berisi kontrak asli antara Ayahmu dan keluarga Adwan. Jika kita bisa mengambil kontrak itu, Ayahmu bebas secara hukum, dan Baron kehilangan kendalinya atas keluargamu."

Adella mengepalkan tangan. "Baik. Tapi ingat, Viona... jika kamu mengkhianatiku lagi, aku tidak akan hanya menghapus datamu. Aku akan memastikan namamu terkubur bersama keluarga Adwan."

Viona mengangguk. "Aku tahu. Itulah kenapa aku memilihmu."

Bab 19 berakhir dengan Adella yang berdiri di tengah kampus, menatap gedung rektorat yang megah. Ia menyadari bahwa kuliahnya yang sebenarnya baru saja dimulai. Bukan tentang pasal-pasal hukum yang tertulis di buku, tapi tentang bagaimana cara bertahan hidup di antara para predator yang mengenakan toga dan jas mewah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!