Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
siasat Adiyana
Srenggi dengan mata merah menahan marah merogoh sakunya
" mati kau jalang!"
Serrr
puluhan jarum beracun meluncur dari tangan Srenggi ke arah Retno
" Awaas!" Lingga yang melihat bahaya mengancam kekasihnya dengan cepat bergerak maju dan mengebutkan tangannya
Wush
seeer
aaaargh
"Panaaaas!"
serangkum angin kencang menyongsong serangan jarum beracun itu, jarum itu berbalik dan mengenai lingga sendiri, membbuat lingga menjerit dan berteriak kesakitan karena pengaruh racun miliknya sendiri
" tunggu pembalasanku!" teriak Srenggi ia melesat pergi sambil menahan sakit
" Terima kasih kakang" Retno yang selamat dari Jarum beracun Srenggi berkata dengan tulus, ia tak menyangka Srenggi yang di anggap sebagai kakak menyerang dengan senjata rahasia beracun
" aku tak akan membiarkanmu terluka Retno" sahut Lingga
" Ekhem" Adiyana berdehem melihat kemesraan Lingga dengan Murid wanitanya
" Guru" Retno menunduk malu
" Lingga katakan padaku sejak kapan kalian berhubungan!?" tanya Adiyana tegas
" Dua bulan yang lalu, saat kami terjebak dalam Goa Hantu" ucap Lingga
" Guru bagaimana dengan kakang Srenggi?" tanya Retno
" Biarkan saja ia , sudah lama aku mengatakan kau hanya menganggapnya sebagai kakak tapi ia tak mau mendengar" ucap Adiyana
" Apa kau merestui kami guru?" tanya Retno pelan nyaris tak terdengar
" Kalian yang menjalani kehidupan ini aku tak melarang" ucap Adiyana
" Kalau begitu aku akan menyerahkan posisi ketua padamu" sahut Lingga
"Kita lihat saja nanti" ucap Adiyana , Lingga maju ke depan
" aku menyalonkan Adiyana, Cakar Setan untuk menjadi ketua!" seru Lingga lantang, para pendekar golongan hitam yang mendengar itu
para undangan yang datang saling berbisik
" Kalau ada yang meragukan kalian boleh maju?" Ucap Adiyana,
" guru biar aku dan kakang Lingga saja yang menghadapi para penantang" ucap Retno sambil menarik tangan Lingga
" sepertinya Adiyana memang pantas menjabat ketua" seru Gada Hitam , ia jelas bisa melihat kekuatan Lingga dan Adiyana yang memang sakti, belum lagi anggota perguruannya yang banyak, memilih Adiyana menjadi ketua memang hal yang tepat
"Baiklah, karena tak ada yang keberatan maka kita tetapkan Adiyana menjadi Ketua, dan Lingga menjadi wakilnya" seorang tokoh tua berkata lantang setelah melihat tak ada satu pun pendekar yang menantang Adiyana
" Kalau begitu mari kita lanjutkan dengan Pesta!" teriak Lingga senang, ia segera memerintahkan para muridnya mengeluarkan arak dan makanan
mereka berpesta pora di bukit macan tiga hari tiga malam, di malam itu juga Retno resmi menjadi Istri dari Lingga, Pendekar Macan hitam
Di saat mereka sedang berpesta pora, dari arah kota raja Karang Setra satu pasukan dengan senjata lengkap berjalan menuju bukit macan
Senopati Wira tampak berjalan di depan memimpin pasukan yang berjumlah dua ratus orang, saat memasuki kaki bukit gerakan mereka
"Ketua, Pasukan kerajaan Karang setra sedang menuju kemari!" Salah seorang murid dari Perguruan Macan Hitam melapor pada Adiyana
" Prajurit kerajaan? Kita tidak pernah bermusuhan dengan mereka, mengapa mereka menyerang kemari?" Gumam Adiyana pelan namun masih terdengar oleh Lingga
" Aku pernah merampok kereta kuda, dan membunuh semua orang yang ada, tak tahunya mereka anak dan menantu Raja karang Setra," Ucap Lingga
"Kalau begitu mereka kemari karena ingin membalas dendam padamu?" Tanya Adiyana
" Sepertinya begitu " Sahut Lingga
" Kalau memang begitu kita sambut saja mereka " Ucap Adiyana sambil tersenyum licik
" Kalian siapkan jebakan, jangan biarkan seorang pun lolos!" Seru Adiyana
" Baik Ketua "sahut para murid, dan mereka dengan cepat ke tempat jebakan guna mengaktifkan jebakan yang telah mereka siap kan.
Sementara senopati Wira dengan semangat membara naik ke bukit Macan, ia sangat dekat dengan mahesa dan merasa sangat kehilangan .
" Berhenti!" Seru senopati Panca, ia melihat ada hal yang sedikit ganjil saat memasuki hutan,
" Serrr"
" Serrr"
" Serrr"
Baru saja ia berkata puluhan anak panah meluncur ke arah mereka
Blang
Blang
Blang
Para prajurit segera memasang tameng mereka guna menangkis serangan anak panah itu
" Clap "
" Aaargh"
Namun karena hujan anak panah itu sangat banyak beberapa masih menembus sela sela tameng para Prajurit, membuat banyak prajurit terluka
" Balas mereka!" senopati Wira segera memerintahkan para pasukan menyerang balik
Prajurit yang memegang busur maju ke barisan paling depan, di lindungi oleh prajurit lain dengan Tameng
"Seraaaang!"
Serr
serrr
begitu perintah turun ratusan anak panah segera menerjang ke tempat persembunyian murid murid Macan Hitam
traak
traak
clap
aaaargh
aaaaa
"Majuuu!" Senopati Wira yang mendengar suara jeritan lawan segera memerintahkan prajuritnya maju, ia sendiri melesat mendahului
Hiaaaat
syuuuut
Aaaarh
saat melihat ada beberapa musuh yang bersembunyi di balik batu Senopati Wira dengan cepat menyabetkan pedangnya , membuat musuh yang bersembunyi tewas dengan dada robek
grudug
Grudug
baru saja pasukan itu lepas dari serangan anak panah, dari atas batu batu besar menggelinding ke arah mereka
" Berpencar!" teriak senopati Wira , pasukan itu segera memisahkan diri menjadi beberapa kelompok
Dari atas bukit Adiyana dan dan Lingga melihat itu tersenyum
" rencana kita berhasil" Kata Lingga
"Lingga kau yang hadapi senopati itu, biar aku yang mengurus yang lainnya" ucap Adiyana
" Baik"
"Wush"
Lingga langsung melesat menuju ke arah senopati Wira, sementara Adiyana mengatur beberapa pendekar untuk menghabisi semua prajurit, rupanya Adiyana sengaja memecah pasukan itu, ,mereka pendekar biasa bertarung satu lawan satu dan andaikata keroyokan juga tak sampai ratusan orang jadi ia memecah belah agar lebih mudah menghabisi mereka
Senopati Wira yang melihat ada seseorang mendekat dengan kecepatan tinggi segera bersiap dengan pedang di tangannya
" Siapa kau!" seru Senopati Wira saat Lingga berada di hadapannya"
" Senopati, bukankah kau menyerang kemari demi mencariku?" tanya Lingga sambil tersenyum
" Ka...kau Macan Hitam!" seru Senopati Wira kaget tak menyangka jika burunon yang di carinya ada di hadapannya
" Ya aku macan hitam yang membunuh Adipati Mahesa" jawab Lingga santai
"Kalau begitu matilah!"
"Hiaaaaat"
Senopati Wira langsung menyerang Lingga dengan pedangnya, sementara prajurit yang ikut bersama senopati Wira mengepung pertarungan itu
Wuuut
traaaang
dengan gerakan ringan Lingga menangkis serangan pedang Senopati Wira, ia berdiri sambil tersenyum melihat senopati terdorong mundur beberapa langkah karena benturan senjata itu
" aku pikir kau sakti, hingga berani menyerang Bukit Macan" dengus Lingga mengejek
" Aku belum kalah"
" Prajurit seraaaang!" teriak Senopati Wira , karena untuk menang dengan satu lawan satu jelas tak mungkin karena ilmu dan tenaga dalamnya jauh di bawah Lingga
Hiaaaat
hiaaaat
para prajurit yang mendengar perintah itu dengan cepat menyerang lingga, namun mereka bagai anai anai yang menerjang api
Wuuut
plak
plak
plak
" Aaaaaargh"
" Aaaaa"
satu persatu mereka tumbang , kini hanya senopati Wira yang masih berdiri
" aku akan mengadu jiwa denganmu!" Raung senopati Wira
" Hiaaaaat"
" Wuuuuut"
Plaaaak
Plaaaak
Lingga dengan santai menangkis serangan demi serangan senopati Wira yang membabi buta
Wuuut
Desh
Aaaaarhg
saat Senopati kelelahan, Lingga dengan kecepatan tinggi menendang dada Senopati Wira, senopati Wira terjatuh dan muntah darah
" Kau akan mendapat balasanmu!" teriak Senopati Wira
" Selamat jalan, sampaikan salamku pada Raja Akhirat"
wuut
praaaak
dengan satu ayunan Lingga memukul kepala senopati Wira membuat senopati wira tewas saat itu juga
sementara kelompok prajurit lain satu persatu di habisi oleh pendekar yang di pimpin oleh Adiyana
Dua ratus pasukan itu musnah tak bersisa, dan para pendekar melemparkan mayat mayat prajurit itu ke lembah hitam yang berada di sisi Bukit macan