NovelToon NovelToon
100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Bukan kisah pengantar tidur. Bukan untuk anak-anak manusia yang polos.
Ini adalah kitab untuk anak-anak jiwa yang sudah siap menghadapi kenyataan di balik kegaiban.
Bahwa di balik dinding realitas yang kau anggap nyata, terdapat celah.
Dan di dalam celah itu... hukum alam mati. Logika hancur.
Segala sesuatu menjadi abstrak, melengkung, dan berteriak.

PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tertelan (Bag 31)

Langkah kaki mereka terasa berat seperti membawa beban dunia. Hutan yang tadi gelap gulita dan penuh teror, kini terasa sedikit berbeda; masih sunyi, namun tidak lagi mencekam. Seolah-olah makhluk-makhluk penghuni malam kini bersembunyi, gemetar ketakutan akan sesuatu yang lebih besar dari mereka.

Sulaiman terus melangkah, matanya menatap tajam ke segala arah. Dia tidak lagi mencari jalan keluar yang mudah, dia mencari tanda. Dia mencari tempat di mana segalanya bermula.

Dan akhirnya, setelah berjam-jam yang melalahkan, dia menemukannya.

Di sebuah tanah lapang yang terbuka, terdapat sebuah lubang besar yang menganga lebar. Itu adalah lubang bekas akar pohon raksasa yang dia tebang saat pertama kali memulai aktivitasnya di hutan ini. Lubang yang dalam, gelap, dan angker. Di dasar lubang yang temaram itu, masih terlihat jelas tumpukan tulang-belulang manusia yang berserakan, bukti bahwa tempat ini telah lama menjadi kuburan massal bagi mereka yang tak beruntung.

"Ini adalah pusatnya. Ini adalah jantung dari segala keanehan yang menjebak kami." Ucap Sulaiman menebak-nebak dalam hatinya.

Ia menarik napas panjang, menenangkan jiwanya yang bergolak. Dia menoleh ke arah Umar yang berdiri gemetar di sampingnya.

"Umar, duduk di situ. Jangan bergerak," perintahnya lembut namun tegas.

Anak kecil itu menurut, duduk di atas akar pohon yang besar. Matanya yang lelah dan merah menatap ayahnya.

Sulaiman kemudian duduk bersila tepat di bibir lubang itu, membelakangi angin malam. Dia menutup matanya rapat-rapat, tangannya terlipat di depan dada. Suaranya mulai bergetar melantunkan doa suci, doa keselamatan yang pernah diajarkan turun-temurun, doa Nabi Sulaiman yang memiliki kegunaan untuk menundukkan jin dan setan.

"Bismillahirrahmanirrahim... Wa tuudzu min kulli syaitonin annar..."

Dia membacanya tanpa henti. Suaranya rendah, berirama, namun penuh kekuatan magis yang terasa menusuk udara. Ribuan kali dia melantunkan ayat dan zikir itu. Getaran suci itu memenuhi udara, membuat hawa dingin perlahan bergeser.

Umar awalnya mendengarkan, tapi rasa lelah yang dipicu kantuk dan efek tenang dari bacaan itu membuat kelopak matanya semakin berat. Perlahan, kepala kecil itu terkulai, dan dia pun terlelap dalam tidur yang nyenyak, membiarkan ayahnya, Sulaiman sendirian berhadapan dengan kegelapan.

Berjam-jam berlalu hingga fajar menyingsing.

Saat mata Umar terbuka kembali, dia melihat pemandangan yang membuatnya membatu.

Ayahnya kini sedang sibuk mengumpulkan dahan-dahan kering, ranting-ranting mati, dan tumpukan daun kering. Dengan telaten dan hati-hati, Sulaiman menumpuk semua benda itu tepat di bibir lubang besar itu. Dia menumpuknya tinggi-tinggi, menutupi mulut yang menganga itu rapat-rapat, seolah sedang menutup pintu gerbang dunia lain.

"Ayah..." panggil Umar pelan, suaranya bergetar.

Sulaiman tidak menoleh. Setelah tumpukan kayu itu cukup tinggi dan padat, dia mengambil api dari korek api terakhirnya.

Cret!

Api kecil menyala, lalu dengan cepat dia membakar tumpukan kayu itu.

Api mulai menjilat kayu kering. Membesar dengan cepat. Semburan asap hitam mengepul tinggi ke langit. Di balik kobaran api yang ganas itu, bibir Sulaiman terus bergerak, melafalkan bacaan penutup, kalimat-kalimat pengusir yang tak dimengerti oleh Umar, namun terdengar sangat berat dan berbeda.

Mereka berdua mundur beberapa langkah, menjaga jarak, menyaksikan api yang semakin membesar, melahap segalanya, memurnikan tempat terkutuk itu.

Dan saat api berada di puncak kemarahannya...

GRRRAAAAAAWWWWWW!!!

AAAAAAKKKKHHHHHH!!!

Suara itu bukan suara manusia. Bukan suara binatang. Itu adalah jeritan makhluk raksasa, suara ratapan jin dan kemarahan yang menyakitkan, memekik pilu seolah-olah tubuh mereka sedang terbakar hidup-hidup. Suara itu menggema dari dalam lubang, naik ke atas, membelah awan, membuat tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat.

Jeritan itu berlangsung selama beberapa menit. Suara keputusasaan, amarah, dan penderitaan yang pilu.

Hingga akhirnya... perlahan... suara itu meredup, melemah, dan hilang ditelan kobaran api.

Seketika itu juga, seolah ada dinding kaca yang pecah.

Angin kencang berhenti berhembus. Kabut tebal yang selama ini menyelimuti hutan lenyap seketika. Langit yang tadinya kelabu pekat, berubah menjadi biru cerah yang sangat indah. Sinar matahari pagi menyapa kulit mereka, menghangatkan tubuh yang sedari tadi kedinginan.

Suasana berubah drastis menjadi sangat damai, tenang, dan hangat. Segala rasa takut, segala ilusi, segala tekanan di dada... hilang begitu saja.

"Ayo, Nak. Kita pulang," suara Sulaiman terdengar lega, meski matanya masih menyimpan duka yang dalam.

Dia menunjuk ke sebuah arah. Di sana, setapak batu yang dulu hilang entah ke mana, kini muncul kembali dengan jelas. Itu adalah jalan setapak yang sangat ia kenal, jalan yang biasa mereka lalui setiap hari.

Mereka berjalan cepat. Satu jam berlalu, dan akhirnya... pandangan terbuka luas.

Mereka berhasil keluar.

Di depan mereka terbentang sebuah desa yang ramai. Suara hiruk pikuk manusia terdengar sangat asing namun menyenangkan. Di tengah alun-alun desa, terlihat tenda-tenda posko pendirian sementara. Banyak orang berkumpul, petugas keamanan, relawan, dan tim pencari yang tampak gelisah.

Mereka sedang mencari lima orang yang hilang kontak selama lima hari lima malam. Empat penebang hutan dan satu anak kecil. Berita hilangnya mereka telah mengguncang seluruh desa, hingga sampai ke media massa.

"Hei! Lihat itu!!" teriak salah satu petugas.

Sorotan mata semua orang tertuju pada dua sosok yang berjalan keluar dari pinggir hutan.

Sulaiman dan si kecil Umar.

Kerumunan orang langsung bergerombol mengelilingi mereka. Wajah-wajah kaget, lega, dan tak percaya terpampang nyata. Mereka disambut, ditanya ini itu, diperiksa kondisinya.

Namun di tengah sukacita, ada kesedihan yang membatu di hati Sulaiman.

Dia selamat bersama putranya. Tapi Deri, Herman, dan Randi... mereka tertinggal di sana.

Orang-orang bertanya, "Di mana yang lain, Pak?"

Sulaiman hanya menunduk, menatap tanah. Dia mencoba menjelaskan arahnya, dia mencoba menunjuk lokasi lubang kalajengking, lokasi gubuk nenek, atau lokasi lubang pohon raksasa itu. Tapi anehnya, begitu dia menoleh kembali ke arah hutan, peta di kepalanya terasa kabur. Jejak-jejak itu seakan telah dihapus oleh alam. Pohon-pohon tampak berbeda, jalan setapak berubah posisi.

Tidak ada yang bisa ditemukan lagi.

Hutan itu telah menutup rapat pintunya kembali, menyimpan rahasia kelam dan jasad-jasad malang itu di dalam perutnya, terkunci permanen oleh doa dan api yang telah Sulaiman bacakan.

Mereka pulang dengan nyawa yang masih di raga, namun membawa luka dan kenangan buruk yang tak akan pernah bisa dilupakan.

1
Mommy Dza
Baca sejak awal thor
hati bertanya tanya
mengapa di saat paling horor seperti yg digambarkan di awal cerita,
Mereka bertukar cerita horor ?🥹
Apakah jawabannya ada di bab selanjutnya?
Mommy Dza
👍💪💪💪💪
Mommy Dza
Semangat
Mommy Dza
👍👍💪
Mommy Dza
😱🥹
Mommy Dza
😱😱😵‍💫 Lariii
Mommy Dza
Teror baru dimulai
Mommy Dza
Wah penasaran dgn akhir ceritanya
Mommy Dza
Semangat Thor 💪
Mommy Dza
Waahhhh 💪
Mommy Dza
🥹🥹 Waahhh
Mommy Dza
Lanjut 💪
Mommy Dza
Horor
Mommy Dza
Teror baru dimulai 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!