Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan Pagi
Cahaya matahari pagi menyelinap dengan berani melalui celah gorden, menyinari kamar yang masih menyimpan sisa-sisa kehangatan semalam. Sprei putih itu sudah tidak karuan bentuknya, melilit kaki mereka yang masih saling bertautan di bawah selimut tebal. Aroma parfum maskulin Zidan yang bercampur dengan wangi sampo stroberi Shakira menciptakan atmosfer yang sangat intim.
Shakira mengerjap pelan, merasakan silau yang menusuk matanya. Tubuhnya terasa remuk, namun ada perasaan penuh yang meletup-letup di dadanya. Saat ia mencoba bergeser, sebuah tangan kekar yang dipenuhi urat-urat menonjol—tangan seorang mekanik—semakin erat memeluk pinggangnya dari belakang.
"Mau ke mana, hm?" suara Zidan terdengar sangat serak, berat, dan rendah tepat di ceruk lehernya. Hembusan napas hangatnya membuat bulu kuduk Shakira meremang seketika.
"Mas... lepasin dulu. Udah jam berapa ini? Aku harus mandi, lengket tahu," bisik Shakira, suaranya hampir hilang.
Zidan justru semakin menenggelamkan wajahnya di antara rambut dan leher Shakira, memberikan kecupan-kecupan basah yang membuat Shakira reflek mendongakkan kepala. "Mandinya nanti aja. Masih kangen."
"Kangen apa lagi sih? Semalem kan udah 'syukuran' babak kedua yang panjang banget," protes Shakira, meski tangannya justru bergerak mengelus lengan Zidan yang melingkar di perutnya.
Zidan memutar tubuh Shakira dengan satu gerakan mudah hingga kini mereka saling berhadapan. Zidan bertumpu pada satu sikunya, menatap Shakira dengan mata yang masih setengah mengantuk namun penuh dengan damba. Rambutnya yang berantakan justru membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih tampan.
"Mas... jangan liatin kayak gitu," gumam Shakira, menutupi wajahnya dengan ujung selimut.
Zidan menarik perlahan selimut itu, menyingkirkannya dari wajah cantik istrinya. "Kenapa? Aku kan suamimu. Aku berhak liat mahakarya Tuhan paling indah pagi ini."
"Gombal! Mulut kamu bener-bener ya, karatan banget!"
"Karatan begini juga semalem bikin kamu teriak panggil nama aku terus kan?" goda Zidan dengan senyum miring yang sangat nakal.
Wajah Shakira memerah sempurna. Ia memukul dada bidang Zidan yang tak tertutup sehelai benang pun. "Zidan! Diem nggak!"
Zidan tertawa rendah, getaran di dadanya terasa sampai ke tangan Shakira. Ia menangkap kedua tangan istrinya, menguncinya di atas kepala Shakira dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mulai menelusuri lekuk tubuh Shakira dengan perlahan, seolah sedang menghafal setiap inci kulit istrinya.
"Ra... kamu tau nggak? Kamu itu lebih bikin kecanduan daripada ngebangun motor kustom paling mahal sekalipun," bisik Zidan. Matanya kini menggelap, gairah yang sempat reda semalam kini berkobar kembali hanya dengan melihat wajah bangun tidur Shakira yang berantakan.
"Mas... ini udah siang. Kamu nggak ke bengkel? Kasihan Bobby sama Indra nungguin bosnya yang telat," Shakira mencoba mengalihkan perhatian, meski napasnya mulai ikut memburu saat jemari Zidan mulai bermain di area sensitifnya.
"Biarin aja mereka nunggu. Paling mereka udah paham kalau bosnya lagi 'urusan orang dewasa' lagi," Zidan menunduk, mencium bibir Shakira dengan sangat dalam. Ciuman yang awalnya lembut itu perlahan berubah menjadi panas dan penuh tuntutan.
Shakira mendesah di sela ciuman mereka, tangannya yang terkunci mulai meronta pelan, bukan untuk lepas, melainkan untuk ikut mendekap punggung suaminya. Zidan melepaskan kuncian tangannya, membiarkan jemari lembut Shakira mencengkeram bahunya yang kokoh.
"Mas... pelan-pelan..." bisik Shakira parau saat Zidan mulai menurunkan ciumannya ke arah leher dan dadanya.
"Aku udah berusaha sabar seharian kemarin, Sayang. Pagi ini... aku mau 'sarapan' lebih lama," sahut Zidan dengan suara yang sangat dalam.
"Tapi nanti Mama manggil buat sarapan beneran..."
"Biarin. Kalau Mama nanya, bilang aja kita lagi 'pemanasan mesin'. Mekanik kan harus mastiin semua komponennya berfungsi dengan baik sebelum jalan, kan?" Zidan menyeringai, lalu kembali membungkam bibir Shakira, memutus segala protes yang ingin keluar.
Malam tadi mungkin luar biasa, tapi pagi ini terasa jauh lebih intens. Di bawah sorot cahaya matahari yang semakin terang, mereka saling mengeksplorasi dengan lebih berani. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi rasa malu yang menghalangi. Hanya ada dua jiwa yang sedang dimabuk cinta, merayakan penyatuan mereka di atas ranjang yang kini menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka.
Sentuhan Zidan yang kasar namun lembut secara bersamaan selalu berhasil membuat pertahanan Shakira runtuh. Di balik sosoknya yang tengil dan bermulut pedas, Zidan adalah pria yang sangat memperhatikan setiap keinginan istrinya.
"Mas... aku... ahh..." Shakira tak sanggup lagi berkata-kata saat Zidan membawanya kembali ke puncak sensasi yang luar biasa.
"Iya, Sayang... panggil nama aku. Panggil Mas Zidan," perintah Zidan dengan napas tersengal.
"Mas Zidan... Mas..."
Dunia luar seolah berhenti berputar. Tidak ada urusan bengkel, tidak ada urusan skripsi, tidak ada revisi. Yang ada hanyalah keringat yang menyatu, napas yang beradu, dan detak jantung yang seirama. Zidan membuktikan bahwa ia bukan sekadar mekanik mesin, tapi juga mekanik hati yang tahu benar cara membuat istrinya merasa menjadi wanita paling diinginkan.
Setelah waktu yang terasa sangat lama, mereka akhirnya terkapar lemas di atas ranjang dengan napas yang masih terengah-engah. Zidan menarik Shakira ke dalam pelukannya, membiarkan kepala istrinya bersandar di dadanya yang masih naik turun.
"Gimana? 'Sarapannya' kenyang?" tanya Zidan sambil mengecup puncak kepala Shakira yang berkeringat.
Shakira hanya bisa mengangguk pelan, terlalu lemas untuk bicara. Ia memejamkan mata, menikmati detak jantung Zidan yang kini menjadi melodi favoritnya. "Kamu bener-bener... Mas Karatan yang paling nyebelin tapi... tapi paling aku sayang."
Zidan tersenyum lebar, memeluk istrinya lebih erat lagi. "Makasih ya, Ra. Buat pagi yang luar biasa ini. Sekarang, mending kita mandi bareng, biar cepet."
"Mandi bareng? Biar cepet atau biar ada babak selanjutnya?" tanya Shakira curiga sambil mendongak.
Zidan hanya nyengir tanpa dosa. "Dua-duanya boleh. Ayo!"
Zidan kembali mengangkat tubuh Shakira menuju kamar mandi, mengabaikan teriakan protes kecil dari istrinya yang sebenarnya juga sedang menahan senyum bahagia. Pagi itu mungkin mereka akan sangat terlambat turun ke meja makan, tapi bagi Zidan dan Shakira, ini adalah awal hari yang paling sempurna dalam hidup mereka.
***
Angin siang di area kampus berembus cukup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon perindang yang memayungi gazebo tempat Shakira dan Nina bernaung. Di atas meja kayu, dua buah laptop menyala dengan puluhan tab referensi yang terbuka. Tumpukan kertas draf Bab 4 yang penuh dengan coretan tinta merah tersebar di antara gelas plastik berisi kopi susu yang sudah mencair esnya.
Shakira tampak sangat serius. Jemarinya menari di atas papan tik, sesekali ia berhenti untuk memijat pangkal hidungnya yang terasa pening karena terlalu lama menatap layar. "Nin, menurut lo bagian pembahasan ini perlu gue tambahin data survei yang kemarin nggak?"
"Perlu sih, biar argumen lo makin kuat. Masukin aja di sub-bab tiga," jawab Nina tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya sendiri.
Hampir tiga jam mereka berkutat dengan revisi yang seolah tidak ada habisnya. Shakira merasa punggung dan bahunya mulai kaku. Ia memutuskan untuk berhenti sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke tiang gazebo, lalu mencoba melakukan peregangan otot. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas, berniat meluruskan tulang belakangnya yang terasa menekuk.
Namun, baru saja ia menarik napas untuk meregang, sebuah rasa nyeri yang tajam dan tumpul secara bersamaan menjalar dari tulang ekor hingga ke pinggang bagian bawah.
"Aduhh... shhh..." Shakira meringis tertahan. Wajahnya berkerut menahan sakit, tangannya reflek berpindah menekan pinggang belakangnya. Ia segera melipat kembali tubuhnya, tak berani bergerak ekstrem.
Nina tersentak, ia langsung menoleh dengan wajah khawatir. "Lo kenapa, Ra? Keselek angin?"
Shakira menggeleng pelan sambil tetap memegang pinggangnya. Napasnya sedikit memburu. "Ini... pinggang gue rasanya mau copot, Nin. Aduh, linu banget."
Nina menghentikan aktivitasnya sepenuhnya. Ia menggeser duduknya mendekat ke arah Shakira. "Punggung lo kaku banget ya? Kebanyakan duduk ngerjain revisi kali. Sini, gue pijetin dikit."
"Jangan! Eh, maksud gue... jangan ditekan," cegah Shakira cepat saat tangan Nina hampir menyentuh area yang sakit.
Nina menyipitkan mata, insting "detektif" sahabatnya tiba-tiba aktif. Ia memperhatikan raut wajah Shakira yang merona, bukan karena panas matahari, tapi lebih seperti menahan malu. "Bentar deh. Ini linu biasa karena skripsi, atau linu 'luar biasa' karena urusan rumah tangga?"
Shakira memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan kertas drafnya. "Apa sih, Nin. Ya linu karena duduk lama lah. Lo tahu kan kursi gazebo ini keras banget."
"Halah, alasan! Gue kenal lo nggak sehari dua hari, Ra," Nina terkekeh, ia mulai teringat ucapan Zidan kemarin sore soal 'syukuran' dan 'performa'. "Tadi pagi lo berangkat jam berapa? Kok muka lo kayak kurang tidur gitu, tapi auranya seger?"
"Nin, fokus ke Bab 4 aja bisa nggak?" gerutu Shakira, meski ia kembali meringis saat mencoba memperbaiki posisi duduknya. "Sakit banget, sumpah. Kayak habis angkut mesin motor sendirian."
"Hahaha! Nah, itu kuncinya! Angkut mesin motor atau diangkut sama tukang mesinnya?" goda Nina sambil tertawa puas. "Ra, jujur deh. Mas Zidan itu emang nggak ada ampun ya kalau lagi mode bucin? Sampai bini sendiri mau copot pinggangnya begini."
"Nina! Mulut lo minta di-revisi pake penghapus papan tulis ya!" Shakira mencoba melempar kotak pensilnya, namun gerakannya terbatas karena rasa nyeri di pinggang bawahnya kembali menyerang. "Dia itu... dia itu emang nyebelin. Nggak tahu waktu, nggak tahu kondisi. Mentang-mentang gue libur kuliah pagi, dia seenaknya aja nahan gue di kamar."
Nina menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak jenaka. "Wah, parah! Berarti 'syukuran' babak selanjutnya beneran terjadi ya? Gila, si Mas Karatan itu staminanya boleh juga. Padahal tiap hari kerja kasar di bengkel."
Shakira hanya bisa pasrah. Rahasianya terbongkar lewat sinyal pinggang yang tak bisa diajak kompromi. "Dia bilang itu 'sarapan', Nin. Mana ada sarapan bikin orang lemes begini. Gue mau jalan ke kantin aja tadi rasanya kayak melayang."
"Itu namanya afterglow, Sayang. Nikmatin aja," Nina kembali ke laptopnya sambil senyum-senyum sendiri. "Tapi serius, Ra. Lo harus beli koyo atau minta pijetin beneran nanti pas dijemput. Jangan dipaksa kerja berat dulu kalau 'mesinnya' habis dipake kerja rodi semalaman."
"Berhenti pake istilah mesin, Nin! Gue berasa jadi sparepart motor kalau lo ngomong gitu," omel Shakira, meski hatinya terasa hangat mengingat bagaimana perhatian Zidan tadi pagi setelah "sarapan" itu selesai. Zidan bahkan sempat memijat kakinya sebentar sebelum ia berangkat, meski akhirnya berakhir dengan godaan nakal lagi.
Tepat saat itu, ponsel Shakira di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk.
Mas Zidan 🛠️:
Sayang, pinggangnya masih kerasa linu nggak?
Tadi aku lupa bilang, di laci meja rias ada balsem otot. Pake ya kalau pegel.
Maaf ya kalau semalam aku 'agak' nggak bisa ngerem. Habisnya kamu manis banget.
Otw jemput kamu sekarang. Love you!
Shakira segera menutup layar ponselnya sebelum Nina sempat mengintip, namun senyum di bibirnya tak bisa disembunyikan.
"Tuh kan, senyum-senyum sendiri. Pasti dari si Tukang Kunci Pas ya?" tebak Nina tepat sasaran.
"Udah ah, ayo beresin. Gue mau pulang, mau istirahat," ujar Shakira sambil mulai memasukkan laptopnya ke dalam tas dengan sangat hati-hati.
"Istirahat atau mau lanjut 'servis rutin'?" goda Nina untuk terakhir kalinya sebelum mereka bangkit dari gazebo.
Shakira hanya mendelik tajam, namun dalam hati ia menghitung menit demi menit sampai motor besar Zidan muncul di gerbang kampus. Meskipun pinggangnya terasa hampir copot, ia tidak sabar ingin segera berada di balik punggung suaminya, memeluknya erat, dan mungkin... meminta pijatan beneran yang berakhir dengan pelukan hangat di bawah selimut malam nanti.
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo