NovelToon NovelToon
Batas Pintu Jati

Batas Pintu Jati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: penavana

Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.

Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taktik Ponsel Getar

Ruangan itu dingin karena AC, tapi hawa panas masih terpancar dari tubuh Bara. Pak Umar duduk di seberangnya, sementara Edwin masih berada di UKS. Bara duduk bersandar, tangannya yang lecet karena pukulan dibiarkan begitu saja. Ia tidak menunduk, tapi menatap kosong ke arah piala-piala di lemari kaca. Pak Umar menghela napas panjang, menatap Bara.

"Kamu sadar apa yang baru saja kamu lakukan, Bara? Kamu hampir membuat anak orang cacat."

Pak Umar mendekat, memegang bahu Bara yang masih tegang.

"Kamu itu punya catatan disiplin yang menumpuk, tapi ini yang paling parah."

"Jangan hancurkan dirimu, nak. Edwin anak donatur besar. Kalau orang tuanya lapor polisi, Bapak nggak akan bisa melindungimu lagi kali ini."

Bara hanya tersenyum tipis—senyum yang menyakitkan.

"Bapak nggak dengar apa yang dia katakan? Atau Bapak pura-pura tuli karena dia anak donatur sekolah?" tanya balik Bara.

"Bapak ingin kamu punya masa depan. Bapak sudah berjanji dengan Almarhum Papamu."

Pintu ruang BK terbuka kasar, memotong pembicaraan mereka. Edwin masuk dengan langkah tertatih, dibantu seorang teman setianya. Wajahnya kacau—plester di pelipis, kapas di hidung yang masih merah, dan rahang yang tampak bengkak. Begitu melihat Bara yang masih duduk tenang, mata Edwin menyala penuh dendam.

​"Pak! Liat muka saya! Saya mau dia dikeluarin hari ini juga!" seru Edwin dengan suara sengau karena hidungnya tersumbat.

"Duduk, Edwin!" Pak Umar menunjuk kursi kosong di sebelah Bara.

Suasana mendadak dingin. Bara hanya menatap Edwin dengan satu sudut bibir terangkat—senyum meremehkan yang membuat Edwin makin meledak.

"Bagaimana Edwin? Saya tahu betul sifat Bara." tanya Pak Umar.

​"Bapak nggak tahu kan kenapa saya begini?"

Edwin menunjuk-nunjuk Bara, "Dia ini pengganggu! Dia tukang tebar pesona ke cewek orang!"

Edwin terdiam sejenak, napasnya memburu. Akhirnya, dengan suara yang sedikit bergetar karena harga diri yang jatuh, dia mengaku.

"Erika... dia mutusin saya kemarin. Dan Bapak tahu alasannya apa? Dia bilang dia suka Bara. Cowok misterius, bikin penasaran, katanya!"

Mendengar alasan receh itu, Bara tertawa pelan. Bukan tawa bahagia, tapi tawa yang menghina. Bara menggelengkan kepala.

"Gue bahkan nggak tau cewek lo yang mana. Kalau dia mutusin lo, itu bukan karena gue hebat, tapi karena lo emang nggak layak buat dia. Menyedihkan!"

Pak Umar memijat pelipisnya.

​"Cukup!" bentak Pak Umar.

"Edwin, kamu bersalah karena memprovokasi dengan menghina orang tua siswa lain. Itu pelanggaran berat etika. Dan kamu, Bara... kekerasan tetap bukan jawaban. Kamu hampir bikin dia masuk rumah sakit."

Pak Umar menatap keduanya bergantian.

"Edwin, panggil orang tuamu. Kita harus bicara soal provokasi ini. Dan Bara... kamu tetap kena skorsing tiga hari! Tapi kalau saya dengar kamu berkelahi lagi di luar sekolah..."

​"Saya tahu, Pak," potong Bara pendek.

Ia berdiri, lalu menoleh ke Edwin yang masih merah padam sambil menyeringai dan melangkah keluar, meninggalkan ruangan BK dengan bahu tegap.

⚜️⚜️⚜️⚜️⚜️

​Laras berjalan menyusuri koridor menuju ruang guru. Di tangannya terdapat tumpukan buku tugas satu kelas yang cukup tebal, hingga menutupi sebagian pandangannya. Pikirannya masih melayang pada tragedi di kantin. Tepat di tikungan dekat laboratorium, langkahnya terhenti.

Sesosok pria bersandar di dinding dengan satu kaki tertekuk. Ia sedang menatap ke arah lapangan, rambutnya berantakan, dan jaket denimnya masih menyisakan noda kuah bakso yang mengering.

​Bara menoleh. Matanya yang tadi tajam dan penuh amarah di ruang BK, kini terlihat lelah. Ia melihat Laras yang kesulitan membawa tumpukan buku.

"Tuan Putri, butuh bantuan?" suara Bara terdengar serak, namun nada jenaka andalannya mulai kembali, meski tipis.

Laras tersentak. "Eh... nggak usah. Aku bisa sendiri."

​Namun, tumpukan buku itu goyah. Sebelum satu buku jatuh ke lantai, tangan Bara bergerak cepat menahannya. Ia mengambil separuh tumpukan buku dari tangan Laras tanpa permisi.

Mereka berjalan bersisian menuju ruang guru dalam keheningan yang tidak biasa. Hanya terdengar bunyi gesekan sepatu mereka di atas lantai porselen koridor yang sepi karena jam pelajaran masih berlangsung. Laras sesekali melirik dari balik tumpukan buku yang ia dekap. Ia ingin bertanya, tapi lidahnya terasa kelu.

​Bara berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Wajahnya masih kaku.

​"Kenapa?" suara Bara tiba-tiba memecah kesunyian.

Ia tidak menoleh, tapi ia tahu Laras sedang memperhatikannya.

"Muka gue makin ganteng ya?"

Laras mengerjap, lalu membuang muka dengan cepat.

"Pede banget" jawab Laras.

Bara menghentikan langkah tepat di depan pintu ruang guru. Ia mengambil alih sisa buku yang ada di tangan Laras agar gadis itu bisa membuka pintu. Saat tangan mereka bersentuhan, Laras bisa melihat dengan jelas buku jari Bara yang pecah-pecah dan berdarah.

​"Kamu... nggak apa-apa?" tanya Laras pelan, suaranya tulus.

Bara terdiam sejenak. Ia menatap pintu kayu di depannya, lalu beralih menatap Laras.

"Aduh, jantungku!" kata Bara tiba-tiba.

"Jadi berdebar nih" goda Bara mencairkan suasana.

Mata Laras menyipit.

​"Gue nggak apa-apa kok. Santai aja!" lanjut Bara.

​Ia terkekeh pelan, lalu mencondongkan tubuh ke arah Laras dengan kerlingan mata jenaka, seolah mereka sedang membagikan rahasia besar.

​"Pak Umar itu baik banget lho sama gue," lanjutnya dengan nada bicara yang dibuat-buat seperti sedang memuji teman akrab.

"Gue sampai dikasih libur eksklusif tiga hari. Kurang perhatian apa coba sekolah ini sama gue? Murid lain harus belajar sampai tipes, gue malah disuruh rebahan di rumah."

​Laras mendengus mendengar bualan itu. Ia menekan gagang pintu ruang guru dengan gerakan jengkel, sementara Bara masih mengekor di belakangnya membawakan buku-buku itu. Setelahnya, mereka keluar bersamaan, berjalan di koridor.

​"Lo bawa HP enggak? gue lupa tadi naruh HP di mana," tanya Bara tiba-tiba, memecah keheningan.

​Laras mengernyit, namun tetap merogoh saku rok sekolahnya dan mengeluarkan ponselnya.

"Pinjam sebentar boleh?" sambung Bara.

​Laras mengangguk pelan. Bara segera mengambil ponsel itu dan mengetikkan serangkaian nomor dengan lincah. Tak lama kemudian...

​Bzzzt... bzzzt...

​Suara getaran kencang terdengar dari saku celana abu-abu Bara. Bahkan kain celananya sampai ikut bergetar.

​"Eh, ternyata di sini," kata Bara tanpa dosa, sambil mengulas senyum lebar yang sangat menyebalkan.

​Bara mengembalikan ponsel milik Laras. Suasana mendadak hening selama tiga detik. Dan tiba-tiba memajukan tubuhnya, menatap Laras dengan jarak yang sangat dekat—hanya tersisa satu jengkal di antara wajah mereka. Laras refleks menahan napas.

​"Ngomong-ngomong... nama lo siapa?" tanya Bara dengan raut jenaka.

​Laras mengedipkan matanya cepat, saking tidak percayanya dengan pertanyaan itu. Kemudian, tawa Laras pecah. Ia sontak menutup mulut dengan tangan, berusaha meredam tawanya yang meledak. ​Bara menyeringai malu, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Eh, jangan ketawa dong! Gue serius."

​Sambil menggeleng-gelengkan kepala karena heran dengan kelakuan cowok di depannya, Laras menjawab pelan di sela sisa tawanya, "Laaa... raaaas".

"Oh... Laras" Bara tersenyum menatap Laras yang masih menahan tawa.

"Bisa-bisanya nih cowok ga tau namaku" batin Laras.

"Cowok yang unik".

1
Ros 🍂
semangat ya Thor 💪🏽
Ijin mampir🙏
penavana: thankyouuuu
total 1 replies
Faeyza Al-Farizi
Kaaaaan.... bah ternyata bukan kulkas pintu seratus, tapi manusia yang perlu penakhluk. mana si putri lagi
Faeyza Al-Farizi
modus....modus.... gak usah dipinjemin ndoro... 😌😌😌😌
Faeyza Al-Farizi
Nah kan.... yang waras gitu loh
Faeyza Al-Farizi
ya bukan berarti dia yang godain bujang..... bisa-bisanya, makanya gak usah pacaran, 😌
Faeyza Al-Farizi
Heh sabun Wing gak usah ngadi-ngadi, kamu yang pertama bangunin macan tidur, udah tau lawannya membara, malah di pancing 🫵, lagian gak bisa gitu anteng orang sekola kok nantang2
Faeyza Al-Farizi
sumpah seru bagian ini, berasa kembali ke jaman pas awal-awal demen novel. seger banget hawanya 😌😌
Faeyza Al-Farizi
cupu amat make nama bapak, HUUUUUUUUUU 🫵🫵🫵🫵🫵🫵
Faeyza Al-Farizi
ngebayangin Laras, lari buat nolongin. 😌
Faeyza Al-Farizi
sumpah habis ini kamu kemana-mana punya pengawal pribadi😌
Faeyza Al-Farizi
ketahuan bohong kau 😌😌
Faeyza Al-Farizi
😭😭😭😭 bisa-bisanya ada kebetulan model gini 😭😭
penavana: fakta nih kaak 🤭
total 1 replies
Faeyza Al-Farizi
Bara, heh... tapi paham sih aku, emang modelan kamu paling hapalnya nama guru BK, gadis unceran sama pak satpam 😌
Faeyza Al-Farizi
heeeee preman nyuruh ndoro agung buat ndatengin, berani amat 🫵
Faeyza Al-Farizi
buseeeet ini intuisinya kuat banget 😱
Adi Lima
ya kalo gitu pesan ayam geprek online aja, suruh kurir taroh di sekuriti, terus numpang makan di situ 😄🤣🤣🤣🤣
Adi Lima
Biar bapak yang kasih Tips & Trik untuk ngelawan secara intelek 😄🤣
Adi Lima
oooooh, jadi berani melawan itu pertanda kedewasaan
Adi Lima
yaaaah, shutdown lagi... mungkin dipandang soal ini si Laras gak perlu tau detilnya 🤣
Adi Lima
eh, surprise, ternyata ibunya penuh pengertian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!