Apa rasanya dua kali menikah dengan orang yang sama?
Ibrahim Attar, SE, ME
Lelaki 36 tahun. Hanya seorang duda yang ditinggal wafat oleh sang istri dan dua anak mereka dalam kecelakaan maut.
ia dijodohkan dengan wanita, anak dari teman sang ibu.
Fatih Medina, SE.
Perempuan berusia 23 tahun yang baru saja dipaksa bercerai oleh orang tuanya dengan sang suami pasca keguguran karena kasus KDRT
Bagaimana mereka harus terbebas dari obat-obatan depresi dan berhenti untuk tidak mendatangi lagi Dokter Spesialis Jiwa?
Bagaimana menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan yang dilandasi dengan trauma besar dikedua belah pihak. Serta perbedaan umur yang begitu jauh?
Apakah Cinta akan hadir untuk menyelamatkan hidup mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megadischa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan Ibra
Selamat baca guyss
❤️❤️
***
Ibra masih berbaring terlentang di ranjang. Menatapi bola lampu yang masih hidup tergantung di langit-langit kamar. Sesekali ia menoleh ke arah Fatih yang sudah tertidur memunggunginya.
Rasa keingintahuannya tentang kedatangan Fahmi terus membuih hebat. Namun ia merasa, Fatih akan marah dan mengingatkan tentang kesepakatan kemarin malam.
"Kenapa aku ingin tahu sekali tentang hidup kamu ?"
Ibra pun mulai memiringkan tubuhnya untuk menatap jelas punggung kepemilikan Fatih. Piyama yang tipis, masih terlihat tidak ada kain pengikat bra disana.
Ia masih menatapi wanita ini yang belum ia kenal sama sekali. Lalu menikah dan tidur seranjang. Tidak melakukan aktivitas apapun, kecuali hanya saling diam. Mereka tidak saling benci, namun mereka masih belum bisa menerima kehadiran masing-masing.
Tak lama kemudian, Fatih memutarkan tubuhnya ke belakang tepat dihadapan Ibra yang masih menatap Fatih dengan tangan melipat dibawah pipi. Fatih hanya bergumam tidak jelas, ia tetap memejamkan matanya dan kembali tertidur pulas.
"Cantiknya kamu.."
Dengan leluasa Ibra melihati wajah Fatih dalam-dalam. Wajah polos yang sudah bebas dari serangkaian make up menghiasi.
"Wajahnya halus, bersih dan putih.."
"Bulu matanya lentik sekali.."
"Hidungnya kecil, tidak terlalu mancung.."
"Bibirnya tipis..."
Ibra terus mengabsen bentuk indera yang terdapat dalam wajah Fatih. Ia memuji-muji sedari tadi.
Ibra adalah lelaki normal, apalagi umurnya sudah terbilang tidak muda lagi. Sebelumnya ia pernah mengarungi bahtera rumah tangga bertahun-tahun dengan Jihan. Tentu ia tahu perasaan apa yang sekarang sedang muncul didalam jiwanya.
Seketika tubuhnya menegang. Lebih tepatnya inti dalam tubuh Ibra begitu saja naik dan bangun. Apalagi tanpa sengaja, Ibra melihat belahan dada Fatih yang tersembul sedikit dari dalam piyama dan ujung buah dada yang terlihat samar-samar merengkuh pandangannya.
Ibra mengerjipkan kedua matanya. Untuk berhenti berfikir kearah sana. Ia tidak akan menyentuh Fatih.
"Tapi kenapa aku tidak boleh menyentuh kamu? Bukannya kamu sudah menjadi istriku?"
Sulutan panas meraung-raung dalam benaknya. Apa yang ia fikirkan sungguhlah benar.
"Tapi tidak! Kita tidak saling mencintai, hubungan kita ini hanya seperti pelarian saja!"
"Aku dan kamu ingin melupakan masalah kita berdua dimasa lalu. Jika kita sudah sembuh, maka kita bisa berpisah untuk mencari kebahagiaan masing-masing."
Lalu.
"Kamu belum tidur, Mas?"
Suara Fatih yang tiba-tiba saja muncul sontak membangunkan Ibra yang sedang menatapnya dalam lamunan.
Ibra langsung salah tingkah.
Tanpa menjawab ia langsung membaringkan tubuhnya kembali terlentang. Menaruh kedua tangannya diatas dada. Kemudian memejamkan matanya dengan terpaksa.
Tiba-tiba, kedua matanya kembali terbuka. Ketika tangan kanan Fatih begitu saja terayun diletakan diatas perutnya.
"Kenapa?" tanya nya.
"Pijitin, Mas. Tangan aku keram. Seharian banyak mengetik!"
Ibra pun menuruti permintaan sang istri. Tunggu! Bagaimana bisa disebut istri. Jika Ibra saja belum mengenal sama sekali tentang Fatih. Wanita yang baru ia temui di hari bertepatan akad nikah mereka.
Walau kata ibu-ibu mereka. Ibra dan Fatih sudah saling mengenal walau dalam masa lampau. Masa anak-anak yang sudah terlupa dalam memori mereka.
Fatih membuka kedua matanya kembali.
"Kok berhenti Mas?"
Lagi-lagi Ibra melihati wajah Fatih kembali dan ia pun terjerat dalam lamunan.
"Mas?"
"Eh---ii---yaa--" jawabnya terbata-bata lalu menolehkan kembali wajahnya untuk menatap lampu, kedua tangannya masih memijiti tangan Fatih.
"Kamu kenapa si, Mas? Nggak bisa tidur ya?Apa kamu lapar? Mau aku buatkan apa?"
Ibra hanya menggeleng terus memijiti tangan istrinya.
"Kamu jangan sungkan untuk memintaku dalam hal apapun, aku kan istrimu, sekarang." ucap Fatih dengan senyuman lembut, terus menikmati sensasi pijitan Ibra dipergelangan tangannya.
"Benarkah?" Ibra menimpali ucapan itu dengan reaksi berbinar.
"Iya, benar. Sekarang kamu mau apa?Aku akan membuatkannya untukmu!"
"Saya ingin spageti, apa kamu bisa--"
"Bisa! Tunggu sebentar, aku akan membuatkannya untukmu." Fatih memotong cepat ucapan Ibra, ia pun bangkit dari ranjang dan berjalan menuju dapur.
Ibra pun memilih untuk mengikuti langkah istrinya kesana. Ia memilih duduk di meja makan untuk melihati Fatih ketika memasak spageti untuknya.
"Kamu bisa juga memasak?" celetuk Ibra mengagetkan Fatih yang masih berlalu lalang didepan kompor untuk menyiapkan bumbu-bumbu.
"Loh Mas, kenapa kesini? Tunggu saja aku di kamar, apa kamu mulai rindu ya kalau ditinggal sama aku, hahahaha." Fatih menggoda Ibra.
Rindu? Mungkin, sebentar lagi.
"Bisa aja kamu. Saya cuman ingin memastikan supaya kamu tidak salah dalam menaruh bumbu-bumbunya nanti."
"Ahh...bumbu apa?Ini kan spageti instan, tinggal masak lalu taburkan bumbu jadi diatasnya---"
Kening Ibra kembali berkerut-kerut.
"Aneh ya, kenapa juga ada spageti instan dirumah, perasaan saya nggak membelinya."
"Aku yang membelinya. Sengaja aku stock, takut kamu ingin. Di kulkas juga sudah ku sediakan beberapa cemilan dan minuman segar. Sebelum pulang ke rumah aku berbelanja sedikit ke supermarket."
"Berapa total belanjanya, biar saya ganti."
"Nggak usah, Mas! Kita kan bisa gantian nanti,"
Ibra hanya mengangguk dan terus memperhatikan Fatih yang kembali sibuk memasak spageti untuknya.
Tanpa menunggu lama, spageti instan itu pun tersaji dengan cepat di hadapan Ibra saat ini.
"Hanya aku? Kamu nggak makan?" Ibra melihat hanya ada satu piring di meja.
"Makanlah Mas, aku sudah kenyang."
"Apa mau aku suapi?"
"Nggak Mas, kamu aja!"
Ibra mulai menikmati spageti nya suap demi suap. Fatih dengan sabar tetap menemaninya dimeja makan.
"Tuh kan kamu lapar, kenapa ketika sepulang kerja kamu bilang sudah kenyang?"
"Habis kamu juga tidak mau makan malam kan? Saya malas jika makan sendirian."
"Iya sih aku memang sudah kenyang, karena tadi siang terlalu banyak makan."
"Makan siang...dengan Fahmi?"
Jag.
Hati Fatih bergemuruh. Mengapa Ibra tiba-tiba menanyakan hal seperti ini. Kedua bibirnya terkatup sekejap.
"Jaga jarak dengannya, kamu sudah bersuami sekarang. Apa kata orang, jika melihat kamu dan dia berduaan diruang kerja!"
Fatih terus mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut Ibra. Terlihat lelaki itu mengucapkan dengan sedikit tekanan walau tidak dengan nada tinggi. Ibra terus mengoceh tak henti-henti.
"Ada yang aneh, dengan Mas Ibra !"
***
Like dan komen ya guys🖤❤️
bisaan pisan othor ngobrak ngabrik emosi ....
jangan bosen bikin cerita2 lain yg bagus dan keren ya thoorr ...
semangad.. semangad.. semangaaaddddhhh ✊️✊️
prihatin sangat buat kehidupan Fahmi ...
bener2 gak nyangka ... 😭😭😭😭
begitu sayang nya ibu Hanum ke Fatih .... 😭😭😭😭😭
ah othooorrrr ..... banjir niiiiiiyyy .... 😭😭😭😭😭
boro ini air mata udah keburu ngucruk ... langsung legaaaaaaa ..... 😍😍😍😍😍😍
nyesek thooooorrr .... 😭😭😭😭😭😭😭😭
Kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan kehilangan Fatih itu muncul di luar kendalinya .. krn dia punya trauma ttg itu...
Memang simalakama....
Kalau Ibra jujur bhw dia konsumsi obat lagi, itu malah Fatih jadi merasa bersalah... krn dia pasti merasa jadi penyebab Ibra "kambuh"..
Dan kalau spt itu, kondisi Fatih akan drop ...
Jadi untuk obat memang sebaiknya Fatih gak tau ... biarpun resiko kalo ketahuan ... yaaaaa .... gitu deeeehh .... 🤭
Cuma kalo cctv ... harus nya Ibra terus terang yaaa ...
Kan dia bisa alasan bhw itu lebih baik daripada Fatih dan Fara harus tiap hari ikut ke kantor ...
biarpun pastinya Fatih bakalan risih .. apalagi kalo tau kamar mandi juga dipasang ...
Ibra harus janji bhw itu hanya dia yg liat ...
teteep gambling siiiii 🤭... bisa aja Ibra kelupaan .... namanya juga manusia ... 🙈
ah udah ah ... biar othor aja yg buat solusi nya ... 🤣🤣🤣
poknya pengennya siiiy ... Ibra dan Fatih dan Fara dan adik2nya bisa hidup bahagia ... 💝💝💝⚘️⚘️⚘️
ato Kasih ?
ato Niken ?
ato Gilang ?
atoooooo .....
*kata othor ..... sebutin aja satu2 .... 🤣🤣
kesian itu Ibra katanya udah di ujung ......
😁😁
duuuuuh .. cenat cenut cenat cenut ...
tambah pusing atas bawah dah Ibra ....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣