Laura gadis malang yang dipaksa menikah oleh orangtuanya dengan seorang CEO yang sudah beristri dan juga sangat dingin.
Mampukah Laura bertahan disamping Tuan CEO? Atau kembali kepada cinta pertamanya, yang ternyata adalah anak dari Mr. Edward
yang dingin itu?
"Pernikahan adalah hal yang suci dan aku akan bertahan walaupun kau terus menyakiti ku." Laura
"Kau hanya seorang selir bagiku, jadi jangan pernah berharap lebih dariku." Mr. Edward Sebastian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baju Couple Part 2
Selesai mengganti pakaian dengan diselingi ciuman hangat, Akupun kembali mengajak suami dingin ku menjelajahi tempat itu. Aku juga sempat memilihkan celana kasual pendek dibawah lutut berwarna abu-abu dengan saku di kanan dan kirinya. Juga sepatu Sneakers untuk ia kenakan saat ini.
Tidak mungkin lah, Tuan Edward menemaniku jalan-jalan santai dengan setelan jas mewah seperti biasanya. Bisa-bisa aku dikatakan orang gadis candy-candy'an yang sedang menemani Hot Daddy nya. Berabe kan?!
Setelah puas berdebat panas dengannya, akhirnya Tuan Edward mengalah dengan alasan demi bayi nya yang sedang berada didalam kandungan ku. Iapun dengan terpaksa mengenakan celana kasual serta sepatu sneakers yang sudah ku pilihkan untuknya.
Sekarang, Tuan Edward terlihat jauh lebih muda dari usianya yang sebenarnya. Jika sekarang usia Tuan Edward 45 tahun, dengan penampilannya yang sekarang, ia terlihat seperti lelaki berusia 30an.
Rambutnya yang tadinya masih tersisir rapi, kini kuacak-acak agar terlihat lebih santai. Dan benar saja lelaki itu terlihat jauh lebih tampan.
Aku bahkan tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Dia sudah berkali-kali melirik ku dengan tatapan kesal. Mungkin ia mengira aku sudah mengerjainya. Namun aku berani bersumpah, aku tidak punya niat sedikitpun mengerjai dirinya.
Aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersama dirinya hari ini. Kami tidak pernah pacaran dan anggaplah kami adalah pasangan ABG yang tengah asik berpacaran.
"Sekarang kamu puas?! Kamu lihat, semua orang memperhatikan kita?!" ucapnya,
Ya, Tuan Edward memang benar. Banyak orang yang sedang memperhatikan kebersamaan kami. Tapi kurasa mereka memperhatikan kami bukan karena kami pasangan yang aneh. Tapi wajah tampan Tuan Edward lah yang menjadi pusat perhatian mereka. Bahkan banyak wanita-wanita yang menatapnya tanpa berkedip sedikitpun.
Aku masih terus memperhatikan wajahnya sambil tersenyum manis dan tangan ku ini tak ingin jauh-jauh dari lengan kekar miliknya. Aku takut kalau ia dibiarkan berjalan sendirian, nanti Wanita-wanita cantik itu akan segera menghampiri Suami dingin ku ini.
"Sayang, mereka memperhatikan dirimu bukan kita! Tak ada yang istimewa dariku jadi tidak mungkin mereka memperhatikan ku" sahut ku sambil terkekeh.
Sambil terus melangkah, Tuan Edward menoleh lagi kepadaku. Dia kembali tersenyum tipis, "Sepertinya kamu juga, ya kan?! Apa aku terlihat begitu tampan, hingga kamu tidak bisa mengalihkan tatapan mu dariku?!" ucapnya seraya mengalihkan tatapan nya.
Aku segera memalingkan wajahku setelah dia menggoda ku seperti itu. Aku benar-benar malu dibuatnya. Tapi apa yang dia katakan itu memang benar, dia begitu tampan bagiku hingga aku tidak sanggup menahan mataku untuk tidak melihat kearah nya sama seperti wanita-wanita itu.
"Seandainya Tuhan menciptakan aku lebih awal, aku ingin menemani mu sejak dulu, Tuan ku Sayang!" goda ku, dan kembali melihat ke arahnya. Pokoknya aku tidak bosan menatapnya!
Tuan Edward kembali melirik ku sambil tersenyum tipis, "Jika aku masih muda, memangnya aku mau sama kamu?!" sahutnya
Ih! Tuan Edward selalu begitu. Aku mendengus kesal kemudian membuang pandangan ku kearah lain. Kaki ku terus bergerak menuntun Tuan Edward ke segala sisi tempat itu. Dari lantai dasar hingga akhirnya kami berdiri di lantai puncak.
"Astaga, Laura! Apa yang kau lakukan?! Kita sudah berjalan sejauh ini, apa kamu tidak lelah?! Aku rasa, aku butuh tukang pijat sesampainya dirumah!" ucap Tuan Edward kesal sambil membuang pandangannya keseluruh sudut.
Aku tersenyum simpul kemudian mencoba menatap wajahnya yang tak ingin melihat kearah ku. "Biarkan aku yang menjadi Tukang Pijat pribadi mu, ya?!"
Akhirnya Tuan Edward melirik ku dengan wajah dinginnya, "Yang ada tulang-tulang ku remuk semua jika kamu yang menjadi Tukang Pijat ku?!" ucapnya,
Tepat disaat itu aku melihat sebuah boneka Teddy Bears besar nan cantik berwarna coklat. Aku melepaskan lengan Tuan Edward kemudian menghampirinya dan menatap boneka itu dari balik kaca.
Tiba-tiba kisah silam yang menyakitkan itu terlintas lagi dalam ingatan ku. Tanpa ku sadari sebutir kristal bening mengalir dari sudut mataku.
"Apa kamu menginginkannya?" tanya Tuan Edward kepadaku.
Aku menggelengkan kepalaku pelan. "Aku punya kenangan pahit dengan Boneka Beruang seperti ini..." ucap ku,
Tuan Edward yang tadinya berdiri dibelakang ku, kini mendekat dan berdiri tepat disamping ku kemudian ikut memperhatikan boneka itu.
"Disaat usiaku 5 tahun, Mama pernah sekali mengajak ku jalan-jalan ketempat seperti ini. Itupun dengan berbagai cara aku mencoba meluluhkan hatinya agar Mama mau mengajak ku serta. Biasanya aku hanya ditinggalkan begitu saja bersama pengasuh ku. Saat itu Eliza merengek meminta Boneka yang sama seperti ini. Mama tersenyum kemudian menyerahkannya. Dan aku yang tidak tahu diri inipun turut merengek meminta boneka seperti ini dengan ukuran yang jauh lebih kecil kepada Mama. Tapi Mama tidak mempedulikan ku dan terus melangkah meninggalkan aku yang menangis ditempat itu. Aku menangis sejadi-jadinya, hingga akhirnya Mama merasa malu karena semua orang memperhatikan dirinya. Dan dengan terpaksa, iapun membelikannya. Tapi apa kamu tahu, hukuman apa yang aku terima sebagai imbalan karena sudah mendapatkan boneka itu? Aku dikurung oleh Mama di gudang hingga pagi. Beruntung saat itu pengasuh ku bersedia menunggu ku di depan pintu gudang karena dia tidak tega melihat aku dikurung oleh Ibuku sendiri..."
Tuan Edward menarik tubuhku kedalam pelukannya. Dan tanpa aku sadari aku kembali terisak karena mengingat masa lalu ku yang suram itu.
"Aku tidak tahu apa salahku kepada Mama. Aku juga tidak pernah meminta dilahirkan olehnya. Kenapa dia begitu tega melemparkan kesalahan sosok lelaki yang menghamilinya kepada ku yang tidak tahu menahu soal mereka?! Kenapa..."
Tuan Edward semakin erat memeluk tubuhku. Ia bahkan berkali-kali melabuhkan kecupannya di kening ku.
"Aku tahu semua cerita tentang mu, Laura sayang... Tapi setelah ini tak akan ada yang berani menyakiti mu! Aku pastikan, siapapun yang berani menyakiti mu, akan berhadapan langsung denganku!" ucap Tuan Edward.
"Sebaiknya kita pulang saja, aku sudah lelah." ucap ku seraya menyeka airmata ku.
Tuan Edward melepaskan pelukannya kemudian mengangguk pelan. "Baiklah, kita pulang.
Karena kelelahan, Tuan Edward memilih menggunakan lift untuk menuju lantai dasar. Didalam lift, aku tersandar. Aku baru menyadari kalau tubuhku kelelahan akibat perjalanan kami.
Tuan Edward memperhatikan ku. "Tuh kan, apa ku bilang! Kamu itu sebenarnya kelelahan." ucapnya seraya menggelengkan kepalanya.
Aku hanya bisa tersenyum simpul sambil memperhatikan ekspresinya saat itu. Ketika pintu lift terbuka, Tuan Edward segera membopong tubuhku dan membawaku menuju mobilnya.
"Sayang, aku malu! Mereka semua memperhatikan kita." ucap ku,
"Kalau kamu malu, benamkan wajahmu di dadaku! Lagipula buat apa malu, bukankah kita suami istri?" sahutnya dengan mata fokus kedepan tanpa mempedulikan orang-orang disekeliling kami yang memperhatikannya.
***