PERHATIAN! INI ADALAH KISAH LANJUTAN DARI KARYAKU LOVE BY PSYCHOPATH 1, JADI BUAT KALIAN YANG AKAN MEMBACA KARYA INI LEBIH BAIK MEMBACA YANG SEASON 1 AGAR DAPAT MEMAHAMI CERITANYA.
.
.
.
.
Kau mencoba berlari, tapi semakin berlari semakin aku menginginkanmu kembali. Jika kau lihat ke belakang sebuah kisah kita akan terulang. Suatu keberuntungan bisa melihat sang Dewi berhasil aku taklukkan.
-Darrel
Ini adalah kisah cinta psychopath yang selalu mencari cara bagaimana agar bisa menyembunyikan cintanya. Cerita ini menunjukkan bagaimana seorang psychopath mencintai seseorang dengan sudut pandang berbeda. Tapi apakah ada perbedaan antara posesif dan cinta, menurut Darrel sama saja. Jika bisa membuat cintanya si Dea Mahesa berada di pelukannya, itulah cara dia mengekspresikan cintanya.
HALLO SEMUANYA!! Makasih yang udh mampir ke cerita author. Semoga kalian menikmati cerita dari awal hingga akhir. Jangan lupa dukung author dengan tinggalkan jejak di setiap babnya. Dan author hanya terbit di noveltoon ataupun mangatoon ya, selain itu author tak menerbitkan di apk manapun. terimakasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuriko Harumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 35 •LBP2• : SARAPAN BERSAMA
Aku mulai menerjapkan mataku, saat alarm mulai berbunyi beberapa kali. Terlihat di sana pukul tujuh tiga puluh, menandakan aku harus bangun dan mempersiapkan sarapan untuk Darrel.
"Darrel, bangun kamu harus kerja" kataku sambil berusaha menyingkirkan tangan Darrel dari pinggangku.
"Darrel ayo bangun, katanya kamu ada janji sekarang kalo gak nanti terlambat" ucapku terus sambil berusaha membangunkan Darrel.
"Sebentar lagi Dea" ucap Darrel manja, malah semakin menambah pelukannya.
"Darrel! Kamu harus bangun sekarang jika tidak kamu akan benar-benar terlambat untuk pertemuannya" kataku semakin berusaha menyingkirkan tangan Darrel.
Tapi sepertinya itu tidak ada hasilnya. Tubuh kamu masih terbaring di atas ranjang, dengan selimut yang masih menutupinya. Darrel benar-benar seperti anak yang manja beberapa hari ini, dia bahkan hampir saja terlambat beberapa hari yang lalu karena sikap malasnya ini.
"Darrel" ucapku pelan sambil mengusap pipinya.
Beberapa saat kemudian Darrel membuka matanya, dan di saat yang bersamaan aku juga mengecup singkat bibir Darrel. Terlihat wajah terkejut dari Darrel. Darrel hampir saja menciumku, tapi tanganku langsung mencegahnya agar Darrel tidak bisa melakukannya.
"Bangun Darrel, kamu bilang ada pertemuan" ucapku sambil menyingkirkan tangan Darrel, dan mulai beranjak dari tempat tidur.
Aku berjalan ke dapur, tidak lupa dengan menguncir satu rambutku agar tidak terlalu mengganggu.
Aku mulai menyiapkan roti untuk di panggang, serta beberapa bahan seperti sayuran seperti tomat juga selada, tidak lupa irisan daging sapi dan telur untuk membuat sandwich. Aku mulai memanggang roti dalam wajan pemanggang.
[Auth : contoh gambar wajannya, gw gak tau nama wajannya apa sumpah, maybe dari kalian ada yang tau bisa komen agar aku bisa tau].
Sambil menunggu rotinya, aku mulai memasak telur dan irisan daging untuk isinya. Selesai semuanya, aku mulai menatanya. Aku memotongnya menjadi dua, dan menusuknya di bagian tengah agar isinya tidak keluar.
Aku mendengus lelah saat aku sudah melakukan semuanya. Untunglah aku sudah menyetrika baju Darrel tadi malam, sehingga aku bisa lebih leluasa sekarang.
Sambil menunggu Darrel turun, aku mulai membersihkan alat-alat yang aku gunakan untuk memasak sandwich. Ini memang keseharian ku, membangunkan Darrel, mempersiapkan sarapan, makan siang, dan makan malam. Tidak lupa aku harus membersihkan rumah, dan mencuci serta menyetrika baju.
Terasa sangat lelah sekali, tapi kenapa saat aku tinggal sendiri semuanya rasanya sangat mudah. Mungkin karena pemikiranku tambah banyak, apalagi sekarang aku juga harus memantau cafe milikku dari jauh. Senyuman tiba-tiba datang di wajahku, saat mengingat beberapa minggu lalu. Di saat Aku dan Darrel baru saja jadi pasangan, dan sangat sulit untuk menyesuaikan antara satu sama lain.
...FLASHBACK...
Rumah, pukul 08.25
Aku masih meregangkan tubuhku, saat rasa lelah dan sakit di setiap bagiannya. Sedangkan Darrel, dia juga masih tertidur pulas mungkin Karena apa yang terjadi tadi malam membuat kami harus begadang.
"Darrel kamu tidak kerja?" tanyaku saat Darrel masih bermalas-malas.
Tidak ada jawaban dari Darrel. Aku mulai duduk sebentar, dimana aku langsung memegangi leher dan pinggang yang masih terasa pedal dan nyeri di sana. Sesekali aku juga memegangi dahiku karena rasa pening, juga mengusapnya perlahan. Efek dari begadang memang tidak akan pernah berakhir dengan baik.
"Sshh..." rintihku saat aku akan beranjak dari ranjang.
"Oh my God, Darrel..." ucapku sambil mengusap pinggangku.
"Ini masih pagi kenapa kamu bangun secepat ini" kata Darrel justru malah memelukku dari belakang.
"Darrel, kamu harus berangkat sekarang aku takut kamu akan terlambat kerja" kataku sambil menyingkirkan tangan Darrel.
"Aha, aku adalah bosnya aku bisa berangkat kapan saja" kata Darrel sambil tambah menarikku agar lebih mendekati Darrel.
"Apakah sangat sakit?" lanjut Darrel sambil mengusap perutku saat aku sudah di pangkuannya.
"Kamu seperti hewan saja" kataku dengan kesal.
"Maafkan aku..." jawab Darrel sambil mencium tengkukku.
Beberapa kali kami berbincang-bincang, juga Darrel sering menceritakan tentang masa lalunya. Memang aku tidak mengingat Darrel, tapi dia berbicara seolah dia menungguku sangat lama. Dalam ceritanya Darrel selalu mengatakan bagaimana orang tuanya memperlakukan dia, dan alasan Darrel membunuh mereka. Darrel juga tidak menyangka jika aku mau dengan Darrel. Darrel menceritakan semua, menceritakan berapa kelam kehidupan Darrel.
Beberapa saat kemudian ponsel milik Darrel berdering terus-menerus. Sesekali Darrel mematikannya, tapi ponsel itu terus berbunyi.
"Angkat saja" kataku sambil mengambil ponselnya.
"Dari Raf, jika tidak penting aku akan mencekiknya" kata Darrel sambil mengangkat teleponnya.
"Kenapa" kata Darrel saat mengangkat panggilannya.
Wajah Darrel berubah seketika saat mendengar perkataan dari Raf. Darrel yang awalnya memelukku, justru sekarang melepaskan pelukannya dan mulai beranjak dari dari ranjang.
"Dea jam berapa sekarang" tanya Darrel dengan wajah seriusnya.
"Setengah sembilan" jawabku sambil melihat jam.
"Sial! Aku ada rapat pukul sembilan!" teriak Darrel sambil berlari ke arah kamar mandi.
Seketika aku juga panik, saat Darrel mengatakan hal tersebut. Rapat? Baju apa yang di pakai? Apa yang harus aku apa? Apa saja yang di siapkan?
Semua pertanyaan itu muncul di pikiranku. Sambil terburu-buru aku memakai Hoodie tanpa bawahan serta dalaman. Dengan berlari kecil sebisaku, aku ke arah dapur untuk membuatkan Darrel sarapan. Aku hanya membuat roti isi hanya dengan sayuran, mayones, dan juga saus. Bahkan rotinya tidak aku panggang terlebih dahulu.
"Dea aku berangkat" kata Darrel sambil bergegas keluar dengan dasi yang bahkan belum dia ikat.
"Hati-hati di jalan" jawabku sambil memberikan bekal roti isi yang telah aku buat.
Melihat kepergian Darrel aku semakin tercengang. Aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Keadaan seperti ini memang akan sering terjadi, jika aku dan Darrel terlalu banyak bermain.
...FLASHBACK END.......
"Apa yang kau pikirkan"
"Aw-" pekikku saat Darrel tiba-tiba memelukku dari belakang, dimana aku tengah membersihkan pisau hingga sedikit mengiris tanganku.
"Dea! Maaf aku tidak tau kamu sedang membersihkan pisau" kata Darrel sambil memasukkan jariku yang berdarah ke mulutnya.
"Ini tidaklah apa-apa, aku membulatkan kamu sandwich" ucapku sambil menunjuk sandwich yang ada di meja.
"Tunggu-tunggu sebelum makan bersama, mungkin ada yang harus kita lakukan terlebih dahulu" ucap Darrel sambil memelukku.
Kami sekarang tengah berpelukan sambil berhadapan, dimana keadaan ku sengat dekat dengan dada Darrel. Aku mengangkat salah satu alisku, tanda aku kebingungan dengan apa yang Darrel katakan. Beberapa saat kemudian aku tersenyum tanda aku masih tidak paham dengan apa yang dia katakan.
"Dea setidaknya kamu harus peka sedikit, dasiku masih belum di pakai" ucap Darrel sambil menunjuk dasinya yang masih belum terikat.
"Baiklah biar aku mencobanya" kataku sambil mencoba mengikatnya.
sebenarnya aku tidak pernah bisa dasi, hanya saja Darrel selalu menyuruhku. Meskipun akhirnya nanti Darrel yang akan melakukannya sendiri. Beberapa saat kemudian aku mulai sadar, aku memang tidak bisa memasangkan dasi.
"Maafkan aku" ucapku sambil menyembunyikan wajahku di dada Darrel karena malu.
Sedangkan Darrel hanya tertawa, sambil memelukku lalu berkata "Tidak apa-apa"