Luna, seorang mahasiswi cantik, rajin dan energik memiliki masalah dengan dosen yang memberinya nilai D pada semester lalu, Edric.
Demi menolong bapaknya yang kurang biaya rumah sakit, Luna terpaksa menuruti keinginan seorang nyonya besar pemilik rumah sakit.
Nyonya besar tersebut memintanya untuk menikah dengan suaminya.
Saat Luna tahu, suami dari nyonya besar itu adalah, Edric Aderald, sang dosen kejam yang ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Ulsyah Musyarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Seranjang
Setelah usai makan, akhirnya Luna dan Edric pun kembali ke kamar hotelnya.
"Pak, saya tidur di mana?" tanya Luna begitu datang di hotel mereka.
"Oh, iya." Edric tampak langsung berpikir. "Kamu tidur di ranjang ini saja, aku tidak akan melakukan apa-apa padamu." Edric menunjuk bagian sampingnya yang kosong.
"Hmmm, Pak Edric janji, ya!" Luna menyodorkan kelingkingnya pada Edric.
Edric melihat ke arah kelingking Luna.
"Janji!" jawab Edric sambil memalingkan muka.
"Nih! Ini?" Luna menyodorkan kelingkingnya semakin dekat ke arah Edric.
"Apa?" Edric terlihat enggan menyambut kelingking itu.
"Ini, kalau Pak Edric janji, harus keluarkan kelingkingnya!" Luna agak ngotot.
Edric masih memalingkan muka. Tapi melihat Luna yang bersikeras masih menyodorkan kelingkingnya, bahkan semakin dekat dengan wajahnya, membuat Edric akhirnya menuruti perkataan Luna.
"Baiklah, Nih!" Edric juga mengeluarkan kelingkingnya.
"Nah gitu dong!" Luna pun langsung menautkan kelingking mereka.
Begitu kedua jari mungil itu bertautan, pandangan mereka pun bertemu. Sejenak mereka berpandangan, hingga Luna menarik kembali jarinya.
"Ah, eumm, saya mau ganti baju dulu, Pak!" Luna langsung terbirit-birit meninggalkan Edric ke kamar mandi. Wajahnya sudah memerah, ia sungguh merasa malu. 'Aduh, kenapa aku berdebar-debar, sih?' Luna memegangi dadanya begitu ia sampai di kamar mandi dan menutup pintu.
Sementara itu di luar kamar, Edric masih tertegun dengan kelingking yang masih teracungkan. Sambil tersenyum, dia menarik kelingking itu.
Dan belum berselang satu menit, Luna sudah ke luar dari kamar mandi dengan pakaian yang sama.
"Kok belum ganti?" tanya Edric.
"Lupa, bajunya belum diambil." Luna terburu-buru membuka lemarinya dan mengambil baju secara acak. Kemudian gadis itu dengan terburu-buru kembali ke kamar mandi mengganti baju.
Edric tahu Luna sedang salah tingkah, dia hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Akhirnya setelah Luna berganti baju, Edric juga melakukan hal yang sama.
Luna pun sudah terlebih dulu tidur di atas ranjang saat Edric masih di kamar mandi.
Begitu Edric keluar kamar mandi, dia melihat Luna sudah tidur membelakanginya.
Glek glek
Edric menelan salivanya. Bagaimanapun juga ia adalah lelaki normal. 'Apa yang dipikirkan Dita membawa suaminya ke situasi ini? Aku bisa khilaf bila terus lama-lama di sini.'
Luna menyadari Edric sudah keluar, Luna pun berbalik menghadap ke Edric. Karena ada yang ingin ia tanyakan.
Sementara Edric dengan ragu-ragu naik ke atas ranjang. Ia harus memantapkan hatinya agar tidak menyerang gadis di hadapannya.
"Pak!" tegur Luna.
"Hmmm," jawab Edric sambil berbaring dan sudah berpura-pura terpejam.
"Program bayi tabung itu, bakal kapan kita lakukan?" tanya Luna.
"Setelah kita pulang."
"Oooh," balas Luna. Luna sedikit menyeringai mengangkat senyumnya. Jika ia sedikit mengerjai Edric, bagaimana ya?
"Kalau aku nggak mau ngejalanin program bayi tabung itu gimana ya? Kan nyonya Dita juga tidak setuju dengan program ini?"
Luna terkikik dalam hatinya, ia berharap Edric akan memohon pada Luna. Setelah itu, Luna bisa bernegosiasi dengan Edric mengenai nilainya. Agar dosen killer itu mau memberi Luna nilai B atau bahkan A untuk mata kuliah Kimia Organik.
"Kau mau mengikuti saran dari istriku saja?" Edric kini membuka matanya sedikit. Iris matanya terlihat berkumpul di bagian samping saat ia melirik pada Luna yang sedang cekikikan.
"Iya, lah! Kan nyonya Dita yang menawariku perjanjian, bukan pak Edric."
Edric pun terbangun, dia langsung meraih tangan Luna dan menahan tangan gadis mungil itu di atas kepala Luna. Sambil menatap intens pada gadis itu, Edric berkata, "Kalau begitu, ayo kita lakukan!"
***
Bersambung ...
Hayo lo, mau melakukan apa?