Seorang pemuda titisan dewa dari dunia tiny, merangkak maju demi meminta ke adilan untuk keluarga nya hingga membawa pemuda itu ke pertarungan hidup dan mati bersama dewa penguasa tertinggi yang mengusai alam itu.
Qin yan, seorang pemuda tegar, jenius dan berbudi pekerti harus menerima kenyataan kalau diri nya adalah seorang cacat. Namun takdir berkata lain, dewa merencanakan kehidupan nya agar mampu mengalahkan Kaisar dewa sage yang menguasai ruang dan waktu. Hingga ia di bawa pulang oleh di mensi dan mengalami kebangkitan kedua.
Di sini ia akan membangun kembali semua nya dan merubah takdir semua orang termasuk diri nya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erwin Stayly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saudara dan Pengikut Sehidup Semati
Jangan lupa like, komen, dan Vote nya. Agar author bisa crazy up chapternya.
********
Saat Qin yan membuka mata, yang dilihatnya adalah sesepuh yang masih menunggunya dengan sabar.
"Salam sesepuh." Qin yan berdiri dan memberi hormat kepada sesepuh itu.
"Di berkatilah kau Qin yan, aku tak menyangka kalau ternyata mengusai kultivasi mental." Senyum sesepuh itu.
"Ah, aku hanya beruntung saja kok." Qin yan menggaruk kepalanya.
"Oke Qin yan, aku ingin memberi tahumu kalau kami tidak bisa lagi tinggal lebih lama. Tapi sebelum itu, aku akan memberikanmu kebebasan untuk mengambil apa yang kamu mau di menara ini."
"Huh, benarkah sesepuh?" Terkejut Qin yan mendengarnya.
Sesepuh itu mengangguk.
"Um, ini juga sebagai bentuk terimah kasihku untukmu."
"Terimah kasih sesepuh." Qin yan kembali menangkupkan tangannya.
"Ambilah ini."
Patriak memberikan sesuatu padanya. Sebuah cincin yang belum pernah Qin yan lihat.
"Itu cincin penyimpanan, dan juga sabagai lambang kepemilikan." Perjelas sesepuh itu.
"Lambang kepemilikan?" Alis Qin yan berkerut.
"Yah, dimasa depan baru kau ketahui nantinya."
"Oh, Terimah kasih."
Tanpa banyak tanya lagi Qin yan berjalan ke depan walaupun saat ini masih banyak pertanyaan yang mau ia tanyakan.
Tapi, ada satu hal mengganggu pikirannya. Dimana orang orang yang sebelumnya ada disni.
Seolah mengetahui pemikiran Qin yan, sesepuh itu menjelaskan.
"Tenang saja, mereka sudah kukirim kembali ketika kau sedang menerobos tadi itu."
Oh, kukira sudah pada di bunuh. pikir Qin yan. Tanpa menunggu waktu lagi, Qin yan menuju kelantai selanjutnya. Tidak sabar untuk mengambil hasil panen.
Seperti halnya sifat manusia, pada dasarnya mereka orang yang tamak, seperti itulah sifat Qin yan. Karena, tidak ada manusia yang sifatnya sempurna di dunia ini, tak terkecuali dewa sekalipun bahkan jika itu seorang malaikat.
Di lantai dua, lantai yang dipenuhi senjata roh tingkat bumi kebawah. Qin yan berantas semuanya. Lantai ketiga, yang biasa di sebut ruangan perpustakaan. Qin yan ambil beberapa buku penting, tidak sampai di situ. Ia baca semuanya, dan mengingatnya dalam otak. Tidak dapat dipungkiri, kalau hobi Qin yan itu sebenarnya membaca. Apalagi dengan energi mentalnya, yang meningkatkan tingkat IQ otak membuat tak ingin menyia nyiakan kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan lebih banyak.
Tapi, sebenarnya masih ada satu tujuan yang belum ia selesaikan disini. Yaitu mencari kitab suci God Dragon Sea. Kitab yang sangat cocok untuk membuat masa depan Qin yue menjadi sangat cerah.
Ada tiga awal tujuan ketika ia datang kemenara ini. Pertama mengambil Senjata roh tingkat Divine, menerobos katahap segel surgawi mental dan sekarang mengambil kitab suci God Dragon Sea. Tapi, ia tidak menyangka ada sebuah bonus. Yaitu mendapat kesempatan untuk memahami hukum spasial dan sekarang, tidak usah diberitahu lagi.
"Bocah, kau benar benar mengambilnya?" Suara Kyuki terdengar ketika Qin Yan mengambil kitab itu.
"Apa! Kenapa kau ikut ikutan memanggilku bocah ular sialan."
"Kau memanglah bocah, mau di panggil apa lagi? Dan juga jangan panggil aku ular oke. Aku itu naga, ingat... naga.!"
"Paman, jangan panggil aku bocah. Namaku Qin yan, Qin yan."
"Oke Qin yan, kenapa kau mengambil kitab itu?" Tanya lagi.
"Kitab ini sangat cocok untuk adikku. Jadi aku mengambilnya."
Kyuki langsung terkejut.
"Apa! Cocok! Benarkah?"
"Yah memangnya Kenapa? Bukankah ia mempunyai kandidat untuk menjadi tuanmu bukan?"
"Huh, bocah, itu tergantung dengan kemampuannya. Mampu atau tidak." Kyuki kembali tidur dalam diri Qin yan.
Untuk lantai ke 4 sampai ke atas, ruangan hanya di penuhi energi yang padat. Cocok untuk di gunakan untuk berkultivasi. Jadi Qin yan tidak perlu pergi kesana.
"Eh, sudah selesai?" Tanya sesepuh itu.
"Ya Sesepuh, aku sudah mengambil apa yang aku mau." Ucap Qin yan dengan santun.
"Jadi, apakau ingin kembali?" Tanyanya lagi.
Qin yan hanya mengangguk, lalu di belakang sesepuh terbentuknya sebuah formasi. Qin yan disuruh untuk pergi kesana.
"Baiklah Qin yan, kita berpisah sekarang. Jika takdir menentukan, di masa depan aku merasa senang ketika bertemu denganmu. Aku harap, jangan mengewakanku."
Qin yan tersenyum mendengarnya, lalu masuk ke formasi.
"Tenang saja kok, aku takkan mengewakan anda."
Sliiinngg.....
Tubuh Qin yan lenyap di telan cahaya.
_______
Detik berikutnya, Qin yan berdiri di sebuah altar. Di sana, sudah patriak, tetua, Qin yue, dan teman teman Qin yan. Ketika melihatnya tiba, mata mereka langsung menyala.
"Qin yan, kau kembali." Tanya patriak.
"Um." Qin yan mengangguk padanya, lalu menuruni altar.
Belum sampai menuruni altar, Qin yan sudah disambut pelukan hangat adiknya.
"Kakak, kukira kau takkan kembali lagi." Lega Qin yue berkata.
"Heh, kau ini Yue er, tenang saja. Kakakmu takkan hilang kok." Qin yan mengelus kepala adiknya.
"Hmmph...." Sekali lagi Qin yue berbalik manja.
"Qin yan, aku lega kau baik baik saja. Aku sudah dengar semuanya dari mereka." Patriak juga datang padanya.
"Oh, A-aku... itu...." Qin yan bingung bagaimana menjelaskannya. Disana, ia menatap Qin ruo dan lainnya yang juga menatapnya.
"Sudahlah, aku mengerti. Aku bangga padamu nak." Ucap patriak menepuk punggungnya.
"Terima kasih kek." Qin yan membungkuk dengan hormat.
Patriak yang menyaksikan itu langsung tersenyum.
"Baiklah, masalah selesai. Qin yan, istrahatlah dulu. Kau pasti lelah kan?"
Qin yan mengangguk kearahnya, setelah istrahat beberapa menit, mereka pulang kerumah dengan ditemani patriak.
"Qin yan, sampai disini saja. Kakek akan pulang dulu, masih banyak pekerjaan yang menunggu."
"Iyah kek."
"Iyah kek."
Qin yan dan Qin yue bersama sama membungkuk, menatap Patriak pergi darisana.
Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah.
"Kak, kudengar dari teman teman kakak mengalami...."
"Lupakan tentang itu dulu Yue er, kakak punya hadiah untukmu." Qin yan memotong pembicaraan adiknya.
Setiap mendengar kata hadiah, mata Qin yue selalu bersemangat.
"Hadiah kak, benarkah?"
"Um, duduklah dulu."
Qin yue dengan cepat duduk dikursinya, menatap kakaknya dengan tidak sabar.
Matanya melebar saat melihat Qin yan mengeluarkan sesuatu dari dalam cincinnya.
"I-ini kak...." Mulutnya langsung menganga. Menatap busur dan pedang yang ada didepannya.
"Ini senjata roh tingkat bumi, pedang es abadi dan Blues Shark Arrow. Sangat cocok untukmu. Ambillah."
Qin yan menawarkan sebuah katana biru di lapisis corak es, dan sebuah busur dengan corak biru yang berbentuk seperti mulut hiu.
"Tapi kak, inikan mahal." Qin yue tak sanggup mengambilnya.
"Yue er adikku, kenapa kamu sungkan dengan pemberian kakak. Kakak sudah usahain ini untuk kamu, kakak akan kecewa jika kamu tidak mengambilnya. Ini."
Qin yue mengambilnya dengan pelan, namun sebenarnya dalam hatinya ia senang sekali bisa punya senjata kualitas tinggi seperti ini.
Di benua element ini, senjata roh itu sangatlah langka. Untuk senjata roh tingkat bumi saja harganya setara dengan senjata biasa tingkat 7. Dan kekuatannya setara dengan senjata biasa tingkat 8 atau bahkan tingkat 9. Yah, bisa dibilang, senjata roh adalah kelanjutan tingkatan dari senjata biasa.
"Dan satu hal lagi Yue er, ini."
Qin yan mengeluarkan kitab God Dragon Sea padanya. Melihatnya saja, Qin yue tak bisa menahan napasnya lagi.
"I-ini...."
"Kelanjutan buku budidaya yang kuberikan padamu waktu itu."
Mata Qin yue langsung bersinar.
"Wah...! Terimah kakak."
Ia langsung memeluk kakaknya.
Qin yan hanya mengelus kepalanya dengan lembut. Di kehidupan ini, ia akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi kakak yang baik untuknya.
_____
Malamnya....
Qin yan memanggil teman temannya agar datang di rumah.
"Qin yan, kenapa kau memanggil malam malam begini?" Tanya Qin feng.
Di belakang, Qin ruo dan Qin mo juga berpikiran sama.
Qin yang duduk di kursinya dengan tenang.
"Aku ingin bertanya pada kalian. Apakah kalian membawa sesuatu saat pulang dari menara?" Tanya Qin yan.
"Haish, Qin yan. Setelah kau menyelamatkan kami saat itu, tidak ada lagi dipikiran kami selain bertahan hidup. Sesepuh menyuruh kami untuk pulang tanpa membawa apa apa. Namun jujur, kami sangat mensyukuri hal itu."
Qin Mo dan Qin ruo mengangguk setuju dengan perkataan Qin feng.
"Tapi Qin yan, apa kau punya barang untuk di bawa pulang. Bisakah ijinkan aku melihatnya, terutama busur yang saat itu kau ambil. Itu benar benar keren." Qin feng kembali bertanya dengan mata berbinar.
Qin yan melipat tanganya di dada, lalu mengangguk.
"Tidak salah, apa yang kau katakan. Namun, aku tak akan menunjukan busur illahiku padamu."
Wajah Qin feng bersemangat mendengar awal kata Qin yan, kini berubah menjadi layu saat mendengar perkataan akhirnya.
"Tapi, ini yang kutunjukan pada kalian."
Beberapa benda jatuh dari cincin penyimpanan.
Wajah mereka bertiga langsung terkejut, melihat senjata roh terpampang di depan meja.
"I-ini.... Ini ini ini.. Senjata roh?"
"Um." Qin yan mengangguk.
"Qin mo, saat pertarungan kita waktu itu. Aku akui, kau sangat kuat." Wajah Qin mo langsung memerah saat mendengarnya. Namun Qin yan tidak memperdulikannya.
"Jadi, jika kau memakai palu pemecah tanah ini sebagai senjatamu. Kau pasti akan jauh lebih kuat. Ini juga sebuah buku kultivasi tingkat A, sesuai dengan tubuhmu. Ambillah." Tangan Qin mo gemetar mengambilnya.
Setelah itu, ia segera bersujud pada Qin yan.
"Qin yan, terima kasih banyak. Mulai sekarang, kau adalah saudaraku. Jika kau membutuhkanku dimasa depan, walaupun Badai menerjang, aku tetap akan datang padamu."
"Kau tidak perlu bersujud seperti itu, aku tidak suka dengan teman yang sudah kehilangan harga diri."
Qin Mo dengan cepat berdiri mendengar perkataan Qin yan.
"Hehehe... Qin yan. Bagaimana denganku?" Tanya Qin feng sambil menggosok gosok kedua tangannya.
Qin yan menatapnya dengan sebelah mata, ia menghela napas dan mengeluarkan sebuah kipas dan buku di depan matanya.
"Ini adalah Kipas River Mountain, Kipas yang legendaris, dipakai oleh permeisuri raja Tangmen. Legenda pernah mengatakan......"
"......dalam sekali kipas, maka gunung bisa ia hancurkan." Qin feng melanjutkan perkataan Qin yan.
"Oh, kau tau rupanya. Ini, ambillah." Qin yan memberikannya.
Dengan senang hati, Qin feng menerimanya.
"Hahaha.... Terima kasih bos, mulai sekarang, kau adalah bosku. Dimasa depan, aku akan selalu mengikutimu dengan nyawa dan jiwa ini untukmu. Aku bersumpah akan memberikan seluruh kekuatanku untuk melindungimu dimasa depan."
Qin feng menjentikan darahnya, semua mata langsung terbelalak.
"Qin feng, kau tak perlu melakukan itu. Hei." Qin yan ingin menghentikannya.
"Tidak perlu, aku sudah memutuskan ini." Ekspresi Qim feng tiba tiba jadi sangat serius.
Darah itu menjadi sebuah sebuah lambang, lalu perlahan menempel ditangan Qin yan.
"Jika aku mengingkari janjiku ini, maka nyawaku sudah ada ditanganmu."
Mata Qin yan memerah melihatnya, anak ini walaupun diluarnya tampak konyol. Ketulusan hatinya ini benar benar tidak di sangka. Terlebih lagi, ia menggunakan metode yang tidak pernah terpikirkan oleh Qin yan. Metode ini merupakan metode kesetiaan sehidup semati kepada tuannya. Setelah ini, orang yang bersumpah tidak bisa lagi kembali. Dan tuannya, akan menjadi tujuan nya seumur hidup. Jika tuannya mati, maka dia juga akan mati.
Ini, seseorang yang bahkan menyerahkan seluruh hidupnya kepada orang lain. Baginya itu tidak mungkin. Tapi, melihat senyum Qin feng yang tampak tidak ada masalah. Membuat hatinya menghangat.
"Qin yan, anak ini.... Kau harus memperlakukan dia dengan baik. Jarang sekali ada yang orang seperti ini."
Qin yan mengangguk.
'Kau benar kyubi, tenang saja. Dia takkan menyesal karena telah mengikutiku.'
Saat ini, Qin mo. Juga mengoleskan darah di dahinya.
"Dengan ini, aku, Qin mo bersumpah. Dengan darah ini sebagai saksi. Aku, akan menjadi saudara sehidup semati yang takkan pernah menghianati saudaraku Qin yan. Jika aku menghianatinya, maka aku akan seperti ini"
Qin mo memecahkan gelas dipegangnya, menjadi hancur berkeping.
Melihat itu Qin yan meneteskan air mata, Di kehidupan dulu. Ia tidak punya teman sama sekali, itupun hanya sebatas kerja sama yang saling menguntungkan. Di kehidupan ini, ternyata ada beberapa hal yang belum pernah ia pikirkan.
"Qin Mo, besok kau harus ganti rugi gelasnya."
"Eh, apa?" Ucap Qin mo terkejut.
Kemudian, terakhir. Ia mengeluarkan sebuah pedang dan buku bersamaan.
Pedang dan buku itu, memiliki aura kegelapan yang padat.
"Qin Ruo, ini juga sengaja kusiapkan untukmu." Qin yan memberikannya.
"I-ini, aku... tak bisa menerimanya." Jawab Qin ruo dengan malu malu.
"Oh, tidak ingin yah. Ya sudah kalau begitu, masih banyak kok kandidat lain yang pantas untuk ini." Qin yan kembali menariknya kedalam cincin spasialnya.
"B-bukan begitu... Ukh.. Qin yan. Kau sangat menyebalkan." Qin Ruo berdiri, pergi meninggalkan rumah Qin yan dengan membanting pintu.
Qin yan hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya, sementara Qin Mo dan Qin feng tertawa bersama.
"Bos, kau benar benar tidak peka yah."
Qin yan langsung melotot padanya.
"Sudah, kalian pulanglah. Nanti ada yang cari, sudah terlalu malam."
Qin mo dan Qin feng saling memandang.
"Bos, tidak mengejarnya?" Tanya Qin feng lagi.
Qin yan hanya berdiri, masuk kekamarnya.
"Tidak perlu, memangnya siapa yang bisa melukainya. Diakan sudah besar, masa pulang kerumah saja harus diantar."
Qin mo dan Qin feng hanya menggelengkan kepala mereka.
Lalu mereka pulang bersama sama.
Qin yan masuk kedalam kamar.
"Yue er, sudah selesai?" Tanyanya.
"Yah kakak, semuanya sudah beres. Besok kita pulang kerumah."
tapi di komik menjadi alkemis dan bisa bertarung