WARNING
Semua adegan dewasa di sensor.
My Instagram @Uzay1720 follow me😍
Sesion duanya berjudul Istri Tuan Smith.
Novel baru sang perebut kehormatan
Jangan ada yang plagiat, coba-coba gue santet lu. Tapi kalau terinspirasi bolehlah, bedain yah mana terinspirasi sama plagiat.
Jonathan Smith adalah seorang Mafia terkenal dari Amerika yang pindah ke jepang untuk mengurus beberapa pekerjaan kotornya itu, selama ia berada di Jepang ia menangkap seorang wanita bernama Haruka Kujo yang Jonathan jadikan budak nafsunya.
Haruka sudah berusaha kabur dari rumah Jonathan tapi ia selalu tak pernah berhasil, Haruka sangat membenci Jonathan. Karena Jonathan selalu memperlakukan Haruka dengan kasar, saat Haruka benar-benar sudah muak dan tak kuat dengan perlakuan kasar Jonathan, Jonathan malah jatuh cinta pada Haruka.
Akankah Haruka mencintai Jonathan, atau Jonathan akan terus memaksa Haruka tetap bersamanya walaupun Haruka tak mencintainya.
Yang abis baca sesion
ini lanjut ke sesion selanjutnya yuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Nathan menarik tangan Haruka, padahal saat itu Haruka masih memegang beberapa kresek belanjaan, sampai pada saat Haruka tertarik kreseknya terjatuh ke lantai karena sempat sedikit terseret oleh Haruka.
"Mau bawa aku kemana sih?" tanya Haruka.
Nathan tak menjawab Haruka dan membawa Haruka ke kamarnya, setelah sampai di kamar Nathan mendudukkan Haruka di kasurnya.
"Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Nathan dingin sambil menatap Haruka.
"Aku habis belanja di supermarket," balas Haruka santai, karena ia memang habis belanja di supermarket.
"Kamu belanja apa di supermarket sampai harus di pukuli begini?" tanya Nathan kembali, Nathan tau betul kalau Haruka tadi berantem dan membuat bibir dan pelipis Haruka terluka.
"Oh, ini?" Haruka akhirnya paham dengan apa yang Nathan tanyakan, Haruka memalingkan tatapannya dari hadapan Nathan.
Haruka langsung menceritakan semua kejadian yang terjadi pada Nathan dengan sejujur-jujurnya.
"Jadi begitu ceritanya," ucap Haruka setelah selesai menceritakan kejadian yang mengakibatkannya ia terluka.
Nathan bangun dari duduknya untuk mengambil kotak obat, setelah mengambil kotak obat Nathan kembali duduk di samping Haruka dan membuka kotak obat itu untuk mengobati Haruka.
"Aku gak papah kok, seriusan gak usah di obati," Haruka mengibaskan tangannya beberapa kali sambil memundurkan badannya dari Nathan.
Nathan mengambil kapas yang sudah di beri alkohol sambil menarik pinggang Haruka agar mendekat kembali ke hadapannya, "Diam atau kau aku cium," titah Nathan tegas, setelah bicara seperti itu Nathan langsung mengobati Haruka dengan pelan-pelan.
Haruka yang sudah membuka mulutnya untuk kembali berbicara, langsung menutup bibirnya sambil mengigit bibir bawahnya sendiri. Haruka menatap Nathan yang kini jaraknya sangat dekat di depannya, Nathan membalas tatapan Haruka lalu menekan luka di pelipis Haruka dengan agak keras.
"Ah sakit," rintis Haruka kesakitan.
"Kau ini bagaimana sih? Baru saja tidak bersama ku beberapa jam sudah terluka seperti ini," ucap Nathan yang sudah selesai mengobati Haruka.
Haruka tak menjawab ucapan Nathan, ia hanya terdiam sambil menatap Nathan. Nathan bangun dari duduknya, "Simpan kotak obatnya kembali ke tempatnya," titah Nathan sambil meninggalkan Haruka.
"Kau mau kemana?" tanya Haruka.
Nathan menghentikan langkahnya dan berbalik ke hadapan Haruka, "Bukan urusanmu," balas Nathan dingin.
"Kamu jangan sampai bunuh ketiga orang itu yah? Aku udah kasih mereka pelajaran kok," pinta Haruka.
"Kalau aku mau bunuh mereka bagaimana?" tanya Nathan.
"Aku mohon jangan lakukan itu, apa yang mereka lakukan tidak harus di bayar dengan nyawa," mohon Haruka, ia tak mau kalau mereka bertiga sampai harus kehilangan nyawanya hanya karena dirinya.
Nathan kembali ke hadapan Haruka, Nathan berdiri di hadapan Haruka, Pria itu menarik tangan Haruka agar berdiri. Setelah Haruka berdiri Nathan menyenderkan tubuh Haruka di tembok, "Mereka bertiga harus membayarnya dengan nyawa mereka, karena mereka sudah berani melukai wanitaku," ucap Nathan tegas.
Nathan mencium bibir Haruka dan mengigit pelan bibir atas Haruka, Haruka ikut mengigit bibir bawah Nathan beberapa kali. Nathan menarik pinggang Haruka agar lebih dekat dengannya, Haruka memeluk Nathan dan mengelus punggung Nathan beberapa kali.
Nathan melepaskan ciumannya, "Mulai sekarang jangan pernah pergi tanpa aku lagi," ucap Nathan tegas.
Nathan dan Haruka melepaskan pelukan mereka, Nathan berjalan meninggalkan Haruka. Haruka masih memandangi kepergian Nathan dari hadapannya, "Aku benar-benar tidak mengerti dengan cara berpikirnya, terkadang ia membuatku merasa akulah ratu di rumah ini, tapi juga terkadang ia membuatku berpikir kalau aku hanyalah budaknya saja," gumam Haruka tersenyum tipis.
Haruka berjalan keluar dari kamar Nathan untuk kembali membereskan belanjaannya bersama dengan Fiona di dapur. Sedangkan itu Nathan menghampiri Herry yang ada di ruangan kerjanya, Nathan melempar semua barang-barang yang ada di mejanya ke sembarang arah.
"Dasar pria-pria tidak tau diri, berani-beraninya ia melukai wanitaku," teriak Nathan kesal.
"Kau tangkap mereka sekarang juga," ucap Nathan sambil menatap Herry.
"Tapi maaf, mereka siapa?" Herry belum tau kejadian Haruka tadi.
Nathan menatap Herry dengan tatapan tajam, "Orang yang telah melukai wanitaku," ucap Nathan sambil menekankan setiap katanya.
"Baik saya akan cari tahu, tapi boleh tau di mana lokasi mereka melukai Nona Haruka?" tanya Herry menundukkan kepalanya.
Nathan mengatakan tempat di mana Haruka di lukai oleh ketiga pria brengsek itu, setelah tau alamatnya di mana Herry langsung menugaskan orang lain untuk mencari tahunya sekarang juga. Nathan duduk di kursi dengan keadaan masih kesal dan marah.
"Bukankah aku sudah bilang kalau tak ada orang yang boleh melukai wanitaku selain aku sendiri," teriak Nathan marah.
"Maaf Tuan, tapikan saat Tuan bicara seperti itu mereka tidak ada di sana, dan pastinya mereka tidak mendengar ucapan Tuan," timpa Herry.
Nathan yang mendengar Herry membalas ucapannya langsung menatap tajam ke arah Herry, Herry yang sedang menatap ke arah Nathan pun langsung menundukkan pandangannya karena Herry tau kalau ia pasti salah menjawab ucapan Nathan.
"Aku tidak menyuruhmu untuk menjawab pertanyaan ku, kau lebih baik keluar dari sini sebelum kau mendapatkan mereka bertiga," titah Nathan mengusir Herry.
Herry pergi meninggalkan ruangan Nathan, Herry berjalan menuju dapur untuk cari minum, tenggorokannya terasa sangat kering saat ini. Sesampainya di dapur Herry bertemu dengan Haruka dan Fiona yang sedang memasukkan beberapa makanan ke dalam kulkas.
"Nathan nya mana? Kok kamu enggak sama Nathan?" tanya Haruka sambil menatap Herry.
Herry membalas tatapan Haruka, "Ada di ruangan kerja, saya di usir sama Tuan," balas Herry datar.
Haruka tertawa padahal menurut Fiona dan Herry itu bukanlah hal yang lucu, "Di usir? Kau melakukan apa sampai Tuan mu itu mengusir mu?" tanya Haruka menghentikan tawanya.
"Karena menjawab pertanyaan yang tak seharusnya aku jawab," jawab Herry memalingkan tatapannya.
Haruka mendekat ke arah Herry, tapi Herry malah mundur beberapa langkah saat Haruka sudah dekat di hadapannya, "Nona tolong jangan dekat-dekat denganku, aku tidak mau Tuan Nathan marah lagi padaku," ucap Herry yang melanjutkan mengambil minum.
Haruka terdiam di tempatnya sambil menatap kepergian Herry, "Memangnya sampai segitunya yah?" tanya Haruka masih memandangi Herry.
"Sudahlah jangan pikirkan itu, lebih baik kita lanjutkan saja membereskan makanannya," ucap Fiona.
Haruka yang mendengar ucapan Fiona mulai memasukkan makanan kembali ke dalam kulkas, "Aku khawatir Nathan akan melukai ketiga pria tadi," Haruka mengungkapkan khawatirnya pada Fiona.
"Tapi sepertinya Tuan Nathan akan membawa mereka ke sini," ucap Fiona.
"Akan susah seperti membujuk Nathan agar tidak melakukan itu," Haruka tau kalau membujuk Nathan itu akan sangat susah, bahkan mungkin mustahil.
Ponsel Fiona berbunyi, "Saya angkat telpon dulu sebentar," ucap Fiona pada Haruka, Haruka menganggukkan kepalanya, setelah itu Fiona langsung meninggalkan Haruka.
Fiona pergi ke tempat yang agak sepi untuk mengangkat telpon.