Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Tak lama kemudian, Axel mengetuk pintu kamar mandi dan memberikan tumpukan pakaian bersih yang baru saja tiba. Anna segera membersihkan diri dengan air hangat, membiarkan uap panas mengusir rasa menggigil yang sempat menyerang tubuhnya.
Setelah mengenakan pakaian santai yang terasa sangat lembut di kulitnya, Anna berdiri di depan cermin besar. Tiba-tiba kesadarannya kembali sepenuhnya.
"Tunggu dulu... aku di apartemen pribadi Paman Axel?!" jeritnya tertahan sambil menutup mulut dengan kedua tangan.
Jantungnya mulai berdegup kencang saat potongan kejadian tadi terbayang jelas di benaknya: bagaimana Axel sigap memasangkan jas untuk melindunginya dari hujan, bagaimana pria itu menggendongnya dengan sangat protektif, hingga aroma parfum Axel yang masih tertinggal di indra penciumannya. Sebagai seseorang yang sering membaca novel romance, Anna tidak bisa menahan senyum malu-malunya. Apa ini yang dinamakan cinta? pikirnya dengan pipi yang merona merah.
Anna akhirnya keluar dari kamar mandi dengan langkah ragu. Suasana apartemen itu sangat sunyi. Ia mengedarkan pandangan ke ruang tengah, namun tidak melihat keberadaan Axel. Karena penasaran, ia berjalan menyusuri lorong hingga melihat sebuah pintu yang sedikit terbuka dan memancarkan cahaya lampu redup.
Itu adalah ruang kerja Axel.
Anna mendekat perlahan, hendak mengintip. Namun, baru saja ia berdiri di ambang pintu, Axel yang sedang duduk di balik meja kerja besarnya mendongak. Tanpa peringatan dan dengan gerakan yang sangat cepat, Axel berdiri lalu menarik tangan Anna hingga gadis itu kehilangan keseimbangan.
"Ah—!"
Dalam sekejap, Anna sudah terduduk di pangkuan Axel. Pria itu kembali duduk di kursi kebesarannya sambil melingkarkan satu tangannya di pinggang Anna, mengunci posisi gadis itu agar tidak bisa kabur. Axel menatapnya dengan intensitas yang begitu dalam, membuat Anna merasa seolah-olah oksigen di ruangan itu mendadak hilang.
"Sudah selesai mandinya?" tanya Axel dengan suara rendah yang serak, sementara matanya terus mengunci tatapan Anna, membuat suasana di ruang kerja itu menjadi sangat intim.
Anna mengangguk kecil, kepalanya menunduk karena salah tingkah merasakan posisi mereka yang sangat intim. "S-sudah, Paman," jawabnya pelan.
Axel tidak langsung melepaskan pelukannya. Ia memperhatikan wajah Anna yang polos, yang meski masih terlihat sedikit sembab karena menangis, tetap saja memancarkan pesona yang entah mengapa membuat Axel sulit berpaling. Pria itu menyisir rambut Anna yang masih agak lembap ke belakang telinganya, gerakan yang sangat lembut dan tidak seperti Axel yang biasanya.
"Sekarang katakan padaku," suara Axel kembali berat dan menuntut, namun kali ini ada nada perhatian di dalamnya. "Apa yang terjadi tadi di pesta? Kenapa kau menangis seperti orang yang kehilangan segalanya?"
Anna menelan ludah. Ia ragu, apakah ia harus menceritakan tentang Marco De Luca? Apakah Axel akan percaya? Atau malah menganggapnya berlebihan? Namun, melihat tatapan Axel yang tulus menunggunya bicara, Anna akhirnya menarik napas panjang.
"Tadi... aku bertemu Kiel," suara Anna mulai bergetar. "Dan ayahnya, Marco De Luca, ada di sana juga."
Ia menjeda sejenak, menahan sesak di dadanya. "Mereka... mereka menghina aku. Marco bilang aku gadis rendah yang tidak punya harga diri karena dulu mengejar-ngejar putranya. Mereka mempermalukanku di depan banyak orang, Paman. Aku merasa... aku merasa sangat kotor dan tidak berharga setelah mendengar kata-kata itu."
Anna menunduk, takut melihat reaksi Axel. Ia takut pria di depannya ini akan setuju dengan perkataan Marco, mengingat keluarga Elion dan De Luca berada di lingkaran sosial yang sama. "Aku tahu aku bukan siapa-siapa, tapi mendengar itu secara langsung... rasanya sangat menyakitkan."
Wajah Axel mengeras, aura intimidasinya seketika memenuhi ruangan yang sempit itu. "Kau menyukai putranya?" tanyanya dengan suara rendah yang berbahaya.
Anna segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Dulu... dulu sekali dia memang terlihat tampan," jawabnya jujur namun takut-takut.
"Sekarang dia masih tampan di matamu?" desak Axel lagi, matanya menyipit tajam seolah ingin menembus pikiran Anna.
Anna kembali menggeleng tanpa ragu. "Tidak... Paman bahkan jauh lebih tampan darinya," ucapnya spontan. Begitu kata-kata itu keluar, Anna tersadar dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membulat karena malu.
Axel memberikan seringai tipis yang mematikan. Ia menekan pinggang Anna, menarik tubuh gadis itu hingga tidak ada jarak lagi di antara mereka. Wajah mereka kini sangat dekat, hingga deru napas Axel terasa panas di kulit wajah Anna.
"Benarkah?" bisik Axel tepat di depan bibir Anna.
Anna hanya bisa mengangguk polos, ia benar-benar terpesona oleh ketampanan dan aroma maskulin Axel yang begitu mendominasi. Ia seolah terhipnotis oleh manik mata pria di depannya.
Tanpa memberikan kesempatan untuk Anna berpikir, Axel mencondongkan wajahnya dan mencium bibir Anna. Mata Anna melotot kaget, jantungnya seolah berhenti berdetak saat merasakan sentuhan lembut namun menuntut itu. Axel mulai melumat bibir Anna dengan posesif, seolah ingin menegaskan bahwa mulai detik ini, gadis di pangkuannya ini adalah miliknya dan tidak ada satu pun orang—termasuk keluarga De Luca—yang boleh menyentuhnya lagi.
Tangan besar Axel bergerak perlahan, mengelus punggung Anna yang terbalut kain tipis pakaian santainya, memberikan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuh gadis itu. Ciumannya semakin dalam, penuh lumatan yang menuntut dan mendominasi.
"Balas ciumanku, Anna..." bisik Axel dengan suara serak yang terasa begitu bergetar di sela-sela pagutan mereka.
Anna, yang selama ini hanya membaca tentang adegan romantis di novel, merasa dunianya seolah jungkir balik. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mulai membalas ciuman Axel meski gerakannya terasa kaku dan polos. Namun, hal itu justru semakin membakar gairah dalam diri Axel.
Axel melepaskan ciumannya perlahan, lalu beralih menyusuri rahang Anna menuju leher jenjang gadis itu. Ia menghirup aroma tubuh Anna yang bercampur dengan wangi sabun dan uap air hangat—aroma yang membuatnya kehilangan kendali. Saat bibir Axel mulai memberikan kecupan-kecupan panas dan gigitan kecil di sana, Anna refleks mendongakkan kepalanya, memberikan akses lebih luas bagi pria itu.
"Nngghh... P-Paman..." desahan kecil lolos dari bibir Anna, suaranya terdengar sangat manis namun pasrah di telinga Axel.
Suara itu seolah menjadi pemantik bagi Axel. Tangannya yang berada di pinggang Anna perlahan naik ke atas, menyusup di bawah kain bajunya. Telapak tangan Axel yang hangat kemudian menyentuh kulit lembut di area dada Anna dan memberikan remasan yang cukup kuat namun penuh perasaan.
"Aaah!" Anna terkesiap, tubuhnya melengkung kecil di pangkuan Axel saat merasakan sentuhan yang begitu intim dan asing itu. Jantungnya berdegup sangat kencang, antara rasa takut yang masih tersisa dan perasaan baru yang meledak-ledak di dalam dadanya.