Elizabeth Zamora atau yang biasa di panggil dengan Liz telah terjebak dalam pernikahan kontrak yang membawa dia pada titik terendah dalam hidupnya.
Akankah Liz bisa melalui takdir yang telah digariskan semesta untuknya ??
Happy Reading 💜
Enjoy 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Malam ini, Tama tidur dengan sangat nyenyak. Bayangan wajah Yurike yang kaget ketika Tama menyinggung soal 'kekasih' nya terus berputar dibenak pria itu. Tama merasa sudah waktunya untuk mengambil keputusan jika dia ingin mempertahankan Liz di hidupnya.
"Liz, aku mohon tunggu sedikit lagi. Aku akan menyelesaikan urusanku dengan Yurike." Gumam Tama sambil menatap foto Liz yang dia ambil secara sembunyi-sembunyi di ponselnya.
🌻
Keesokan paginya.
Awan hitam masih menggantung meski hujan sudah turun semalaman. Liz sudah siap pergi ke rumah sakit lagi untuk menjaga Ibu tanpa takut mengganggu pekerjaan lagi.
Liz keluar dari rumah setelah ojek online yang dia pesan tiba.
"Ini helmnya, Mbak." Ucap pengemudi ojek itu sambil memberikan helm pada Liz.
Liz memakainya lalu duduk di atas jok motor.
Sampai dirumah sakit, Liz langsung menuju ruang perawatan.
"Liz, Ibu mau pulang." Baru saja Liz masuk keruangan, Ibu langsung merengek minta pulang.
"Bu, Liz nggak bisa ngerawat Ibu kalau dirumah. Dokter yang lebih paham. Sabar ya, Bu. Nanti Liz coba bicara sama dokter, kapan Ibu dibolehin pulang lagi." Liz mengusap kepala Ibu sambil memaksakan senyumnya.
Setelah itu Liz menyuapi Ibunya makan.
"Nak, sejak kemarin Ibu nggak lihat suami kamu. Apa dia tahu Ibu dirawat lagi ?"
"Tama tahu, Bu. Tapi dia sibuk, pekerjaannya sedang banyak." Jawab Liz tanpa memberi jeda.
"Oh. Ibu pikir kalian sedang ada masalah,"
Liz kembali menyuapi bubur ke mulut Ibu.
"Nggak, Bu." Jawabnya tanpa menunjukkan ekspresi yang berarti.
"Oh iya, Liz. Yurike apa kabar ? Bisa tolong kamu hubungi Yurike, katakan kalau Ibu kangen."
Suasana hening beberapa saat.
Mata Liz bergetar menatap sendok di genggaman.
"Ibu habiskan dulu makannya, ya." Ucapnya mengabaikan permintaan Ibu.
"Kamu kenapa sih ? Dari tadi Ibu ajak bicara, nggak semangat begitu ? Kamu pasti sedang ada masalah, cerita nak, jangan kamu pendam."
Liz menelan ludah, tapi tenggorokannya terasa kering-kerontang.
"Yurike itu sahabat baik kamu, nak. Jangan sampai persahabatan kalian hancur hanya karena kesalahpahaman. Ayo hubungi sekarang, kamu minta maaf sama dia." Titah Ibu.
Liz terpaku, matanya masih lurus menatap mangkuk bubur ditangan. Ada dentuman rasa nyeri didadanya. Minta maaf ? Ibu menyuruhnya minta maaf ? Minta maaf atas kesalahan yang tidak pernah dia perbuat.
"Bu, bisa tidak kita tidak bicarakan itu dulu. Ibu fokus saja pada pengobatan agar cepat sembuh." Suara Liz hampir pecah, tapi Ibu tiba-tiba melipat wajah.
"Yasudah." Ibu beraring kembali, "Kamu keluar dulu saja. Ibu mau istirahat sambil nunggu dokter." Usir Ibu. Meski nadanya pelan tapi kalimatnya menusuk. Baru kali ini Ibu bersikap sekeras ini pada putri semata wayangnya.
Liz menghembuskan nafas berat, meletakkan nampan berisi makanan Ibu di atas nakas.
"Liz diluar ya, Bu. Kalau butuh sesuatu panggil saja."
Ibu memalingkan wajah, membiarkan Liz pergi dengan rasa bersalah.
Liz duduk di kursi yang ada di koridor. Menyandarkan punggung di kursi besi yang dingin.
"Bu, seandainya Ibu tau siapa Tama. Ibu pasti sangat kecewa padaku. Maafkan aku, Bu." Liz memejamkan mata, setitik kristal bening jatuh di sudut mata wanita itu.
"Selamat pagi, Nona Liz." Dokter Ridwan, dokter yang berjaga shift pagi disana menyapa Liz.
Liz sedikit terperanjat.
"Selamat pagi, dok." Liz menyapa balik, air matanya dia sembunyikan lagi. "Mari, dok." ucap Liz mempersilahkan dokter masuk lebih dulu ke kamar Ibu.
"Dokter, saya mau pulang. Saya udah nggak betah disini," Ketika dokter Ridwan sedang memeriksa tanda vital Ibu, Ibu malah merengek lagi.
dokter Ridwan tersenyum tipis lalu berkata, "Loh, kok mau pulang, Bu ? Memang nya nggak betah disini ? Disini kan enak, makan tinggal makan, tidur tinggal tidur."
Ibu nampak kesal dengan candaan dokter, "apanya yang enak, dok ?! Wong saya disuntikin terus. Dokter nggak liat kulit saya udah biru-biru begini ?!"
Liz mencoba menenangkan, "Bu, udah bu. Jangan marah-marah terus,"
Ibu menepis tangan Liz, "Diam kamu! Kamu sama saja. Kamu lebih suka melihat Ibu kesakitan, kan ?!"
Sesaat, Liz mematung.
Dokter Ridwan menasehati, "Bu, jangan bicara begitu. Putri Ibu ini sangat menyayangi Ibu. Buktinya Nona Elizabeth langsung mengambil tindakan cepat ketika tahu kondisi Ibu kembali mengkhawatirkan."
Setelah memeriksa Ibu Nira, dokter pun keluar dari ruangan bersama suster dan Liz.
"Yang sabar ya, Nona Liz. Kondisi kesehatan Ibu Nira sepertinya telah mempengaruhi suasana hatinya."
Liz mengangguk, samar.
"Terimakasih, dok."
Setelah dokter pergi, Liz kembali duduk di kursi tunggu. Dia tidak berani masuk lagi karena tidak sanggup mendengar ucapan Ibu yang mungkin akan jauh lebih menyakitkan.
Liz menunduk, memainkan ponselnya, tanpa sadar langkah berat seseorang semakin dekat menghampiri kursinya.
Melihat sepasang kaki berdiri tepat dihadapannya membuat Liz reflek mendongak.
Tama.
Pria jangkung itu menatapnya, jantung Liz mulai berdebar tidak nyaman.
"Aku antar kamu ke kantor,"
Liz membuang pandangan ke sisi lain, "Aku sedang cuti." Dustanya.
Tama tersenyum miring, "Cuti atau sudah resign ?!"
Dalam hitungan detik, seluruh tubuh Liz terasa panas dingin.
Liz kembali mendongak, "Kamu tahu ?!"
"Aku selalu tahu semua yang berhubungan denganmu." Balasan Tama datang dengan cepat tanpa jeda.
Mata Liz sontak membelalak, "Kalau kamu tahu, kenapa menawarkan ?"
"Hanya ingin mengetes kejujuranmu."
"Dan yang kamu dapat justru kebohongan ku ?!"
Tama duduk, disamping Liz, "Aku tahu kamu pasti punya alasan menyembunyikan hal itu dariku."
Liz menggigit bibir pelan. Tidak mengerti. Lelaki ini tahu istri kontraknya berbohong tapi tidak mempermasalahkan?
"Bagaimana keadaan Ibu ?"
"Jauh lebih baik dari kemarin."
"Lalu... bagaimana keadaanmu ?"
Liz langsung menunduk. Tangannya mendadak dingin.
"Aku sudah mengajukan gugatan cerai lewat pengacaraku."
Hening panjang menggantung.
Liz menggenggam ponsel sampai sendinya memutih. Bahunya menegang. Matanya berkedip terlalu pelan, seperti otaknya sedang memproses sesuatu dengan cemas.
"Aku tidak tahu harus memberi respon seperti apa," kata Liz, terus terang.
"Kamu cukup ada disampingku, jangan pernah berpikir untuk menghindar lagi."
"Aku takut." Liz menelan kepahitan itu.
"Aku akan menjadi garda terdepan untukmu. Serahkan semuanya padaku."
Tama menggenggam tangan Liz dan didetik itu Liz tidak bisa menahan diri untuk tidak membalasnya, membuat Tama tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.
"Setelah akta cerai terbit, aku akan langsung menghapus kontrak! Nenek dan pengacara keluarga akan menjadi saksi."
"Bagaimana kalau Ibu tahu ?"
"Aku yang akan menjelaskan pada Ibu."
"Lalu... Nenek ? Syarat itu..."
Tama tiba-tiba mencium punggung tangan Liz, membuat darah Liz berdesir sampai keubun-ubun, "Kekhawatiran mu terlalu banyak. Mulai sekarang, cukup pikirkan aku. Sisanya biar menjadi urusanku!"