Lampu kristal yang menggantung di ruang tengah kediaman keluarga Arkatama tidak pernah benar benar mampu menghangatkan dingin yang membeku di antara Kyna dan Julian. Lima tahun pernikahan seharusnya menjadi perayaan tentang kesetiaan namun bagi Kyna itu adalah lima tahun pengabdian dalam sunyi yang mencekam. Tepat pada malam peringatan pernikahan mereka sebuah kebenaran pahit terkuak melalui celah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Di sana di bawah kucuran air yang menderu Kyna mendengar suaminya menggumamkan satu nama yang selama ini menjadi hantu tak kasat mata dalam hidup mereka yakni Elara sang cinta pertama yang baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah air.
Julian adalah pria yang membangun tembok es di sekeliling hatinya namun bagi Elara pria itu bersedia menjadi api yang menghangatkan. Setiap kali Julian pergi dengan alasan membantu seorang teman yang sedang kesulitan Kyna hanya mampu menjawab dengan seulas senyum tipis dan kata kata pendek yang menyembunyikan luka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
Aldrian tidak menjawab. Namun, sedetik kemudian, tangannya bergerak mematikan audio mobil secara sepihak. Musik seketika mati, meninggalkan keheningan yang teramat pekat di dalam kabin, hanya menyisakan suara isak tangis Kyna yang bergetar di antara deru mesin mobil yang melaju membelah jalanan malam Kota Hatam.
Cengkeraman tangan Aldrian pada kemudi mengetat begitu kuat hingga guratan urat di punggung tangannya tercetak jelas. Lirik lagu tadi seolah menelanjangi semua borok tersembunyi dalam pernikahan mereka. Aldrian tahu lagu itu menceritakan tentang penyesalan seorang pendosa, dan setiap baitnya terasa seperti cermin yang memantulkan bayangan dirinya sendiri selama lima tahun ini.
"Aku tidak bermaksud menyiksamu, Kyna," ujar Aldrian akhirnya, suaranya terdengar sangat rendah dan serak, seolah ada beban berat yang menahan tenggorokannya. Matanya tetap lurus menatap jalanan di depan, menolak untuk menoleh karena dia tahu dia tidak akan sanggup melihat air mata Kyna yang mengalir deras.
Kyna menurunkan tangannya yang basah, menatap siluet samping wajah Aldrian melalui pandangannya yang kabur oleh air mata.
"Lalu apa sebutannya untuk semua ini, Aldrian? Lima tahun!" suara Kyna naik satu oktav, serak oleh tangis dan emosi yang membuncah. "Setiap hari di rumah itu, setiap kali keluargaku mengemis uang padamu dengan membawa-bawa namaku, aku merasa seperti ditarik kembali ke malam kecelakaan itu. Kamu membayar mereka, mereka menerimanya dengan serakah, dan aku yang harus menanggung rasa malunya! Kamu bilang ini bukan siksaan?!"
Aldrian menginjak pedal gas sedikit lebih dalam, mencoba melarikan diri dari konfrontasi kata-kata Kyna yang menusuk tepat di ulu hatinya. "Keluargamu adalah tanggung jawabku karena kamu adalah istriku. Berapa kali harus kukatakan, Kyna? Uang-uang itu... semua fasilitas itu adalah hakmu. Aku tidak pernah menganggapnya sebagai transaksi."
"Tapi aku menganggapnya begitu!" potong Kyna cepat, napasnya memburu sesak. Dia memalingkan wajahnya ke jendela, menempelkan dahi pada kaca yang dingin, mencoba meredam denyut menyakitkan di kepalanya. "Aku lelah menjadi alasan bagi keserakahan orang lain. Aku lelah melihatmu bertingkah seperti malaikat pelindung, padahal kita berdua tahu... kamu hanya sedang mengobati rasa bersalahmu sendiri."
Aldrian terdiam. Rahangnya mengeras, dan keheningan kembali menguasai mobil hingga mereka tiba di pelataran parkir bawah tanah apartemen mewah mereka.
Begitu mobil berhenti sempurna, Kyna langsung membuka pintu tanpa menunggu Aldrian. Dengan langkah kakinya yang pincang dan sedikit tidak stabil, dia berjalan cepat menuju lift, ingin segera mengunci diri di dalam kamar tamu dan menjauh dari pria itu.
Namun, Aldrian bergerak lebih cepat. Sebelum pintu lift sempat tertutup, pria itu menyelinap masuk, menghalangi tubuh Kyna dengan postur tubuhnya yang tinggi besar. Wajah Aldrian tampak sangat letih, namun ada binar keras kepala yang tak terbantahkan di matanya.
"Kita belum selesai bicara, Kyna," desis Aldrian saat lift mulai bergerak naik.
Kyna bersandar pada dinding lift, menatap suaminya dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya. "Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Aldrian. Keputusanku sudah bulat. Sisa waktu 29 hari yang kauberikan... aku tidak akan berubah pikiran. Aku akan pergi."
Mendengar angka "29 hari" disebut kembali, kilat kepanikan yang samar sempat melintas di mata Aldrian, sebelum akhirnya digantikan oleh senyuman dingin yang biasa dia gunakan di dunia bisnis. Pria itu melangkah maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka hingga Kyna bisa merasakan kehangatan napasnya.
"Kamu mau pergi ke mana, Kyna?" tanya Aldrian dengan nada meremehkan yang sengaja dibuat-buat untuk menyembunyikan ketakutannya. "Tanpa dukungan finansial dariku, dengan kaki seperti itu... kamu pikir kamu bisa bertahan hidup di luar sana sendirian? Kamu bahkan tidak punya pekerjaan."
Kyna menatap lurus ke dalam manik mata gelap Aldrian. Alih-alih merasa terhina oleh ucapan suaminya, dia justru merasakan sebuah kekuatan baru yang mengalir di dalam dadanya. Pria ini benar-benar tidak tahu tentang hasil ujian bahasa Prancis tingkat C1 yang disembunyikannya di laci rias, atau tentang email konfirmasi dari komite tari di Paris yang kini tersimpan aman di ponselnya.
"Kita lihat saja nanti, Pak Aldrian," jawab Kyna, suaranya mendadak berubah menjadi teramat tenang dan datar. "Kamu mungkin bisa membeli seluruh keluargaku dengan uangmu, tapi kamu tidak akan pernah bisa membeli kebebasanku lagi."
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai apartemen mereka. Kyna langsung melangkah keluar terlebih dahulu, meninggalkan Aldrian yang terpaku di dalam lift dengan perasaan tidak menentu yang mendadak mencengkeram dadanya.
Kyna berjalan cepat memasuki apartemen dan langsung menuju kamar tamu untuk mengunci pintu. Namun, saat dia menyalakan lampu kamar, dia terkejut melihat laci meja rias paling bawahnya sudah dalam keadaan sedikit terbuka—tempat di mana dia menyembunyikan amplop dokumen hasil ujian bahasa Prancis dan paspor lamanya. Di atas meja rias, terdapat sebuah ponsel lain milik Aldrian yang tertinggal dalam kondisi layar menyala, menampilkan sebuah rekaman suara rahasia yang tidak sengaja terputar, memuat percakapan antara Aldrian dan pengacaranya sebulan lalu: "Pastikan visa dan dokumen keberangkatan Kyna ke luar negeri dipersulit oleh pihak imigrasi. Aku tidak peduli berapa banyak uang yang harus kita keluarkan, dia tidak boleh meninggalkan negara ini tanpa izin dariku."