Alya—gadis 20 tahun, terpaksa bekerja menggantikan ibunya yang sakit keras. Ia menjadi seorang pelayan di sebuah mansion mewah milik seorang pria kaya yang terkenal dingin dan arogan.
Suatu hari keduanya bertemu.
Maxime, pemilik rumah tersebut jatuh cinta pada gadis itu dan memintanya untuk menikah dengannya.
Namun, Alya menolak, karena merasa dipermainkan oleh pria itu.
Pria itu tidak menyerah, ia melakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya.
Apakah pria itu akan berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab tiga puluh lima.
Sesi pemotretan akhirnya di mulai. Para kru tampak sibuk mempersiapkan semua peralatan photoshoot yang diperlukan.
Lampu-lampu studio mulai menyala satu per satu, memancarkan cahaya terang yang hangat. Latar belakang telah dipersiapkan dengan nuansa elegan, perpaduan warna nude dan sentuhan emas yang memberi kesan mewah, sesuai dengan konsep make-up series terbaru milik Maxime.
Alya berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan bayangan dirinya. Riasan flawless dengan sentuhan soft glam, membuat wajahnya tampak lebih dewasa dan memikat. Rambutnya di tata sederhana namun terlihat anggun, menjuntai lembut di bahunya. Gaun yang ia kenakan, membalut tubuhnya dengan pas.
Namun, entah kenapa ia merasa tidak percaya diri dengan penampilannya itu. Perasaannya terus gelisah dan didera rasa gugup yang berlebihan.
Tangannya tak berhenti gemetar sejak tadi. Ia takut jika nantinya ia hanya akan menjadi beban untuk semua orang.
Di sisi lain, tiga wanita lainnya juga tak kalah menawan. Masing-masing membawa karakter yang berbeda, ada yang terlihat bold, ada yang manis, dan ada pula yang elegan. Mereka semua adalah representasi dari varian produk yang akan dipromosikan.
"Siap, kita mulai dari Nona Lora dulu." suara fotografer terdengar tegas namun ramah. "Anda yang paling punya pengalaman di antara lainnya. Jadi, Anda bisa memberi contoh beberapa gerakan photoshoot pada mereka."
Lora terlihat penuh percaya diri. Ia tampak luwes berpose di depan kamera. Gerakannya sama sekali tidak terlihat kaku. Sang fotografer tidak perlu memberi arahan terlalu banyak padanya. Mungkin karena latar belakang Lora yang juga seorang model.
Sikap Lora yang penuh percaya diri, membuat Alya semakin merasa rendah diri. Ia tidak yakin apakah bisa melakukannya atau tidak.
Ia melirik sejenak ke arah Maxime yang duduk di sudut ruangan, kakinya disilangkan dengan santai, namun sorot matanya tampak tajam mengamati. Setiap detail tak luput dari perhatiannya, dari sudut wajah, ekspresi hingga gerakannya.
"Chin up sedikit... good... Tatap kamera... ya, seperti itu."
Suara fotografer tampak mengarahkan.
Klik. Klik. Klik.
Suara jepretan mulai terus berbunyi, membuat Alya semakin diliputi kegugupan. Jemarinya tangannya saling bertaut gelisah tanpa sadar.
"Ok. Kerja bagus, Nona Lora." ucap sang fotografer tampak puas. "Kita lanjut ke model berikutnya."
Kali ini giliran Sera. Gadis itu masih terbilang muda. Mungkin seusia dengan Alya. Ia terlihat sangat energik dan ceria. Gayanya yang dibuat manis, memanjakan setiap kamera dengan penuh percaya diri.
Sera berdiri di tengah set dengan senyum cerah yang tak pernah lepas dari wajahnya. Riasannya dibuat lebih fresh, dengan di dominasi warna pink peach yang cerah, menonjolkan kesan youthful yang menjadi konsepnya.
"Oke, Sera. Kita ambil vibe yang fun ya. jangan terlalu kaku." ucap sang fotografer itu.
"Siap." jawab Sera cepet, bahkan sempat tertawa kecil.
Klik. Klik.
Setelah Sera, giliran wanita ketiga, Nadine Kartika, seorang ibu rumah tangga sekaligus seorang YouTober. Ia melangkah maju dengan tenang, membawa aura yang berbeda dari dua model sebelumnya.
Nadine Kartika tidak hanya tampil sebagai seorang wanita cantik, tapi juga sebagai sosok yang matang dan berkarakter. Statusnya sebagai ibu rumah tangga sekaligus YouTuber membuatnya terbiasa tampil di depan kamera, namun kali ini jelas berbeda. Ini bukan sekadar konten pribadi, ini adalah panggung profesional.
Gayanya memang sedikit kaku, tapi ia tahu bagaimana caranya berpose di depan kamera dan memainkan ekspresi matanya, hingga terasa kuat dan berkarakter.
Ia mengangkat dagu sedikit, lalu menyilangkan tangan di depan tubuhnya. Tidak banyak gerakan, tapi setiap pose terasa “berbicara”.
Kini tiba giliran Alya. Perhatian Maxime yang sedari tadi tidak lepas darinya, kini terasa semakin nyata.
"Nona Alya, sekarang giliran Anda." ucap sang fotografer.
Langkah Alya terasa berat saat ia berjalan menuju set. Jantungnya berdetak semakin cepat, seolah hendak melompat keluar.
Ini pertama kalinya bagi Alya, berpose di depan kamera.
Ia berdiri di titik yang sudah ditandai, namun tubuhnya terasa kaku. Tangannya bingung harus diletakkan di mana. Wajahnya kehilangan ekspresi.
Lampu-lampu yang tadinya terasa hangat, kini justru terasa menyilaukan.
"Oke, Alya. Coba sedikit lebih rileks." ucap fotografer, mencoba untuk menenangkan.
Namun, Alya malah tidak bergerak. Ia berdiri seperti patung.
Ia benar-benar tidak tahu caranya berpose. Ia bingung harus menatap ke arah mana. Ia hanya melihat kamera didepannya dengan ekspresi wajah yang kaku. Semua orang kini tampak memperhatikannya.
Rasa gugup itu berubah menjadi tekanan. Keringat dingin mulai mengalir dari pelipisnya. Napasnya tidak teratur, tangannya sedikit gemetar.
"Nona Alya." panggil fotografer itu pelan.
Tidak ada respon. Wajah gadis itu malah semakin pucat.
Di sudut ruangan, Maxime yang sedari tadi memperhatikan Alya, segera bangkit dari kursinya, menghampiri Alya.
"Tahan." ucap Maxime singkat pada fotografer itu. "Beri kamu waktu sebentar."
Ruangan mendadak hening. Namun, tidak benar-benar hening sepenuhnya. Beberapa orang tampak berbisik kecil satu dengan lainnya.
Mungkin sedang menebak-nebak apa sebenarnya hubungan Alya dengan bos mereka.
Maxime membawa Alya menjauh dari set, tapi tidak meninggalkan ruangan itu. Ia berdiri di hadapannya dengan cukup dekat. Hingga pria itu bisa merasakan hembusan napasnya yang tidak teratur.
"Tenangkan dirimu Alya. Kau terlalu memikirkan semua orang yang ada di sini." ucap Maxime pelan.
Alya masih diam di tempatnya.
"Lupakan mereka."
"Sa-saya tidak bisa, Tuan. Saya takut..."
"Aku sudah bilang, rasa takut tidak akan membawamu kemana-mana, Alya."
Pria itu menghela napas pendek, lalu sedikit menunduk agar sejajar dengannya.
"Dengar." katanya pelan, namun jelas. “Kau tidak perlu jadi orang lain."
Tatapannya melembut, namun tetap kuat.
"Cukup jadi dirimu sendiri."
Kata-kata itu terdengar sederhana, namun entah kenapa menghantam tepat di dadanya.
"Tatap kamera seperti kau sedang menatap seseorang yang kau percaya." lanjutnya. "Jangan pikirkan pose. Biarkan ekspresimu yang bicara."
Alya masih menatapnya. Degup jantungnya mulai terdengar stabil, walau masih cepat dan kacau.
"Dan satu lagi." lanjut Maxime.
Alya menunggu.
"Kau lebih baik dari yang kau kira."
Hening.
Namun, kali ini bukan sunyi yang menekan, melainkan yang menenangkan.
Maxime mundur selangkah, seolah ingin memberinya ruang.
"Sekarang coba lagi."
Alya menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Lalu, ia memejamkan matanya sejenak, mencari ketenangannya sendiri. Dan saat membuka mata, ada sebuah keberanian yang mulai muncul.
Alya kembali berjalan ke set. Ia mulai menatap kamera yang diarahkan padanya.
"Oke, Nona Alya. Kita coba sekali lagi." ucap fotografer itu.
"Naikkan dagu sedikit... oke, good. Tatap kamera... iya, benar."
Walaupun gerakannya masih terlihat kaku, namun setidaknya ia sudah berani mencoba.
Klik. Klik. Klik.
Suara kamera terus terdengar. Alya mulai terbawa suasana. Ia memiringkan wajah perlahan, memainkan ekspresinya.
Dari kejauhan, Maxime sedikit menyipitkan mata, seolah sedang menilainya. Sudut bibirnya terangkat tipis, nyaris tidak terlihat, tapi cukup untuk menunjukkan kepuasan.
Istriku memang terbaik...
🌺🌺🌺
Udah di klaim istri aja ya, Max. 🤭
kalo pengen tahu kelanjutan hubungan Alya-maxime. Jangan lupa tinggalkan jejak ya.
Biar aku semangat nulisnya..❤️❤️
Bonus gambar.
mengalihkan duniakuu~