(SEASON 2)
Dengan Inti Emas Iblis di Dantian-nya, Shen Yuan kini meninggalkan benua kelahirannya. Ia melangkah menembus Gerbang Lintas Benua menuju jantung peradaban Sembilan Cakrawala, siap membawa badai darah mematikan bagi para dewa palsu yang pernah merenggut segalanya darinya. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kematian Sang Pewaris
Sisa seribu anak tangga terakhir menuju gerbang utama Kuil Dewa Perak tidak lagi bersinar dengan warna pualam putih yang suci. Kematian Pelindung Bintang Dua—sang dewa penjaga yang baru saja dihisap esensinya hingga menjadi kerangka layu—telah mewarnai malam itu dengan teror mutlak yang mencekik paru-paru setiap orang.
Tap... Tap... Tap...
Langkah kaki Shen Yuan bergema pelan namun menggetarkan jiwa. Ujung Pecahan Gigi Naga yang ia seret di atas anak tangga memercikkan bunga api kecil di tengah kegelapan. Darah dan keringat telah mengering di jubah hitamnya, namun hawa murni dari Ranah Peleburan Jiwa Puncak Tahap Menengah yang memancar darinya begitu pekat, seolah-olah ia adalah pusat dari pusaran lubang hitam yang siap menelan gunung tersebut.
Di atas paviliun melayang yang berjarak hanya puluhan tombak dari gerbang utama, Tuan Muda Bai Chen tersungkur di lantai giok. Cangkir araknya telah lama pecah. Wajah yang dulunya dipenuhi oleh kesombongan seorang pangeran alam atas kini berubah menjadi topeng keputusasaan yang sangat menjijikkan.
"P-Paman Pelindung Bintang Dua... mati...?" Bai Chen menggigil hebat. Gigi-giginya bergemeretak, matanya tak bisa lepas dari sosok pemuda berjubah hitam yang terus mendaki mendekatinya. "T-Tidak mungkin! Dia hanya pengelana kumuh! Dia hanyalah kuali darah yang kubawa dari bawah! Bagaimana mungkin dia bisa membunuh ahli Pemisahan Duniawi?!"
Penatua Pengawal, yang berdiri di samping Bai Chen, wajahnya tak kalah pucatnya. Ia adalah ahli di Puncak Ranah Pembentukan Inti Emas yang ditugaskan melindungi sang Tuan Muda dari segala ancaman. Kini, menatap sosok yang baru saja memusnahkan salah satu Pelindung Bintang terkuat, lutut Penatua Pengawal itu terasa selembek kapas.
"T-Tuan Muda Bai Chen... kita harus segera mundur ke dalam pelindung Kuil Utama!" Penatua Pengawal menarik lengan Bai Chen dengan panik. "Leluhur Tertinggi dan Pelindung Bintang Satu pasti sudah merasakan riak kehancuran ini! Jika kita tetap di sini, kita akan mati!"
"B-Benar! Bawa aku masuk! Cepat!" Bai Chen meronta, berusaha bangkit berdiri.
Namun, sebelum mereka sempat memutar tubuh...
"Kalian mengundangku ke rumah kalian. Mengapa kalian ingin pergi saat tamunya baru saja tiba di depan pintu?"
Suara itu terdengar sangat pelan, sedingin es dari dasar Ngarai Angin Membeku, namun ia bergema langsung di dalam lautan kesadaran mereka.
Wussshhh!
Sebuah tekanan jiwa yang luar biasa mengerikan turun dari udara, mengunci ruang di sekitar paviliun melayang tersebut. Penatua Pengawal dan Bai Chen seketika membeku. Tubuh mereka seakan ditimpa oleh seratus gunung batu.
Shen Yuan tidak melompat. Ia menapaki anak tangga terakhir dan kini berdiri tepat di pelataran puncak, berhadapan langsung dengan paviliun tempat Bai Chen berada.
"Kau..." Penatua Pengawal menggertakkan giginya hingga berdarah, memaksakan hawa murni Inti Emasnya untuk menahan tekanan jiwa tersebut. Ia mencabut pedang peraknya, menatap Shen Yuan dengan niat membunuh yang dipaksakan oleh ketakutan. "Iblis! Kuil Dewa Perak memiliki puluhan ahli Pemisahan Duniawi! Kau tidak akan pernah bisa keluar dari gunung ini hidup-hidup!"
Shen Yuan memiringkan kepalanya sedikit. Matanya yang segelap obsidian menatap Penatua Pengawal tanpa secuil pun emosi.
"Anjing penjaga sepertimu tidak memiliki hak untuk menggonggong," bisik Shen Yuan.
Penatua Pengawal menelan ludah. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras. "M-Mati kau! Pedang Bintang—"
Sutra Penelan Surga, Putaran Rantai Hantu!
Sebelum Penatua Pengawal sempat mengayunkan pedangnya, seutas rantai hawa murni merah kehitaman melesat dari tubuh Shen Yuan dengan kecepatan membelah ruang. Rantai itu tidak menangkis pedang sang Penatua, melainkan langsung menembus dadanya dan melilit jantungnya di dalam!
Jleb!
"Ukh...!" Penatua Pengawal membelalakkan matanya lebar-lebar. Pedang peraknya jatuh berdentang ke lantai.
"Sebagai rasa terima kasihku atas sambutan hangat kalian..." Shen Yuan mengepalkan tangan kanannya perlahan. "...aku akan memberimu kematian yang setara."
"Tidaaaaak!"
Pusaran hisapan yang sangat kejam meledak di ujung rantai tersebut. Hawa murni Inti Emas, esensi darah, dan jiwa Penatua Pengawal disedot keluar secara brutal! Tubuhnya terbakar dari dalam oleh gesekan energi yang ditarik paksa, mengubah darahnya menjadi uap sebelum ia sepenuhnya mengering menjadi kerangka layu.
Dalam tiga tarikan napas, seorang ahli Puncak Inti Emas yang ditakuti ribuan murid telah berubah menjadi debu abu-abu yang tersapu oleh angin malam.
Menyaksikan pelindungnya musnah menjadi debu di depan matanya sendiri, kewarasan Bai Chen benar-benar hancur. Pemuda berambut perak itu jatuh berlutut, air mata dan ingus mengalir membasahi wajahnya yang tampan. Genangan air berwarna kuning mulai merembes dari balik jubah sutranya. Ia telah mengompol karena teror mutlak.
Shen Yuan melangkah perlahan ke atas paviliun. Setiap langkahnya membuat lantai giok itu retak memanjang.
Ia berdiri tepat di hadapan Bai Chen, menatap ke bawah bagaikan kaisar maut yang menatap seekor belatung.
"M-Mo Yuan... T-Tuan Mo Yuan!" Bai Chen bersujud berulang kali, membenturkan dahinya ke lantai giok hingga berdarah. Kesombongannya sebagai pangeran alam atas telah lama mati. "A-Ampuni aku! Aku buta! Aku tidak tahu bahwa kau adalah naga yang menyamar! Tolong, jangan bunuh aku! Jika kau membunuhku, Pamanku... Pelindung Bintang Tujuh Bai Luo tidak akan pernah melepaskanmu! Dia akan menyiksamu hingga jiwamu hancur!"
Mendengar nama Bai Luo diucapkan dengan nada ancaman keputusasaan itu, seulas senyum iblis yang sangat kejam terukir di bibir Shen Yuan.
"Pamanmu?" Shen Yuan berjongkok, tangan kirinya menjambak rambut perak Bai Chen dan memaksa Tuan Muda itu untuk menatap wajahnya. "Kau masih berharap pada perlindungan pamanmu?"
Shen Yuan merogoh Kantong Qiankun-nya dengan tangan kanan, menarik keluar sebuah benda, lalu melemparkannya tepat ke pangkuan Bai Chen.
Itu adalah Cincin Giok Pusaka berwarna perak yang memiliki ukiran tujuh bintang.
Mata Bai Chen membulat nyaris keluar dari rongganya saat ia mengenali cincin tersebut. Itu adalah cincin jati diri mutlak milik pamannya, Bai Luo! Cincin yang tidak akan pernah lepas dari jarinya kecuali ia telah mati!
"T-Tidak... ini tidak mungkin... Paman... Paman Bai Luo adalah ahli Peleburan Jiwa yang agung!" Bai Chen meratap histeris, menatap cincin itu seolah menatap hantu.
"Pamanmu sudah lama menunggumu di neraka," bisik Shen Yuan sedingin es purbakala. "Dan tahukah kau mengapa aku membunuhnya? Karena namaku bukan Mo Yuan."
Shen Yuan mencondongkan wajahnya lebih dekat, membiarkan aura pembantaian yang ia kumpulkan selama sepuluh tahun terakhir mengalir menembus pori-pori Bai Chen.
"Sepuluh tahun yang lalu, pamanmu turun ke Benua Awan Gelap. Di sebuah ngarai berbatu, ia memenggal leher seorang pria demi selembar peta usang. Pria itu adalah ayahku, Shen Jian. Dan aku, Shen Yuan, adalah anak dari semut fana yang kalian hina."
Seketika itu juga, dunia di mata Bai Chen seolah runtuh.
Anak dari fana alam bawah yang dibunuh pamannya?! Pemuda yang memusnahkan Pelindung Bintang Dua dan meratakan pasukan pilihan mereka ini... adalah bibit dendam yang ditanam oleh pamannya sendiri sepuluh tahun yang lalu?!
"S-Shen Jian... k-kau putranya...!" Bai Chen tergagap putus asa. Ia tahu, tidak ada ruang perundingan di dunia ini. Hutang darah hanya bisa dibayar dengan darah.
"Aku sudah mengatakan padamu di kuali waktu itu, bukan?" Shen Yuan berdiri tegak, membiarkan Bai Chen merosot lemas ke lantai. "Kalian yang memberiku tumpangan gratis melewati susunan aksara pertahanan sekte kalian."
Shen Yuan mengangkat Pecahan Gigi Naga. Roh Pedang di dalam bilah berkarat itu berdengung buas, mencium aroma ketakutan yang sangat lezat dari jiwa sang Tuan Muda.
"T-Tidaaaak! Kuil Dewa Perak... para Leluhur! Selamatkan akuuuuu!"
Bai Chen menjerit sejadi-jadinya, berbalik dan mencoba merangkak kabur ke arah gerbang raksasa Kuil Dewa Perak yang berjarak belasan tombak dari paviliun tersebut.
Shen Yuan tidak mengejarnya. Ia membiarkan Bai Chen merangkak beberapa tombak, memberikan secercah harapan palsu sebelum mencabutnya secara mutlak.
Di saat tangan Bai Chen hampir menyentuh pilar gerbang utama yang terbuat dari Besi Bintang Jatuh...
Wussshhh!
Shen Yuan mengayunkan Pecahan Gigi Naga secara mendatar dengan satu gerakan yang sangat santai.
Pusaran hitam melesat membelah ruang.
Craaaassshhh!
Tubuh Bai Chen terbelah menjadi dua di bagian pinggang tepat saat tangannya menyentuh pilar gerbang. Darahnya tidak menyembur, melainkan langsung dihisap habis oleh Niat Pedang Penelan Langit yang melintas, mengubah jasad sang Tuan Muda menjadi dua potong kerangka layu dalam sekejap mata.
Tebasan pusaran hitam itu tidak berhenti pada tubuh Bai Chen. Pusaran itu terus melaju, menghantam langsung ke arah Gerbang Utama Kuil Dewa Perak yang menjulang setinggi seratus tombak!
Bummmmm!
Ledakan dahsyat yang menggetarkan seluruh Gunung Pilar Langit meletus! Gerbang raksasa yang telah berdiri menantang langit selama ribuan tahun itu... hancur berkeping-keping! Pecahan pualam dan Besi Bintang beterbangan ke dalam area sekte utama, menghancurkan belasan paviliun di sekitarnya dan meratakan patung-patung leluhur pendiri mereka.
Debu putih menyapu udara bagaikan badai salju.
Shen Yuan melangkah menuruni paviliun melayang, berjalan melewati sisa-sisa kerangka Bai Chen, dan berdiri tepat di tengah-tengah reruntuhan gerbang raksasa tersebut.
Ia tidak lagi menyembunyikan auranya. Hawa murni dari Puncak Ranah Peleburan Jiwa Tahap Menengah meledak ke angkasa, membentuk pilar cahaya merah kehitaman yang sanggup merobek awan. Ia, seorang Iblis Penelan Surga, telah mendobrak pintu surga para dewa alam menengah.
"KUIL DEWA PERAK!"
Raungan Shen Yuan mengalahkan gemuruh batu yang runtuh, menggema hingga ke relung terdalam setiap istana di puncak gunung.
"Anjing-anjing penjaga pintu kalian sudah habis! Hutang darah sepuluh tahun telah kuantarkan ke depan pelataran kalian! Jika kalian masih menganggap diri kalian sebagai langit, keluarlah dan hadapi kiamat kalian!"
Kesunyian yang mencekik berlangsung selama tiga tarikan napas.
Kemudian... bumi di bawah kaki Shen Yuan bergetar. Hawa dingin yang sangat mutlak, yang tidak berasal dari es melainkan dari kaidah pemisahan duniawi yang luar biasa mutlak, meledak dari kedalaman puncak tertinggi Kuil Dewa Perak.
Wuuuuung!
Sembilan pilar cahaya perak yang tebalnya mencapai bukit melesat menembus awan dari sembilan arah yang berbeda. Sembilan aura yang menindas langit turun secara bersamaan, mengunci ruang di sekitar gerbang yang hancur.
"Berani menghancurkan gerbang suci Kuil Dewa Perak... Bahkan jika kau adalah titisan iblis dari masa lalu, hari ini tulangmu akan dihancurkan menjadi debu untuk menebus dosa-dosamu."
Suara yang terdengar seperti gema dari alam abadi itu terdengar. Tiga sosok dengan jubah perak bersulam mahkota dewa melayang turun dari langit. Di belakang mereka, ratusan ahli Peleburan Jiwa membentuk barisan yang menutupi bulan purnama.
Para penguasa tertinggi dari Benua Pusat akhirnya turun dari singgasana mereka. Pertarungan memperebutkan langit baru saja dimulai.