NovelToon NovelToon
Saya Jokernya

Saya Jokernya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Racun dalam Wine

​Kepanikan memiliki aroma yang sangat spesifik. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya konsep abstrak, namun bagi mereka yang terbiasa hidup di dalam bayang-bayang, kepanikan adalah sesuatu yang bisa dihirup. Ia berbau seperti keringat dingin asam yang merembes menembus pori-pori kulit, bercampur dengan feromon stres yang tajam.

​Bahkan di dalam penthouse mewah seluas empat ratus meter persegi yang berada di lantai lima puluh ini, di mana sistem ventilasinya terus memompa aroma pengharum ruangan sandalwood dan lavender, bau kepanikan itu sama sekali tak bisa disembunyikan.

​Aku duduk menyilang kaki di atas kursi lounger berbahan kulit asli di sudut ruang tamu yang temaram. Kegelapan adalah kawan lamaku; ia memeluk mantel panjangku dan menyerap siluetku, membuatku terlihat seperti bagian dari bayangan furnitur arsitektural ruangan ini.

​Lima meter di depanku, Hendra Surya—Direktur Keuangan Vanguard Group—sedang sibuk menghancurkan sisa-sisa martabatnya sendiri.

​Pria berusia pertengahan lima puluhan yang biasanya tampil klimis dan arogan di sampul majalah bisnis itu kini terlihat sangat berantakan. Kemeja sutra putihnya ditarik paksa keluar dari celana panjangnya, kancing teratasnya terlepas, memperlihatkan lehernya yang memerah karena tekanan darah tinggi. Ia bergerak mondar-mandir dengan ritme yang memusingkan antara brankas dinding yang terbuka lebar dan sebuah koper perak di atas meja pualam.

​Tumpukan uang tunai dalam pecahan dolar Amerika berikat karet, beberapa keping emas batangan, dan dua dokumen paspor dengan warna sampul berbeda dilemparkannya ke dalam koper secara acak. Tangannya gemetar begitu hebat hingga beberapa lembar dolar terjatuh ke atas karpet wol Persia, namun ia bahkan tidak sudi membungkuk untuk mengambilnya. Waktunya sudah hampir habis, dan dia merasakannya.

​Hendra Surya adalah tipe pria yang menghitung nyawa manusia sebagai variabel dalam buku besar akuntansinya. Baginya, angka adalah segalanya. Dan malam ini, angka-angka itu mulai berbalik melawannya.

​Penangkapan Jenderal Sudiro oleh Polisi Militer kemarin telah mengirimkan gelombang seismik ke seluruh hierarki Vanguard Group. Darmawan Salim mungkin masih mengurung diri di rumahnya, mencoba mempertahankan benteng kekuasaannya yang mulai retak, namun tikus-tikus di kapal yang mulai tenggelam ini tahu persis kapan waktunya untuk melompat ke sekoci.

​Hendra adalah pria yang menandatangani pencairan dana tak terduga senilai lima miliar rupiah pada tanggal dua puluh Oktober, sepuluh tahun yang lalu. Uang darah yang menyewa pembunuh bayaran untuk memastikan mobil orang tuaku tidak pernah sampai ke tujuan. Ia memiliki insting bertahan hidup seorang akuntan mafia: ia menyadari bahwa setelah Sudiro jatuh, namanya adalah target selanjutnya di daftar eliminasi sang Joker.

​Napas Hendra memburu pendek-pendek, suaranya terdengar seperti gesekan kertas ampelas di dalam tenggorokannya. Ia tiba-tiba menghentikan aktivitas mengemasnya, berbalik, dan berjalan cepat ke arah meja bar yang diterangi oleh lampu halogen kecil. Tangannya meraba deretan botol minuman keras impor, sebelum akhirnya menarik sebuah botol wine yang tampak berdebu namun sangat berharga.

​Château Haut-Brion tahun 1989. Sebuah mahakarya anggur merah yang harganya di pasar lelang setara dengan sebuah mobil sedan mewah.

​Hendra mengambil alat pembuka botol, memutar gabusnya dengan tangan yang tak stabil hingga gabus itu nyaris hancur di bagian tengahnya. Bunyi pop pelan terdengar saat botol itu terbuka. Ia tidak lagi peduli pada etiket. Ia meraih sebuah decanter kristal, berniat menuangkan cairan merah delima itu untuk membiarkannya bernapas, namun ketakutan dan dahaganya akan ketenangan artifisial menang atas logikanya.

​Ia membuang decanter itu ke samping, mengambil sebuah gelas cembung besar, dan menuangkan anggur itu nyaris hingga penuh. Ia meneguknya dengan rakus seperti orang yang terdampar di padang gurun, membiarkan alkohol itu membakar kerongkongannya.

​Anggur merembes dari sudut bibirnya, menetes menodai kerah kemeja sutranya dengan warna merah gelap yang menyerupai darah segar.

​"Kau tidak membiarkan anggur itu bernapas dengan benar, Hendra," suaraku memecah keheningan penthouse itu, mengalir tenang, rata, dan mematikan di tengah suara rintik hujan yang memukul jendela kaca. "Tanin di dalamnya belum terbuka. Kau baru saja menyia-nyiakan sebotol vintage yang luar biasa karena ketidaksabaranmu."

​Gelas kristal di tangan Hendra nyaris tergelincir jatuh. Ia memutar tubuhnya dengan sangat cepat hingga lututnya menabrak ujung meja bar, menghasilkan bunyi debuk yang keras. Matanya yang memerah dan dipenuhi urat-urat kelelahan membelalak menembus kegelapan ruangan, mencari sumber suara yang seolah datang dari udara kosong.

​Aku menekan sebuah tombol pada remote kecil di dalam sakuku. Sistem otomatis smarthome apartemennya merespons perintah peretasanku. Sebuah lampu sorot di atas kursiku menyala redup, menembus bayangan dan memperlihatkan sosokku yang selama ini mengawasinya.

​Aku tidak mengenakan topeng porselenku malam ini. Untuk mangsa yang satu ini, aku sengaja membiarkan wajah asliku—wajah Arlan Wiratama—terlihat sangat jelas di bawah cahaya temaram. Aku ingin dia melihat wajah dari masa lalu yang ia pikir telah ia kubur bersama puing-puing mobil di dasar jurang.

​"Kau..." napas Hendra tersentak. Ia terhuyung mundur selangkah, menabrak rak botol di belakangnya hingga gelas-gelas di sana berdenting nyaring. Tangannya meraba-raba panik ke laci di bawah meja bar. "Bagaimana kau bisa masuk ke sini? Keamananku di lobi—"

​"Tidur lelap, atau mungkin pura-pura tidak melihat," potongku tenang, tidak mengubah postur dudukku yang santai. "Penjaga bayaran lebih menyukai uang tunai daripada loyalitas pada atasan yang sedang dalam masalah besar. Sepuluh ribu dolar cukup untuk membuat mereka mematikan sistem kamera di lift pribadimu dan memberikan akses override selama satu jam. Anggap saja itu investasi kecil dari pihakku."

​Hendra menelan ludah dengan susah payah. Tangan kanannya akhirnya menemukan apa yang ia cari dari dalam laci: sebuah pistol revolver kecil berwarna perak. Ia menariknya keluar dan mengarahkannya lurus ke dadaku. Moncong logam itu bergetar hebat mengikuti ritme jantungnya yang sedang memompa adrenalin dalam dosis yang membahayakan jantung tuanya.

​"Keluar dari rumahku!" bentak Hendra, suaranya pecah di oktaf tertinggi, terdengar lebih seperti cicitan tikus yang tersudut di lorong buntu daripada gertakan seorang direktur. "Aku tahu siapa kau! Darmawan menghubungiku pagi ini... dia bilang anak Adrianus masih hidup dan berada di balik kedok badut itu! Kau yang menjebak Sudiro! Kau yang menghancurkan Setiawan!"

​"Membakar uangnya," koreksiku dengan nada halus yang sangat kontras dengan kepanikannya. Aku berdiri perlahan dari kursi. "Setiawan masih bernapas di bangsal isolasi rumah sakit jiwa, meskipun jiwanya sudah lama pergi. Dan ya, aku adalah konsekuensi yang selama ini menghantui tidur kalian. Aku adalah dividen dari investasi masa lalu kalian yang kini akhirnya jatuh tempo."

​Aku melangkah maju satu langkah. Setiap gerakanku dihitung secara biomekanis agar tidak memicu refleks terkejut di otak reptilnya yang bisa menyebabkan jarinya menarik pelatuk secara tak sengaja.

​"Tembak aku jika kau mau, Hendra," tantangku pelan, melangkah satu langkah lagi mendekatinya melintasi karpet wol yang tebal. "Tapi mari kita gunakan logika probabilistik yang sangat kau kuasai sebagai akuntan. Pistolmu menggunakan amunisi kaliber kecil. Daya hentinya rendah. Jika pelurumu tidak mengenai organ vital di otakku pada tembakan pertama, aku masih punya waktu sekitar tujuh detik sebelum kehilangan kesadaran. Dalam tujuh detik itu, aku bisa melintasi jarak marmer ini, merebut pistolmu, dan menggunakan sisa tenagaku untuk meremukkan trakea di lehermu."

​Aku menghentikan langkahku tepat di batas bayangan lampu halogen, membiarkan ancaman itu mengendap di kepalanya. Mataku mengunci retinanya tanpa berkedip.

​"Jadi pertanyaannya adalah, Hendra... apakah kau ingin bertaruh dengan nyawamu pada persentase probabilitas yang begitu sempit?"

​Bibir Hendra bergetar kaku. Logika brutal dan kalkulasi klinis yang kusajikan menembus pertahanan mentalnya yang sudah rapuh, meruntuhkan sisa-sisa keberanian artifisial yang ia kumpulkan. Ia menurunkan pistol itu perlahan seolah benda itu tiba-tiba berubah menjadi beban seberat timah, meletakkannya kembali ke atas meja bar pualam dengan bunyi klak logam yang terdengar seperti sebuah kekalahan.

​Ia meraih kembali gelas wine-nya, meneguk sisa anggur di dalamnya dengan rakus untuk meredam syok di sistem sarafnya.

​"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" tanyanya dengan suara serak, matanya melirik liar ke arah koper di atas meja. "Uang? Kau butuh pendanaan untuk pelarianmu? Aku punya obligasi tanpa nama di koper itu. Ambil semuanya. Biarkan aku pergi malam ini. Aku akan menghilang, dan Darmawan Salim tidak akan pernah menemukan kita berdua."

​Aku tertawa. Tawa yang keluar tanpa sedikit pun kehangatan, hanya sebuah embusan napas sinis yang menggores kesunyian ruangan.

​"Tiga juta dolar," ulangku perlahan, menggelengkan kepala. "Sepuluh tahun lalu, tepat pada bulan Oktober, kau mengeluarkan lima miliar rupiah dari rekening dana hitam Vanguard. Kau tidak bertanya untuk apa uang itu digunakan. Kau hanya mencairkannya dan membubuhkan tanda tanganmu yang rapi di sana. Uang itu digunakan untuk membayar pembunuh bayaran yang memutus selang rem mobil ayahku."

​Aku melangkah maju mendekati meja bar, hingga jarak kami hanya terpisahkan oleh lebar pualam yang dingin.

​"Uangmu meneteskan darah ibuku, Hendra. Ibuku menjerit memohon pertolongan di dalam mobil yang mulai terbakar, sementara orang-orang yang kau bayar hanya berdiri menontonnya dari atas tebing. Tidak ada jumlah dolar di dunia ini, tidak ada angka nol di layar komputermu, yang bisa membeli sedikit pun pengampunan dariku."

​"Itu bukan ideku!" Hendra setengah berteriak, air mata kepanikan akhirnya menggenang di matanya. Ia mundur selangkah, punggungnya menabrak rak minuman hingga beberapa botol wiski jatuh dan pecah, menambah bau tajam alkohol di udara. "Aku hanya akuntannya! Darmawan yang memberikan perintah! Handoko yang menyusun celah hukumnya! Jika aku tidak mencairkan dana itu, Darmawan akan menyingkirkanku juga! Aku hanya mencoba bertahan hidup di dunia korporat yang kejam ini!"

​"Dan sebagai hadiah dari bertahan hidupmu, kau menjadi miliarder pemegang saham yang hidup di atas awan," balasku dingin, menelanjangi kemunafikannya. "Kau membangun kekayaan ini di atas abu tulang keluargaku. Jangan pernah berpura-pura menjadi korban di hadapanku."

​Aku menatap gelas kristal di tangannya yang kini telah kosong.

​"Kau sangat menyukai anggur Bordeaux itu," ujarku, mengalihkan topik pembicaraan dengan transisi tajam yang membuat alisnya bertaut bingung. "Tidakkah kau merasa ada yang sedikit aneh dengan teksturnya di lidahmu? Haut-Brion dari tahun delapan puluhan seharusnya terasa silky dan lembut, namun yang baru saja kau teguk hingga dua gelas penuh itu... pasti memiliki aftertaste yang sedikit metalik dan membuat pangkal lidahmu kebas, bukan?"

​Gerakan Hendra terhenti total. Ia membeku. Matanya yang memerah membelalak menatap gelas kosong di tangannya, lalu kembali menatapku dengan tatapan ngeri.

​"Apa... apa maksudmu?" bisiknya, suaranya mendadak terdengar lebih parau.

​Aku memasukkan tangan kiriku ke dalam saku mantel, mengeluarkan sebuah botol kaca kecil sekecil jari telunjuk yang sudah kosong. Aku meletakkannya di atas meja bar. Bunyi dentingan kaca tipis itu terdengar sangat keras di ruangan yang sunyi itu.

​"Aku tiba di penthouse ini tiga puluh menit sebelum kau datang dengan panik," jelasku dengan intonasi lambat, memastikan setiap suku kata meresap ke dalam otaknya. "Aku memeriksa koleksi anggurmu. Aku tahu kau akan membutuhkan alkohol untuk menenangkan sarafmu saat kau mengemasi barang-barangmu. Orang kaya yang ketakutan akan selalu memilih botol termahal mereka untuk tegukan terakhir."

​Aku menunjuk ke arah botol anggur berdebu di sebelahnya.

​"Aku menggunakan jarum suntik yang sangat tipis untuk menyuntikkan Aconitine sintetis murni melewati celah gabus penutup botolmu tanpa merusaknya. Dosisnya kecil, tapi karena dilarutkan dalam alkohol persentase tinggi, penyerapan racun itu ke dalam mukosa lambungmu meningkat tiga kali lipat."

​Prang!

​Gelas kristal itu terlepas dari tangan Hendra, pecah berkeping-keping menghantam lantai pualam. Cairan merah di dasarnya memercik, menyerupai noda darah.

​Hendra mencengkeram lehernya sendiri dengan kedua tangan. Sugesti psikologis dan efek kimiawi mematikan dari racun itu mulai bekerja secara bersamaan di dalam tubuhnya. Ia tersengal-sengal, mulutnya terbuka lebar mencoba menarik oksigen yang tiba-tiba terasa tak bisa menembus trakeanya. Wajahnya mulai kehilangan warna, berubah menjadi abu-abu pucat pasi.

​"T-tolong..." Hendra terhuyung mundur, jatuh berlutut di atas pecahan kaca. Namun rasa kebas yang menjalar di sistem sarafnya mencegahnya merasakan sakit sayatan di lututnya.

​"Detak jantungmu sedang meningkat pesat saat ini, bukan?" Aku berjalan memutari meja bar, berdiri menjulang di atas tubuhnya yang mulai bergetar dan mengejang pelan. "Jantungmu memompa darah dengan liar karena kau panik, yang hanya mempercepat sirkulasi racun itu ke seluruh sistem saraf pusatmu. Sebentar lagi, paru-parumu akan terasa seperti dihimpit oleh sabuk besi panas."

​"P-penawar..." Hendra merintih, merangkak di atas lantai, tangannya yang bergetar hebat meraih ujung sepatuku. "Ku...kumohon... aku punya... istri... dan anak perempuan..."

​"Keluarga?" Aku menunduk menatapnya dengan kekosongan yang mematikan. "Di mana letak hatimu pada sebuah keluarga saat ayahku memohon pada pembunuh bayaran kalian untuk mengeluarkan ibuku dari mobil yang terbakar? Apakah kau memikirkan nasib seorang anak remaja saat kau menyetujui transfer lima miliar itu?"

​Aku tidak menendangnya. Aku hanya menarik kakiku mundur, membiarkan tangannya menyapu udara kosong. Ia tersungkur ke lantai, air liur kental mulai menetes dari sudut bibirnya yang mulai membiru.

​"Tetapi aku bukanlah monster sosiopat tanpa perikemanusiaan seperti bosmu," ucapku tiba-tiba, merogoh saku dalam jaketku dan mengeluarkan sebuah alat penyuntik otomatis berwarna perak yang berisi cairan bening.

​Aku berjongkok dan menunjukkannya tepat di depan matanya yang mulai kehilangan fokus.

​"Ini adalah Atropin Sulfat dosis tinggi," kataku, suara baritonku memberikan satu-satunya jalan keluar. "Bahan kimia ini akan memicu reseptor di jantungmu dan melebarkan saluran pernapasanmu agar kau tidak mati malam ini. Ini akan mengulur waktu sarafmu setidaknya selama dua jam hingga ambulans tiba."

​Mata Hendra terpaku pada alat suntik itu. Tatapannya memancarkan keputusasaan absolut. Ia mengangguk-angguk lemah, tangannya yang kaku mencoba menggapainya.

​"Tapi di duniaku tidak ada yang gratis, Hendra. Aku ingin akses. Aku ingin master password ke dompet kripto rahasia dan brankas lepas pantai Vanguard Group. Aku ingin kunci digital yang kau gunakan untuk mencuci uang Darmawan Salim selama ini."

​"Darmawan... akan membunuhku..." rintih Hendra terbata-bata, lidahnya mulai membengkak.

​"Darmawan tidak ada di sini. Aku yang sedang membunuhmu sekarang," balasku telak. "Waktumu tinggal enam puluh detik sebelum otot diafragmamu lumpuh permanen dan kau mati lemas di atas pecahan gelasmu sendiri."

​Insting bertahan hidup akhirnya mengalahkan rasa takutnya pada sang CEO. Ia menunjuk ke arah decanter kristal mewah yang masih berdiri utuh di atas meja bar dengan jari yang bergetar hebat.

​"Di bawah... alas decanter..." bisiknya susah payah. "Ada micro-SD... berisi buku besar blockchain... dan seed phrase... untuk seluruh dompet kripto Vanguard..."

​Aku berdiri, mengangkat decanter kristal yang berat itu, dan membalik alasnya. Terdapat sebuah kompartemen rahasia kecil yang ditutup dengan stiker silikon transparan. Aku mencungkilnya menggunakan ujung pisau lipatku. Sebuah keping micro-SD hitam jatuh mulus ke telapak tanganku.

​Aku memasukkan keping memori itu ke dalam alat pembaca portabel yang kucolokkan ke ponselku. Sebuah layar otentikasi muncul.

​"Katasandinya," tuntutku.

​"N-nemesis... dua kosong... satu empat..." napas Hendra kini terdengar seperti peluit yang tersumbat. Nemesis2014. Tanggal kehancuran hidupku digunakan sebagai kata sandi untuk melindungi kekayaan mereka. Sebuah ironi yang puitis.

​Layar ponselku berkedip hijau. Ribuan baris data finansial terenkripsi terbuka tanpa perlindungan. Aku telah memegang kunci utama menuju urat nadi kekaisaran Vanguard Group. Tanpa uang ini, Darmawan Salim tidak bisa lagi membeli hukum.

​Aku menatap Hendra yang sedang meregang nyawa di lantai pualam. Ia menatapku dengan sisa kesadarannya, memohon janji penawar tadi.

​Aku berjongkok di samping kepalanya, memutar tutup alat suntik perak itu hingga terdengar bunyi klik.

​"Kau tahu, Hendra," bisikku pelan. "Dalam dunia trik sulap, bagian terpenting bukanlah apa yang berhasil kau tunjukkan pada penonton. Bagian terpenting adalah apa yang kau biarkan mereka percayai di dalam pikiran mereka sendiri."

​Aku menekan tombol pada ujung alat itu. Cairan tidak keluar. Sebaliknya, mekanisme pegas melepaskan tutup belakangnya, memperlihatkan kompartemen yang benar-benar kosong. Tidak ada jarum. Tidak ada cairan medis. Itu hanyalah tabung pena logam yang telah kumodifikasi.

​Mata Hendra terbelalak lebar dalam kengerian absolut. Pupilnya melebar maksimal saat ia menyadari bahwa harapan keselamatannya hanyalah sebuah ilusi mematikan.

​"Tidak pernah ada penawar di tanganku," suaraku merendah menjadi bisikan yang sedingin dasar gletser. "Sama halnya dengan tidak pernah ada belas kasihan di hatimu sepuluh tahun lalu."

​Aku berdiri kembali, memandang lurus ke arah matanya yang tak lagi bisa berkedip. Tubuhnya mengejang hebat sekali lagi, sebelum akhirnya diam tak bergerak. Kesunyian kembali mengambil alih penthouse tersebut, hanya dipecahkan oleh suara tetesan hujan.

​Aku melangkah melewati tubuhnya yang tak lagi bernyawa, menarik kerah mantelku untuk menghalau hawa dingin.

​"Tegukan terakhir adalah yang termanis."

1
Emi Widyawati
bagus bangeeetttt. cerita beda dengan yang lainnya. baca novel tapi serasa liat film. bagus banget Thor. lup u sak kebon 😘
Misterios_Man: banyakin likesnya dong biar popularitasnya naik, gratis kok hehehe.
total 2 replies
Ainun masruroh
semangat 💪
Misterios_Man: Ok kak nice dream ya,, jangan lupa ikuti novelnya heheh.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!