Ini kisah lanjutan #LuckyDaisy yang bercerita keluarga Buwono setelah kelahiran Kenzie. Bagaimana dokter Lucky dan istrinya dokter Daisy menikmati kehidupan rumah tangganya bersama dengan pebinor nya, Winston. Belum kasus dengan divisi kasus dingin termasuk dokter Lucky masih saja takut dengan tim arwahngers. Kemungkinan sampai kehamilan Elina dan kelahirannya yang penuh warna.
Generasi ke 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Candle Light Dinner
Dokter Lucky bersama dengan Suster Lia melakukan visite ke para pasien yang kemarin dia operasi. Selesai visite, mereka pun ke IGD. Dokter Lucky mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dan satu ucapan dari residennya, membuat dirinya auto mengeplak kepala dokter Juno.
"Selamat menua, Dok Lucky. Semoga Kenzie tidak seperti bapake kelakuannya ... Addduhhh!" Dokter Juno mengusap belakang kepalanya.
"Kamu tuh macam nggak ikhlas kasih ucapannya." Dokter Lucky menatap sebal ke dokter Juno.
"Lho, ini ikhlas Dok!" jawab dokter Juno sambil cemberut.
"Eh, Dok Juno. Usai PPDS ( Program Pendidikan Dokter Spesialis ), kamu kan harus WKDS ( Wajib Kerja Dokter Spesialis ) plus karena kamu juga beasiswa, pasti ditempatkan di seluruh Konoha dong!" celetuk dokter Lucky.
"Sudah ada tawaran Dok," jawab dokter Lucky. "Aku sudah mengincar di Maluku Utara."
"Lha? Serius?" tanya dokter Lucky.
"Serius. Salah satu kakak kelas di kampus dulu menawarkan di sana. Tapi kan memang semua tergantung nanti usai aku lulus. Kalau bisa memilih, aku sih mau kesana," jawab dokter Juno.
Dokter spesialis akan ditempatkan di RSUD, RS daerah terpencil, perbatasan, atau kepulauan selama minimal satu tahun. Jika studi spesialis dibiayai pemerintah, jangka waktu Wajib Kerja bisa lebih lama (2-4 tahun).
"Pacar kamu bagaimana?"
"Rosita? Dia kan mau masuk Akademi Kepolisian di Semarang Dok. Jadi aku dan Ros memang pisah. Kita sudah janjian tetap bersama meskipun LDR ( Long Distance Relationship )." Dokter Juno menatap dokter Lucky dan Suster Lia yang tampak skeptis karena banyak situasi anomali jika suatu hubungan berdasarkan LDR.
"Yakin kamu?" tanya dokter Lucky.
"Insyaallah Dok. Memang jaman sekarang tidak bisa diprediksi ke depannya. Tapi aku dan Ros sudah berdiskusi. Jika kita memang tidak jodoh, ya pasti akan lepas. Tapi kalau kita berjodoh ... mau ke pisah antara kutub Utara dan kutub Selatan, pasti akan bersama. Terdengar jadul filosofinya tapi aku dan Ros sudah siap," jawab dokter Juno serius.
Dokter Lucky menepuk bahu dokter Juno. "Memang jodoh itu tidak bisa diprediksi. Aku yang mikir bakalan jomblo abadi, malah dapat jodoh yang awesome dan sekarang punya anak yang comel. Aku doakan kamu dan Rosita benar-benar berjodoh."
Dokter Juno tersenyum. "Terima kasih Dok Lucky."
"Kalau kamu sudah selesai WKDS, kamu mau balik ke Bhayangkara sini, balik saja. Meskipun kadang aku suka sebal sama kamu, tapi kamu dokter yang cepat tanggap." Dokter Lucky menepuk punggung dokter Juno sebelum keliling IGD.
***
Susana sedang bersiap pulang ketika melihat ada banyak tumpukan makanan di atas meja troli depan ruang kerja tim bedah, dokter Lucky tepatnya. Dia pun penasaran ada apa.
"Kok banyak makanan di sana Sus?" tanya Susana.
"Kurang tahu saya, Mbak Susana," jawab perawatnya yang sudah diwanti-wanti oleh Suster Mini agar tidak memberitahukan pada Susana. "Kita segera ke lift ya. Karena sopir ayah anda sudah menunggu di depan lift."
Susana hanya mengangguk tapi dia juga penasaran sebenarnya. Dia pun masuk ke dalam lift bersama dengan supir keluarganya yang sudah membawa semua tasnya.
Bertepatan dengan Susana masuk ke dalam lift, dokter Lucky keluar bersama dengan Suster Lia di lift satu lagi. Susana sempat melihat punggung lebar dokter Lucky. Sungguh rasanya dia ingin memanggil dokter Lucky tapi sayangnya, pintu lift sudah menutup.
***
"Dok Lucky nanti malam mau kemana sama Dok Daisy?" tanya Suster Lia.
"Nggak tahu. Tergantung Jeng Daisy lah," jawab dokter Lucky. Dia melirik jam Patek Philippe hadiah dari Daisy. "Aku pulang dulu. Nggak mau macam kemarin aku seharian di sini."
"Dok, yang pasien Flint gimana kabarnya?" Suster Lia melihat dokter Lucky bersiap pulang.
"Kata Dokter Ina yang menangani kasusnya, Flint harus diopname di sana. Ibunya juga kena. Kacau benar! Wis ah, aku bisa emosi nanti kalau ingat. Nggak mau suasana kencan nanti berantakan." Dokter Lucky membawa tasnya setelah melepaskan snelinya dan memakai jasnya.
Suster Lia mengangguk. "Have fun for mad ya Dok!"
"Thanks Suster Liliput."
***
Kediaman keluarga Buwono
Daisy masih sibuk berdandan sementara dokter Lucky memilih memakai kaos rumah meskipun celananya sudah memakai celana resmi.
"Kenzie, malam ini Papa dan Mama mau berdua dulu ya. Kenzie sama Mbak Gita ya?" ucap dokter Lucky sambil memangku Kenzie dan memberikan pelajaran sejarah KLa Project.
Kenzie hanya menatap dokter Lucky bingung dan tak lama dia pun menguap. Papanya tersenyum senang karena Kenzie sudah mau bobok setelah kenyang makan tadi.
"Kok Kenzie cepet boboknya?" bisik Daisy sambil memakai anting-anting.
Dokter Lucky melongo melihat istrinya. "Kamu serius pakai baju model Sabrina gitu?" bisiknya.
"Eh? Kenapa? Tidak bagus?" tanya Daisy.
"Bukan ...." Dokter Lucky membawa Kenzie ke kamarnya dengan diikuti Daisy. "Cantik banget!"
"Lho, kan mau kencan berdua. Harus cantik dong, Mas." Daisy tersenyum manis.
"Ya Allah, terima kasih di usia 39 ini, sudah nyaman semuanya. Istri cantik, baik, mafiawati, mandragunawati, badass, ibu VOC dan bersedia memberikan anak laki-laki yang mirip dia ... Aku hanya nyumbang jenis kelamin doang ... Allah itu memang adil!" ucap dokter Lucky serius membuat Daisy cekikikan.
"Lho, bibitnya dari kamu Mas, tapi memang sel telur dan genetik aku lebih bagus dari kecebong kamu," cengir Daisy.
Dokter Lucky auto manyun. "Pokoknya anak kedua harus mirip aku! Asia! Jawa!"
Daisy mencium bibir dokter Lucky. "Insyaallah ya Mas. Insyaallah biar adil dan merata. Tapi sepertinya Kenzie lebih mirip kamu deh sifatnya."
"Bagus lah. Kan aku memang lakik!" jawab dokter Lucky dengan jumawa.
***
Satu setengah jam kemudian setelah Kenzie tidur, Daisy dan dokter Lucky tiba di sebuah restauran Jepang mewah yang sudah dia pesan jauh-jauh hari. Daisy ingin memanjakan suaminya dengan memesan menu terbaik termasuk Wagyu A5, daging tuna dan salmon grade A untuk sashimi serta grill.
"Aku senang banget ... Kita kencan seperti ini," senyum dokter Lucky.
"Kan hari spesial Mas Lucky sebelum pindah ke jalur ke kepala empat. Sekarang kan masih kepala tiga," goda Daisy.
"Jeng Daisssyyy ... Janganlah seperti itu. Aku itu masih comel!" rajuk dokter Lucky.
Daisy tertawa. "Mas, aku belum ada kado. Kamu mau apa? Aku belikan."
Dokter Lucky menggeleng. "Kadoku tidak bisa dinilai dengan uang. "
"Apa itu?"
Dokter Lucky menatap lembut ke Daisy. "Aku hanya minta aku sehat, panjang umur hingga bisa melihat anak-anak kita nanti mentas meskipun baru ada Kenzie. Aku juga minta kamu sehat, panjang umur hingga kita menua bersama, membesarkan anak-anak bersama, mendidik mereka bersama, tandem jadi orang tua yang terbaik hingga anak-anak bisa menghadapi tantangan seperti kita. Tidak perlu barang mewah karena yang aku minta ini sudah sangat mewah ...."
Mata hijau Daisy auto berkaca-kaca. "Kamu tuh ...."
"Sederhana tapi mahal kan? Karena mintanya langsung ke Allah," jawab dokter Lucky.
"Iya. Insyaallah diijabah ya Mas," senyum Daisy.
"Aamiin."
***
Visual
Outfit Daisy
Outfit dokter Lucky
***
Yuhuuuu up malam yaaaaa yayang
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
Daisy ga nysel kn nkah sm dktr gabut???mskpn dlunya acuh,tp skrng udh sma2 bucin.....😘😘😘
duhhhh syukaaaa bangetttt sama keluarga yang satu ini
semoga diijabah semua do'a nya ya dok
selalu suka keluarga cemara satu ini
Aku bkln ttp jd fans'mu,dgn sgla kerandomn yg bkin ngakak plus pusing....🤣🤣🤣....
jgn emosian,tar cpt tua....🤭🤭🤭
btw, met milad dok Lucky 🤗