Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2:Ruang kedap suara
Dua minggu telah berlalu sejak kedatangan Pak Adwan, dan suasana SMA Persada seperti tersihir. Guru-guru senior memujinya karena kedisiplinannya, sementara para siswi—dan beberapa guru muda—terpesona oleh karismanya yang tenang. Namun bagi Adella, Pak Adwan tetaplah sebuah anomali.
Pagi itu, hujan turun sangat deras, membungkus gedung sekolah dengan tirai air yang tebal. Adella berdiri di depan lokernya, mencoba mengeringkan sisa air di tasnya dengan tisu.
"Hujan selalu punya cara untuk menelanjangi kejujuran, bukan begitu, Adella?"
Suara itu muncul tepat di samping telinganya. Adella tersentak, namun ia berhasil menguasai diri dengan cepat. Ia menoleh dan mendapati Pak Adwan berdiri di sana, memegang sebuah payung hitam yang masih basah. Pria itu tidak terlihat kedinginan sama sekali; ia tampak segar dengan aroma sandalwood yang kini terasa makin familiar bagi Adella.
"Maksud Bapak?" tanya Adella, mencoba tetap polos.
Pak Adwan tersenyum, jenis senyum yang membuat orang merasa seperti mereka adalah satu-satunya orang di ruangan itu. "Orang-orang berlarian mencari perlindungan, menunjukkan ketakutan mereka pada sesuatu yang sebenarnya hanya air. Tapi kamu... kamu berjalan menembusnya dengan tenang. Saya memperhatikanmu dari jendela ruang guru tadi."
Adella sedikit mengernyit. Jarak dari ruang guru ke gerbang depan cukup jauh. Bagaimana mungkin pria itu bisa mengenalinya di tengah ratusan siswa yang memakai payung dan jas hujan?
"Saya hanya tidak suka berlari, Pak. Capek," jawab Adella singkat, mencoba terdengar lugu.
"Jawaban yang pragmatis. Saya suka itu." Pak Adwan merogoh sesuatu dari tas kulitnya—sebuah kotak kecil berisi susu cokelat hangat. "Ini untukmu. Kamu terlihat agak pucat. Saya tidak ingin murid terbaik saya jatuh sakit sebelum ujian sastra minggu depan."
Adella ragu sejenak. "Terima kasih, Pak. Tapi Bapak tidak perlu repot-repot."
"Ini bukan kerepotan bagi saya, Adella. Ini adalah investasi. Saya melihat potensi besar di dalam dirimu yang tidak dilihat orang lain. Bahkan mungkin... tidak dilihat oleh orang tuamu sendiri."
Kalimat terakhir itu menghantam Adella tepat di sasaran. Bagaimana Pak Adwan tahu hubungan Adella dengan orang tuanya yang dingin dan sibuk? Adella tidak pernah bercerita. Sisi pandainya segera menyalakan alarm. Dia sudah memantauku lebih dari sekadar daftar hadir.
"Bapak tahu banyak ya," gumam Adella sambil menerima kotak susu itu. Ujung jari mereka bersentuhan selama satu detik—terasa panas seperti tersengat listrik.
"Saya hanya pendengar yang baik," ujar Pak Adwan lembut. "Oh ya, setelah bel pulang, temui saya di laboratorium bahasa. Saya butuh bantuanmu merapikan beberapa rekaman audio untuk materi ujian. Hanya kamu yang saya percaya bisa melakukannya dengan teliti."
Sebelum Adella sempat menolak, Pak Adwan sudah berjalan menjauh, meninggalkan kesan perintah yang dibungkus dengan pujian.
Sesuai instruksi, Adella datang ke laboratorium bahasa di lantai tiga yang biasanya sepi. Ruangan itu kedap suara, dengan dinding yang dilapisi busa peredam. Saat Adella masuk, Pak Adwan sudah duduk di depan komputer utama, mengenakan kacamata berbingkai perak yang membuatnya terlihat makin cerdas sekaligus berbahaya.
"Masuklah, Adella. Tutup pintunya agar suara hujan tidak mengganggu frekuensi rekaman."
Adella menutup pintu. Klik. Bunyi kunci yang berputar pelan membuat jantungnya berdegup. Namun, ia melihat wajah Pak Adwan yang tampak fokus pada layar, membuatnya merasa mungkin ia hanya terlalu paranoid.
"Duduk di sini," Pak Adwan menarik sebuah kursi di sebelahnya. Jarak mereka kini kurang dari tiga puluh sentimeter.
Adella mulai membantu mengedit file audio. Selama hampir satu jam, mereka bekerja dalam keheningan yang intens. Pak Adwan sangat sabar membimbing tangan Adella saat menggerakkan mouse, tangannya terkadang berada di atas tangan Adella untuk menunjukkan grafik suara.
"Lihat pola ini, Adella," bisik Pak Adwan. Napasnya terasa di pelipis Adella. "Suara manusia bisa dimanipulasi. Kita bisa menghapus desah napas, kita bisa mengubah nada yang gemetar menjadi stabil. Di dunia digital, kebenaran bisa dikonstruksi."
Adella menatap layar, tapi otaknya sedang memproses hal lain. Matanya menangkap sebuah pantulan di layar monitor yang gelap saat ia tidak sengaja mematikan salah satu jendela aplikasi. Di atas meja kerja Pak Adwan, di bawah tumpukan kertas, ada sebuah foto kecil yang sedikit menyembul.
Itu adalah foto seorang gadis berseragam sekolah yang sama dengan Adella. Namun, wajah gadis itu dicoret dengan tinta merah pekat hingga tidak dikenali.
Darah Adella terasa membeku. Tapi dia adalah Adella—si polos yang pandai. Ia tidak berteriak. Ia tidak melompat. Ia justru berpura-pura menjatuhkan pulpennya—pulpen yang diberikan Pak Adwan di Bab 1.
"Aduh," gumam Adella sambil membungkuk ke bawah meja untuk mengambil pulpen.
Dari bawah sana, ia melihat sesuatu yang lebih mengejutkan. Di bawah meja Pak Adwan, terpasang sebuah alat kecil dengan lampu merah yang berkedip. Sebuah perekam suara tambahan yang tidak terhubung dengan komputer.
Pak Adwan merekam percakapan mereka secara pribadi.
"Ketemu?" suara Pak Adwan terdengar dari atas, datar dan tenang.
Adella bangkit berdiri, menyisipkan rambutnya ke belakang telinga dengan gerakan yang tampak malu-malu. "Ketemu, Pak. Maaf, saya memang agak ceroboh hari ini."
Pak Adwan menatap mata Adella dalam-dalam. Untuk sesaat, Adella merasa pria itu tahu bahwa dia baru saja melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat. Tapi kemudian, Pak Adwan tersenyum hangat—hangat yang menyakitkan.
"Tidak apa-apa, Adella. Semua orang punya rahasia kecil di bawah meja mereka. Yang penting adalah bagaimana kita menyimpannya."
Ia mengulurkan tangan, mengusap pucuk kepala Adella dengan lembut. "Kamu lelah. Pulanglah. Biar saya yang selesaikan sisanya. Payung saya bawa saja, saya punya cadangan di mobil."
Adella mengangguk, berpamitan dengan sopan, dan keluar dari ruangan itu secepat yang ia bisa tanpa terlihat sedang berlari. Begitu pintu tertutup, ia bersandar di tembok koridor yang dingin. Napasnya memburu.
Ia melihat ke tangannya yang tadi memegang kotak susu dari Pak Adwan. Masih hangat.
Satu hal yang pasti kini bersarang di kepala Adella: Pak Adwan tidak sedang mengajarinya sastra. Pria itu sedang mempersiapkannya untuk sesuatu yang jauh lebih gelap. Dan foto gadis yang dicoret tinta merah itu... Adella yakin, posisi gadis itu kini sedang digantikan olehnya.
Adella mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu di kolom pencarian pribadi yang tidak terhubung dengan akun sekolah: "Nama guru Adwan, mutasi sekolah, kasus hilang."
Permainan kucing dan tikus baru saja dimulai.
Adella menatap layar ponselnya dengan intens. Jemarinya sedikit gemetar, namun otaknya bekerja dengan dingin. Di balik wajahnya yang terlihat tenang dan "polos", ia sedang menyusun kepingan teka-teki yang bahkan tidak disadari oleh teman-teman sekelasnya.