NovelToon NovelToon
Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: GABRIELA POSENTIA NAHAK

Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
​Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
​Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
​'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
​Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 : Perjanjian Baru

Malam itu, meja makan di mansion tidak lagi terasa dingin dan kaku.

Aroma masakan rumah yang hangat—sup iga yang gurih dan sambal tomat kesukaan Arlan—memenuhi ruangan, menggantikan suasana mencekam yang biasanya menyelimuti rumah megah tersebut.

Kinara baru saja meletakkan hidangan terakhir saat suara mobil Arlan terdengar menderu di halaman.

Tepat pukul tujuh malam—sebuah rekor baru bagi seorang pria yang biasanya gila kerja dan sering pulang di atas jam sebelas malam.

​Arlan melangkah masuk dengan wajah yang jauh lebih segar, meski sisa-sisa kelelahan dari kantor masih terlihat di matanya.

Begitu melihat Kinara berdiri di dekat meja makan, langkahnya tertahan sejenak di ambang pintu. Ia tampak ragu, seolah masih memiliki trauma kecil akan dibentak atau ditolak oleh Kinara. Ia tidak lagi langsung berlari memeluk Kinara secara agresif, melainkan hanya berdiri di sana dengan canggung.

​"Aku pulang," ucap Arlan pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan yang hati-hati.

​Kinara menoleh dan tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus yang membuat seluruh pertahanan dan keraguan Arlan runtuh seketika.

"Selamat datang di rumah, Arlan. Bersihkan dirimu dulu, setelah itu kita makan malam bersama. Aku sudah menyiapkan sup iga kesukaanmu."

​Tidak butuh waktu lama bagi Arlan untuk kembali ke ruang makan.

Ia sudah berganti pakaian dengan kaos rumahan yang santai, membuatnya terlihat jauh lebih muda dan manusiawi daripada sosok CEO berjas kaku yang biasa dilihat orang.

Selama makan malam, suasana terasa sangat tenang dan damai.

Arlan makan dengan lahap, seolah setiap suapan masakan Kinara adalah obat paling mujarab bagi jiwanya yang sempat layu karena rasa bersalah.

​"Kinara," panggil Arlan setelah mereka menyelesaikan makan malam dan duduk bersantai di ruang tengah.

"Tentang kejadian beberapa hari ini... dan tentang permintaamu soal 'ruang'... aku sudah memikirkannya sepanjang hari di kantor. Aku tidak ingin kau merasa tercekik lagi."

​Kinara meletakkan gelas tehnya, menatap Arlan dengan serius.

"Lalu? Apa keputusanmu?"

​Arlan menarik napas panjang. Ia mengeluarkan sebuah ponsel baru yang masih di dalam kotak dan sebuah kunci dari saku celananya. Ia meletakkannya di atas meja, lalu mendorongnya perlahan ke arah Kinara.

​"Ini ponsel baru untukmu. Tanpa pelacak GPS dariku, tanpa akses khusus, dan tanpa penyadapan. Aku juga sudah meminta Maya untuk menyewa sebuah ruangan kantor kecil di area Creative Hub di pusat kota. Ruangan itu atas namamu sendiri. Kau bisa menggunakannya untuk menulis, bertemu teman-teman penulis, atau sekadar menyendiri tanpa merasa diawasi oleh penjaga mansion," ucap Arlan dengan nada bicara yang sangat dewasa.

​Kinara tertegun.

Matanya berkaca-kaca melihat kesungguhan pria di depannya. Ia tahu betapa sulitnya bagi seorang Arlan yang posesif untuk memberikan kebebasan seperti ini.

"Arlan... kau tidak perlu melakukan sejauh ini. Aku hanya butuh sedikit pengertian, bukan kantor baru."

​"Aku perlu melakukannya," potong Arlan cepat.

"Aku ingin kau berada di sini karena kau memang ingin, bukan karena kau terpaksa atau terancam.

Aku ingin mencintaimu tanpa membuatmu merasa seperti tawanan. Tapi..." Arlan menggantung kalimatnya, wajahnya kembali terlihat sedikit manja dan ragu.

"...bolehkah aku meminta satu syarat?"

​Kinara tertawa kecil, rasa harunya sedikit teralih oleh tingkah Arlan.

"Apa syaratnya, Bayi Gede?"

​Arlan sedikit merona saat dipanggil begitu, namun ia melanjutkan,

"Setiap hari Sabtu dan Minggu, tolong jangan ada laptop, jangan ada urusan grup penulis, dan jangan ada ponsel. Hanya ada aku dan kamu. Entah kita hanya tidur seharian di rumah, atau pergi ke taman, aku ingin waktumu sepenuhnya untukku. Tanpa gangguan dunia luar."

​Kinara mengangguk perlahan, ia merasa kesepakatan ini sangat adil.

"Kesepakatan diterima."

​Malam itu ditutup dengan suasana yang sangat manis.

Arlan meminta izin untuk menyandarkan kepalanya di bahu Kinara saat mereka menonton televisi, dan kali ini, Kinara tidak menolak.

Ia membiarkan Arlan memegang tangannya, memberikan rasa aman yang selama ini hilang dari pernikahan mereka.

Arlan pun tertidur di bahu Kinara dengan dengkur halus, menunjukkan betapa tenangnya ia saat berada di dekat wanita itu.

​Keesokan harinya, Kinara mulai menata kantor kecilnya.

Ia merasa sangat bahagia bisa kembali ke dunianya tanpa ada rasa takut.

Namun, kebahagiaan itu sedikit terusik saat ia menerima sebuah notifikasi pesan di akun media sosial anonim miliknya. Sebuah pesan dari nomor yang disamarkan.

​"Jangan terlalu senang, Kinara. Arlan tetaplah Arlan. Kau pikir dia benar-benar berubah? Dia hanya sedang memakai topeng 'suami baik' untuk menutupi dosanya yang besar. Tanyakan padanya tentang Proyek Andromeda lima tahun lalu. Tanyakan padanya siapa yang sebenarnya membuat perusahaan ayahmu bangkrut dan membuatnya serangan jantung."

​Jantung Kinara seolah berhenti berdetak.

Tangannya gemetar hebat saat membaca pesan itu berulang-ulang hingga penglihatannya kabur.

Proyek Andromeda? Itu adalah proyek besar yang melibatkan mendiang ayahnya sebelum sang ayah jatuh miskin dan meninggal dunia karena depresi. Selama ini Kinara mengira itu murni kegagalan bisnis karena persaingan pasar.

Namun, pesan ini menyiratkan ada sabotase yang disengaja.

​Tepat saat itu, pintu kantor kecilnya terbuka. Arlan berdiri di sana dengan senyum lebar yang sangat cerah, membawa sebuket bunga mawar merah yang sangat besar.

​"Kejutan! Aku tidak tahan untuk tidak mampir di jam makan siang dan melihat kantor barumu," ucap Arlan ceria, melangkah masuk dengan penuh percaya diri.

​Kinara berusaha menarik napas dalam-dalam, mencoba tersenyum meskipun bibirnya terasa kaku.

Namun, matanya yang memerah tidak bisa berbohong. Ia menatap Arlan dengan tatapan yang penuh tanda tanya dan kecurigaan yang mulai tumbuh kembali.

​"Ada apa, Kinara? Wajahmu pucat sekali. Kau sakit?" Arlan segera meletakkan bunganya di meja dan mendekat, mencoba menyentuh kening Kinara dengan cemas.

​Kinara mundur satu langkah secara refleks, menghindari sentuhan Arlan.

Gerakan itu kecil, namun bagi Arlan, itu terasa seperti tamparan keras di wajahnya.

​"Kinara? Apa aku melakukan kesalahan lagi?" tanya Arlan dengan suara yang tiba-tiba bergetar.

Ketakutan akan dibentak atau ditinggalkan kembali muncul di matanya. Ia berdiri mematung, menatap tangannya yang menggantung di udara dengan bingung.

​Kinara menatap ponsel di tangannya, lalu menatap Arlan yang kini terlihat sangat rapuh.

Ia ingin bertanya sekarang juga, namun ia takut jika kebenaran itu benar-benar ada, kebahagiaan singkat yang baru mereka bangun akan hancur selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!