NovelToon NovelToon
Catur Mithra

Catur Mithra

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: Paduka Zenku

Bahagia. Apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Kenapa orang bisa berbahagia? Itulah yang dipikirkan oleh keempat remaja SMAN Cempaka 1. Hidup mereka selalu susah, entah secara ekonomi, fisik, mental, keluarga, dan lain lain. Mereka selalu memikirkan bagaimana caranya hidup bahagia. Akankah mereka bisa hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paduka Zenku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5: Belajar Bahasa Inggris Bersama

Azril tidak menyangka bahwa mengajak teman-teman ke rumahnya akan membuatnya segugup ini.

Bukan karena malu. Rumahnya memang kecil, dindingnya mulai mengelupas di beberapa sudut, dan kursi tamu yang ia lap pagi itu masih terlihat usang meskipun sudah dibersihkan berkali-kali. Tapi ia tidak pernah malu dengan itu. Yang membuatnya gugup adalah membayangkan bagaimana reaksi Bima, Faris, dan Elang nanti. Bukan terhadap rumahnya—tapi terhadap keluarganya.

Ibunya, yang sejak pagi sudah sibuk menyiapkan camilan meskipun Azril bilang tidak usah repot-repot. Adiknya, Dinda, yang kelas 5 SD dan selalu terlalu cerewet saat ada tamu.

Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengiyakan. Setelah sampai depan pintu Azril mengetuk pintu rumahnya.

"DINDA, BUKAIN PINTU!" teriak ibu dari dalam, mungkin dari dapur.

Tidak lama kemudian terdengar langkah kaki, dan daun pintu berayun pelan sebelum pintu perlahan terbuka. Dari balik pintu muncul kepala seorang anak perempuan berkuncir dua—Dinda.

"Wah, ini adik lo, Zril? Imut juga ya, jadi pengen punya adek," Bima langsung masuk tanpa canggung, matanya menyapu halaman depan yang dipenuhi pot tanaman ibu. "Ada bunga melati, ada mawar... ibu lo hobi nanam ya?"

Azril mengangguk, sedikit lega karena Bima tidak fokus pada kondisi rumah. "Iya. Masuk, yuk."

Dinda sudah berdiri di samping Azril, matanya membulat melihat Bima yang tinggi dan berbadan tegap. "Kak, itu teman kakak?"

"Iya. Ini Bima, ini Faris, ini Elang."

Dinda langsung bersemangat. "Kak Bima tinggi banget! Kak Elang juga keren! Kak Faris... kok bawa buku mulu?"

Azril nyaris memegang dahi. "Din, jangan usil."

Tapi Faris tidak terlihat tersinggung. Ia malah membuka notebook-nya, menulis sesuatu, lalu menunjukkan pada Dinda:

[Halo. Aku suka menggambar.]

Dinda membaca, lalu matanya berbinar. "Wah, kakak bisa gambar? Gambarin aku dong!"

Azril terkejut melihat Faris tersenyum—senyum kecil yang jarang muncul, tapi nyata. Faris mengangguk, dan Dinda langsung menarik tangannya masuk ke dalam rumah.

Bima terkekeh. "Wah, Faris sekarang punya fans cilik."

Elang yang dari tadi diam akhirnya bersuara. "Rumah lo... sepi."

Azril menoleh. "Iya, cuma bertiga. Ayah udah gak ada."

Elang mengangguk pelan. Tidak ada rasa iba di matanya—hanya pengertian. Seperti seseorang yang juga tahu bagaimana rasanya kehilangan figur orang tua. Ia tidak bertanya lebih lanjut, dan Azril bersyukur untuk itu.

...~•~•~•~...

Di ruang tamu yang sempit, mereka duduk bersila di atas karpet tipis yang sudah sedikit lusuh. Ibu membawa nampan berisi pisang goreng dan es teh manis, tersenyum ramah pada setiap tamu yang datang.

"Selamat belajar ya, anak-anak. Jangan sungkan-sungkan."

"Makasih, Bu!" Bima menyambut dengan antusias, langsung mengambil dua pisang goreng sekaligus.

Ibu tertawa, lalu pamit masuk ke dapur. Azril tahu ibunya sengaja memberi ruang agar mereka tidak merasa diawasi.

Azril membuka buku catatan Bahasa Inggrisnya. "Oke, kita mulai dari dasar aja. Gue liat nilai lo semua—"

"Jangan diingetin, Zril," Bima memotong dengan wajah memelas. "Gue trauma."

Faris yang sedang membuka buku sketsa untuk Dinda (gadis kecil itu duduk manis di sampingnya dengan mata berbinar) ikut menoleh. Ia menulis cepat:

[Nilai gue juga jelek.]

"Lo gak usah ikut-ikutan, Ris," Bima meraih bahu Faris. "Lo pinter gambar, itu udah lebih dari cukup."

Elang yang duduk paling jauh, bersandar di dinding, diam mendengarkan. Azril meliriknya sekilas. "Elang, lo gak masalah kan belajar dari dasar?"

Elang mengangkat bahu. "Terserah."

"Oke." Azril menarik napas. Ia sudah menyiapkan ini semalaman—membuat rangkuman sederhana tentang tenses, menyusun contoh kalimat yang mudah dipahami. Di sekolah lama, ia tidak pernah diberi kesempatan untuk mengajar siapa pun. Tapi di sini, di ruang tamu rumahnya yang sempit, dengan tiga teman yang duduk di hadapannya, ia merasa... berguna.

"Jadi, Bahasa Inggris itu sebenernya punya pola. Kalo lo ngerti polanya, lo tinggal masukin kata-katanya."

Ia mengambil spidol hitam yang ia pinjam dari Dinda, mulai menulis di kertas karton bekas yang ia tempel di dinding.

"Misalnya, present tense. Digunakan untuk fakta atau kebiasaan. Polanya: subject + verb."

Bima mengernyit. "Subject itu apa?"

"Subjek. Kayak I, you, we, they, he, she, it."

"Terus verb?"

"Kata kerja. Makan, minum, lari, gitu."

"Oke, gue paham. Terus?"

Azril menjelaskan dengan sabar. Kadang Bima memotong dengan pertanyaan yang sebenarnya sudah dijawab, tapi Azril tidak pernah menunjukkan rasa jengkel. Faris sesekali menulis catatan kecil di notebook-nya, tapi lebih sering matanya tertuju pada Dinda yang masih asyik menggambar di sampingnya. Elang... Elang diam. Tidak bertanya, tidak mencatat. Tapi Azril memperhatikan bahwa matanya tidak berpaling dari kertas karton itu.

Setelah satu jam, Bima menghela napas dramatis. "Zril, gue makin pusing. Otak gue udah penuh. Istirahat dulu yuk."

Azril tersenyum. "Bentar lagi, Bim. Tinggal latihan dikit."

"Latihan apa?"

"Buat kalimat sendiri. Tema bebas."

Bima mengerang, tapi tetap mengambil pulpen. Faris sudah mulai menulis di notebook-nya. Elang hanya diam, tidak bergerak.

Azril menghampiri Elang. "Lo gak mau coba?"

Elang menatapnya beberapa saat. "Gue bukan tipe belajar kayak gini."

"Terus lo tipe belajar kayak gimana?"

Elang tidak menjawab. Azril tidak memaksa. Ia kembali ke tempatnya, membiarkan Elang mengamati dari kejauhan.

Beberapa menit kemudian, Faris menggeser notebook-nya ke tengah. Di halaman itu tertulis:

[I like drawing. My mother is happy when I draw.]

Bima bersiul. "Wah, Ris, lo jago juga! Itu bener gak, Zril?"

Azril membaca, lalu mengangguk. "Bener. Grammar-nya bener semua."

Faris tersenyum kecil, lalu kembali menunduk ketika Dinda menarik lengannya untuk melihat gambar yang baru ia selesaikan—gambar seorang gadis kecil dengan dua kuncir rambut, tersenyum lebar.

Bima menggaruk kepalanya, lalu menulis sesuatu dengan coretan besar di kertasnya. Ia menunjukkan pada Azril.

[I like football. I want to be football player.]

Azril membaca. Lalu ia membaca sekali lagi. Ada sesuatu di kalimat terakhir yang membuat dadanya terasa sesak. I want to be football player. Bima menulis itu dengan polos, seperti anak kecil yang menuliskan cita-citanya tanpa beban. Tapi Azril ingat apa yang Bima katakan di bab sebelumnya—takut disuruh jadi TKI seperti kakaknya.

"Bener, Bim," Azril berkata pelan. "Grammar-nya bener."

Bima tersenyum lebar. "Yess! Gue pinter juga ternyata!"

Azril tidak membenarkan atau menyangkal. Ia hanya tersenyum, lalu matanya beralih ke Elang yang masih diam.

"Elang, lo gak mau coba?"

Elang menghela napas. Tapi kali ini, ia mengambil pulpen. Ia menulis sesuatu di secarik kertas—hanya satu kalimat pendek, dengan tulisan yang rapi tapi terlihat kaku, seperti jarang memegang pulpen untuk menulis.

[I want to change.]

Azril membaca kalimat itu. Tiga kata. Sederhana. Tapi berat.

Ia menatap Elang, dan untuk sesaat, mereka saling bertatapan. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Azril mengangguk pelan.

"Itu bener, Elang. Grammar-nya bener."

Elang tidak menjawab. Tapi ia tidak membuang kertas itu. Ia melipatnya kecil-kecil, lalu memasukkannya ke saku celana.

...~•~•~•~...

Sore mulai berganti senja ketika mereka memutuskan untuk beristirahat. Dinda sudah tertidur di pangkuan Faris—gadis kecil itu kelelahan setelah menggambar seharian—dan Faris terlihat panik karena tidak tahu harus berbuat apa.

"Biar gue," Azril meraih adiknya, membopongnya menuju kamar. Saat ia kembali, Bima sedang berdiri di depan rak buku kecil di sudut ruang tamu.

"Wah, Zril, lo punya banyak buku. Ini novel semua?"

"Iya," Azril menjawab. "Dulu sering aku baca."

"Dulu? Sekarang gak?"

Azril menggeleng. "Sekarang fokus belajar."

Bima tidak bertanya lebih lanjut. Tapi matanya berhenti pada satu buku yang berbeda dari yang lain—bukan novel, tapi buku catatan tebal dengan sampul lusuh. "Itu apa?"

Azril membeku. "Itu... catatan lama."

Bima tidak mengambilnya. Ia hanya tersenyum. "Lo tuh misterius, Zril."

Elang yang dari tadi berdiri di dekat pintu, tiba-tiba bersuara. "Gue duluan."

Azril menoleh. "Eh? Gak makan dulu? Nyokap lagi masak."

"Gue... ada urusan." Elang tidak menatap siapa pun. "Makasih."

"Besok masih dateng?" Bima bertanya dari balik rak buku.

Elang berhenti sejenak. "...Mungkin."

Ia keluar tanpa menunggu jawaban. Pintu depan tertutup pelan di belakangnya.

Faris yang dari tadi diam, menulis sesuatu di notebook-nya lalu menunjukkan pada Azril:

[Dia baik. Cuma gak biasa aja.]

Azril membaca, lalu tersenyum. "Gue tau."

...~•~•~•~...

Setengah jam kemudian, Bima dan Faris pamit pulang. Ibu memaksa mereka membawa pisang goreng sisa, dan Bima menerimanya dengan senyum lebar. "Makasih, Bu! Besok-besok boleh main lagi!"

"Boleh, nak. Sering-sering aja ke sini. Azril kan jarang bawa teman."

Azril yang mendengar itu dari belakang merasa sedikit malu, tapi juga hangat. Ibu jarang melihatnya bergaul. Mungkin hari ini ibu senang.

"Zril, lo gak usah anter," Bima melambai dari pintu. "Yaudah, besok ketemu di sekolah!"

"Besok jangan telat," Azril membalas.

"Gue janji!"

Faris melambaikan tangan kecil sebelum berbalik mengikuti Bima. Notebook-nya masih tergenggam erat, tapi Azril memperhatikan bahwa Faris tidak lagi memegangnya seperti perisai. Hanya... memegang.

Azril menutup pintu, lalu bersandar di dinding. Ruang tamu kembali sepi. Karpet tipis masih berantakan dengan kertas-kertas bekas latihan, spidol tergeletak di lantai, dan aroma pisang goreng masih tersisa.

Ia tersenyum.

Hari ini berat. Mengajar Bima yang kadang terlalu cepat bosan, memastikan Faris merasa nyaman, mencoba membuat Elang terbuka... semua menguras energinya. Tapi ia merasa senang. Benar-benar senang.

Ia mulai merapikan kertas-kertas itu. Tangannya bergerak dengan kebiasaan rapi yang sudah ia lakukan sejak kecil—sejak ia belajar bahwa menjaga sesuatu tetap teratur adalah satu-satunya cara untuk mengendalikan sesuatu dalam hidupnya.

Saat ia membungkuk mengambil spidol di bawah meja, ia merasakannya.

Sesak.

Bukan sesak biasa yang hilang setelah menarik napas dalam-dalam. Ini berbeda. Seperti ada yang duduk di dadanya, menekan perlahan tapi pasti. Nafasnya mulai terasa pendek.

Azril berhenti bergerak. Ia duduk di lantai, bersandar ke meja, berusaha mengatur napas.

Tarik. Pelan. Lepaskan.

Tarik. Pelan. Lepaskan.

Tapi sesaknya tidak kunjung reda. Bahkan mulai terasa lebih berat. Tangannya meraih saku celana—di mana inhaler biasanya ia simpan—tapi saku itu kosong.

Panas.

Ia bangkit dengan gerakan tersentak-sentak, berjalan ke kamarnya. Langkahnya terhuyung. Di sudut meja belajarnya, di balik tumpukan buku, inhaler biru itu tergeletak.

Tangannya gemetar saat meraihnya. Satu tekan. Dua tekan.

Ia duduk di tepi tempat tidur, menutup mata, membiarkan obat bekerja perlahan di paru-parunya. Napasnya mulai teratur. Sesaknya mulai mereda.

Tapi di dalam kepalanya, suara itu kembali.

Lo lemah, Azril. Lo sakit. Lo cuma beban buat orang lain. Mama harus kerja keras buat biayain pengobatan lo. Adik lo harus lihat lo batuk-batuk tiap malam. Dan lo... lo gak bisa jadi apa-apa.

Azril membuka matanya. Inhaler masih tergenggam di tangannya. Ia melihat benda kecil itu—penyelamat sekaligus pengingat bahwa tubuhnya tidak pernah berpihak padanya.

Ia menyembunyikan inhaler itu kembali di balik tumpukan buku. Di saku celana ia sudah tidak pernah menyimpannya sejak pindah ke sekolah ini. Karena takut ketahuan. Takut dilihat lemah. Takut Bima tahu bahwa temannya yang baru ini bukan hanya culun—tapi juga sakit.

Tapi hari ini ia hampir kehabisan napas. Di rumahnya sendiri. Tanpa ada yang melihat.

Azril berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit yang mulai retak. Matanya terasa panas. Bukan karena sesak napas. Tapi karena sesuatu yang sudah lama ia pendam.

Sampai kapan gue bisa sembunyiin ini?

Tidak ada yang menjawab. Hanya suara ibu dari dapur yang mulai menggoreng sesuatu untuk makan malam. Hanya suara adiknya yang mulai bangun dari tidur.

Dan Azril, di kamarnya yang sempit, membiarkan air mata jatuh untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama.

...~•~•~•~...

Di luar rumah Azril, langit senja berwarna jingga gelap. Bima mengayuh motornya perlahan, Faris di belakangnya dengan helm yang sedikit kebesaran.

"Ris, lo seneng gak tadi?" Bima bertanya di tengah jalan.

Faris menulis sesuatu di notebook-nya, lalu menepuk pundak Bima untuk menunjukkan tulisannya.

[Seneng. Rumah Azril enak.]

Bima tertawa. "Iya, ibunya baik banget. Dan adiknya lucu."

[Azril juga baik. Sabar ngajarin kita.]

"Betul. Padahal dia dulu dapet nilai empat." Bima menggeleng. "Masa sih dia dapet empat? Jago banget tuh ngajarin."

Faris tidak menjawab. Tapi di dalam hatinya, ia setuju. Azril berbeda. Tidak memaksa, tidak terburu-buru, tidak membuatnya merasa aneh karena menulis di notebook. Azril hanya... menerima.

Mungkin itu sebabnya Faris merasa nyaman. Mungkin itu sebabnya ia bisa tersenyum hari ini.

...~•~•~•~...

Di rumahnya yang sunyi, Elang duduk di kamar dengan punggung bersandar ke pintu yang terkunci. Di tangannya, kertas lipatan dari tadi sore masih ia genggam.

Ia membuka lipatan itu perlahan.

I want to change.

Tiga kata. Ditulis dengan tangannya sendiri.

Ia ingat tatapan Azril saat membaca kalimat itu. Tidak ada ejekan. Tidak ada keraguan. Hanya... penerimaan. Sederhana. Seperti hal itu bukan hal besar.

Tapi bagi Elang, itu adalah hal terbesar yang pernah ia tulis.

Ia melipat kertas itu lagi. Menyimpannya di balik bantal. Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia membiarkan dirinya berpikir bahwa mungkin... mungkin ia bisa.

...~•~•~•~...

Di kamar Azril, ibu mengetuk pintu pelan. "Zril, makan malam."

Azril menghapus wajahnya cepat. "Iya, Ma. Sebentar."

Ia berdiri, memastikan inhaler tersembunyi di balik buku. Ia menarik napas dalam-dalam—dalam, penuh, tanpa sesak.

Di luar, suara Dinda mulai bertanya-tanya kapan kak Bima akan main lagi. Suara ibu tertawa, menjawab dengan sabar.

Azril menatap cermin di kamarnya. Wajahnya pucat, matanya sedikit merah. Tapi tidak ada yang akan melihat. Tidak ada yang akan tahu.

Ia membuka pintu, dan tersenyum pada ibunya.

"Ayo, Ma. Aku udah laper."

Tapi di dalam hatinya, ia tahu. Sesuatu harus berubah. Ia tidak bisa terus menyembunyikan ini selamanya. Terutama dari orang-orang yang mulai ia anggap... teman.

TBC

1
T28J
bunga untukmu /Rose/
T28J
sampai sini dulu ya kak, besok saya lanjut lagi👍
T28J: kalau bagus sih relatif sih kak, tapi menurutku sih ok, jadi keinget masa masa STM dulu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!