Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.35
Kalimat itu membuat Marisa membeku di tempatnya. Sementara Harlan, sama sekali tidak menunggu jawaban apapun lagi dari wanita itu.
Pria itu langsung menggenggam tangan Alisa lebih erat, lalu berjalan melewati Marisa begitu saja. Tatapannya lurus ke depan tanpa sedikitpun menoleh lagi.
Bip…
Sidik jari Harlan menempel pada panel pintu apartemen. Dalam hitungan detik, pintu utama penthouse itu terbuka perlahan. Harlan segera membawa Alisa masuk ke dalam. Lalu…
Brak.
Pintu apartemen tertutup kembali dengan suara cukup keras, membuat Marisa tersentak. Wanita itu masih berdiri di depan pintu bersama dengan koper yang ia bawa.
Kedua tangannya terkepal kuat. Rahangnya langsung mengeras, tak terima dengan perlakuan kasar pria yang dulu hampir menjadi suaminya.
Sementara itu, di dalam apartemen. Suasana langsung berubah sangat hening. Cahaya matahari yang masuk lewat celah jendela menyambut kedatangan mereka, namun ketegangan di tubuh Harlan masih terasa jelas.
Pria itu masih berdiri di depan pintu.
Nafasnya terdengar berat dengan rahang yang masih mengeras. Bahkan kedua tangannya masih mengepal kuat seolah dirinya sedang berusaha menahan emosi yang sejak tadi hampir meledak.
Alisa yang berdiri di depannya perlahan menatap wajah suaminya dengan khawatir.
“Mas…” panggilnya pelan.
Deg.
Belum sempat melanjutkan ucapannya, Alisa dibuat kaget karena Harlan langsung menarik tubuhnya, masuk ke dalam pelukannya. Pria itu mendekap erat tubuh sang istri.
Sampai tubuh mungil itu benar-benar tenggelam di dalam dekapannya.
Meski sedikit kaget, namun beberapa detik kemudian ia langsung mengerti kalau Harlan sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Pria itu memejamkan mata kuat-kuat sambil menyembunyikan wajahnya di leher sang istri. Nafas hangatnya terasa tidak beraturan.
Sementara kedua lengan nya melingkar begitu kuat di tubuh Alisa seolah takut wanita itu akan menghilang dari hidupnya.
“Mas…” bisik Alisa lagi jauh lebih lembut.
Harlan tidak menjawab. Namun, pelukannya justru semakin erat.
Alisa akhirnya perlahan mengangkat kedua tangannya, membalas pelukan itu.
Perlahan, tangannya pun mulai bergerak, membelai punggung lebar suaminya itu dengan sangat lembut. Memberi ketenangan untuk suaminya yang sedang bergejolak.
“Tenangkan dirimu, Mas… aku di sini. Bersamamu.” ucap Alisa lirih.
Kalimat sederhana itu justru membuat Harlan menghembuskan nafas panjang. Seolah dirinya benar-benar membutuhkan suara lembut istrinya untuk meredakan amarah yang sejak tadi ia tahan.
“Maafkan aku. Tidak seharusnya kamu melihatku seperti ini.” gumam Harlan pelan dengan suara berat.
Alisa terdiam sambil tetap mengusap punggung suaminya dengan sangat lembut.
“Tidak apa apa. Lagipula, aku sudah terbiasa menghadapi sikapnya yang seperti itu,” jawab Alisa dengan nada yang sangat tenang.
“Tapi aku tidak suka. Aku sangat benci saat dia menatapmu dengan tatapan yang merendahkan seperti tadi.” lanjut Harlan.
Suaranya sudah mulai terdengar jauh lebih tenang. Tidak se tegang saat berhadapan dengan Marisa tadi.
Perlahan, Alisa pun melepaskan sebelah tangannya dari punggung Harlan, lalu mengusap lembut rambut pria itu.
“Terima kasih… sudah melindungiku dengan sangat baik.” ucapnya pelan.
Harlan langsung mengangkat wajahnya sedikit untuk menatap wajah Alisa.
Sorot matanya masih dipenuhi emosi yang belum sepenuhnya reda. Namun di depan istrinya, tatapan itu perlahan mulai melembut.
“Mulai sekarang, tidak akan kubiarkan siapapun menyakitimu lagi. Termasuk dia.”
Deg.
Jantung Alisa langsung berdegup kencang saat mendengar ketegasan Harlan untuk melindunginya.
Wanita itu kemudian tersenyum kecil, lalu mengusap pelan rahang tegas suaminya yang masih terlihat menegang.
“Baiklah. Terima kasih. Tapi sekarang, sebaiknya Mas tenangkan diri dulu, ya.” bujuknya lembut.
Harlan menatap wajah Alisa beberapa detik tanpa bicara. Tatapannya perlahan berubah. Amarah yang tadi memenuhi dirinya kini bercampur dengan rasa lega.
Seketika, perasaan ingin memiliki wanita yang ada di hadapannya itu semakin kuat. Raut wajah Alisa yang ketakutan saat mendapatkan tatapan intimidasi dari Marisa, membuatnya terbakar api amarah.
Perlahan, pria itu memajukan wajahnya mendekati wajah Alisa. Nafas mereka saling bertabrakan. Refleks, Alisa menahan nafas saat melihat sorot mata Harlan yang begitu dalam menatapnya.
Jemari pria itu perlahan naik, mengusap lembut pipi sang istri seolah Alisa adalah sesuatu yang sangat berharga untuk disentuh terlalu kasar.
“Sayang…” gumamnya lirih.
Belum sempat Alisa menjawab, Harlan sudah lebih dulu mengecup lembut bibir istrinya.
Deg.
Alisa tersentak kecil saat bibir Harlan menyentuh bibirnya. Namun, detik kemudian Alisa mulai memejamkan matanya saat kecupan itu berubah semakin lama.
Harlan menahan pinggang istrinya cukup erat saat memperdalam ciuman mereka dengan penuh perasaan. Tidak kasar. Namun cukup untuk membuat jantung Alisa berdebar tidak karuan.
Tangannya refleks mencengkeram pelan kemeja Harlan ketika pria itu kembali mengecup bibirnya berkali-kali. Setiap sentuhan yang diberikan Harlan terasa begitu berbeda kali ini.
Perlahan… Harlan melepaskan ciuman mereka. Keningnya menempel pada kening Alisa sambil mengatur nafas yang masih memburu.
“Aku benar-benar tidak suka melihatmu diperlakukan seperti itu.” ucapnya pelan.
Alisa membuka mata perlahan lalu tersenyum kecil. Melepas cengkraman tangannya di kemeja Harlan, lalu perlahan mulai melingkarkan kedua tangan itu di pinggang Harlan.
“Bukankah sekarang sudah ada Mas. Selama ada Mas di samping aku, maka aku akan baik-baik saja.”
Kalimat itu sukses membuat pertahanan Harlan runtuh sepenuhnya.
Pria itu langsung menarik tubuh Alisa kembali ke dalam pelukannya, lalu mengecup kening wanita itu berkali-kali sebelum akhirnya kembali mencari bibir sang istri.
Ciuman mereka kali ini terasa lebih hangat. Lebih dalam. Dan jauh lebih penuh perasaan. Tanpa sadar, langkah kaki mereka mulai bergerak perlahan menuju kamar utama penthouse itu.
Harlan tidak pernah benar-benar melepaskan Alisa dari dekapannya.
Sementara Alisa membiarkan dirinya dibawa sambil sesekali tertawa kecil di sela nafasnya karena Harlan terus mencuri kecupan di wajahnya.
Dan…
Bruk.
Bagian belakang lutut Alisa menyentuh tepi ranjang lebih dulu membuat wanita itu sedikit terkejut. Namun sebelum sempat kehilangan keseimbangan, Harlan sudah menahan tubuhnya dengan cepat.
Tatapan mereka kembali bertemu. Kali ini lebih dekat. Lebih hangat.
Dan dipenuhi rasa cinta yang perlahan tumbuh semakin besar di antara keduanya.
Harlan mengusap lembut rambut Alisa ke belakang telinganya, lalu mengecup kening wanita itu lama sekali.
“Aku mencintai kamu… Alisa.” bisiknya lirih dengan suara yang terdengar semakin berat.
Deg.
Ucapan itu membuat mata Alisa langsung melembut. Wanita itu tersenyum kecil sambil menyentuh pelan wajah suaminya.
“Aku juga… mencintaimu, Mas Harlan.” jawabnya malu-malu.
Harlan tersenyum tipis, lalu pria itu kembali memeluk erat tubuh Alisa. Setelah merasa cukup, ia langsung merebahkan tubuh mereka perlahan di atas ranjang, membiarkan kehangatan serta rasa nyaman menyelimuti keduanya.
Di tengah sunyinya penthouse itu, Harlan akhirnya menemukan ketenangan yang sejak tadi ia cari… tepat di dalam pelukan istrinya sendiri.
ih gedeg banget deh pengen tak petok keplana pak Ali sama palu biar sadar 😤😤😤