NovelToon NovelToon
Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Lumpuhkan Aku Di Ranjangmu, Tuan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Persaingan Mafia / Sugar daddy
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Gwen rela menjadikan tubuhnya sebagai jaminan demi menyelamatkan nyawa ayahnya yang terlilit utang kepada pemimpin mafia paling kejam.

Tak disangka, Raymon, pemimpin kejam itu, ternyata lumpuh akibat ulah keluarganya sendiri yang ingin menggulingkan kekuasaannya.

Demi menjaga stabilitas, ia membutuhkan seorang istri untuk meredam gosip tentang dirinya yang masih lajang dan belum memiliki keturunan sebagai pewaris kekuasaan.

Masa terapi pemulihan kakinya diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula, Gwen harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai Raymon di hadapan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pria yang Ditakuti Gwen

Raymon menatap dari balik mejanya saat melihat kepala Gwen muncul dari celah pintu.

“Aku bikin sesuatu buat kamu.”

“Kamu gosongin lagi?” tanyanya datar.

“Ini morozhenoe.” Gwen tersenyum, melangkah masuk, lalu berdiri di antara kaki Raymon. Dia menyendok es krim dari mangkuk di tangannya dan mengarahkannya ke mulut Raymon.

Raymon sedikit membungkuk dan membiarkan Gwen menyuapinya.

“Elliot lagi ngajarin aku bahasa Rusia,” kata Gwen santai.

“Oh ya? aku nggak sabar denger kamu belajar apa aja.”

“Baru sampai govno, chort vozmi, sama skotina. Itu favorit dia.”

Raymon mendengus pelan.

“Aku nggak kaget.”

Dia mengambil ponselnya dan langsung menelepon Carolina. Sambungan tersambung di dering kedua.

“Elliot lagi ngajarin Gwen kata-kata kasar. Dia lagi pengin mati, ya?”

“Raymon!” Gwen langsung menarik kemejanya dan berusaha merebut ponsel, tapi Raymon menjauhkan tangannya dan malah mencium Gwen singkat.

“Nggak ada yang ngajarin kamu bahasa Rusia selain aku. Ngerti?”

“Ngerti, kotik.”

Raymon memejamkan mata, lalu menggeleng pelan.

“Kamu nggak manggil Presiden dengan ‘kucing’, Gwen. aku punya reputasi yang harus dijaga.”

Gwen menyipitkan mata, mencoba terlihat serius, lalu menyentuh ujung hidung Raymon dengan jarinya.

“Kotik mematikan aku. Gitu lebih bagus?”

“Nggak.”

“Kamu nggak asik.”

Gwen melingkarkan tangannya di leher Raymon. “Kita makan di luar yuk?”

Raymon menghela napas pelan.

“Maaf, Babby. Malam ini aku ada urusan bisnis yang ngeselin. Kita berangkat dua puluh menit lagi, dan aku nggak tahu bakal berapa lama. Mungkin aku balik sekitar jam sepuluh atau sebelas.”

Gwen menatapnya sejenak. “Hati-hati, Raymon.”

Raymon memperhatikannya pergi. Ada sesuatu yang terasa aneh… punya seseorang yang menunggu dia pulang, yang benar-benar peduli apakah dia baik-baik saja atau tidak.

...***...

Raymon belum juga pulang.

Gwen merapatkan sweternya dan kembali melirik jam, mungkin untuk yang keseratus kalinya dalam satu jam terakhir. Sudah pukul tiga setengah, dan tidak ada telepon atau pesan darinya. Dia tidak mau mengganggu urusan Raymon, jadi tadi dia sempat menanyakan ke Troy yang tinggal di rumah, sekitar jam satu, lalu lagi sekitar jam tiga. Troy juga tidak tahu apa-apa.

“Gila, Raymon,” gumamnya pelan, matanya terpaku pada gerbang di seberang halaman. “Jangan sampai kamu mati.”

Sekitar pukul empat, gerbang akhirnya terbuka. Dua mobil masuk dan berhenti di depan rumah. Para pria mulai turun satu per satu. Gwen menempelkan telapak tangannya ke kaca, mencari sosok Raymon.

Dia keluar terakhir.

Cara dia turun dari mobil, pelan dan jelas menahan sakit, langsung membuat Gwen tahu lututnya dipaksakan terlalu jauh lagi kali ini.

“Dasar bego keras kepala,” gumam Gwen.

Jarak yang biasanya ditempuh Raymon dalam hitungan detik sekarang butuh hampir lima menit.

Apa yang dia pikirkan?

Orson sudah bilang dia tidak boleh jalan jauh setidaknya beberapa minggu lagi, dan dia malah keluyuran semalaman bahkan belum seminggu berlalu.

Di kamar, Gwen mengeluarkan kursi roda dari lemari tempat Raymon menyembunyikannya, lalu menaruhnya di dekat pintu. Raymon punya ide bodoh, kalau dia tidak akan pernah lagi terlihat duduk di kursi roda oleh anak buahnya.

Gwen menyilangkan tangan di dada, menunggu.

Sepuluh menit kemudian, pintu terbuka dan Raymon masuk dengan langkah terpincang. Dia melihat kursi roda, lalu menatap Gwen. Wajah Gwen jelas menunjukkan betapa marahnya dia, karena Raymon akhirnya duduk perlahan dan menyerahkan kruknya.

“Aku marah banget sama kamu,” desis Gwen sambil menyandarkan kruk ke dinding. Dia lalu memegang wajah Raymon dengan kedua tangannya. “Seberapa sakit?”

Raymon menatapnya, tapi tidak menjawab. Rahangnya mengeras.

“Shit, baby.” Gwen menunduk dan mencium keningnya. “Aku ambilin obat ya. Dua?”

“Tiga aja.”

“Oke. kamu butuh bantuan naik ke kasur?”

“Kalau kamu lepas baju dan nunggu aku di sana, itu baru motivasi bagus.”

“Jangan mimpi malam ini.”

Gwen mengusap pipinya pelan, lalu pergi ke dapur.

Setengah jam kemudian, saat Gwen kembali ke kamar, Raymon sudah tertidur lelap karena tiga dosis obat pereda nyeri. Gwen memanfaatkan momen itu untuk mengamatinya. Biasanya Raymon selalu bangun lebih dulu, jadi dia jarang bisa melihatnya dalam keadaan seperti ini.

Gwen menyingkirkan beberapa helai rambut yang jatuh ke dahi Raymon, lalu menelusuri alis, hidung, dan rahangnya dengan ujung jari, mengagumi garis wajahnya yang tegas.

Tuhan, dia benar-benar ketakutan tadi malam.

Tanpa kabar sedikit pun, Gwen sempat berpikir sesuatu yang buruk terjadi. Besok mereka harus benar-benar membicarakan hal ini.

Gwen tidak merasa Raymon sengaja melakukannya. Dia justru merasa Raymon memang tidak terbiasa punya seseorang yang mengkhawatirkannya.

Raymon tidak pernah bercerita tentang masa kecilnya, dan Gwen curiga hidupnya dulu tidak mudah. Masih banyak hal yang dia belum tahu tentang pria itu. Raymon juga jarang membahas urusan bisnisnya, mungkin karena ingin melindungi Gwen dari sisi gelap hidupnya.

Tapi Gwen bukan orang bodoh. Di mata dunia, suaminya adalah pria berbahaya. Di mata Gwen, dia cuma Raymon. Dan kenyataan itu, sedikit banyak, justru membuatnya takut juga.

...***...

“Sebenernya kita bisa aja di rumah,” kata Gwen sambil merapikan roknya dan menggenggam tangan Raymon saat turun dari mobil.

“aku udah janji traktir makan malam.”

“Kita harusnya pulang aja setelah dari restoran. Klubnya bisa lain kali.”

“aku juga ada urusan sama Mason di sini. Kita nggak bakal lama.”

Raymon sebenarnya bisa saja membahas urusan dengan Mason di rumah. Dia melakukan ini karena Gwen. Kemarin Gwen cuma menyebut klub itu sekilas, bilang dia senang dan mungkin suatu saat ingin ke sana lagi. Dia tidak menyangka bakal terjadi secepat ini.

Raymon bahkan harus menghabiskan seharian di kursi roda setelah memaksakan diri kemarin. Gwen tidak suka melihatnya memaksakan diri hanya demi dia.

Tapi kalau Raymon sudah memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa membantah.

Mereka datang lebih malam dibanding kunjungan sebelumnya, jadi klub sudah penuh sesak. Bahkan dengan Whitman yang membuka jalan, mereka tetap harus berdesakan untuk melewati ruangan pertama.

Begitu akhirnya duduk, pelayan datang membawa minuman. Gwen bersandar ke Raymon, hendak mengatakan sesuatu, tapi perhatiannya tiba-tiba tertarik pada seorang pria tinggi berambut pirang di seberang ruangan. Pria itu membelakanginya, sedang berbicara dengan beberapa orang lain.

Tangan Raymon melingkar di pinggangnya, mengatakan sesuatu, tapi Gwen tidak mendengar sepatah kata pun.

Fokusnya hanya pada pria pirang itu. Semakin lama dia menatap, napasnya makin terasa pendek dan dangkal. Seseorang memanggil pria itu.

Dia berbalik. Seolah semua bergerak dalam gerakan lambat. Lalu wajahnya terlihat jelas. Pria itu mengangkat kepala, dan tatapan mereka bertemu.

Gwen berhenti bernapas.

Raymon merasakan tubuh Gwen menegang di sampingnya. Beberapa detik berlalu, lalu tangan Gwen yang tadi berada di pahanya mulai bergetar.

“Babby? Ada apa?”

Gwen tidak merespons. Seolah dia tidak mendengar apa pun. Tatapannya terpaku ke arah kerumunan.

Raymon mengikuti arah pandangnya, mencoba mencari apa yang membuat Gwen ketakutan, tapi tidak ada yang terlihat aneh. Orang-orang hanya minum dan berbicara seperti biasa. Tidak ada yang mencolok, kecuali seorang pria di dekat pintu keluar yang sedang menatap ke arah mereka.

Raymon tidak suka ada pria lain menatap istrinya, tapi itu hal yang biasa. Gwen punya kecantikan yang mencolok.

Namun cara pria ini menatap berbeda.

Bukan sekadar tertarik. Ada sesuatu yang lain. Pengakuan. Dan niat buruk.

Pria itu hampir setinggi Raymon. Dan melihat ekspresi Gwen yang seperti ketakutan, semuanya langsung masuk akal.

Menahan amarahnya, Raymon memegang dagu Gwen dan memaksanya menoleh.

“Itu orang yang nyakitin kamu, ya?”

Gwen menatapnya tanpa berkedip. Bibirnya terkatup rapat.

“Itu dia, kan.” Suara Raymon rendah. “Dia bakal bayar, Babby. Aku pastiin.”

Raymon berbalik, hendak mengambil kruknya.

Gwen langsung mencengkeram lengannya.

“Jangan. kamu janji nggak bakal bunuh siapa pun karena aku.”

Raymon tidak pernah benar-benar berjanji seperti itu. Tapi suara Gwen begitu pelan dan rapuh sampai dia tidak ingin membuatnya semakin tertekan.

Bajingan itu bisa dia urus nanti.

“Whitman!” bentaknya.

Whitman langsung mendekat.

“Lihat orang itu? Di bawah tanda keluar. Pirang, berjenggot, tinggi. aku mau dia diusir dari klub aku. Pastikan dia nggak pernah bisa masuk lagi.”

“Iya, Presiden.”

Raymon merasakan tubuh Gwen sedikit lebih rileks.

“Bagus.”

Raymon merangkul punggung Gwen, lalu menoleh ke Whitman dan menambahkan, “Bawa dia. Tunggu telepon aku.”

Whitman menatapnya sejenak. Raymon membiarkan maksud yang tidak diucapkan itu terlihat jelas di wajahnya.

Whitman mengangguk, lalu pergi ke arah lantai dansa.

Raymon menarik Gwen tetap di sisinya saat Whitman dan salah satu penjaga menyeret pria itu dengan kasar. Begitu mereka pergi, Raymon membawa Gwen keluar dari klub.

Sepanjang perjalanan pulang, Gwen diam. Begitu sampai, dia langsung masuk kamar dan berbaring.

“Semua bakal baik-baik aja,” bisik Raymon saat ikut naik ke tempat tidur.

Gwen tidak menjawab. Dia hanya merapat ke sisi Raymon dan menyembunyikan wajah di lehernya.

Sekitar satu jam kemudian, napas Gwen mulai tenang. Tubuhnya akhirnya rileks.

Raymon menunggu setengah jam lagi, memastikan Gwen benar-benar tertidur pulas, lalu dia bangkit dan keluar kamar.

“Dia di mana?” tanya Raymon begitu Whitman mengangkat telepon.

“Mason sama dia. Di bagasi.”

“Bawa ke ruang bawah.”

Raymon meletakkan ponsel di meja ruang makan, lalu keluar dari suite.

Menuruni tangga sempit ke ruang bawah tanah dengan kruk jelas menyebalkan, tapi dia tetap melakukannya. Dia melewati lorong pendek menuju ruangan belakang.

Di sana, pria itu sudah terikat di kursi, tepat di atas saluran air, mulutnya disumpal.

“Lepas bajunya,” perintah Raymon pada Whitman yang berdiri di sudut.

Raymon berjalan ke meja di dekat dinding, memeriksa deretan pisau dan alat lainnya.

“Presiden? Mau saya panggil Jamerson?”

“Tidak.”

Raymon mengambil salah satu pisau milik Jamerson.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

1
Agnes💅
kalo udah nikah kuras harta nya aja sekalian🤣
Agnes💅
wah seru cerita nya 😍
Neng Anne
lanjut thoooorrrr
Neng Anne
Padahal ceritanya bagus. susunan kata-katanya, bahasanya dan tentu ceritanya. tetap semangat thor,,, jangan menyerah... aku padamu😘🫶🫰
Na-Hyun: terimakassi kk 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!