Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PETAKA
Kepala Lingga langsung pening seketika saat orang suruhan papa meninju pipi kanannya tanpa aba-aba. Belum lama keluar dari kompleks Tania, mobil Lingga dihadang mobil lain, dan dua orang kekar memaksa Lingga untuk keluar. Tak bisa melawan, Lingga pun kena bogeman mentah.
Tolong ikuti perintah Papa Anda Tuan! begitu saran si penonjok, Lingga terduduk di aspal jalan dengan mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
"Wijaya sialan," umpat Lingga semakin benci pada papa. Ia kembali masuk mobil dengan kebencian memuncak.
Ia kembali ke apartemen, lebih baik ia menyendiri. Menikmati kesedihan, karena untuk kesekian kalinya Tania kekeh dengan keputusan egois itu.
Lingga masih memantau aktivitas Tania kepada orang suruhannya, tidak ada yang mencurigakan, sungguh Lingga menyesal telah menuduh Tania sudah move on dan punya pengganti Lingga, sampai merendahkan perempuan yang telah ia renggut kegadisannya.
"Ngga! Temani aku dong, aku ada undangan, aku gak mau ada gosip tentang kita!" pinta Calista memohon. Lingga hanya diam saja, tak mau menggubris permohonan perempuan itu. Kapok, terlalu oversharing, malah dirinya yang dirugikan dan membuat Tania berpikir buruk tentang Lingga. "Dengar aku gak sih," protes Calista dengan wajah cemberut.
Ada launching sebuah brand kosmetik dan Calista diundang, enaknya memang jalan sendiri karena selepas acara kan bisa mampir ke apartemen pacar. Hanya saja sang mama mengingatkan setiap ada undangan harus bawa Lingga, agar media sadar bahwa pernikahan Calista dan Lingga itu berjalan sebagaimana mestinya. Lagian, pengantin baru masa' iya ke kondangan sendiri. Calista harus tetap jaga image, demi kelangsungan eksistensi di sosial media.
"Kamu bisa minta pacar kamu buat dampingi, gak harus aku!" jawab Lingga cuek.
"Kamu yakin ngomong gini sama aku, udah gila kali. Sama aja aku bunuh diri kalau jalan bareng dia. Gak usah aneh-aneh deh, hidup itu gak perlu ribet gitu loh, Ngga!"
"Ya kamu yang ribet juga, bisa kondangan sendiri atau ajak pacar kenapa harus aku!"
"Suami sah di hadapan orang, gak sadar?" sindir Calista mulai jengkel.
"Heran deh, bukannya kamu yang sejak awal sudah membatasi diri buat jaga jarak, dan tidak menjalani pernikahan sebagaimana mestinya. Kenapa sekarang kamu yang heboh, terkesan ingin menjadi istri yang baik?" sindir Lingga dengan senyum sinis.
"Kamu emang gak bisa diajak kerja sama ya. Gak bisa akting, agar hubungan dengan pacar masing-masing aman. Kamu mau pacar kamu diusik papa kamu? Diajak cari aman protes mulu. Resiko ditanggung sendiri baru tahu rasa kamu," kesal Calista kemudian bermake-up dan siap berangkat ke acara itu. Lingga berdecak sebal, kalau sudah menyangkut sang papa, tak bisa berkutik lagi.
Selama di acara, Lingga hanya diam saja, mengekor ke mana Calista pergi, seolah menunjukkan ke khalayak umum bahwa dia posesif pada sang istri, cuih rasanya tak sudi, batin Lingga protes.
Ia pun ada kesempatan duduk sendiri, bermain ponsel sembari mengecek kabar dari orang suruhan. Nona Tania ke apotek, Tuan.
"Kamu sakit apa, Tania. Apa berpisah denganku membuat kamu lemah?" gumam Lingga, kemudian ia memesankan makanan kesukaan Tania, dan mengirimkan makanan itu ke alamat perempuannya. Setidaknya perut kamu kenyang, Lingga tak mau Tania semakin parah, karena dia tak bisa melindungi perempuan itu. Orang suruhan papa selalu mengintainya.
Tania sejak beberapa hari yang lalu, merasa aneh dengan tubuhnya. Mau sebanyak apa lemburan, selama ini ia tak pernah sakit yang benar-benar lemas. Sudah diberi vitamin juga masih loyo, mendadak ketakutan, karena sampai akhir bulan ia belum datang bulan.
Seharian ia mengabaikan rasa takut itu, hingga pulang kerja memberanikan diri ke apotek dan membeli testpack. Ia memandangi alat itu, tak sabar menunggu pagi. "Jangan sampai positif, aku gak tahu lagi harus bagaimana bila positif? Aku gak mau punya anak sedangkan hidupku sendiri sebatang kara!" ujar Tania sedih, bahkan rasanya malam ini ia linglung, mendadak takut menghadapi esok hari.
Ma. Mama gak mau tanya kabar aku? Tania butuh seseorang untuk menguatkannya. Kalau dulu ada Lingga, pasti ia akan meminta pelukan dari lelaki itu. Tapi sekarang? Bolehkah Tania sekali saja mengganggu ketentraman hidup orang tuanya. Malam ini dia sangat rapuh penuh ketakutan.
Pa. Papa gak mau tanya kabar aku? Pesan ke mama gak dibalas, Tania pun mencari perhatian pada papa. Keduanya sama, sampai tengah malam tak ada balasan.
Tania menangis, dadanya terasa sangat sesak. Feeling sebagai seorang perempuan, sepertinya dia hamil, apalagi Tania tak pernah telat haid. Makin ricuh saja pikirannya. Mungkin capek menangis, Tania terlelap. Hingga ponselnya berdering.
"Iya, Ma?" semalaman menunggu, pagi-pagi buta mama sudah meneleponnya.
"Kamu sakit? Mama sedang di Jepang, kamu mau titip apa?"
Rasanya Tania ingin mengatakan peluk aku ma, aku rapuh sekarang. Tapi hanya di hati, ia tak mau mengusik kehidupan sang mama.
"Enggak, Ma. Tania cuma kangen sama mama!" jawab Tania menyembunyikan kesedihannya.
"Sudah gede, sudah lama tak bertemu mama juga, kenapa baru kangen sekarang? Uang kamu habis?" Tania meneteskan air mata, seperti ini kah kodrat ibu kandung. Andai saja Tania anak durhaka, mungkin pagi ini ia sudah mencaci maki sang mama.
"Uang Tania masih ada, sangat cukup."
"Lah, terus?" Tania ingin memaki, memangnya aku gak boleh kangen sama mama setiap saat? Hanya dalam hati, tak akan pernah Tania berani mengungkap.
"Tania cuma lagi gak enak badan, Ma. Beberapa hari ini badan Tania agak drop."
"Kamu gak hamil kan? Kalau kamu hamil, urus sendiri, jangan repotin mama. Lagian belum punya suami sudah hamil aja, anak zaman sekarang kok susah gitu jaga kehormatan!" Tania langsung memutuskan panggilan, ia kembali menangis. Sang mama kok setega itu, meski Tania yakin dirinya hamil juga. Tapi mendengar respon sang mama, ia semakin hancur.
Ia pun beranjak ke kamar mandi, cek apakah dia hamil, tangannya gemetar saat mencelupkan alat itu ke sample urinnya. Mata Tania melotot kaget, tak perlu menunggu waktu lama, dua garis muncul seketika.
Tubuh Tania langsung melorot ke lantai, ia menangis sesenggukan sembari memukul perut ratanya. "Aku gak mau hamil, aku gak mau. Lingga sialan, kenapa malam itu kamu minta jatah mantan ke aku. Brengsek! Aku juga bodoh, kenapa aku gak langsung antisipasi, sekarang aku yang menanggungnya, aku bodoh! Hancur sudah hidupku!" teriak Tania frustasi.
Benar kata orang ya, pacaran itu tidak ada manfaatnya, dan yang dirugikan adalah pihak perempuan. Tania menyenderkan kepalanya di dinding keramik kamar mandi, tatapannya kosong pada satu titik.
"Aku terlahir sendiri, dan aku akan punya anak yang lahir tanpa bapak, atur sebrengsek mungkin ini ya Tuhan!" teriaknya makin kacau.
GO go Tania semangat