NovelToon NovelToon
JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:728
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa

Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.

Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.

Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?

"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Busur Kayu Hitam Dan jejak yang tercium

Embun masih bergelayut di ujung daun pinus ketika Song Yan menyeret putra tunggalnya keluar dari selimut hangat. Udara pagi di Desa Songjia sangat menusuk tulang, namun bagi Song Yan, tidak ada waktu yang lebih baik untuk menempa raga selain saat fajar menyingsing.

"Ayah... ini masih terlalu pagi. Ayam jago saja belum bangun!" keluh Song Yuan dengan mata yang masih setengah tertutup. Tubuh kecilnya dibalut pakaian rami tipis, membuatnya menggigil kedinginan.

"Ayam jago tidak punya musuh yang ingin memenggal kepalanya, Yuan-er. Tapi kau? Kau tidak tahu apa yang sedang menunggumu di luar sana," jawab Song Yan tanpa menoleh. Ia berjalan menuju sebuah area terbuka di samping rumah mereka yang sudah dibersihkan dari semak belukar.

Di sana, sudah tertancap beberapa batang bambu yang disusun sedemikian rupa. Ada juga sebuah sasaran tembak yang terbuat dari jerami padat yang diikat kuat pada pohon jati tua.

"Hari ini, kita tidak akan berdiri diam lagi. Ambil itu," Song Yan menunjuk ke arah sebuah busur kayu yang bersandar di dinding luar rumah.

Mata Song Yuan langsung berbinar. "Busur? Akhirnya! Aku boleh memanah sekarang?"

"Jangan senang dulu. Itu bukan busur biasa."

Song Yuan berlari dengan semangat dan mencoba mengangkat busur itu. Namun, begitu tangannya memegang bagian tengah busur, matanya melotot. "Kenapa... kenapa berat sekali?! Ini kayu apa, Yah?"

"Itu kayu Hitam dari lereng gunung utara. Beratnya tiga kali lipat dari busur mainanmu yang kemarin. Jangan cuma diangkat, coba tarik talinya," perintah Song Yan sambil bersedekap.

Song Yuan menarik napas dalam-dalam. Ia memasang kuda-kuda seperti yang diajarkan kemarin. Dengan sekuat tenaga, ia mencoba menarik tali busur yang terbuat dari urat binatang yang dikeringkan itu. Wajahnya memerah, otot-otot lengannya yang kecil menegang hebat, namun tali itu hanya bergerak tidak lebih dari dua inci.

"Argh! Tidak bisa! Ini terlalu keras, Ayah!" Song Yuan melepaskan pegangannya dengan frustrasi. Napasnya terengah-engah.

Song Yan mendekat, lalu dengan satu gerakan tenang, ia mengambil busur itu dari tangan anaknya. Tanpa terlihat mengeluarkan tenaga, ia menarik tali busur itu hingga melengkung sempurna, menciptakan suara kretek dari kayu yang menegang.

"Busur ini tidak keras, tanganmu saja yang belum punya 'jiwa'. Kau menariknya dengan emosi, bukan dengan napas," ucap Song Yan pelan. Ia melepaskan tali itu tanpa melepaskan anak panah, suaranya dentingannya bergetar rendah di udara pagi. "Lakukan seratus kali tarikan tanpa anak panah. Setiap kali kau gagal menariknya sampai maksimal, kau harus lari keliling desa satu putaran."

"Seratus kali?!" Song Yuan hampir pingsan mendengarnya. Desa Songjia memang kecil, tapi satu putaran desa itu cukup untuk membuat kakinya mati rasa.

"Mulai sekarang. Aku akan mengawasimu dari sana."

Selama tiga jam berikutnya, halaman rumah itu menjadi saksi perjuangan Song Yuan. Suara tarikan tali busur yang gagal berulang kali terdengar. Setiap kali tangannya gemetar dan gagal, Song Yan hanya menunjuk ke arah jalan desa dengan parangnya. Dan dengan lunglai, Song Yuan harus berlari.

Para tetangga, termasuk Xiao Hu yang lewat membawa cangkul, hanya bisa tertawa melihat Yuan yang berlari dengan napas tersengal. Mereka pikir Song Yan hanyalah mantan prajurit rendahan yang terlalu keras mendidik anaknya. Mereka tidak tahu bahwa setiap tetes keringat Yuan adalah harga yang harus dibayar untuk nyawanya kelak.

"Kenapa Ayah begitu keras?" tanya Song Yuan saat ia jatuh terduduk di tanah setelah putaran kelima belas. Lengannya terasa seperti ditusuk ribuan jarum.

Song Yan berjalan mendekat, membawakan sebotol air bambu. Ia duduk di samping anaknya, menatap hamparan lembah di bawah mereka. "Yuan-er, di dunia ini, ada orang yang lahir dengan sendok emas di mulutnya. Mereka punya pelayan, punya guru terbaik, dan punya tembok tinggi untuk berlindung. Tapi kita? Kita hanya punya diri kita sendiri."

"Tapi kita kan punya Ibu? Ibu bilang Ayah adalah orang terhebat," gumam Yuan sambil meminum airnya rakus.

Song Yan terdiam sejenak. Matanya menerawang jauh, menembus kabut pagi ke arah Ibukota yang berada ribuan mil dari sana. "Ibumu benar, tapi kehebatan seorang pria tidak diukur dari berapa banyak orang yang dia pimpin, melainkan dari kemampuannya melindungi apa yang dia cintai. Suatu saat, busur ini akan menjadi satu-satunya temanmu saat dunia membelakangimu."

Yuan tidak sepenuhnya mengerti, tapi dia bisa merasakan ada kesedihan di balik nada bicara ayahnya. Ia bangkit berdiri, debu menempel di celananya yang kotor. Dengan tangan yang masih gemetar, ia kembali memegang busur kayu hitam itu.

Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, Song Yan menyuruh Yuan memanjat pohon jati tanpa tali, lalu melompat turun di atas tumpukan jerami. Yuan berkali-kali jatuh, tergores ranting, bahkan sempat menangis karena takut ketinggian. Namun setiap kali dia mau menyerah, tatapan dingin ayahnya selalu membuatnya kembali memanjat.

"Besok kita akan ke hutan," ucap Song Yan singkat saat makan malam.

Mata Yuan yang tadi sudah layu langsung berbinar lagi. "Bersyukur? Pakai busur ini?"

"Jika kau bisa membidik sasaran jerami itu tiga kali berturut-turut besok pagi, kau boleh membawa busur kayu ringan milik ibumu ke hutan. Kita akan melihat apakah kau bisa menangkap kelinci untuk makan malam ibumu."

Yuan bersorak kegirangan. Namun, di sudut ruangan, Bai Lanyue hanya bisa menatap mereka dengan tatapan cemas. Ia memegang sebuah kotak kayu kecil berukir elang yang disembunyikan di bawah tumpukan kain. Kotak itu berisi dua lencana emas yang menjadi alasan kenapa mereka harus bersembunyi di lubang tikus ini.

"Maafkan kami, Yuan-er. Kami mencuri masa kecilmu karena kami ingin kau punya masa depan," bisik Lanyue pelan saat Yuan sudah tertidur.

Malam itu, saat seluruh desa terlelap, Song Yan tidak tidur. Ia berdiri di teras, hidungnya mengendus udara malam. Wajahnya menegang. Secara logika, aroma hutan harusnya berbau tanah dan daun basah. Tapi malam ini, ada aroma lain yang sangat tipis—aroma minyak kuda militer yang sangat ia kenal.

"Mereka sudah mencium jejak kita," gumam Song Yan pelan. Tangannya mencengkeram erat busur hitam di sampingnya. "Waktunya tidak akan lama lagi."

Ia menatap pintu kamar Yuan dengan pilu. Latihan yang ia berikan hari ini mungkin terasa kejam bagi anak sepuluh tahun, tapi Song Yan tahu, besok-besok Yuan akan berterima kasih karena rasa sakit di lengannya hari ini adalah satu-satunya hal yang akan membuatnya tetap hidup saat maut datang menjemput.

"Jadilah lebih kuat dari busurmu, Yuan-er," bisik Song Yan pada kegelapan.

Di kejauhan, burung hantu berhenti bersuara. Hutan pinus yang mengelilingi Desa Songjia mendadak sunyi—sebuah kesunyian yang tidak alami, seolah-olah alam sendiri sedang menahan napas sebelum badai besar menghancurkan segalanya.

1
HarusameName
namanya yang bener yang mana, bang?
Devilgirl: sama sama,kak
total 5 replies
Devilgirl
Hai,readers mampir sini dong!!
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!