WARNING ⚠️
(untuk umur 17 keatas)
...
Arkeas InjitAsmo hidup dalam keteraturan yang mewah. Baginya, hidup adalah tentang estetika dan wangi yang presisi. Namun, dunianya runtuh saat istrinya pergi dan ia harus mengurus Alisya sendirian di tengah kesibukan peluncuran parfum terbaru. Sepuluh pengasuh profesional sudah ia pecat dalam sebulan karena "bau badan mereka tidak estetik."
Masuklah Zollana, melamar pekerjaan. Karena sebuah insiden di mana Zollana tidak sengaja memecahkan Vas bunga kristal itu hingga hancur berkeping-keping, Arkeas justru menyadari satu hal: Alisya anaknya berhenti menangis saat berada di dekat Zollana.
Arkeas terpaksa mempekerjakan Zollana sebagai nanny sekaligus asisten rumah tangga dengan kontrak "Dilarang Ceroboh". Namun, nyatanya? Zollana justru membawa kekacauan yang berwarna di rumah minimalis Arkeas yang dingin.
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 Mas-Mas CEO & Manifesting Hubungan yang Nggak Jelas
...
Malam itu, hujan deras mengguyur Jakarta, bikin suasana di lantai 35 jadi makin melow dan estetik. Zolla sedang di kamar mandi tamu, mencoba salah satu baju "tertutup" yang dibelikan Arkeas siang tadi. Sebuah oversized knit sweater warna terracotta yang dipadukan dengan celana pendek yang... yah, tertutup sweater-nya.
Zolla keluar sambil mengeringkan rambutnya yang basah pakai handuk kecil. Ia melihat Arkeas—eh, maksudnya Mas Arkeas—sedang duduk di sofa ruang tengah, kacamata bertengger di hidungnya, serius menatap tablet.
"Mas... Mas Arkeas?" panggil Zolla ragu. Rasanya masih agak glitch di lidah manggil bos sendiri pakai sebutan "Mas".
Arkeas mendongak. Begitu matanya menangkap sosok Zolla yang tenggelam di balik sweater kebesaran itu, jempolnya yang tadi lagi scrolling laporan saham mendadak kaku.
"Apa?" sahut Arkeas singkat, suaranya berat tapi ada nada gugup yang dia sembunyikan rapat-rapat.
"Ini... bajunya kegedean banget. Saya berasa kayak bantal jalan," keluh Zolla sambil menarik-narik ujung sweater-nya yang menutupi sampai pertengahan paha.
Arkeas meletakkan tabletnya. Ia melepas kacamata, lalu memijat pangkal hidungnya. "Itu memang modelnya begitu. Biar kamu nggak pamer bahu ke mana-mana. Paham?"
Zolla mendekat, lalu duduk di karpet di bawah kaki Arkeas. "Mas Arkeas ini sebenernya posesif atau emang nggak suka lihat saya kelihatan cantik sih?"
Arkeas menunduk, menatap puncak kepala Zolla. "Cantik itu relatif. Tapi bagi saya, kamu lebih 'aman' kalau begini."
"Aman dari siapa? Dari Mas Arkeas?" goda Zolla sambil mendongak, menatap mata tajam pria di depannya.
Arkeas terdiam. Ia memajukan tubuhnya, tangannya bertumpu di lutut, wajahnya sejajar dengan wajah Zolla. "Aman dari saya... karena saya nggak bisa jamin kalau kamu pakai baju yang aneh-aneh, saya masih bisa bersikap seperti 'Mas' yang baik."
Skakmat. Zolla langsung bungkam. Wajahnya yang tadi berniat ngeledek, sekarang malah panas sampai ke telinga.
...
Suasana makin canggung. Suara hujan di luar makin deras. Alisya sudah tidur pulas setelah tadi sempat rewel karena petir.
"Mas, nonton yuk? Biar nggak kaku banget kayak patung lilin di Madame Tussauds," ajak Zolla, mencoba mencairkan suasana.
Arkeas menghela napas, tapi dia menggeser duduknya, memberi ruang di sofa. "Naik sini. Lantainya dingin, nanti kamu masuk angin, saya lagi yang repot nyari kerokan."
Zolla nyengir lebar. Ia langsung naik ke sofa, duduk di samping Arkeas dengan jarak yang sangat tipis. Mereka mulai scrolling Netflix.
"Nonton horor yuk, Mas?"
"Nggak. Alisya nanti kaget denger kamu teriak-teriak," tolak Arkeas.
"Yaelah, kaku amat. Ya udah, drakor?"
"Terlalu banyak adegan lari-lari di bandara. Nggak logis," kritik Arkeas lagi.
Akhirnya, mereka berakhir menonton film dokumenter tentang sejarah pembuatan parfum kuno. Sangat Arkeas banget. Tapi baru jalan lima belas menit, Zolla sudah mulai menguap. Kepalanya mulai miring ke kiri dan ke kanan, mencari posisi nyaman.
Tanpa sadar, kepala Zolla mendarat di bahu Arkeas yang kokoh.
Arkeas membeku. Tubuhnya mendadak tegak lurus. Ia menoleh sedikit, melihat Zolla yang matanya sudah setengah terpejam. Wangi sampo stroberi Zolla kembali menyerang saraf-saraf di otak Arkeas.
"Zol... bangun. Jangan tidur di sini," bisik Arkeas.
"Bentar, Mas... pundaknya enak... wangi sandalwood..." gumam Zolla meracau, tangannya tanpa sadar memeluk lengan Arkeas.
Arkeas menghela napas pasrah. Ia tidak menjauh. Malah, ia perlahan menurunkan lengannya, merangkul bahu Zolla agar gadis itu lebih nyaman. Ia menarik selimut rajut di ujung sofa dan menyelimuti mereka berdua.
"Dasar asisten perusak harga diri," bisik Arkeas pelan, tapi ia justru menyandarkan kepalanya di atas kepala Zolla.
...
Di tengah keheningan yang sangat baperable itu, ponsel Arkeas di meja bergetar hebat. Ada notifikasi pesan masuk yang muncul di layar kunci.
Message from: Genta (Circle High-Class)
"Keas, besok gue mampir ya. Mau balikin kunci studio yang kebawa Davi. Eh, sekalian mau ngajak si Zolla jalan-jalan, dia ada bakat jadi muse baru gue."
Arkeas yang melihat pesan itu langsung berubah ekspresi. Matanya menajam. Ia mengambil ponselnya dan mengetik balasan dengan cepat menggunakan satu tangan—karena tangan satunya masih dipeluk Zolla.
"Nggak usah mampir. Titip di resepsionis kantor aja. Dan jangan berani-berani ajak asisten gue jalan. Dia sibuk ngurus Alisya. Dan sibuk ngurus gue."
Send.
Arkeas melempar ponselnya kembali ke meja. Ada rasa puas yang aneh setelah mengirim pesan itu. Ia menatap Zolla yang masih tertidur pulas.
"Kamu pikir kamu bisa pergi gitu aja setelah bikin saya kecanduan bau stroberi kamu?" gumam Arkeas, suaranya sangat rendah.
Tiba-tiba, Zolla bergerak. Ia membuka matanya sedikit, lalu mendongak menatap Arkeas yang wajahnya sangat dekat. "Mas Arkeas ngomong apa tadi?"
Arkeas kaget, ia langsung memasang wajah datar andalannya. "Saya bilang... kamu tidurnya ngiler. Basah tuh bahu jas mahal saya."
Zolla langsung bangun, mengusap bibirnya panik. "Eh? Masa sih? Aduh, maaf Mas! Sini saya lap pakai tisu!"
Zolla sibuk mengusap-usap bahu kaos Arkeas, tapi ia baru sadar kalau Arkeas tidak memakai jas, melainkan kaos biasa. Dan tidak ada bekas liur sama sekali.
Zolla berhenti, ia menatap Arkeas yang sedang menahan senyum miringnya. "Mas Arkeas bohong ya?! Ngerjain saya terus!"
Zolla memukul lengan Arkeas gemas, tapi Arkeas justru menangkap kedua tangan Zolla, menariknya hingga wajah mereka hampir bersentuhan.
"Zolla," panggil Arkeas, suaranya sangat serius.
"I-iya, Mas?"
"Besok kalau Genta atau Davi telepon, jangan diangkat. Kalau mereka datang, jangan dibukain pintu. Paham?"
Zolla mengerutkan kening. "Kenapa? Mereka kan temen Mas?"
"Karena saya nggak suka berbagi," ucap Arkeas telak. "Aroma yang sudah saya klaim jadi milik saya, nggak boleh dicium orang lain. Dan kamu... sudah saya klaim."
Zolla merasa jantungnya benar-benar mau copot. "Klaim... sebagai asisten?"
Arkeas mendekatkan wajahnya, hidung mereka bersentuhan. "Lebih dari itu. Tapi saya masih butuh waktu buat manifesting sebutan yang pas buat kita. Sekarang, sana tidur ke kamar. Sebelum saya beneran khilaf."
Zolla lari ke kamarnya tanpa menoleh lagi, sementara Arkeas duduk di sofa sambil memegang dadanya yang berdegup kencang. "Gila. Gue beneran sudah jadi Mas-Mas CEO yang bucin tingkat dewa."
...
(Bersambung ke Episode 13...)