NovelToon NovelToon
Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Preman Sengklek Dan CEO Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Apa jadinya kalau mantan preman pasar yang paling ditakuti justru berakhir jadi pengawal pribadi seorang CEO cantik yang super dingin? Alih-alih merasa aman, sang CEO malah dibuat naik darah sekaligus baper tiap hari karena tingkah bodyguard-nya yang sengklek dan nggak masuk akal. Ikuti kisah komedi romantis penuh aksi antara si garang dan si cantik!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Rahasia di Balik Bumbu Pecel

Suasana warung pecel tumpang di pinggir jalan Sidoarjo itu sangat ramai, aroma sambal tumpang dan peyek kacang sangat menggugah selera. .Genta duduk di pojokan bersama Clarissa, Joni, dan tim keamanan lainnya yang masih tampak waspada meski perut mereka sudah sangat lapar.

​.Genta memesan pecel tumpang porsi kuli, lauknya empal satu, kerupuk kaleng lima, dan telur asin yang menjadi kesukaannya. .Begitu piringnya datang, Genta langsung menyikat habis tanpa banyak bicara, seperti orang yang sudah tidak makan selama tujuh turunan.

​."Genta, pelan-pelan sedikit, nanti kamu tersedak," tegur Clarissa sambil tertawa tipis melihat kelakuan Genta yang memang tidak tahu malu. .Genta hanya menyengir dengan mulut masih penuh nasi, "Mbak Bos, energi sarung hitam tadi ternyata menguras nasi sepiring, jadi harus diisi lagi!"

​.Joni yang duduk di depan Genta tampak tidak tenang, matanya berputar mengawasi orang-orang yang sedang makan di warung itu. .Joni merasakan ada yang aneh, ada dua orang di pojokan lain yang memakai baju hitam polos namun terus-menerus melihat ke arah meja Genta.

​."Mas Genta, ada yang mengawasi kita dari pojokan itu," bisik Joni sangat lirih, tangannya sudah bersiaga di bawah meja memegang alat komunikasi. .Genta tetap tenang, ia mengambil kerupuk kaleng terakhirnya lalu dikunyah dengan suara yang sangat keras, KRYUKKK!

​.Di balik suara kerupuk yang dimakan tadi, Genta sebenarnya sudah merasakan getaran energi yang bukan milik orang biasa. .Dua orang di pojokan tadi bukan orang lapar biasa, melainkan intel yang memiliki hawa jahat yang hampir sama dengan Ki Suro di gunung tadi.

​.Tiba-tiba saja, salah satu dari orang berbaju hitam tadi berdiri lalu berjalan mendekati meja Genta dengan gaya yang sopan namun matanya sangat tajam. ."Permisi, Mas Genta Arjuna? Boleh saya minta waktu sebentar untuk bicara?" tanya orang itu dengan bahasa yang sangat halus.

​.Genta meminum es teh manisnya sampai habis, lalu menatap orang itu dengan wajah yang konyol lagi. ."Waduh, Anda siapa? Apa Anda bagian penagih hutang? Saya sudah lunas semua lho, Mas," jawab Genta sambil bercanda.

​.Orang itu tidak tertawa, ia malah meletakkan selembar kartu nama di atas meja yang bergambar Naga Emas melingkar. .Clarissa kaget melihat gambar itu, wajahnya langsung pucat pasi karena ia tahu siapa yang memiliki lambang naga emas itu di dunia bisnis gelap.

​."Kami dari perwakilan Sembilan Naga, kami hanya ingin menyampaikan pesan: Gunung Penanggungan itu cuma taman bermain buat kami," ujar orang itu dengan suara yang membuat bulu kuduk Joni berdiri. ."Jangan sampai Surabaya jadi kuburan buat sarung hitammu itu, Genta."

​.Genta terdiam sejenak, hawa konyolnya hilang seketika berganti menjadi hawa yang sangat mengerikan hingga gelas-gelas di atas meja bergetar semua. .Genta berdiri pelan-pelan, tinggi tubuhnya terlihat sangat gagah, mengungguli orang hitam yang mencoba menakutinya tadi.

​."Terima kasih pesannya, Mas. Katakan pada bosmu, Genta Arjuna tidak pernah takut dengan naga, apalagi naga yang cuma gambar di kartu nama," ujar Genta dengan nada yang mantap. ."Kalau naga itu berani mengganggu Surabaya, akan aku bungkus pakai sarung ini jadi pepes naga!"

​.Orang hitam itu meringis kecut, lalu berjalan keluar dari warung tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, menghilang di tengah ramainya jalan Sidoarjo. .Suasana warung yang tadinya ramai mendadak sepi menyaksikan ketegangan Genta dan orang misterius tadi.

​.Genta duduk kembali, ia menatap Clarissa yang masih ketakutan lalu memegang tangan bosnya itu dengan lembut. ."Tenang Mbak Bos, ada aku di sini. Naga-naga itu cuma belum pernah merasakan sabetan sarungku saja," ujar Genta menenangkan hati Clarissa.

​.Joni langsung memerintahkan tim keamanan untuk lebih waspada dan segera berangkat pulang menuju Surabaya sebelum ada serangan dadakan lainnya. .Genta mengambil gulungan kain tua di dalam sarungnya, ia tahu bahwa pertempuran di gunung tadi hanyalah pemanasan untuk perang yang lebih besar di tengah kota.

​.Mobil Wijaya Group berangkat lagi, meninggalkan warung pecel itu dengan sisa misteri yang akan menjadi awal dari babak baru hidup Genta. .Surabaya sudah menunggu di depan, dan Genta Arjuna sudah siap menjadi tameng yang tidak akan bisa ditembus oleh naga sepuluh sekalipun

Mobil Alphard hitam yang ditumpangi Genta dan Clarissa melaju kencang meninggalkan kota Sidoarjo, dikawal ketat oleh dua mobil pengawal di depan dan belakangnya. .Genta menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu jalan tol yang berlari seperti bayangan, namun pikirannya masih tertuju pada kartu nama bergambar Naga Emas tadi.

​.Clarissa masih tampak pucat, tangannya masih menggandeng lengan Genta seolah tidak mau melepaskannya sama sekali. ."Genta, Sembilan Naga itu bukan orang sembarangan, mereka adalah penguasa ekonomi gelap di Asia Tenggara," bisik Clarissa dengan suara gemetar.

​.Genta mengusap tangan Clarissa dengan lembut, mencoba memberi kekuatan meski ia sendiri tahu bahwa musuh kali ini memang kelas kakap. ."Mbak Bos, naga itu hewan mitos, tapi sarung hitam ini barang nyata yang pernah meratakan semua kejahatan di tanah Jawa," jawab Genta mantap.

​.Tiba-tiba saja, suara radio Joni yang duduk di kursi depan berbunyi dengan suara kresek-kresek yang mengganggu telinga. ."Lapor Komandan! Ada tiga motor sport hitam membuntuti kita dari jarak seratus meter, mereka membawa senjata laras panjang!" teriak pengawal dari mobil belakang.

​.Joni langsung memerintahkan sopir supaya menambah kecepatan hingga seratus lima puluh kilometer per jam, membuat mobil itu seperti ikut balapan F1 di jalan tol. .Genta tidak panik, ia malah mengeluarkan sisa kacang atom dari sakunya lalu dimakan satu per satu seperti sedang menonton bioskop.

​."Jon, jangan kebanyakan mengerem, gas pol saja terus! Biar naga-naga kecil itu merasakan angin Surabaya yang gerah," ujar Genta sambil merapikan lilitan sarungnya. .Ia merasakan getaran di sarungnya, pertanda bahwa pusaka itu sudah siap mengeluarkan kekuatan lagi jika keadaannya menjadi gawat.

​.Tiga motor sport tadi semakin dekat, salah satu pengendaranya mengangkat senapan lalu menembak ban mobil belakang hingga meledak. DUARRR! .Mobil pengawal belakang oleng lalu menabrak pagar jalan tol, membuat jalanan menjadi macet dan penuh asap hitam.

​.Clarissa menjerit kaget, ia bersembunyi di balik pundak Genta yang sekarang sudah menjadi tameng hidup untuknya. .Mata Genta berubah menjadi tajam, ia membuka sunroof mobil Alphard tadi lalu melompat keluar dengan separuh badannya di atas mobil.

​."Woi! Kalau mau balapan jangan bawa senapan, jadi tidak seru kan!" teriak Genta di tengah angin jalan tol yang sangat kencang. .Genta mengeluarkan ujung sarung hitamnya, lalu dikibaskan menuju arah motor-motor yang hendak mendekati mobil Clarissa.

​.Sabetan sarung itu mengeluarkan gelombang angin biru yang sangat kuat, membuat motor-motor tadi kehilangan keseimbangan seperti ditiup angin puting beliung. .Salah satu motor mengerem mendadak hingga terjungkal-balik di aspal, sedangkan dua lainnya masih nekat mengejar dengan kecepatan tinggi.

​.Genta mengambil koin seratus rupiah dari dalam sakunya, lalu ditiup dengan mantra doa yang diajarkan Abah Mansur tadi malam. .Ia melemparkan koin itu menuju ban motor musuh dengan kekuatan yang luar biasa, koin itu melesat seperti peluru meriam. PLESSS!

​.Ban motor musuh langsung pecah seketika,

membuat pengendaranya kaget lalu menabrak pembatas jalan dengan sangat keras. .Genta turun kembali ke dalam mobil, lalu menutup sunroof dengan tenang seolah tidak ada kejadian mengerikan yang baru saja terjadi.

​.Joni melihat Genta dari spion dengan wajah yang melongo tidak percaya, "Mas Genta... kamu itu manusia atau bukan sih?" .Genta hanya tertawa konyol lagi, "Aku ini cuma bodyguard yang lagi lapar, Jon. Makanya jangan ganggu orang yang lagi ingin istirahat."

​.Mobil Alphard itu terus melaju menuju gerbang tol Surabaya, meninggalkan kekacauan di belakangnya yang menjadi tanda bahwa perang terbuka telah dimulai. .Genta tahu bahwa Sembilan Naga tidak akan berhenti sampai di sini, ia harus segera sampai di kantor Wijaya Group sebelum semua terlambat.

​.Clarissa menatap Genta dengan rasa kagum yang bercampur takut, ia merasa bahwa Genta yang sekarang bukanlah Genta yang dulu hanya menjadi sopir pribadinya. .Surabaya sudah terlihat di depan mata, kota yang akan menjadi saksi bagaimana sarung hitam melawan cakar-cakar naga yang ingin merusak tatanan dunia.

​.Lampu-lampu kota Surabaya mulai menyambut kedatangan mobil Alphard hitam yang melaju kencang di bawah flyover Mayjen Sungkono. .Genta melihat ke arah kaca spion, memastikan tidak ada lagi motor sport yang berani membuntuti mereka setelah insiden koin maut di jalan tol tadi.

​.Clarissa mulai sedikit tenang, namun tangannya masih menggenggam erat ujung baju Genta seolah takut pemuda itu akan menghilang. .Mobil perlahan memasuki kawasan bisnis tempat gedung Wijaya Group berdiri menjulang tinggi dengan megahnya di antara gedung-gedung lain.

​.Namun, suasana di depan gerbang utama kantor justru tampak sangat mencekam dan jauh dari kata normal. .Puluhan mobil hitam terparkir sembarangan menutupi akses masuk, dan seluruh satpam kantor tampak berlutut di aspal dengan tangan terikat.

​."Mas Genta, itu tim keamanan kita! Mereka semua disandera!" teriak Joni dengan nada panik sambil mengerem mobilnya secara mendadak. .Genta menyipitkan mata, melihat sesosok pria tinggi tegap berdiri di depan pintu lobi sambil memainkan sebilah pedang samurai yang sangat tipis.

​.Pria itu mengenakan setelan jas putih yang kontras dengan kegelapan malam, dan di kerah bajunya terdapat pin emas berbentuk kepala naga. ."Itu adalah Naga Putih, salah satu eksekutor terkejam dari Sembilan Naga," bisik Clarissa dengan suara yang hampir hilang.

​.Genta menghela napas panjang, ia membuka pintu mobil perlahan lalu melangkah keluar dengan santai sambil membetulkan letak sarung hitamnya. ."Jon, jaga Mbak Bos di dalam mobil. Jangan biarkan siapapun mendekat, atau kamu sendiri yang akan aku ikat di pohon mangga," perintah Genta tegas.

​.Genta berjalan sendirian menuju gerbang, langkah kakinya terdengar beradu dengan aspal sunyi yang biasanya ramai oleh karyawan lembur. .Si Naga Putih menoleh, ia tersenyum sinis melihat Genta yang hanya memakai kaos oblong dan sarung yang tampak kumal terkena debu gunung.

​."Jadi ini jagoan kecil yang menghancurkan Ki Suro di Penanggungan?" tanya Naga Putih dengan suara yang melengking tajam. ."Sangat mengecewakan. Aku kira pewaris Sarung Hitam itu adalah sosok yang lebih bermartabat, bukan sopir murahan seperti ini."

​.Genta berhenti tepat sepuluh langkah di depan pria berbaju putih itu, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebatang tusuk gigi bekas makan pecel tadi. ."Mas Naga, martabat itu bukan dari baju putih yang kamu pakai, tapi dari seberapa berani kamu berdiri tegak tanpa menyandera orang tak bersalah," jawab Genta dingin.

​.Naga Putih tertawa terbahak-bahak, ia mengayunkan samurainya dengan gerakan yang sangat cepat hingga membelah angin malam. .Seketika, ujung pedang itu sudah berada hanya satu sentimeter di depan tenggorokan Genta, namun Genta tidak bergerak mundur sedikit pun.

​."Sombong sekali kamu, bocah! Berikan gulungan kain dari gunung itu sekarang, atau kepala satpammu ini akan menggelinding di aspal!" ancam Naga Putih. .Genta melirik para satpam yang gemetar ketakutan, lalu ia memegang ujung pedang samurai itu dengan tangan kosong yang dilapisi energi sarungnya.

​.KRETEKK! Suara logam yang retak terdengar sangat jelas di keheningan malam itu, membuat mata Naga Putih membelalak tidak percaya. .Genta mematahkan ujung samurai itu hanya dengan dua jari, lalu membuangnya ke aspal seolah itu hanyalah sampah yang tidak berguna.

​."Aku paling tidak suka kalau acara makan malamku diganggu oleh ancaman sampah seperti ini," ucap Genta dengan aura yang mulai menggelap. .Satu gedung Wijaya Group seolah bergetar hebat saat Genta mulai mengurai lilitan sarung hitamnya, bersiap untuk menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi jika sarung itu marah.

​.Naga Putih segera melompat mundur, ia menyadari bahwa lawan di depannya bukanlah manusia biasa, melainkan monster yang baru saja bangun dari tidurnya. .Perang besar di pusat kota Surabaya baru saja dimulai, dan kali ini, seluruh kota akan tahu siapa sebenarnya Genta Arjuna.

​.Naga Putih menggeram rendah, ia tidak menyangka pedang samurai kebanggaannya bisa patah hanya dengan dua jari oleh seorang pria bersarung. .Genta tidak memberikan kesempatan bagi lawannya untuk berpikir, ia mengibaskan sarung hitamnya ke udara hingga mengeluarkan suara ledakan kecil. TAR!

​.Gelombang energi biru melesat dari ujung sarung Genta, menghantam mobil-mobil hitam yang menutupi jalan hingga terpental ke samping. .Para satpam yang tadinya terikat segera merangkak menjauh, memanfaatkan celah yang dibuat oleh Genta untuk menyelamatkan diri ke arah mobil Joni.

​."Joni! Amankan mereka semua! Biarkan si Putih ini menjadi urusanku!" teriak Genta tanpa menoleh sedikit pun dari hadapan lawannya. .Naga Putih mencabut sepasang pisau lempar dari balik jasnya, lalu melemparkannya dengan kecepatan cahaya ke arah titik-titik mematikan di tubuh Genta.

​.Genta hanya memutar tubuhnya perlahan, sarung hitamnya melilit tangannya hingga membentuk perisai bulat yang sangat keras. .Pisau-pisau itu terpental jatuh ke aspal tanpa sempat menggores kulit Genta sedikit pun, seolah-olah Genta memiliki dinding pelindung tak kasat mata.

​."Kamu hanya bisa bertahan, Genta! Mari kita lihat berapa lama energimu bisa menahan serangan Sembilan Naga!" ejek Naga Putih sambil merapal mantra kuno. .Tiba-tiba, tubuh Naga Putih diselimuti asap putih yang dingin, dan ia bergerak dengan sangat cepat menyerupai bayangan yang tak tertangkap mata.

​.Genta memejamkan matanya, ia tidak lagi menggunakan penglihatan melainkan menggunakan insting batin yang diajarkan oleh Abah Mansur. .Dalam kegelapan batinnya, Genta melihat sebuah aliran energi panas yang bergerak mendekat dari arah samping kiri bawah.

​.Sambil tetap memejamkan mata, Genta melakukan tendangan berputar yang sangat kuat tepat ke arah bayangan asap tersebut. BUGHHH! .Naga Putih terlempar keluar dari asapnya, ia memuntahkan darah segar karena hantaman kaki Genta mengenai telak di ulu hatinya.

​.Genta membuka mata, tatapannya kini sangat dingin dan penuh wibawa, jauh dari kesan konyol yang biasanya ia tunjukkan. ."Mas Naga, warna putihmu itu sekarang sudah ternoda oleh darahmu sendiri. Pulanglah sebelum sarung ini benar-benar menjerat lehermu," ancam Genta.

​.Naga Putih gemetar hebat, ia merasa auranya baru saja ditekan oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar ilmu bela diri biasa. .Melihat pasukannya sudah kocar-kacir dan target utamanya ternyata monster, Naga Putih melempar sebuah bom asap ke tanah. BOOM!

​.Dalam hitungan detik, Naga Putih dan sisa-sisa pasukannya menghilang di balik kepekatan asap, meninggalkan area lobi kantor yang hancur berantakan. .Genta tidak mengejar, ia segera berlari menuju mobil Alphard untuk memastikan Clarissa baik-baik saja di dalam sana.

​.Clarissa keluar dari mobil dengan air mata yang mengalir di pipinya, ia langsung memeluk Genta tanpa peduli lagi dengan citranya sebagai direktur utama. ."Jangan pernah lakukan itu lagi, Genta! Aku tidak mau kehilangan satu-satunya orang yang bisa menjagaku!" isak Clarissa.

​.Genta terdiam sejenak, ia mengusap punggung Clarissa dengan lembut sambil tetap memegang sarung hitamnya yang masih terasa hangat. .Joni datang mendekat dengan wajah lega, meskipun napasnya masih terengah-engah setelah mengamankan para satpam yang terluka.

​."Mas Genta, lobi kantor hancur, tapi semua orang selamat. Apa kita harus lapor polisi sekarang?" tanya Joni sambil menunjuk kerusakan di sekitarnya. .Genta menggeleng pelan, ia menatap gulungan kain tua yang tadi sempat ia simpan di balik pinggangnya dengan tatapan serius.

​."Jangan dulu, Jon. Polisi tidak akan bisa menangani Naga. Ini adalah perang antar pemilik pusaka, dan Surabaya baru saja menjadi medan tempurnya," jawab Genta. .Genta menyadari bahwa kaburnya Naga Putih bukanlah akhir, melainkan tanda bahwa delapan naga lainnya akan segera datang menuntut balas.

​.Malam semakin larut di kota Surabaya, namun bagi Genta Arjuna, waktu istirahatnya sudah berakhir selamanya sejak ia menyentuh sarung keramat itu. .Genta menuntun Clarissa masuk ke dalam gedung yang remang-remang, bersiap untuk merencanakan langkah selanjutnya sebelum matahari terbit kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!